
[Season 2]
Sementara itu diatas kapal, ketika mereka yang ada disana masih menunggu kedatangan orang-orang yang pergi ke arah pegunungan es dan juga mereka yang ke dalam laut.
Diantaranya, Zico masih merasa kesal karena ditinggalkan ditempat itu. Ia terus menatap kearah Yue pergi sebelum nya dengan tatapan tidak senang, dan juga gerutuan. Terkadang juga sampai menghetak-hentakan kakinya melampiaskan kekesalannya.
" Jezzz... Dia suka sekali mengatur. Menyebalkan. Aku akan memukulnya. Tidak.. Kuinjak saja dia sampai jadi bubur." dia terus bergumam... atau lebih tepatnya merutuki Yue seperti itu.
Sementara itu, Yukio, Mamika dan Lucy yang mendengar semua itu disampingnya hanya bisa terdiam ditempat mereka. Tidak ada yang bisa mereka lakukan jika lawannya adalah naga yang sedang kesal dan terus mengatakan kata-kata yang bengis seperti itu.
Mereka bahkan jadi sedikit ngeri dengan pola pikirnya...
" Dia ini aslinya remaja kan?? Atau anak-anak??"
" Sepertinya dia akan mengamuk jika disentil sedikit lagi."
" Haa... Karena inilah aku tidak suka anak-anak."
Mereka semua punya pikiran seperti itu dalam kepala mereka.
Saat kemudian Zico terlihat tersentak dengan sesuatu, ia merasa sebuah energi datang mendekat dengan sangat cepat.
Ketiga orang yang lain juga menyadari itu ketika melihat beberapa gelombang yang cukup besar datang kearah mereka. Karena itu, Zico langsung membuat panghalang untuk melindungi seluruh kapal.
" Wakk!"
" Kyaak!."
" Ada apa ini?!"
Meski begitu, tidak terhindarkan bahwa mereka tetap terombang-ambing diatas laut, hingga mereka jatuh dan harus berpegangan dengan kuat. Setidaknya mereka tidak mengalami kapal terbalik.
" Cih. Gelombang elektromagnetik yang besar ini dari arah Master pergi." ucap Zico yang jadi tambah kesal karena itu.
" Apa?! Apakah mereka akan baik-baik saja??" tanya Lucy yang khawatir mendengar itu. Tentu saja bukan hanya dia.
Tapi untunglah Zico langsung memberikan mereka penjelasan, " Jangan khawatir. Itu bukan karena serangan atau apapun, sepertinya Master baru saja melenyapkan hal yang tidak seharusnya ada disini." ucapnya.
Tapi yang lainnya kurang mengerti dengan apa yang ia maksud, tapi ekspresi Zico benar-benar terlihat bangga bisa menjelaskan hal tersebut.
" Eee... Aku tidak terlalu paham, tapi kau ingin bilang itu tidak berbahaya, kan??" tanya Mamika kemudian.
" Huh? Iya." dan Zico pun menganggukinya.
" Begitukah, syukurlah. Kau sangat pintar Zico." ucap Yukio kemudian.
Pujian itu membuat Zico jadi senang, " Huh. Tentu saja. Naga adalah spesies puncak dalam rantai makanan, dan kami juga lebih pintar dari kebanyakan makhluk tidak berguna dibawah kami." ucapnya kemudian menimpali.
" Hahaha..." yang lainnya hanya tertawa mendengar itu.
Bagaimana pun mereka harus ingat, Naga memang terkenal akan kesombongan nya didunia atau cerita manapun dia berada.
Saat kemudian Lucy melihat sesuatu dilaut, " Hmm?? Apa itu..??" ucapnya yang langsung menarik perhatian yang lain.
Mereka melihat bagaimana air tak jauh dari mereka sedikit berkejolak, seperti ada sesuatu yang barusaha naik ke permukaannya. Dan tak lama dari itu, mereka melihat dua mata bersinar dalam bayangan hitam yang muncul kemudian menyembul ke permukaan laut.
