
BRUKK....
Seseorang baru saja menerobos masuk ke dalam aula pertemuan itu, membuat orang-orang yang ada di dalam sana pun jadi terkejut dan waspada. Dan dari balik debu yang berterbangan itu, muncul lah beberapa orang berjubah seperti sebelumnya.
" Hai, Hai. kami kemari untuk menjemput putri nakal, maaf membuat kalian terkejut ya. " ucap orang yang paling depan, dan ia pun melepaskan tudung yang menutupi kepalanya.
" Siapa kalian?!. " tanya raja Zaras.
" Aha, maaf ketidak sopanan ku, namaku Reeth. Kami berasal dari klan Retia, iya meskipun aku baru bergabung selama beberapa bulan sih. " ucap orang itu pula.
Mendengar itu membuat mereka terkejut, Klan yang di kenal memiliki kekuatan besar itu ada di hadapan mereka sekarang. Klan Retia di kenal suka merekrut orang-orang kuat dari berbagai Negeri untuk bergabung dengan mereka, karena itu wilayah mereka juga jadi semakin luas bahkan saat ini hampir mencapai luas wilayah kerajaan Gretta.
" Ini bohong kan, untuk apa Klan Retia datang ke tempat ini. " ucap ratu Seara yang benar-benar tidak senang dengan kejadian tidak terduga ini.
" Bukan sebuah kebohongan yang mulia ratu, kami datang untuk menjemput orang yang dipilih oleh pemimpin kami. Beliau ingin menjadikan nya sebagai penerusnya. " ucap orang bernama Reeth itu.
" Reeth, berhenti bicara dan bawa saja orang itu. " ucap orang satu lagi.
Muncul lah seorang pria berambut merah, dia muncul dari belakang mereka. Dia satu-satunya orang yang tidak mengenakan jubah seperti yang lainnya.
" Haha.. jangan seperti itu, Caius. Ketua bilang kita tidak boleh memunculkan konflik. " ucap Reeth pula.
" Huh, memangnya jika kita menangkap nya itu tidak akan memunculkan konflik??. " tanya orang yang dipanggil Caius itu pula dengan ketus.
" Benar juga, ya. Kalau begitu... Langsung tangkap saja. " sahut Reeth.
Ia merentangkan tangannya ke depan, membuat para raja yang ada di sana tambah waspada. Tapi ia tidak berniat menyerang, melainkan ia menarik Yue yang berwujud Quennevia itu mendekat ke arahnya.
" Apa?!!. " batin Yue, ia terkejut karena tiba-tiba ditarik oleh semacam kekuatan ke arah orang itu.
" Oh, tidak. " ucap Ethan yang menyadari nya.
" Quennevia!. " ucap Lecht pula.
Semua orang tentu terkejut melihat nya, saat ini Yue sudah ada di tangan mereka. Bahkan mereka belum sempat menyadari situasi mereka tadi.
Sedangkan Yue sendiri berusaha memberontak, ia kesulitan bernafas karena orang bernama Reeth itu mencekik lehernya.
" Berhenti memberontak, kau tidak akan bisa... " ucap Reeth menggantung, ia terlihat seperti menyadari sesuatu. " Itu aneh, bau mu tidak seperti putri Quennevia. " ucapnya pula.
Jantung Yue serasa berhenti berdetak sesaat, bagaimana orang itu bisa menyadari nya hanya dengan bau. Yang lainnya pun sudah pasti bingung dengan apa yang dikatakan oleh orang itu.
" Kau itu.... Siapa??. " tanya Reeth.
Mendengar itu Yue langsung mengeluarkan ekor nya dan menyerang pria bernama Reeth itu, setelah ia bisa melepaskan diri barulah ia mundur dan wujudnya pun kembali seperti semula.
" Dasar rubah kecil! " ucap pria satu lagi, Caius. Ia menyerang Yue dengan pedang-pedang yang terbuat dari cahaya, namun Ethan berhasil menangis itu semua dan berhasil melindungi Yue.
