
[Season 2]
Sudah sejak beberapa hari yang lalu, suasana hati Leana tidak begitu baik.
Itu semenjak Arkan terus bersama dengan Balin dan terus menghindarinya. Bahkan tidak ada yang bisa menghentikan Arkan untuk pergi, para pelayan maupun penjaga yang ia tugaskan mengawasi Arkan selalu mengucapkan kata-kata yang sama saat tahu dia menghilang. Dan itu benar-benar membuatnya sangat frustasi.
Bahkan dua hari yang lalu, ayah mertuanya datang ke hadapannya dan mengatakan kata-kata yang tak terduga.
" Leana, biarkan Arkan dan Balin melakukan apa yang mereka inginkan. Anak-anak seperti mereka seharusnya menghabiskan waktu dengan bermain dan bersenang-senang bersama. "
" Arkan akan jadi lemah jika dia tidak diajari, ayah. Itu tidak akan bagus baginya yang akan mewarisi klan suatu hari nanti."
" Itu masih 'suatu hari nanti'. Saat ini dia dalam masa tumbuh dan belajar, dan keduanya adalah saudara. Jangan memisahkan mereka untuk hal yang tidak perlu."
Dia bukanlah orang yang akan mengatakan hal itu tanpa alasan. Leana tidak percaya seorang Lewis Gwirnet, sang pamimpin klan Taiga yang agung. Yang selalu menjunjung netralitas bahkan dalam keluarga nya sendiri mengatakan hal itu hanya untuk membela kedaulatan kedua cucu laki-laki nya.
" Ini tidak benar.. ini tidak seharusnya terjadi. Bagaimana bisa dia tiba-tiba berubah pikiran.." Leana menggigiti kuku nya dalam kegelisahan.
Sebelumnya tidak peduli apa yang ia lakukan, Lewis tidak mengatakan apapun dan hanya mengamati dalam diam. Tapi sekarang dia justru memberinya peringatan seperti itu. Leana harus berpikir ulang dan mengubah rencananya jika seperti itu.
Ia masih ingat dengan kata-kata para bawahan yang bekerja padanya, tentang kejanggalan yang mereka rasakan saat bersama Arkan.
" Tidak mungkin beliau hilang. Saya sudah memastikan kalau beliau sama sekali tidak keluar dari kamarnya."
" Untuk beberapa alasan saya tidak yakin. Namun saat saya masuk ke kamar Tuan Arkan, saya merasa seolah ada yang mengawasi saya. Itu membuat saya tidak nyaman, saya juga takut.. jika saya bergerak tiba-tiba, seolah itu akan menerkam saya."
" Dua pelayan ditemukan pingsan didepan kamar Tuan Arkan, sementara Tuan Arkan sendiri tidak ada ditempatnya. Saat ditanya ada apa, mereka berdua kelihatan seperti orang linglung. Beberapa saat mereka akan bilang tentang melihat monster, tapi kemudian mereka akan bilang kalau ada yang menyerang mereka. Sampai saat ini kondisi mental keduanya masih dipantau lebih jauh... "
Tunggu..
Kondisi mental...
Sepertinya Leana melewatkan bagian itu. Kedua pelayan itu adalah orang-orang dari prajurit bayaran yang ia pekerjakan, tidak mungkin mereka bisa dikalahkan dengan mudah. Namun jika kedua pelayan itu sampai pingsan seperti itu, maka seharusnya mereka terkena serangan mental yang cukup kuat.
Tapi yang ia tahu. Tidak ada orang dengan tipe serangan mental yang cukup kuat untuk menumbangkan mereka yang telah terlatih selain dirinya diklan.
Saat itulah sesuatu terlintas dikepalanya.
Semua yang terjadi berawal dari kedekatan Balin dan Arkan, dan mereka yang menjadi aneh pun berada didekat Arkan ketika tidak menyadari dia menghilang. Jika apa yang ia pikirkan itu memang benar, artinya yang menyerang mereka dari awal adalah.. Arkan sendiri.
" Itu tidak mungkin..." Leana bergumam pada dirinya sendiri, disaat yang sama ketika kedua sudut bibirnya terangkat keatas.
Tanpa ia sadari, satu dari beberapa hal yang ia inginkan telah tercapai begitu saja. Dan itu adalah kemampuan Arkan yang berkembang dengan baik sampai ke tahapan yang tinggi diusia muda.
