Quennevia

Quennevia
Akhir Tragis



[Season 2]


- Pulau Amberis


" Hah.. hah.. hah.. Kupikir aku akan mati tadi! " ucap Arkan ketika mereka mendarat dengan selamat dipulau tempat mereka berada saat ini.


" Hah.. Itu.. perkataan kedua yang kau katakan hari ini.. " sahut Yuki pula.


Sebelumnya memang situasi yang sangat menegangkan, mereka dikejar dan hampir dimakan oleh monster-monster mengerikan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.


Yuki pun mengedarkan pandangannya, tidak ada apapun ditempat mereka saat ini. Kecuali tanah tandus dan pohon-pohon kering yang tak berdaun sama sekali disekeliling mereka, tidak ada satupun tanda-tanda kehidupan ditempat itu.


" Dimana kita sekarang??" guman Yuki bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


" ....Ris.. " suara Ethan kemudian mengalihkan pandangannya, " .. Pulau Amberis.. " ucapnya pula dengan wajah tertunduk.


" Huh??" Arkan dan Yuki masih belum mengerti dengan sikap Ethan yang terus bersikap aneh sejak tadi, sampai...


Jedarr..!!


" Ekk!!" Mereka tiba-tiba dikejutkan dengan suara petir yang menggelegar memekakan telinga.


Disaat yang sama dengan awan hitam yang berkumpul diatas kepala mereka, hujan lebat pun mulai turun dengan angin kencang dan gelombang besar dari lautan. Belum cukup sampai disana....


Byuurrr...!!


Groaarr...!


Byuurrr...!!


.. Para monster itu juga kembali muncul kepermukaan, mengelilingi pulau tempat mereka berada seperti tengah melakukan parade kematian.


****


Sementara itu, Oscar yang masih terjebak dalam 'Memory Reply' melihat hal yang cukup aneh...


" Itu... Adelaide dan Lilya?? Kenapa mereka telihat seperti dikejar-kejar sesuatu??" Oscar bertanya-tanya dengan penuh penasaran melihat kedua gadis itu berlari dengan terburu-buru.


Ia pun mengikuti mereka melalui atap ke atap rumah yang lain, diikuti dengan kepanikan yang dua gadis itu perlihatkan.. Dan dari sisi lain Oscar mendengar suara lolongan anjing dan derap langkah yang lebih banyak.


" Sedikit lagi! Hanya sedikit lagi saja, Adel! Kita akan sampai ketempat keretanya!." kata Lilya yang sesekali melihat kebelakang, kepada Adelaide yang ia tarik saat ini.


Sementara itu, Adelaide hanya bisa menatapnya dengan penuh harap. Nafasnya terengah-engah, dan tubuhnya terasa lemas. Itu karena efek obat yang diberikan oleh Lilya padanya sebelumnya.


" Li-Lilya.. Apa.. Kita akan berhasil?? Bukankah lebih baik menggunakan kekuatan ku sekarang?" tanya Adelaide dengan wajah cemas.


" Tidak boleh. " tolak Lilya atas pernyataan Adelaide, " Obat yang kuberikan padamu itu berfungsi menghilangkan kekuatan mu untuk sementara, jika kau menggunakan kekuatan mu disaat seperti ini nyawa mu akan berada dalam bahaya, itu karena rantai dikakimu. Semakin kuat kekuatan orang yang dipasangi rantai itu, maka rantai tersebut juga makin kuat. Begitu pula sebaliknya, semakin lemah dirimu, semakin lemah juga rantainya. Ini adalah satu-satunya cara. Aku sudah membawa keluarga mu pergi tanpa pengetahuan para pendeta ketempat yang aman, asalkan kita naik ke kerata itu, maka kita akan selamat. " jelas nya pula penjang lebar ditengah lari mereka.


Adelaide percaya dengan itu, dia percaya pada satu-satunya teman nya itu, tapi...


" Kenapa... aku merasakan firasat buruk..." batin Adelaide khawatir.


Awooo...


Guk.. guk.. guk..


" Kyakk!!." Adelaide berteriak kesakitan, saat seekor anjing tiba-tiba muncul dari balik sebuah kotak kayu didekat mereka dan menggigit lengannya.


" Adelaide!!" Lilya yang melihat nya pun langsung ambil tindakan dan menandang anjing itu sampai melepaskan Adelaide. "Adel, kau baik-baik saja 'kan?" tanyanya pula yang membantunya berdiri.


" I-Iya..." jawab Adelaide sembari menahan rasa sakit dari lengannya.


Cairan berwarna merah terlihat membasahi pakaian yang dikenakannya, itu merembas keluar dari lengan yang sebelumnya digigit oleh anjing itu. Lilya tahu itu parah, dia juga merasa tidak enak. Namun ini bukanlah waktu bagi mereka untuk bersantai-santai.