" Wah, wah. Aku tidak menyangka dia menggunakan pelihara nya untuk mengecoh kita. " ucap Reeth pula sambil menepuk debu di pakaian nya, ia sana sekali tidak terlihat terluka akibat serangan Yue tadi.
Melihat Yue yang kembali ke wujudnya pun juga membuat orang-orang mengerti maksud pria itu tadi, tapi kalau begitu... dimana Quennevia yang asli.
" Dimana putri Quennevia??. " batin raja Ludwing.
" Dia bisa begitu mirip sampai orang-orang yang ada di sini tidak menyadari nya. " batin raja Karai.
" Jadi dia bukan Quennevia. " gumam Meliyana.
Mereka benar-benar tidak menyadari nya karena Yue terlihat sangat persis seperti Quennevia, bahkan sikapnya selama pertemuan tadi.
" Hei, rubah kecil. Dimana majikan mu??. " tanya Caius.
" Master tidak akan pernah ikut dengan kalian, jadi katakan saja kepada pemimpin kalian itu, master tidak akan menjadi penerus nya. " sahut Yue pula.
" Huh, dasar sombong. Kau pikir kau bisa melawan kami!. " ucap Caius pula, ia membentuk sebuah bola dari kekuatan di tangannya, dan....
Boommm.....
Tempat itu langsung ia ledakan dengan kekuatan nya, bahkan tidak ada yang sempat menghentikan nya. Ledakan itu membuat orang-orang di sekitar tempat itu, bahkan di kota jadi terkejut saat mendengar suara ledakan itu.
" Apa itu??. "
" Asalnya dari tempat pertemuan. "
" Ledakan yang kuat sekali. "
Kira-kira seperti itulah ucapan-ucapan dari orang-orang itu, beberapa juga ada yang langsung pergi untuk mengecek apa yang terjadi.
Sedangkan di tempat ledakan itu, beberapa orang terluka hingga ada yang meninggal. Tapi para raja dan yang lainnya masih bertahan karena menggunkan kekuatan mereka untuk membuat pelindung.
" Semuanya baik-baik saja??. " tanya Lecht.
" Uhuk.. Uhuk... Iya. " sahut Meliyana, dia ada di belakang Lecht saat ledakan itu terjadi.
" Uskup Agung, anda harus segera pergi dari sini. " ucap ratu Seara.
" Tidak ada waktu, anda harus segera pergi. " ucap raja Karai pula.
Akhirnya uskup agung pun pergi ditemani beberapa pengawal, sedangkan yang lainnya masih di sana untuk menghadapi Reeth dan Caius serta anak buah yang mereka bawa itu.
" Pangeran, bagaimana dengan putri??. " bisik kai kepada Lecht.
" Selama dia ada di tempat yang aman, dan kita menahan mereka tidak akan ada apapun yang terjadi padanya. Kai, bersiaplah untuk bertarung." sahut Lecht.
" Baik, pangeran. " ucap Kai.
****
Sedangkan di tempat Quennevia, sesaat sebelum ledakan itu terjadi. Ia sudah selesai menyerap inti spirit itu dan naik tingkat menjadi level 29. Kali ini dia hanya sedang membicarakan beberapa hal dengan Everon.
" Hmm.. Seperti itu, jadi jika kau sudah keluar aku hanya perlu berlatih seperti biasanya. Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang??. " ucap Quennevia.
" Aku akan kembali ke hutan York, kau bisa memanggil ku jika membutuhkan bantuan. " sahut Everon.
" Begitu. Ngomong-ngomong, kenapa si hitam ini terus saja di dalam kalung sih. Yue bilang dia pelindung ku tapi dia bahkan tidak muncul saat aku hampir mati. "
" Dia selalu melindungi mu, loh. Hanya kau nya saja yang tidak tahu. "
" Hah??. "
Quennevia bingung dengan apa yang diucapkan oleh Everon, dia tidak lihat Xi melindungi nya, jadi dia melindungi nya dari apa??. Sedangkan Everon bingung dengan Quennevia, dia kan majikan nya kenapa tidak bisa merasakan perlindungan dari Xi, bahkan sampai harus ia yang mengatakan nya.
