Quennevia

Quennevia
Identitas asli



[Season 2]


- Istana Dewa Matahari saat ini...


Setelah beberapa saat masuk ke dalam sana, Oscar dan yang lainnya hanya melihat-lihat halaman yang luas disana tanpa melakukan apapun dan hanya mengikuti Yue. Mereka bingung harus melakukan apa, dan Yue terus saja mengelak dari pertanyaan mereka.


Disaat yang sama, Ethan juga tak kunjung datang hingga membuat mereka benar-benar khawatir jika dia mungkin ditangkap para Valkyrie.


Setidaknya bagus jika hanya ditangkap dengan tenang, tapi bagaimana jika dia malah melawan dan malah menyebabkan keributan besar.


" Mati sudah..." mereka semua memiliki pikiran yang serupa satu sama lain.


Hidup mereka mungkin akan berakhir saat itu juga, saat kemudian...


" Ngomong-ngomong... apa tidak ada yang menempati istana ini?? Kupikir ini cukup kosong dari yang kita duga." perhatian mereka semua teralihkan ketika Arkan berkata demikian.


Oscar pun kemudian menyahutinya, " Kalau dipikir-pikir lagi, menang benar... Tidak ada penjaga, tidak ada yang tinggal. Aku sampai merasa kalau tempat ini kehilangan tuannya." ucapnya.


Itu pemikiran yang masuk akal, karena tidak mungkin tempat ini kosong... jika saja pemiliknya ada ditempatnya.


Namun, jika dia tidak ada.. selama ini siapa yang memainkan perannya?


" Ada seseorang disana..." saat kemudian Yuki berkata demikian, dan langsung mengalihkan perhatian mereka.


Seperti yang dikatakannya, ada seseorang didepan sana. Berdiri tepat dihadapan sebuah patung besar didepan istana, 'seseorang' itu membelakangi mereka dan hanya diam menatap patung tersebut.


Disatu sisi, mereka merasakan hal yang cukup familiar. Terutama soal rambut pirang cerah yang dimiliki olehnya.


" Apa itu Ethan??" Meliyana bertanya-tanya tentang hal itu, dimatanya dia terlihat seperti Ethan.


Namun Niu menyanggah asumsinya itu, " Tidak, ini berbeda.." ucapnya.


Karena hal itu, mereka pun sontak menghentikan langkah mereka bersama. Bahkan Yue yang ada diantara mereka.


Jantung mereka berdebar dengan cepat, ketika tubuh mereka menegang ketika keringat dingin turun ditubuh mereka. Oscar dan teman-teman nya merasakan sesuatu yang sangat besar semakin dekat mereka dengan orang didepan sana, sebuah sumur yang tidak berdasar. Salah satu sumber kekuatan alam semesta.


Dan ketika 'dia' menolehkan kepalanya kepada mereka, Oscar dan yang lainnya merasakan tekanan yang lebih besar. Insting mereka mengatakan untuk menundukan kepala mereka kepadanya, dan tanpa mereka sadari... Mereka telah berlutut dengan kepala mereka yang menunduk dekat dengan lantai dihadapan nya.


Mereka tahu mereka bukan apa-apa dihadapan dewa, dia berada diluar jangkauan mereka. Mereka merasakan ketakutan yang besar, namun disaat yang sama juga rasa gembira yang aneh.


Melihat bagaimana mereka seperti ini dan kekuatan nya yang luar biasa, mereka meyakini satu hal...


" Dia adalah..."


" Tidak salah lagi dia.."


[Selamat datang...]


" ....Dewa dunia atas, dewa agung Euclide."


[...Anak-anak dari 'Keseimbangan'.]


***


- Tempat Ethan..


Setelah menyusun beberapa rencana dalam kepalanya, ia sekarang telah siap untuk pergi. Ia tidak bisa terlalu lama meninggalkan teman-teman nya begitu saja, atau mereka benar-benar akan melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak bisa mereka lakukan saat di dunia bawah. Ethan bangkit berdiri dan sedikit merenggangkan tubuhnya sebentar...


" Hngg..!! Aku tidak percaya rasanya ini sudah lama sekali, padahal aku baru duduk beberapa menit saja." ucapnya kemudian.


Telinga Ethan mendengar suara dedaunan bergemerisik dibelakang nya, ia pun menolehkan kepalanya kearah pohon besar disana.


Ethan kemudian sedikit menghela nafas dan tersenyum...


" Yah, aku akan segera pergi. " dia berkata seperti itu ketika sebuah portal muncul disampingnya, ia bergerak masuk ke dalam sana. " Terima kasih, dan sampai ketemu lagi." ucapnya pula kemudian menghilang ditelan portal tersebut.


****


- Ditempat Oscar dan yang lainnya saat ini...


