Quennevia

Quennevia
Rencana licik selir pertama



* Di kediaman selir pertama.


Tempatnya tidak jauh dari kediaman utama, tempat selir ke dua atau kediaman putri. Tentu saja tempat itu tidak hanya ditinggali oleh selir pertama, tapi juga putrinya Adele. Mereka adalah dua orang yang sangat licik, juga sangat boros dengan harta yang didapat mereka dari Hudson.


Saat ini pun selir pertama, tengah memilih-milih cincin dan perhiasan mahal yang akan ia beli.


" Warna dan bentuk nya sangat bagus, apa ini terlalu berlebihan untukku. " ucapnya.


" Tidak, nyonya. Itu sangat cocok dengan jari anda. " sahut penjual cincin itu, padahal dia hanya ingin mengambil keuntungan dan terus memujinya demi itu.


Selir pertama benar-benar terlihat sangat puas dengan harta yang ia dapatkan, ia dan putrinya terus berfoya-foya dan menghabiskan semua uang mereka. Bahkan hal itu sudah diketahui seluruh Kekaisaran, disisi lain Quennevia yang harusnya adalah pemilik dan mendapatkan sebagian besar dari uang itupun tidak mendapatkan apa-apa.


Saat tengah mencoba-coba cincin-cincin itu, tiba-tiba saja putrinya Adele datang menemuinya dengan sangat tergesa-gesa.


" Ibu, ada hal yang harus ku bicarakan dengan ibu. " ucap Adele sambil berjalan menerobos kearahnya.


" Ada apa putriku, kenapa kau gelisah sekali??. " tanyanya dengan penasaran.


" Ini hal penting ibu, kita harus bicara. "


Melihat putrinya yang sangat gelisah seperti itu, dia jadi yakin jika itu bukan hal sepele. Dia pun bangkit dari duduknya dan mengajak nya kekamar nya, tapi sebelum itu dia membeli semua cincin yang ia inginkan lebih dulu.


" Aku ambil semua cincin yang tadi aku coba. " ucapnya kepada penjualan cincin itu.


" Tentu nyonya, tentu. " tentu saja hal itu membuat penjual cincin itu sangat gembira, apalagi mendapatkan banyak uang dari bangsawan kaya seperti selir pertama itu.


Setelah itu pun selir pertama membawa putrinya masuk untuk membicarakan hal yang dibicarakan putrinya.


" Jadi ada apa?? " tanyanya.


" Ibu, apa ibu belum denger. Katanya Quennevia bergabung dengan sebuah guild besar, dan dia memiliki hewan roh Suci. " ucap Adele dengan begitu menggebu-gebu karena kesal.


" Apa?? Bagaimana bisa, dia hanya seorang sampah. " sahut ibunya dengan sangat terkejut.


" Karena itu, ibu. Bagaimana jika dia nantinya menyingkirkan kita, dia pasti akan membalas semua yg sudah kita lakukan padanya. Ditambah jika dia semakin kuat, ayahanda pasti akan mewariskan kekuasaannya kepada Quennevia. Kakak akan kehilangan posisinya sebagai pewaris, dan kita akan diusir dari sini. " ucap Adele pula menimpali.


Selir pertama jadi ikut gelisah karenanya, jika itu terjadi dia juga tidak akan bisa melawan Quennevia lagi. Dan dia bisa mengancam posisinya, padahal dia sudah mempersiapkan segalanya untuk membuat Putra nya jadi pewaris.


" Kita harus memastikan hal itu lebih dulu, siapa tau itu hanya bualan orang-orang saja. " ucap selir pertama.


" Bagaimana caranya ibu??. " tanya Adele.