Ssrraahhh....
" Aahh!."
Makhluk besar itu muncul dan mengangkat kepalanya ke langit, air yang tersisa diatas tubuhnya turun seperti hujan kembali ke dalam lautan. Dan kemudian dia kambali menundukkan kepalanya menatap kapal yang ada di hadapannya, dimana Mamika, Lucy dan juga Yukio terlihat menatapnya dengan terkejut dan tidak percaya.
" U..Ularnya besar sekali.." ucap Mamika yang berdiri paling depan diantara mereka.
Mereka semua berusaha untuk tetap tenang dalam situasi itu, bagaimana pun siapa yang tidak akan terkejut melihat nya muncul seperti itu apalagi dengan wujudnya yang begitu besar. Dia akan langsung dikira monster buas jika muncul di hadapan orang lain, itu karena jika dilihat lagi dia mungkin bisa menelan seluruh kapal yang mereka naiki sekali telan. Bahkan Lucy sampai terceguk saking terkejut nya melihat wujud Kharainza.
Sementara itu Kharainza hanya mendiamkan nya saja, lagipula itu bukan pertama kalinya ia melihat seseorang menatapnya seperti itu karena terkejut. Tapi perhatian nya lebih terfokus kepada Zico yang menatapnya dengan ekspresi datar.
['Jadi... Kau yang kurasakan..'] ucap Kharainza pada akhirnya. Ia berkata soal energi yang dikeluarkan Zico sebelumnya.
" Apa yang kau maksud??" tapi Zico menanggapinya dengan tidak peduli.
Mereka berdua saling tatap dalam diam beberapa saat, sampai kemudian Kharainza menghela nafas terlihat jenuh. Membuat Zico yang melihat itu, entah kenapa jadi kesal karena merasa dia diremehkan.
" Apa-apaan maksudmu itu?! Kau ngajak berkelahi, ya?!!" teriak Zico sambil menunjuknya, sementara tiga orang yang lain yang ada disana hanya diam memperhatikan.
['Bagaimana pun sifat naga tidak pernah berubah, bahkan meski dia masih anak kecil.'] Kharainza berkata demikian, tentu saja tiga orang lajn disana setuju.
Dan Zico tidak terima dengan itu, " Heeh!! Usiaku jauh lebih tua dari tubuhku!!" dia tidak salah juga, karena selama ini dia tersegel dalam telur.
['Bahkan jika kau mengajak bertarung dengan wujud aslimu, kau tidak akan bisa mengalahkanku.'] ucap Kharainza yang lalu menutup kedua matanya dan memperkecil tubuhnya.
" Kau benar-benar ingin ku gigit, ya--??"
Zico menghentikan ucapannya dan terlihat bertanya-tanya, ketika jari telunjuk seseorang menekan dahinya. Kharainza kini berdiri diatas pagar kapal dengan wujud manusianya, dan ia menatap Zico dengan wajah yang tanpa ekspresi.
" Jangan bicara ngawur saat kau tidak bisa mengukur kekuatan mu sendiri." ucap Kharainza kemudian.
Zico masih terlihat linglung saat ini, ia memegang dahinya sendiri dan bertanya-tanya kenapa Kharainza melakukan itu.
Berbeda dengannya, Tiga orang lain disana yang terlihat tercengang melihat bagaimana Kharainza berubah dari seekor monster raksasa, menjadi laki-laki tampan berusia pertengahan 20-30 tahunan, dengan rambut hitam panjang dan mata hijau dengan garis vertikal layaknya reptil pada umumnya.
" ...Apa dia benar-benar makhluk yang sama??" mereka hampir tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
" Hahaha..."
Saat perhatian nya kemudian teralihkan mendengar suara tawa itu, membuat mereka semua menoleh.
Ethan melompat naik ke atas kapal, dan mendarat tepat diatas deck dengan santai. Ia bahkan tidak terlihat basah sama sekali setelah masuk ke dalam air.