Mereka masih berada dalam posisi mereka tadi, tidak ada satupun diantara mereka yang berani bahkan hanya untuk mengangkat kepala mereka dihadapan salah satu dewa agung dan dewa kuno pencipta 3 alam. Keringat dingin tetap mengucur turun dari kepala mereka, kegugupan yang besar.


Ditengah keheningan yang ada, mereka kemudian mendengar sebuah langkah ringan mendekat kearah mereka. Jantung mereka berdegup semakin kencang ketika langkah itu semakin dekat dan dekat dengan mereka.


Lalu, ia berhenti. Dan sebuah tangan terulur dihadapan Oscar yang ada paling depan diantara mereka. Karena itu Oscar pun akhirnya memberanikan diri mengangkat kepalanya dan menatap sosok yang ada dihadapan nya saat ini.


Euclide berdiri disana, tersenyum kepada mereka. [ Bangunlah nak, aku tidak ingin 'teman-teman' yang paling disayangi oleh 'keseimbangan' diperlakukan seperti ini.] dia berkata demikian.


" Ah... Ba-Baik..."


Oscar tidak tahu harus seperti apa, jadi ia pun mengiyakannya saja. Ia pun kemudian bangun, di iringi teman-teman nya yang ada dibelakang nya juga. Sosok didepan mereka terlihat sangat lembut dan tenang, tidak mereka sangka mereka akan ada dalam situasi seperti ini.


Berhadapan dengan sosok yang bagitu agung didunia...


Mereka tidak bisa menghilangkan kegugupan itu bahkan meski hanya sesaat.


Dan Euclide juga menyadari hal itu, [ Kalian telah bekerja keras, terima kasih. Dan aku minta maaf karena kalian harus mengalami perjalanan sulit ini.]


" Tidak... Kami melakukan nya karena kami memang ingin. Karena itu.. Tolong jangan meminta maaf." sahut Oscar kemudian.


Mendengar itu membuat Euclide tersenyum semakin lebar, [ Sungguh... Kalian benar-benar anak yang baik. Aku sangat bahagia karena Quennevia bertemu dengan kalian.]


" Kami juga sangat senang, karena bisa mengenalnya." Yuki pun ikut menyahutinya.


Saat Meliyana yang cukup penasaran mengajukan pertanyaan disana, " Anu... Maaf karena kelancangannya, tapi... apa yang anda perhatikan dari tadi.. Dewa agung?"


Euclide menatapnya ketika Meliyana menanyakan hal itu, namun sesaat kemudian ia kembali menatap patung yang ada tak jauh dari mereka.


[ Dia anak nakal yang telah lama menghilang, bahkan tidak pernah menunjukan wajahnya sama sekali kepada kami.]


Dia mengatakannya dengan nada main-main didalam nya, namun Oscar dan teman-teman nya bisa melihat segurat raut sedih diwajahnya. Seseorang yang ia perhatikan dan ia tunggu mungkin pernah mengalami hal yang serius, sampai-sampai membuat seorang Dewa Agung seperti nya memiliki ekspresi seperti itu diwajahnya.


" Ngg... Entah kenapa patung itu terlihat familiar.." Arkan memikirkan itu dengan seksama, mencoba mengingat sesuatu.


" Lalu, 'Keseimbangan' yang anda maksud itu... siapa?" dan lalu, Meliyana kembali bertanya tentang itu.


Pertanyaan itu membuat Euclide kembali menoleh kearahnya, dan ia mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi.


[ Ah, kalian belum tahu?] dia mempertanyakan hal itu. Oscar dan yang lainnya pun hanya menggelengkan kepala mereka dengan ekspresi polos. [ Kalau begitu... kenapa kalian tidak bertanya kepada seseorang yang akan datang kemari??]


Mereka bertanya-tanya dengan maksudnya...


Saat kemudian sesuatu muncul didekat mereka. Ruang didekat mereka terdistorsi, dan sebuah portal pun muncul disana. Sesuatu pun keluar dari sana... Lebih tepatnya, seseorang.


Itu Ethan.


Ethan keluar dari portal itu dan berdiri tak jauh dari mereka. Ia pun menatap mereka dan kemudian tersenyum..


" Hei, maaf. Apa aku terlalu lama??" dia berjalan kearah mereka dan bertanya seperti itu.


Niu yang mendengar nya pun kemudian menjawabnya, " Tidak. Tapi kami hampir kena serangan jantung dua kali." ucapnya dengan ekspresi datar diwajahnya.


Ethan hanya terkekeh mendengarnya. Saat kemudian matanya pun tertuju kepada Euclide...


Ethan diam sesaat saat kemudian ia pun kembali berjalan kearahnya, memangkas jarak, semakin dekat. Dan dia pun berhenti tepat didepan nya. Ethan menatapnya, tersenyum dan berkata...


" ...Lama tidak bertemu. Bagaimana keadaanmu sekarang?" Ethan bertanya seperti itu dengan ekspresi seperti anak kecil yang baru melakukan kesalahan.


