
[Season 2]
Oscar dan yang lainnya merasakan hal yang berbeda dengan saat mereka melewati portal dimensi yang dibuat oleh Zico.
Portal yang mereka lalui beberapa saat yang lalu itu, membuat mereka merasa seperti ditekan dengan kekuatan yang begitu besar. Mungkin ini juga jadi salah satu alasan kenapa Ethan meminta mereka saling menggenggam tangan satu sama lain sebelum masuk ke dalam portal itu.
Itu tidak lama, saat lingkungan mereka pun seketika berubah dan mereka telah dikeluarkan dari portal ditempat yang mereka inginkan.
" Hah..!"
" Wuahh!!"
Brukk....
Sayang mereka tidak bisa mempertahankan keseimbangan setelah keluar dari portal, dan semuanya pun langsung jatuh secara bersamaan.
" Aduh..."
" Aw, sakit.."
" Kepalaku rasanya berputar.."
Kaki mereka sedikit terasa lemas dan kepala mereka cukup pusing sampai membuat Meliyana merasa ingin muntah. Itu portal yang benar-benar mengerikan baginya.
Disisi lain, Ethan yang lebih terbiasa dengan itu hanya diam menatap mereka saat teman-temannya jatuh dibelakangnya.
" Kalian baik-baik saja...??" dan ia menanyakan hal yang sudah bisa ia lihat sendiri.
" Heh! Kenapa kau baik-baik saja?!" teriak Niu sambil menunjuknya dengan kesal karena hal itu.
Sedangkan Ethan hanya tersenyum kosong sebagai tanggapan pertanyaan nya. Tak lama setelah mereka mulai merasa membaik, mereka pun kembali berdiri dan sedikit membersihkan debu yang menempel dipakaian mereka.
Dan Ethan pun langsung membawa mereka masuk ke dalam istana pemimin klan yang berdiri besar dihadapan mereka.
***
Didalam bangunan besar yang mereka masuki, ada beberapa patung besar yang terlihat cukup seram dilorong-lorong yang jarang disentuh cahaya karena jendela yang tertutup. Hanya ditemani oleh api-api kecil dari lilin sebagai penerangan yang berbaris dengan rapih didekat dinding.
Beberapa kali mereka juga sempat berpapasan dengan orang-orang, atau... iblis-iblis? Yang berlalu lalang disana. Mereka tidak terlihat memancarkan permusuhan, tapi tetap saja penampilan mereka agak mengerikan. Tidak selalu wajahnya, ada juga yang terlihat seperti pria tampan, tapi yang dimaksud adalah penampilan dan pakaian yang mereka kenakan.
Setiap iblis yang datang berpapasan dengan mereka, maka mereka akan selalu membungkukan tubuh mereka kearah Ethan, tentu saja dia punya posisi yang tinggi diklan ini karena dia adalah putra dari pewaris terdahulu pemimpin klan.
Sekaligus putra dari iblis legendaris yang memiliki kekuatan besar dan punya hubungan dekat dengan dewi bumi.
" Ethan, kau bilang kau akan menemui kakekmu, kan?" tanya Oscar disana tiba-tiba.
Ethan pun menoleh kearahnya mendengar itu, " Hm? Iya, karena dia yang punya akses untuk membuka jalan ke dunia bawah." ucapnya.
" Dia orang yang seperti apa, apa dia akan menyukai kami? Aku takut dia tersinggung dengan kehadiran kami disini." Oscar pun berkata dengan was-was.
Tentu saja, Ethan paham apa maksudnya..
" Jangan khawatir, dia sudah tahu tentang kalian." ucap Ethan sambil tersenyum canggung, kemudian ia pun mengalihkan perhatian nya kearah lain. "...Meskipun dia dingin dan jarang berekspresi." lanjutnya pula dengan senyuman datar.
Teman-temannya justru menatapnya dengan ekspresi tercengang, kakeknya justru terdengar seperti orang yang rumit ditelinga mereka.
***
Sementara didalam ruangan pemimpin klan, disana telah ada dua orang yang telah berbincang-bincang satu sama lain beberapa saat yang lalu. Yang satunya adalah Velskud, tentu saja sebagai pemimpin klan darah. Dan yang satunya...
....Yulles, sebagai pemimpin klan iblis bulan darah.
Perhatian mereka berdua kemudian teralihkan kepada pintu yang terbuka, dan dari pintu itu, Ethan dan teman-temannya pun datang.
" Kakek, aku datang~" Ethan berkata dengan ekspresi yang begitu berseri-seri seperti anak kecil.
Membuatnya jadi ditatap dengan aneh oleh teman-temannya, dia yang bicara dan berekspresi tidak sesuai dengan situasi. Bahkan Velskud sendiri mengerutkan keningnya dengan ekspresi aneh...
" Apa yang terjadi kepadamu? Apakah kepalamu terbentur sesuatu?" tanya Velskud yang juga benar-benar merasa aneh dengan tingkah cucunya yang satu ini.
....Dia memang baru punya satu cucu sebenarnya.
" Hahaha... Jadi apakah kau ingin memeluk kakekmu dan bersikap manja padanya, Ethan?" tanya Yulles kemudian terlihat tertarik.