" Ohh.. Jadi dia yang selalu menyerang penguntit-penguntit itu tanpa sepengetahuan ku. Hehe.. kalau begitu Terima kasih ya. " ucap Quennevia kepada Xi yang ada di kalung itu.
" Bukan hanya itu kerjaan nya, tapi dia juga menjadi penstabil. " ucap Everon pula.
" Penstabil??. "
" Iya, dia Menstabilkan kekuatan mu yang bisa saja kusut itu. Dan lagi dia menstabilkan jiwa seseorang di dalam kalung itu. "
Mendengar itu membuat Quennevia menatap Everon dengan serius, apa yang ia ucapkan terdengar sangat tidak masuk akal di dengar, dan lagi jiwa siapa??.
" Menstabilkan jiwa siapa??. " tanya Quennevia memastikan langsung.
" Ibumu. " sahut Everon.
Deg... Quennevia tidak bisa berkata-kata mendengar itu, satu persatu hal yang diucapkan Everon setiap harinya benar-benar terdengar semakin tidak masuk akal. Quennevia merasa seperti nya dia sedang di permainkan oleh nya.
" Apa.. Apa maksud mu?? ibuku itu sudah tiada. " ucap Quennevia, tubuhnya mulai gemeteran saat ini entah apa yang terjadi.
" Itukah yang kau ingat??. " tanya Everon.
" A.. Aku yakin, Murphy bilang ia melihat ibu diracuni, dan... Waktu itu juga.. ibu benar-benar sudah.. " ucap Quennevia menggantung.
Ia merasa sudah melupakan sesuatu, sesuatu yang sangat penting. Dan sesuatu itu muncul di Kepala nya dengan gembar buram, kepalanya mulai terasa sakit ketika mengingat itu semua.
" Apa... Apa yang Quennevia lupakan, kenapa aku tidak bisa mengetahui nya. Kepalaku rasanya seperti mau pecah. " batinnya.
Dia mulai terhuyung dan akan jatuh jika saja Everon tidak menahannya, kepalanya benar-benar terasa sangat sakit.
" Jadi dia benar-benar kehilangan ingatan itu. " batin Everon pula.
" Jangan khawatir, aku akan memberitahumu semua yang harus kau tahu, tapi tidak langsung semuanya. Kau akan menderita jika ku beritahu sekarang, yang paling penting sekarang jangan sampai kau kehilangan kalung mu itu. " ucap Everon kepada Quennevia.
" Baiklah. " sahut Quennevia, ia memegang kalung miliknya itu.
Everon pun mengeluarkan sebuah botol, " Jika kau ingin membangunkan jiwanya, ambil ini dan rendam kalung itu di dalam nya, tapi pastikan juga kau mengeluarkan benda hitam itu dari dalam nya. "
" Benda hitam yang kau maksud itu Xi ya??. "
" Iya memangnya ada lagi benda hitam di dalam kalung itu. "
Quennevia terkekeh melihat wajah Everon yang kesal saat membicarakan Xi itu, bahkan membuatnya lupa dengan rasa sakit yang ia rasakan di Kepala nya. Entah kenapa Everon dan Xi benar-benar tidak bisa akur sama sekali.
" Baiklah, tapi nantinya kau akan memberitahuku apa yang terjadi selanjutnya kan??. " tanya Quennevia lagi.
" Tentu saja. " sahut Everon, Quennevia pun menyimpan botol yang diberikan Everon itu.
" Kalau begitu waktunya kembali. " ucapnya pula dengan ceria.
Boommm....
Saat ia mendengar suara ledakan itu, ia jadi punya firasat buruk tentangnya, dan ledakan itu dari arah tempat pertemuan.
" Apa yang terjadi di sana?? Aku harus segala kembali. " ucap Quennevia.
" Pergilah, aku akan mengurus orang-orang dari arah sebalik nya terlebih dahulu. Jika ada sesuatu panggil saja aku. " ucap Everon pula.
" Oke, tapi pastikan kau datang ya. " ucap Quennevia, lalu ia pun langsung melesat terbang dengan cepat ke arah tempat pertemuan itu. Sedangkan Everon mengurus apa yang ia ucapkan tadi.