" Jangan khawatir, sebelumnya ibu sudah menaruh inti spirit yang berharga di kamarnya. Kita hanya perlu menuduh seseorang dari orang-orang nya dan membuatnya mengeluarkan hewan roh itu. Dan jika benar, kita harus memintanya menyerahkan hewan itu untuk mu. Atau dia akan kehilangan orang-orang nya itu. "


" Tapi, bu. Hewan roh Suci itu sangat kuat, bagaimana kita bisa menghadapi nya??. "


" Anakku, jika master nya saja lemah. Kekuatan hewan roh itu akan terkunci, dia tidak akan bisa melakukan apapun. Kita akan buat orang yang kita tangkap jadi Sandra."


Adele mengangguk setuju dengan hal itu, dia sangat yakin bisa mendapatkan hewan suci itu dengan mudah. Dia terlalu meremehkan Quennevia, mengingat selama ini Quennevia tidak pernah melawan semua perkataan nya dan ibunya.


Sedangkan yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan dua orang itu, Linda dan seorang lagi. Mereka adalah dayang paling dipercaya oleh selir pertama dan kedua, karena itu dia bisa tahu semua yang direncanakan nya.


Dia memperhatikan kedua orang itu, sambil mendengar semuanya. Dia harus cepat menyampaikan itu kepada Quennevia, atau malah dirinya sendiri yang akan mendapatkan masalah yang lebih besar.


" Aku harus mengirim pesan kepada, putri Kedua. " batin nya.


***


* Dihutan Spirit...


Quennevia menjalankan pekerjaan nya, masih bersama dengan Niu dan Oscar. Tapi sedari tadi mereka diam dalam keadaan canggung satu sama lain, tapi Quennevia malah sibuk mencari apa yg ia cari.


" Anu.... Pu.. Putri Quennevia.. " Belum selesai Niu mengucapkan perkataannya, Quennevia lebih dulu menyela nya.


" Nevia. " potong nya. " Panggil aku seperti sebelumnya, atau panggil Quennevia saja. " ucapnya.


" Ah, baiklah. Jadi... Apa tidak masalah mengungkapkan identitas mu yang sebenarnya??. " tanya Niu, seperti dia tahu kenapa Quennevia menyembunyikan nya awal-awal.


" Tidak masalah, aku tidak pernah berniat terlalu lama menyembunyikan nya. Hanya saja tidak kusangka akan secepat ini terungkap. " sahut Quennevia, masih terus mencari sesuatu.


" Lalu sebenarnya... Pekerjaan kita itu apa??. " tanya Oscar pula, dia sudah penasaran sedari tadi.


Mendengar itu membuat Niu dan Oscar serasa tersambar petir di siang bolong, pasalnya piton hitam itu adalah high spirit level 7 yang tidak mungkin mereka kalahkan dengan kekuatan yang sekarang.


" Apa?? Apa kau tidak salah mengambil permintaan nya??. " tanya Oscar.


" I.. Iya, ular itu pasti sangat kuat. Misi ini sangat sulit, dan lagi... Biasanya hanya anggota level B keatas saja yang diijinkan mengambilnya. " ucap Niu.


" Oh, aku tidak tahu hal itu. " sahut Quennevia dengan wajah datarnya, dan dia sama sekali tidak peduli peduli akan hal itu.


Sedangkan Niu dan Oscar hanya bisa mengasihani nasib mereka sendiri, kenapa mereka tidak bertanya lebih dulu saat itu. Sekarang sudah tidak bisa lagi dibatalkan karena sudah sampai disana.


" Kita sampai. " ucap Quennevia membuyarkan lamunan mereka.


Quennevia sedikit menyibak semak-semak yang ada di depan mereka, terlihat lah sebuah kolam yang cukup luas disana. Terdapat juga sebuah lotus beku yang bersinar di tengah-tengah nya, dan orang-orang yang sedang berusaha melawan piton hitam itu untuk mendapatkan bunga nya.


Cukup banyak orang disana, sepertinya mereka datang dari berbagai tempat. Bunga itu bisa meningkatkan kemampuan penyerang jarak jauh, apalagi jika orang itu juga tipe es sama seperti bunga nya.


" Banyak juga yang datang, lalu kita bagaimana??. " tanya Oscar.


" Menunggu, lalu setelah ini kita beraksi." Quennevia naik keatas pohon dan duduk di sana.