" Baiklah, kalau begitu kita harus-... hak!!" ucapannya terhenti saat sebuah anak panah, tiba-tiba menancap dipunggung Lilya dan tubuhnya pun jatuh ditanah.


" Lilya!!" teriak Adelaide dengan terkejut, ia langsung menghampiri dan memeluk teman baiknya itu. "Bertahanlah! Aku akan menyembuhkanmu! " celetuknya dengan panik.


" Tolong menjauhlah dari penjahat itu, yang mulia Saintess." ucap seseorang mengalihkan perhatian Adelaide dan Lilya.


Para pengejar... Para pendeta dan pasukan kesatria suci mulai berdatangan dan mengepung mereka dari segala sisi. Tidak berhenti sampai disana, para warga yang mendengar keributan itu pun mulai keluar dari rumah mereka dan melihat apa yang terjadi diluar sana..


" Ada apa ini? Semuanya berkumpul disini... "


" Mengapa Saintess ada disini??"


" Apa yang sedang terjadi??"


Yang bisa Adelaide lakukan hanyalah memeluk temannya itu dengan erat...


Orang-orang keluar satu-persatu, menatap bingung dengan apa yang terjadi dihadapan mereka. Begitu pula Oscar yang tidak bisa dilihat siapapun saat ini, ia ingin tahu apa yang telah terjadi setelah dirinya menghilang sebelumnya. Namun yang ia dengar adalah sesuatu yang mengejutkan...


" Wanita ini adalah seorang pendosa!! Dia berencana menculik Saintess dan mencelakainya!! Lihatlah lengan Saintess kita yang baik dan malang." teriak seorang pendeta tinggi kepada orang-orang yang ada disana, dan itu membuat pandangan mereka kepada Lilya menjadi buruk.


Dia bahkan memanfaatkan luka yang ada ditangannya untuk menarik simpatik orang-orang dan memanipulasi semuanya.


" Ti-Tidak.. itu tidak benar, dia-..." Adelaide berusaha menjelaskannya, namun perkataan nya justru terpotong oleh berita yang tidak menyenangkan.


" Dia bahkan telah mencelakai keluarga Saintess!!"


Mendengar hal itu, bukan hanya Adelaide yang tersentak kaget... tapi Lilya yang yakin mereka sudah baik-baik saja juga begitu..


" Eh..? Apa..? Apa maksudmu? Apa yang terjadi kepada keluarga ku?!" tanya Adelaide dengan panik.


" Itu tidak mungkin! Mereka seharusnya sudah ada ditempat yang aman!!" ucap Lilya dengan lantang.


" Tidak.. itu tidak mungkin.. Keluarga ku, apa yang terjadi kepada mereka...??" Adelaide tidak bisa menerima semua yang ia dengar saat ini.


Pikiran nya kacau...


Sementara orang yang berdiri didepan nya itu menghela nafas berat dan menundukan wajahnya sedih, " Kami.. sudah berusaha menolong mereka dari monster yang ada dihutan, namun... satu-satunya yang bisa kami selamatkan hanyalah tubuh dari adik anda.." jawabnya pada Adelaide.


Para pendeta itu bahkan menunjukan tubuh adiknya yang sudah tak bernyawa padanya, seketika itu... Adelaide benar-benar hancur, semua yang berharga baginya hilang. Dan air mata pun tidak mau berhenti mengalir dari matanya..


" Tidak mungkin... " Adelaide tidak bisa menerima kenyataan itu.


Bukan hanya Adelaide, bahkan Lilya juga tidak menyangka hal itu akan terjadi. Padahal ia yakin kalau mereka sudah berangkat ke tempat yang aman, kecuali jika...


...Jika ada yang membocorkan hal itu!


Iris mata Lilya pun langsung tertuju kepada seorang pemuda berjubah putih, yang berdiri diantara para pendeta disana. Dia yang berusaha menyembunyikan ekspresi nya dibalik jubah pendeta yang ia kenakan.


" Casius!! Itu kau bukan?! Kau yang sudah memberitahu mereka! " teriak Lilya dengan murka.


Disisi lain, Oscar yang juga melihat semua itu terkejut sendiri dengan apa yang ia lihat, orang bernama Casius yang dimaksud oleh Lilya... benar-benar sangat mirip dengan seseorang dimasa depan yang ia ketahui, Reeth salah satu dari kepala keluarga yang ada diklan Retia.


Sementara itu, Casius yang dipanggil Lilya menyunggingkan senyuman misterius dan berkata, " Apa maksudmu, Lilya? Aku sama sekali tidak mengerti." ucapnya dengan suara tenang.


" Aku memberitahumu rencanaku, karena kau bilang kau ingin membantu Adel keluar dari kuil! Jadi pada akhirnya kau tetap disisi para pendeta dan memberitahukan rencanaku kepada mereka?!! Dasar tidak tahu malu! " teriak Lilya benar-benar emosi dengan apa yang terjadi.