" Arkan, kau benar² harta karunku. Dengan begini... aku akan bisa menaklukan mereka dengan cepat. "
Leana yang dipenuhi dengan kegembiraan segera bangkit dari tempatnya duduk dan keluar dari ruangannya. Ia ingin memastikan satu hal lagi dengan kedua matanya sendiri. Ia begitu terburu-buru, bahkan sampai mengabaikan orang-orang yang ia lewati disepanjang jalan.
Yang ia sambangi ditempat itu adalah paviliun yang cukup besar yang ada disamping kediaman, tempat dimana orang itu sakit dan dirawat. Sekaligus tempat yang jadi tujuan Arkan untuk sering datang akhir-akhir ini.
Dan seperti yang ia duga, ia bisa melihat Arkan yang baru saja keluar dari sana, tentu saja.. bersama Balin disampingnya.
Wajah baik Leana langsung berubah ketika melihat itu, matanya pun menatap dengan tajam kearah kedua anak itu, namun ia tidak melakukan apapun selain menghentikan langkahnya. Ia tidak ingin Arkan memandangnya dengan kebencian jika dia melakukan sesuatu kepada Balin tepat dihadapannya.
Terlebih lagi, Arkan terlihat begitu bahagia saat bersamanya. Dia tertawa lebih lebar dan cerah ketimbang bersamanya. Tapi ia tetap tidak menyukai hal itu.
" ....Hubungan mereka jauh lebih dekat dari sebelumnya. Harusnya aku tidak membiarkan Arkan terus dekat dengan anak itu."
Dimata Leana, hanya yang terbaik yang akan dia akui. Dan Arkan adalah yang pertama sekaligus yang terakhir baginya, bahkan.. meskipun suatu hari nanti Balin mengalahkan nya, ia tidak akan diam saja membiarkan itu.
Leana hanya mengakui satu anak.
Arkan yang sedang bicara dengan Balin sambil berjalan pun mulai menyadari keberadaannya, dan kemudian menghentikan langkahnya tepat didepan Leana tentu saja dengan Balin disisinya. Ia sama sekali tidak melepaskan tangan kecil yang ia genggam ditangannya. Dan menatap Leana yang ada dihadapannya tanpa rasa takut.
Untuk beberapa saat hanya ada keheningan diantara mereka, sementara Arkan dan Leana saling menatap dalam diam. Balin memperhatikan mereka saling bergantian dalam kegelisahan. Jelas sekali apa yang ia khawatirkan.
Tapi semuanya berakhir, saat Arkan yang pertama kali mengeluarkan suara dan tersenyum seperti biasanya. " Halo, ibu. Sudah lama aku tidak melihat ibu, bagaimana kabarmu?"
Leana tidak segera menjawabnya, ia memperhatikan nya sesaat sebelum kemudian membuka mulutnya. " ....Ibu baik-baik saja."
" Begitukah? Syukurlah. Apa ibu ingin menemui ayah? Kondisinya jauh lebih sehat akhir-akhir ini, mungkin tidak lama lagi dia akan bisa beraktivitas dengan normal kembali. "
" Itu terdengar melegakan, karena pada dasarnya ayahmu sejak dulu kondisinya lemah."
Tentu saja, semua orang tahu itu.
Ayahnya adalah putra sulung dikeluarga ini, dan selayaknya putra sulung dari salah satu klan terkuat di kerajaan Aquila, dia diberkahi dengan kekuatan yang sangat besar. Bahkan ia telah diakui sebagai penerus selanjutnya dari pemimpin klan Taiga.
Namun kelemahan terbesarnya, adalah kondisi fisiknya yang semakin melemah disaat kekuatannya semakin kuat. Kekuatan yang berdiam didalam tubuhnya itu, secara bertahap menggerogotinya. Pada akhirnya, selain kuat dari segi serangan dan pertahanan, kekuatan itu tidak berguna sama sekali.
Karena itu adalah kekuatan yang memakai daya hidup penggunanya saat digunakan.
Arkan yang paling tahu tentang kekuatan itu setelah menelitinya selama ini, dan ia juga sekarang tahu cara menanggulanginya dengan bantuan saran dari Quennevia dan Ethan yang paling akrab dengan sumber kekuatan dialam semesta.