" Eh, hanya menunggu?? Bukannya itu malah membuat kita di dahului??. " ucap Niu.


Quennevia tersenyum mendengar itu, dia sedang menunggu untuk menjalankan rencana untuk mendapatkan lotus itu dengan mudah, dengan begitu dia juga tidak perlu bersusah payah ikut bertarung dengan ular itu. Niatnya melenceng dari tujuan awalnya yang ingin menguji kekuatan, jadi ingin mendapatkan uang hadiah.


" Justru itu yang aku inginkan, Ngomong-ngomong kekuatan Kalian itu seperti apa??. " tanya Quennevia.


" Ah, kekuatan ku adalah pengendalian angin dan api, sedangkan Niu air dan es serta penyembuhan." jawab Oscar.


" Hmm... Bagus sekali, aku punya rencana kalian dengarkan baik-baik. " ucap Quennevia.


Mereka pun membahas rencana mereka, Niu dan Oscar pun mulai mengerti jalan pikiran dari Quennevia, meski tidak sepenuhnya tapi yang mereka yakini kalau dia mempunyai otak yang cerdik dan kadang memiliki sifat licik. Mereka pun kembali memperhatikan orang-orang yang sedang bertarung itu, sambil mengukur tingkat kekuatan mereka.


Lalu saat seorang dari orang-orang itu berhasil mendapatkan bunga lotus itu, mereka pun mulai beraksi.


" Ini, saatnya. " ucap Quennevia.


Sesuai rencana yang disampaikan, Quennevia melemparkan bom asap dan Oscar meniupnya sampai kepada orang-orang itu. Saat itulah Niu diam-diam membekukan kaki mereka dengan kekuatannya, dan saat itu pula Quennevia diam-diam mengambil bunga itu saat mereka panik karena asap itu.


" Akh... Asap apa ini?? "


" Aku tidak bisa bergerak!. "


" Hei, kawan-kawan. Ada yang mencuri bunga nya!!. "


Begitulah ucapan-ucapan mereka yang ada di sana, mereka sangat marah karena bunga yang susah payah mereka dapatkan diambil begitu saja, sekaligus bertanya-tanya siapa yang melakukan nya.


Dan kemudian asap itu kembali hilang karena Oscar yang meniupnya lagi, terlihat lah mereka bertiga di depan orang-orang itu.


" Apa maksud kalian bunga ini??. " Quennevia memperlihatkan bunga lotus yang ia rebut ditangannya.


Tentu saja orang-orang itu marah, tapi mereka tidak bisa bergerak karena kaki mereka semua beku.


" Argghhh... Kembalikan bunga itu!!. " ucap salah satu dari mereka.


" Benda yang sudah ada ditangan ku berarti milikku, tidak akan pernah ku kembali kan. " sahut Quennevia sambil menyeringai.


" Kalian diam saja, ya. Siapa cepat dia dapat. " ucap Niu pula.


Niu dan Oscar sangat puas karena bisa menyelesaikan pekerjaan nya itu, untung mereka mengajak orang yang tepat. Mereka pun berbalik hendak pergi dari sana, tapi sebelum itu Quennevia berbalik dan mengatakan satu hal lagi kepada mereka.


" Sisanya tolong kalian bereskan saja, ya. Nikmati waktu kalian.. " ucap Quennevia sambil melambaikan tangannya.


Kemudian mereka pun semakin tidak terlihat dari sana, orang-orang itu masih tidak bisa bergerak sedikit pun. Hingga mereka mendengar sesuatu dari belakang mereka, dan saat mereka berbalik... Ular piton hitam naraka itu sudah kembali sadar dan terlihat sangat marah.


" Aargghhh...!!. "


Ular itu menyerang mereka semua yang tidak bisa berbalik sama sekali, hingga tidak ada yang tersisa. Sementara itu, Quennevia yang sudah berlalu pergi hanya bersiul ria saat mendengar semua teriakan mereka dari kejauhan.