Dia sedikit ragu-ragu dan canggung...


Dan sepertinya, bukan hanya dia...


[ Yah... kurasa baik. Senang melihatmu lagi..]


Dua orang yang terlihat hampir serupa itu kini berhadapan dan saling menyapa dengan canggung satu sama lain.


Oscar dan yang lainnya masih bertanya-tanya ada apa disini, tetapi....


" Tunggu..!!" Arkan langsung menengahi dan dengan ekspresi yang sangat serius, dia menarik Ethan kearah patung yang berdiri disana. Dan membalikkan nya kearah teman-teman nya yang lain. " Lihat! Dia terlihat mirip, kan??" tanyanya kepada mereka.


Yang ia maksud adalah Ethan dan pantung tersebut... Teman-teman nya yang lain pun jadi menyadari hal itu.


" Kalau dipikir-pikir, itu benar... Ethan terlihat mirip dengannya." Niu jadi yang pertama berkomentar tentang hal tersebut.


" Hmm... Itu masuk akal." dan Meliyana pun setuju dengannya.


Ethan yang mendengar itu hanya mengangkat sebelah alisnya, seperti nya teman-temannya sudah berada satu langkah lagi dengan hal itu.


Saat kemudian Euclide pun berkata...


[ Kau tidak memberitahu mereka secara lengkap, ya?]


Ethan hanya tertawa ringan dengan itu, " Haha... Biarkan saja mereka menebaknya sendiri." ucapnya.


Euclide hanya geleng-gelang kepala dengan kelakuan nya itu, seperti nya ia sekarang mengerti kenapa Hades selalu menggerutu tentang sifat Ethan yang menyebalkan.


" Aku tahu!." saat kemudian Meliyana pun berkata demikian, dan membuat semua perhatian tertuju kepadanya.


" Mungkin, Ethan terlihat mirip dengan 'dia', karena keluarga kekaisaran Foldes adalah keturunan Dewa Matahari!." ucapnya pula dengan wajah tidak berdosa.


Sementara Ethan diam mematung mendengar itu, rasanya aneh baginya...


" Hm.. Hm.. Itu bisa jadi." tapi Arkan dan Niu menganggukan kepala mereka setuju dengan asumsi itu.


Ethan rasanya jadi ingin menangis, belum lagi... Ada Euclide yang diam-diam menahan tawa disampingnya. Itu benar-benar membuatnya ingin kesal, tapi dia tahu itu bukan salah mereka.


" Ha.. Sudahlah, พี่ชาย. Aku menyerah. Mereka semua orang-orang bodoh." ucapnya dengan ekspresi benar-benar pasrah diwajahnya.


" Apa sih, kenapa kau berkata seperti itu?" Arkan langsung menyahutinya kesal mendengar itu, Ethan mendapatkan tatapan protes dari ketiga orang yang ia sebut bodoh itu.


" Dan lagi dengan siapa kau bicara, siapa yang kau panggil, dan apa itu?" tanya Niu pula sangat penasaran.


Saat kemudian mereka beralih kepada Euclide yang tidak bisa menahan tawanya lagi, [ Ahahahaha...] dia tertawa benar-benar keras, bahkan sampai air mata keluar dari matanya. Itu hiburan yang cukup menarik. [ 'พี่ชาย' artinya kakak jika kalian ingin tahu, dan Ethan... bicara padaku.] ucapnya menjelaskan hal itu sembari mengusap air matanya yang turun.


Dan mereka bertiga pun langsung terdiam dengan ekspresi bingung, bahkan apa yang mereka pikirkan seperti nya bisa langsung terlihat dari ekspresi mereka saat ini.


'Kenapa Ethan memanggil anda kakak?'


Kira-kira seperti itulah isi kepala mereka.


Sementara itu dua orang yang lain merasa bodoh sendiri dengan tingkah teman-teman mereka. Sayangnya, Oscar hanya bisa tersenyum canggung dengan itu. Berbeda dengan Yuki yang menepuk jidatnya tidak habis pikir.


Mereka itu pintar sebenarnya, tapi setelah keluar dari dunia bawah, mereka jadi sedikit lemot. Dan memikirkan itu membuatnya kesal sendiri...


Hingga akhirnya, ia pun memutuskan untuk bicara. " Itu artinya, Ethan adalah 'Dewa Matahari' itu sendiri. Dan dia adalah saudara Dewa Agung." ucapnya sejelas mungkin.


" Eh..??"


Ketiga orang itu pun langsung menatapnya dengan mata melotot, mulut mereka ternganga seolah tidak percaya. Dan mereka bahkan memasang ekspresi bodoh diwajah mereka masih tidak paham, mereka kembali memproses nya sendiri.


Beberapa saat kemudian, pada akhirnya mereka pun sadar apa maksudnya...


" EEHH?!!!" dan itu benar-benar mengejutkan mereka.