" Ibu pasti khawatir sekali, kan? Tapi sekarang tidak apa-apa, ayah akan sembuh dan dia akan menjalankan tugasnya dengan benar kali ini. "
Arkan tidak berniat mengulangi kesalahan yang sama dengan dirinya didunia nyata, setidaknya... Dia tidak ingin mengulangi kesengsaraan yang sama sekalipun itu adalah sebuah mimpi.
Namun Leana tidak bergeming sama sekali dengan hal itu, seolah dia tidak peduli lagi jika posisinya tergeser setelah ayahnya nanti kembali. Arkan menyadari reaksinya yang lebih tenang setelah mendengar provokasinya, itu terlihat aneh.
Leana yang ia tahu, dia pasti akan kesal dengan hal itu sekalipun kata-katanya berasal dari anak yang ia sayangi dan tidak tahu apapun. Namun kali ini, dia justru berdiri diam bahkan tersenyum kearahnya.
Seolah apa yang ia lihat hanya dirinya saja.
" Tidak mungkin dia diam saja. Atau... rencana nya telah berubah?" Arkan tidak bisa memahami arti dari ekspresinya itu.
" Arkan.."
Salah satu alisnya terangkat ketika mendengar namanya dipanggil oleh ibunya, sementara itu disampingnya... Balin yang sedari tadi diam mendengar percakapan mereka, mencengkram tangannya dengan erat sambil gemetaran.
" Dua orang pelayan pingsan didepan kamarmu saat kau menyelinap pergi, apa kau yang menyerang mereka?"
Arkan sedikit tersentak mendengar hal itu dari nya, namun segera mendapatkan kembali ketenangannya.
" Tidak mungkin.... dia sudah menyadari nya lebih cepat dari dugaanku...."
Dia melupakan hal itu.
Melupakan fakta bahwa Leana tidak mudah ditipu dan punya insting yang kuat.
Dan Leana semakin melebarkan senyumannya setelah melihat rekasi Arkan tentang itu, ia pun melanjutkan kata-katanya.
" ..Kedua pelayan itu sekarang dalam kondisi mental yang cukup tidak stabil, bahkan beberapa pelayan selalu bilang kalau mereka merasa melihat monster dikamarmu. "
" Monster? Apa ini sebuah lelucon, untuk apa ada monster dikamarku?"
" Entahlah... sepertinya kau yang paling tahu hal itu. "
Arkan nyaris tidak bisa mempertahankan ketenangannya setiap kali Leana menatapnya dengan tatapan itu. Sensasi dingin muncul dibelakang punggungnya dan itu selalu tidak nyaman. Itu bukanlah tatapan seorang ibu yang menyayangi putranya...," Jadi apa yang ingin ibu katakan?"
...Tapi mata penuh hasrat yang mengejar kekuasaan mutlak.
" Arkan... apa kau benar-benar menyerang mereka? Kenapa kau melakukan itu?."
Itu pertanyaan yang harusnya tidak perlu ditanyakan lagi ketika ia telah menemukan jawabannya. Arkan sekarang tahu kenapa dia menghabiskan banyak waktu bicara omong kosong seperti ini dihadapannya ketika ia bersama Balin. Padahal biasanya dia yang selalu menghindari saudaranya sejauh yang ia bisa.
Aura berwarna kemerahan perlahan naik dari tubuh Leana, disaat itu.. Arkan melepaskan tangan Balin dan sedikit melangkah mundur.
" Eh..?"
Balin tidak punya waktu untuk menanyakan apapun, jadi ia langsung menutup kedua matanya tanpa ragu, disaat yang sama dengan Arkan yang menutupi kedua telinganya dengan tangannya.
Aura lain berwarna ungu memancar keluar dari tubuh Arkan, dan menyelimuti nya beserta Balin seolah melindungi mereka. Kedua kekuatan itu saling bertabrakan diudara, sementara mata Arkan yang tajam menatap Leana seolah bertanya apa yang dia lakukan?
Ketegangan semakin meningkat dikala keduanya yang sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Pembuktian terakhir yang diinginkan Leana.
Sesuai yang ia perkirakan, kekuatan Arkan telah tumbuh dengan baik dan besar. Bahkan bisa mengimbanginya disaat-saat paling optimal nya. Itu mengejutkan baginya. Namun bagi yang lain itu wajar, karena dia bukan lah yang asli didunia ini.
" ...Luar biasa."