" Bukan hanya rupanya yang mirip, bahkan sifatnya. Apakah mungkin mereka itu orang yang sama?! " Oscar bertanya-tanya.


" Kau...!! " Lilya berusaha bangkit berdiri ketika amarahnya benar-benar memuncak, namun saat itu juga.. anak penah lain meluncur dan menembus dadanya.


Lilya pun jatuh ditempat nya, tepat disamping Adelaide. Dan Adelaide sendiri... dia terlihat sangat terkejut dengan apa yang terjadi..


" Li-..Lilya... " ucapnya dengan suara bergetar.


" Ma.. af.. Adel.." gumam Lilya untuk terakhir kalinya, saat kemudian ia pun meregang nyawa dan tidak bisa menepati janjinya kepada teman terbaiknya.


Adelaide hanya terdiam ditempat nya, meski banyak suara berisik disekelilingnya.. namun apa yang ia dengar hanya keheningan yang mengerikan. Sampai kemudian, ia mendengar sebuah suara... sesuatu didalam dirinya putus...


Oscar yang melihat semua itu berlari kearah Adelaide, ia ingin segera menghampirinya dan menenangkannya. Namun tiba-tiba ia dililiti oleh banyak akar yang entah muncul dari mana...


" Ukh... Adel...eide! " panggilnya mencoba menarik perhatian nya, namun ia sama sekali tidak bisa melakukan itu. Akar-akar itu mengurungnya, menutup mulutnya, bahkan mencoba untuk menutup kedua matanya.


[Jangan lihat! Jangan Lihat!!]


Oscar membulatkan matanya mendengar itu, suara Quennevia...


[Sampai situ saja! Jangan melihatnya lagi! Jangan mengasihaniku!]


Dia tidak ingin memperlihatkan apa yang akan terjadi selanjutnya kepada Oscar, karena itu dia mengurungnya. Namun tidak bisa benar-benar melakukan itu...


Disisi Adelaide, ia yang masih terdiam ditempat nya kemudian dihampiri oleh salah satu pendeta tinggi.


" Mari kita kembali, yang mulia. Kita harus menggelar pemakaman keluarga anda. " ucapnya yang kemudian membantu Adelaide berdiri.


Sementara Adelaide bergumam, ".. Enyahlah... "


Keadaan hening untuk sepersekian detik, tapi kemudian... pendeta yang memegang tangan nya itu mulai bergerak-gerak dengan aneh..


" Ackk.. akk..."


Dan ia pun meledak, dengan banyak akar-akar berduri keluar dari tubuhnya, merobek-robek dirinya dari dalam...


" Ahhh!!!"


" Lari!!"


Orang-orang yang melihat hal itu pun mulai berlarian pergi dari sana, mereka menjauh, mencari tempat yang aman dan bersembunyi.. namun tidak ada yang bisa lepas dari murka nya.


Wushhh... Zraatt... Jlebb!


" Kyaaa! "


Drap... Drap...


" Saintess murka! Beliau murka!!"


" AHAHAHAHAHA...!! MATI! MATI!! PERGILAN KE NERAKA KALIAN SEMUA!!! "


Duarr...!


Orang-orang lari ketakutan, semua yang berdiri dihancurkan, nyawa-nyawa direnggut dan darah bercucuran menghujani setiap sudut diseluruh kota. Tidak peduli siapa yang ada dihadapan nya, bahkan anak kecil yang tidak tahu apapun semuanya mati.


Adelaide... membantai semuanya tanpa pandang bulu...


Ceplak...


[Sudah kubilang, bukan? Jangan melihatnya. Jangan melihat monster sepertiku. Jangan mengasihaniku.]


" Quennevia... Apa maksudmu..." Oscar berjalan dijalanan yang penuh darah, melihat tubuh yang bergelimpangan disetiap langkahnya. Sama sekali tidak ada yang tersisa..


Ia tidak bisa mengatakan apa-apa, tubuhnya gemetar ketakutan. Akan tetapi hatinya terasa begitu sedih, begitu menyesakan. Oscar tidak pernah berpikir kalau sesuatu bisa jadi seburuk ini, amarah, dendam dan kesedihan berkumpul menjadi satu dan lepas kendali menyelimuti tempat ini.


Kenyataan kalau ia takut tidak berubah, namun dirinya sama sekali tidak punya niat untuk berpaling. Ia tidak punya niat untuk meninggalkan gadis itu sendirian dalam kepedihan...


Langkah kakinya membawa Oscar kembali kedepan kuil dewi, dirinya menatap patung dewi yang sebelumnya berdiri kokoh seolah tidak bisa dihancurkan oleh apapun.. kini terguling ditanah dan hancur. Dan didekat patung yang hancur itulah, dia ada disana...