" Bagaimana pun ini menarik melihatmu berinteraksi dengan seseorang lagi setelah 10.000 tahun 'kan, Kharainza?" ucap Ethan kemudian kepada orang disampingnya.
Kharainza pun kemudian menimpalinya, " Jangan mengejekku dengan kata-kata seperti itu apalagi tersenyum dengan menyebalkan." dia berkata demikian.
" Mulutmu kejam juga, ya." meski sebenarnya Ethan sama sekali tidak mempedulikan nya.
" Yang benar saja deh." ucap Arkan saat ia juga kemudian melompat dari bawah dan mendarat tepat disebelah Ethan. " Bisa-bisanya kau meninggalkan kami begitu saja." gerutunya dengan kesal kemudian.
" Maaf, ya." sahut Ethan kemudian.
Dan tak lama yang lain juga menusul naik kembali ke atas kapal, meski Meliyana sempat terpeleset dan hampir terjatuh ke laut lagi. Untunglah Yuki langsung menariknya. Sekarang mereka semua sudah kembali berkumpul, em... hampir semuanya.
" Oh, ya. Dimana Quennevia dan Sakura?" tanya Ethan kepada mereka yang ada disana sebelumnya.
" Dia pergi ke sana sebelumnya." dan Mamika pun menyahutinya sambil menunjuk ke arah yang dituju Quennevia sebelumnya.
" Aku merasakan gelombang energi yang terpecah sebelumnya, situs dewa baru saja hancur." ucap Kharainza yang juga ikut menimpali.
" Hmm... Begitukah?."
Mendengarnya Ethan hanya berkata seperti itu. Yah, sesuai dugaannya juga. Tadinya setelah menemukan Kharainza dia memang berencana melakukan itu, tapi karena Quennevia melakukan nya lebih dulu, tidak ada yang bisa ia lakukan tentangnya.
" Hmm..??" Saat kemudian perhatian Ethan teralihkan kepada sesuatu diatas sana. Lebih tepatnya, ada sesuatu yang datang mendekat kearah mereka melalui jalur udara. " Aku tidak ingat kalau kita menyiapkan helikopter dalam misi ini." ucapnya membuat yang lainnya juga sadar dengan kedatangannya.
Sementara Lucy mengambil sebuah teropong yang ia bawa dari saku jaketnya, dan melihat siapa yang datang itu. Dan nyatanya itu bukanlah orang asing...
" Itu Sakura, lho." ucapnya memberikan klarifikasi kepada mereka, tapi kemudian ia menoleh dan menatap Mamika dengan ekspresi bingung dan bertanya. " Tapi dari mana dia mendapatkan helikopter itu??" Mamika sendiri menggelengkan kepalanya tidak tahu menahu soal itu. Itu yang dipertanyakan semua orang saat ini.
Ketika helikopter itu semakin dekat dan mulai menurunkan ketinggiannya, angin kencang dari baling-baling helikopter itu menerpa mereka, bahkan membuat kapal yang mereka tumpangi sedikit bergoyang-goyang.
Namun sebelum helikopter itu mendarat, ia menghilang diudara seolah lenyap bersama hanbusan angin. Sementara Sakura dan Yue yang terlihat menggendong sesuatu yang sebelumnya menumpangi benda itu terjun dari nya dan mendarat diatas deck.
Semuanya mendarat dengan selamat.
Sementara itu beberapa dari mereka masing dibuat bingung dengan yang terjadi, " Bagaimana kau melakukan nya..??" tanya Meliyana sedikit tercengang.
" Itu hadiah yang didapat Sakura." jawab Yue, ia pun menoleh kearah Sakura yang ada dibelakang nya, dan Sakura sendiri menatapnya. " Kemampuan nya, 'Imaginary Creation', kemungkinan nya untuk menciptakan sesuatu yang ia pikirkan dan yang ia pahami." lanjutnya kemudian.