Leana bergumam singkat, saat aura yang ia keluarkan mulai surut perlahan. Arkan yang melihat nya pun juga mulai menenangkan kekuatannya, ia juga melepaskan tangan nya dari kedua telinga Balin, yang juga diiringi terbukanya mata saudara kecilnya itu.
Balin pun segera menoleh kearahnya, " Kakak...!"
Yang mana disambut oleh senyuman lembut oleh Arkan, namun itu hanya sebentar. Hanya sampai ia mengalihkan matanya kepada Leana, ekspresi nya berubah dingin dan senyuman yang biasa ia tunjukan pun menghilang.
" ...Apa yang ibu pikirkan? Mengangkat aura sebesar itu kepada anak yang bahkan belum mempelajari dasar-dasar pengendalian energi? Apa ibu berusaha menyerang Balin??"
Mendengar ucapannya, Balin tersentak kaget. Wajahnya langsung berubah pucat dan gemetaran mulai terjadi, ia pun perlahan melirik Leana yang berdiri disebrang sana. Namun tidak ada reaksi lain darinya untuk Balin, karena yang dia lihat hanyalah Arkan.
" Kau punya potensi yang besar sebagai penguasa alam bawah sadar. Mengapa kau tidak mengatakan apapun??"
Arkan mengerutkan kening terhadap ucapannya.
" Kau seharusnya belajar kepada guru yang lebih baik, dengan begitu kualifikasi dan suksesi mu akan meningkat. Kau seharusnya mengatakan tentang bakatmu pada ibu, sayang. "
" Ha... Aku tidak punya apapun untuk dikatakan kepada ibu tentang bakatku. Aku hanya ingin bersama saudaraku."
Arkan merasa ingin tertawa terbahak-bahak mendengar hal itu, menggelikan rasanya ketika mendengar itu dari orang yang paling buruk dalam ingatanmu.
" Kau menyia-nyiakan anugrah yang diturunkan padamu."
" Aku tidak peduli dengan anugrah, wahyu, atau apapun yang orang katakan tentang kekuatanku. Aku hanya akan melakukan apa yang aku inginkan. "
" Arkan--.."
" Tatap Balin, ibu. "
Mata Leana langsung beralih kepada Balin secara spontan setelah mendengar kata-kata Arkan. Yang ia lihat hanyalah anak kecil yang terus bergelayut kepada lengan kakaknya dengan ketakutan saat melihat nya tanpa bisa melakukan apapun.
Dan entah kenapa, ingatannya tiba-tiba kembali disaat yang tidak tepat, itu terasa tumpang tindih dengan dirinya dimasa lalu.
" Dia ketakutan... " Itu hal yang sudah jelas terlihat tanpa harus diberitahu, " ....Karena dirimu." namun Arkan tahu ibunya tidak akan pernah melihat Balin jika bukan dia yang mengatakannya.
Leana terdiam. Kemudian ia kembali kepada Arkan dan menatapnya, " Itu hal yang pasti terjadi kepada anak yang tidak berguna."
" Itu kejam, ibu. Dia adalah putramu. "
" Putraku hanya kau--."
" Dia juga anak yang lahir dari rahim yang sama denganku. "
Arkan memotong ucapannya.
Itu hal yang tidak akan pernah terjadi, jika Arkan tidak pernah bergaul bersama dengan Balin seperti sebalumnya. Dan itu sangat mengganggu Leana.
Pertangkaran antara ibu dan anak ini tidak akan pernah selesai tanpa ada yang mengalah diantara mereka, namun Leana benci mengakui kalau dia juga adalah putranya. Arkan juga tahu hal itu.
Tapi karena apa sebenarnya..?
" Ada apa ini??"
Saat kemudian perhatian semua orang tertuju kepada pemilik suara itu.
Seorang pria yang sedang duduk diatas kursi roda, bersama seorang pelayan yang mendorongnya mendekat kearah mereka. Pria itu terlihat rupawan meski sedikit lesu, dan kedua mata tajam nya bersinar terang layaknya lautan.
Reul Gwirnet, putra sulung kepala klan Taiga. Sekaligus ayah dari Arkan dan juga Balin.
" Apa yang kau lakukan disini dan membuat kerusuhan, Leana?." Suaranya yang tegas memecah keheningan setelah kedatangannya.