Sementara Ethan yang mendengar itu justru terlihat merinding, dipikirkan bagaimana pun tidak mungkin kakeknya akan bersikap seperti kakek-kakek yang lain yang akan bersikap manis kepada cucu mereka.
Velskud justru akan melemparkan nya ke dalam jurang untuk latihan jika punya kesempatan....
" Haahh... Sekarang aku paham kenapa paman pergi dari rumahnya." gumam Ethan pelan.
" Kau terlalu berlebihan." saat Yuki pun menimpali dari belakangnya.
Ethan yang mendengar itu pun langsung menoleh kepadanya, " Hei! Ayolah, mau bagaimana pun dia kan satu-satunya kakek yang aku tahu! Memangnya aku salah??" rengeknya pula terdengar seperti anak kecil.
" Kau kekanakan." tapi Yuki tetap tidak bergeming kepadanya.
Ethan hanya menunduk pasrah dengan sikapnya yang seperti itu, tidak ada yang membelanya juga. Teman-temannya yang lain justru sibuk menahan tawa karena kata-kata yang diucapkan oleh Yuki.
Lalu, Velskud pun menengahi percakapan tidak penting ini. " Baiklah, aku ingin tahu sekarang.... Apa kau benar-benar ingin pergi ke tempat itu?" tanyanya.
Dia memang telah menanyakan nya, tapi dia tetap tidak yakin meski tidak menunjukan nya. Tentu saja dia mengkhawatirkan keselamatan Ethan cucunya.
Tapi Ethan yang mendengar pertanyaan itu kemudian menatapnya dengan sangat serius, " Hanya ini kesempatan kita. Nasib dunia tergantung dengan sukses tidaknya rencana ini." ucapnya menimpali.
" Rencana apa?" tanya Meliyana penasaran, namun tidak ada siapapun diantara mereka yang menjawabnya.
Sementara itu, Velskud menatap cucunya dengan seksama. Kemudian ia pun menghela nafas dan hanya bisa percaya.
"....Baiklah, jika itu menurutmu benar." ucapnya pula.
" Lalu... Bagaimana keadaan pengawasan saat ini?" tanya Niu kepada Yulles disana.
" Kami masih waspada, namun belum ada hal mencurigakan yang dilakukan oleh klan Retia. Meski begitu pasukan telah siap kapan saja, tentu saja... orang-orang juga menunggu rapat yang mempertanyaan situasi saat ini. Dan putri Empat Dunia harus hadir." jawab Yulles.
Itu sebuah penegasan... 'Quennevia harus segera bangkit'.
Oscar dan yang lainnya menelan ludah dalam rasa gugup, mereka tidak akan tahu apa yang akan terjadi jika mereka terlambat. Tapi pasti akan ada kekacauan besar yang terjadi.
Disituasi yang tengah genting dimana klan Retia menentang kehendak utusan dewa, dan perang besar akan segera terjadi, hilangnya Putri Empat Dunia akan mempengaruhi situasi medan perang. Dan orang-orang yang bertempur dimedan perang bisa saja kehilangan harapan dengan pikiran bahwa mereka telah ditinggalkan oleh dewa. Dan itu juga akan mengakibatkan perpecahan dalam internal aliansi.
Karena itulah, Quennevia harus segara bangkit sebelum perpecahan tersebut terjadi.
" Karena itulah kita harus segera pergi ke sana." suara Ethan pun kemudian mengalihkan perhatian mereka, " ....Kita tidak bisa menyia-nyiakan waktu yang tersisa. Waktu didunia bawah juga berbeda dengan waktu dunia tengah. Waktu disana lebih lama dari disini, jadi kita tidak bisa membuang-buang waktu." lanjutnya kemudian.
" Jadi kapan kita akan pergi?" tanya Arkan kemudian.
Ethan tidak menjawabnya dengan cepat, dia diam sesaat, lalu..." ....Malam ini." dia memutuskan hal itu.
Itu mengejutkan mereka...
" Apa?!"
" Kita bahkan baru sampai dan belum melihat-lihat kota disini, dan kau begitu terburu-buru untuk pergi?!"
" Betapa tidak bermurah hatinya!"
Para perempuan langsung memprotes hal tersebut, mereka berteriak marah kepadanya. Sementara Ethan hanya tersenyum kikuk mendengar itu.
Tapi sebenarnya, bukan hanya mereka saja...
" Aku juga perlu memperbaiki pedangku yang sudah usang." Oscar sendiri punya kepentingan yang harus ia lakukan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. " Kudengar penempa pedang di wilayah iblis memiliki kualitas yang baik, setara dengan pedang buatan Dwarf yang biasanya sulit ditemui." lanjutnya pula.
" Aku ingin melihat makanan yang dibuat disini." dan Arkan yang punya kepentingan perut.
" Kalian bisa pergi sekarang, tapi waktu kalian terbatas. Jadi sebaiknya ingat untuk berkumpul didepan istana lagi sebelum matahari terbenam." ucap Ethan kemudian menimpali.
Membuat ekspresi mereka langsung berseri-seri dengan cepat, " Benarkah?!" tanya Meliyana pula memastikan, dan Ethan pun menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
" Kalau begitu kami pergi dulu!!" dan mereka langsung berlari secepat kilat pergi dari sana.
Meninggalkan Ethan, Velskud dan Yulles yang masih terdiam mematung ditempat masing-masing melihat kepergian mereka dari sana.