" Lalu... Quennevia dimana? Dan apa itu?" tanya Arkan sembari menunjuk sesuatu yang ada ditangan Yue, sesuatu yang tertutupi oleh mantel hangat.
Saat... Sesuatu yang di maksud itu bergerak dan menoleh kearah mereka, membuat Oscar dan Arkan berteriak karena terkejut.
" Aaahh..!!"
Sementara yang lain...
" Imutnya~..!"
Ethan, Zico, Yukio dan Kharainza sendiri langsung terpaku melihat nya, mereka hampir tidak bisa berkata-kata. Pasalnya... Sesuatu yang mereka lihat itu adalah Quennevia, dalam bentuk anak kecil berusia sekitaran 6 tahun.
" Chi.. Chibi Quennevia.. Dia sangat manis.."
" Biarkan aku menggendongnya juga~..!"
" Pipinya sangat lembut dan kenyal.."
" Bagaimana bisa dia jadi begini??"
" Dia terlalu banyak memakai kekuatan, jadi wujudnya disesuaikan agar tetap jadi manusia."
" Begitu rupanya."
" Hey, apa kau ingin permen??"
" Bagaimana ini... Aku ingin menggigit pipinya.."
Para gadis tidak bisa menahan dirinya. Mereka langsung mengelilingi Quennevia dan menyentuh pipinya yang chubby dalam bentuk itu. Yue sudah menduga kalau itu akan terjadi, karenanya dia menutupi Quennevia bukan hanya untuk membuatnya tetap hangat.
Bahkan jika ia lihat lagi, Sakura dibelakang sana juga diam-diam berpikir untuk mencubitnya.
Dan Quennevia sendiri, ia jadi tercengang dan juga merasa tidak nyaman dengan itu, benar-benar tidak tahan dengan gangguan mereka. Karena itu, ia pun langsung melompat dari tangan Yue..
" Oh!"
" Eh? Quennevia??"
Dan sementara mereka masih bingung dengan itu, Quennevia berlari dengan ekspresi panik kearah Ethan. Quennevia bersembunyi dibelakangnya sambil memeluk kaki Ethan dan menatap para gadis yang mengganggunya dengan tatapan kesal. Tapi...
" Kyaa~... Kau lihat bagaimana dia melangkah dengan kaki kecilnya??."
" Quennevia tetap lucu bahkan saat dia kesal."
Kegirangan mereka malah menjadi-jadi, bahkan tidak tertolong lagi.
" Hei, sudahlah." Bahkan Arkan yang melihat itu sampai menatap mereka dengan ekspresi risih. Sedangkan Ethan dan Oscar hanya tertawa menanggapi itu.
" Master, anda baik-baik saja??" tanya Zico yang muncul disampingnya, mendengar itu, Quennevia pun menoleh kearahnya. " Ini. Permen untuk anda." dan ia bahkan memberikan hadiah kecil kepada majikannya sementara Arkan bertengkar dengan para gadis didepan sana, dan Oscar yang berusaha melerai mereka bersama Yukio.
Quennevia pun menerima permen itu dan menatapnya dengan polos, sementara Zico hanya menghela nafas seolah puas dengan itu. Sekarang mereka berdua terlihat seperti anak kecil sungguhan yang sedang bermain bersama dengan akur.
Itu sampai, mereka menyadari ada bayangan seseorang didekat mereka.
Karena itu, keduanya pun menenggakkan kepala mereka menatap siapa itu. Dan yang mereka dapati adalah Kharainza yang menatap kearah mereka dengan tatapan aneh, sampai-sampai Zico dan Quennevia mengalami cegukan singkat. Itu karena ekspresi nya terlihat menyeramkan jika kau melihat itu dari sudut pandang anak kecil.
Belum sadar dari itu, kemudian Kharainza pun mengulurkan kedua tangannya dan mengangkat Quennevia ke udara. Sementara kali ini Zico terkejut melihatnya.