Disisi lain, Leana terlihat sedikit mengkerutkan dahinya saat melihat nya datang ke hadapannya langsung. Pria yang sebelumnya bahkan tidak bisa bangun dari tempat tidurnya, sekarang dengan santainya berjalan-jalan kemanapun ia mau.
" Itu bukan sesuatu yang perlu kau khawatirkan, suamiku. Aku hanya ingin memastikan sesuatu saja. " Leana memalingkan wajahnya dengan acuh tak acuh, sejak awal hubungan mereka memang tidak sebaik itu sampai bisa disebut pasangan harmonis.
Hubungan yang dijalin karena kebutuhan dan tanpa cinta.
Reul yang mendengar jawaban dan melihat tindakan Leana hanya menaikan sebelah aslinya, dia pasti tidak berpikir dia bodoh hanya karena kata-kata seperti itu. Dan dia juga sudah melihat semuanya dari awal. " Maksudmu memastikan 'sesuatu' yang kau maksud itu dengan cara mengerahkan kekuatanmu kepada anak-anak?."
" Yah, tidak ada yang mati juga, jadi kau tidak perlu memperdebatkannya. Dan kelihatannya kau sudah cukup baik sekarang sampai bisa mencampuri urusanku. "
" ....Aku punya hak untuk ikut campur sekalipun aku sedang sekarat, Leana. Karena mereka adalah putra-putraku. "
Ketegangan diantara mereka terus berlanjut, sementara sisa orang yang ada disana hanya diam memperhatikan dengan gelisah.
Sampai... Arkan mendengus sebal karena hal itu. Inilah alasan mengapa dia tidak suka jika ayah dan ibunya saling berhadapan, mereka hanya akan melemparkan sindiran dan sindiran satu sama lain hanya karena hal sepele. Tidak peduli dimana pun mereka berada.
Tapi Leana peduli dengan pendapat anak yang paling ia sayangi. Saat melihat Arkan mendengus dengan ekspresi kesal, dia langsung menghentikan perdebatan mereka.
"...Yah, baguslah jika kau sudah pulih. Setidaknya anak-anak akan senang dengan hal itu. Aku akan pergi sekarang."
Setelah mengatakan kata-kata itu, ia pun langsung berbalik dan melangkah pergi dari sana. Meninggalkan mereka yang masih menatap nya tanpa menoleh ke belakang lagi. Balin menghela nafas lega dan melemaskan bahunya karena itu telah berakhir, ia sama sekali tidak bisa berhenti tegang sejak awal Leana muncul didepan nya.
" Tuan muda..."
Perhatian Arkan dan Balin teralihkan kepada pelayan laki-laki yang datang bersama ayahnya setelah mendengar suaranya.
" ..Apa kalian baik-baik saja?" tanya pelayan itu dengan penuh perhatian.
" Iya, kami baik-baik saja. " dan Balin yang mendengar nya pun menjawabnya, sementara Arkan hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan.
" Jadi, apa yang terjadi sampai ibu kalian melakukan hal itu?" Dan kali ini perhatian mereka jatuh kepada ayah mereka yang menanyakan hal itu.
Dia terlihat sangat serius, namun matanya penuh dengan perhatian. Anak-anak tahu dia selalu menyayangi mereka.
" Bukan hal besar juga. Ayah tidak perlu khawatir. " Arkan tidak ingin menjelaskan apapun tentang apa yang sudah terjadi. Masalahnya dia mungkin akan curiga dan rencananya akan terbongkar.
Namun Reul yang mendengar jawaban putra sulungnya tidak puas dengan itu dan mengkerutkan dahinya, " Bagaimana mungkin aku tidak khawatir saat istriku sendiri mengancam anak-anakku terang-terangan seperti itu. Salah sedikit saja kalian akan terluka parah. " ucapan nya terdengar tajam sampai membuat Arkan hampir ingin berteriak kepadanya untuk memenjarakan ibunya.
Dia ingin bebas. Tapi dia menahan hal itu dan lebih memilih untuk tersenyum.
" Tapi sekarang semuanya baik-baik saja, ayah. Kita bisa bicarakan hal ini lain kali saja, jadi tidak perlu khawatir..."
Tes..
Tapi sepertinya situasi tidak menginginkan Arkan bertindak seolah tidak terjadi apa-apa.
" Eh..?"
" Ka-kakak!!"
" Tuan muda?!"
....Arkan tidak bisa menghentikan darah yang mengalir keluar dari hidungnya.