" Hey! Apa yang kau lakukan?! Turunkan masterku!." dia berteriak marah kepada Kharainza, bahkan sampai menendang kakinya.
Tapi Kharainza tidak bergeming sama sekali, dia justru menatap Quennevia dengan seksama sementara Quennevia menatapnya bingung.
" ...Apa kau benar-benar dewi tengah??" tanya Kharainza pula kepada Quennevia dengan ekspresi kurang meyakinkan.
Quennevia hanya terdiam menanggapi itu, tapi justru Zico lah yang jengkel mendengar keraguan nya itu. " Apa maksudmu mengatakan itu?! Ingin ku gigit, ya?!."
" Tidak bisa dipercaya. Kau benar-benar jadi bayi.."
" Heh! Kau tidak mendengarkanku, ya!!."
" Bagaimana dunia bisa membiarkannya seperti ini."
" Bajingan!!."
Quennevia tetap tidak bereaksi dalam menanggapi semua perkataan dua makhluk dihadapannya. Ia hanya diam bahkan menutup matanya dengan lelah. Sementara Kharainza terus menatap Quennevia dengan ekspresi aneh, disaat yang sama Zico benar-benar mulai mengigit salah satu lengannya hingga bergelantungan, tidak mau melepaskannya.
Zico dan Kharainza mulai bereaksi ketika merasakan hawa buruk dari belakang mereka, hingga membuat keduanya jadi merinding. Dan ketika mereka menoleh, Ethan lah sumbernya. Dia tersenyum dingin terlihat seperti sedang menahan sesuatu.
Karena itu semua orang langsung terdiam, bahkan orang-orang yang sebelumnya bertengkar hingga hampir adu jotos juga berhenti dan saling memeluk karena merasakan firasat buruk.
" Apa sudah selesai berkelahinya??" tanya Ethan kepada mereka semua kemudian, yang mana langsung diangguki oleh semua orang. Bahkan Zico juga langsung melepaskan mulutnya dari lengan Kharainza. " Kita tidak bisa membuang-buang waktu, mengerti??" tanyanya lagi kepada mereka, dan lagi-lagi dibalas anggukan kepala.
Saat kemudian Ethan pun mengulurkan tangannya, " Bisa berikan dia padaku??" dan dia bertanya kepada Kharainza yang masih memegangi Quennevia.
Dan dengan senang hati Kharainza memberikan Quennevia padanya, itu lebih baik daripada melihatnya mulai menggila. Ethan yang menerima nya pun menggendongnya dengan lebih baik, Quennevia sendiri kelihatannya merasa nyaman dengan itu hingga ia memeluk leher Ethan dengan erat.
Ethan hanya tersenyum karena itu, dan kemudian kembali ke pokok permasalahan.
" Baiklah, karena kita dikejar waktu yang semakin sempit, kita langsung saja ke intinya." ucapnya membuat yang lainnya pun mulai menatapnya dengan serius, " ..Kita akan mengubah Kharainza menjadi manusia." lanjutnya pula.
Saat Sakura mengangkat tangannya dengan cepat diantara yang lain, " Pertanyaan. Bagaimana kau akan melakukan itu?" tanyanya seperti sedang berada di sekolah.
" Kita harus memindahkan jiwanya ke tubuh yang baru dan menghapus esensinya sebagai makhluk mistis."
" Caranya?" tanya Yuki pula ikut bertanya.
Ethan kembali tersenyum dengan cara yang lebih serius ketika pertanyaan itu diajukan, " Hmph. Ada seseorang yang pandai memisahkan ruang, kesadaran, dan jiwa." ucapnya.
Sementara yang lainnya bertanya-tanya tentang itu...
Baru beberapa saat kemudian, Oscar dan teman-temannya yang lain ingat tentang nya.
" Ohh~!." mereka bereaksi seperti itu bersamaan.
Sementara Ethan memanggilnya. "... Eclipse."
Dan sesaat setelah nama itu disebutkan, seluruh dunia yang mereka lihat berubah menjadi gelap.