
Sementara itu di kota terdekat, Quennevia dan Ethan benar-benar hanya berjalan-jalan berdua disana, meski mereka juga sadar diikuti oleh para klan Aira sih. Namun karena mereka mengawasi dari jarak jauh jadi tidak masalah untuk mereka.
Quennevia yang sudah lama tidak pergi dari ke kota pun sangat bersemangat di sana, dia berkeliling dengan sangat ceria dan mencoba berbagai makanan, tentu saja ia membeli beberapa hal juga.
" Ethan, lihat ini bagaimana menurutmu??. " tanya Quennevia saat ia mencoba sebuah anting di telinga nya.
" Iya, itu bagus. " jawab Ethan.
Namun Quennevia malah kesal mendengar nya, " Dari tadi kau hanya mengatakan ini bagus itu bagus, sebenarnya yang mana yang lebih cosok untuk ku??. " ucap Quennevia.
" Hm... Bagaimana, ya. Soalnya semuanya cocok utk mu. " sahut Ethan.
Quennevia malah jadi malu sendiri mendengar itu dari Ethan, ia pun melepaskan dan menaruh kembali anting yang tadi ia coba. Ia melihat-lihat yang lain namun sama sekali tidak menemukan sesuatu yang menarik perhatian nya di sana.
" Ethan, kalau begitu sekarang kau yang pilih untuk ku. " ucap Quennevia pula.
" Hehh?? Kenapa jadi aku??. " tanya Ethan pula.
" Soalnya kau tidak membantu ku memilih sama sekali, hmph... " jawab Quennevia.
Ethan hanya terkekeh mendengar nya, dan ia pun berkata. " Iya, iya. " maka kini giliran Ethan yang memilih-milih perhiasan untuk Quennevia di sana.
Ethan memilihnya dengan begitu serius dan juga teliti, karena benda itu akan ia berikan kepada orang yang ia cintai. Sementara itu Quennevia hanya menatapnya yang sedang serius itu, dimatanya Ethan terlihat semakin tampan saat serius seperti itu.
Quennevia jadi senyum-senyum sendiri sambil memperhatikan Ethan, sampai kemudian Ethan pun memperlihatkan sebuah kalung kepada nya.
" Bagaimana dengan ini??. " tanya Ethan, ia pun menyarung kalung yang dipilihnya itu di atas meja didepan Quennevia.
Kalung itu seperti sebuah tabung kaca, dan di dalam nya seperti ada bunga mawar berukuran kecil, dengan sesuatu seperti air berwarna biru yang terlihat bercahaya. Quennevia harus akui kalau kalung itu sangat cantik baginya, kenapa dia tidak menyadari nya tadi ya.
" Bukankah sesuatu di dalam nya itu sangat cantik, aku sendiri jadi penasaran apakah
isinya itu benar-benar bunga asli atau bukan. " ucap Ethan sambil memperhatikan nya.
" Hm... Ini bagus sih, tapi aku tidak bisa memakai nya. " ucap Quennevia dengan kecewa.
" Kenapa begitu??. " tanya Ethan pula bingung.
" Karena ini... " sahut Quennevia menggantung.
Quennevia mengeluarkan sebuah kalung lain yang selalu ia sembunyikan dibalik bajunya itu, kalung pertama yang diberikan oleh Ethan sebagai hadiah kepada nya. Selama ini ia selalu menjaganya dengan sangat baik, bahkan ia sampai tidak membiarkan siapapun menyentuhnya sama sekali.
Dulu saja saat kalung itu jatuh ke dalam sebuah kolam dekat reruntuhan di jantung hutan, ketika Quennevia sedang bermain bersama Azel dan Wais, Quennevia benar-benar sangat marah hingga menghancurkan reruntuhan itu. Untung saja Azel dan Wais yang waktu itu ada di sana juga bersembunyi di waktu yang tepat, jika tidak mereka juga akan terkena serangan itu.
Bahkan Quennevia menangis dengan sangat kencang karena tidak bisa menemukan nya, untung saja Xi yang waktu itu datang kesana setelah mendengar suara ledakkan tadi menemukan kalung tersebut. Hingga akhirnya Quennevia jadi tenang kembali. Dan saat ini... Quennevia yang mengingat hal itu merasa malu karena tindakan nya.
Ethan yang melihat kalung itu juga langsung mengenali nya, " Aha.. kalung itu masih ada padamu, kupikir kau membuangnya. " ucap Ethan yang merasa senang Quennevia menjaga barang pemberian nya.
" Jadi kau berharap aku membuangnya, ya??. " tanya Quennevia pula agak kesal.
" Haha.. tentu saja tidak, kupikir kau tidak menyukai nya jadi akan membuangnya. Aku senang kok kau masih menyimpan nya. " sahut Ethan.
" Benarkah??. " selidik Quennevia.
" Benar, loh. " ucap Ethan pula.
" Ya, sudahlah. "
" Kalau begitu aku akan menaruh kalung ini lagi, ya. "
Ethan hendak membawa kalung yang diatas meja itu untuk mengembalikan nya, namun kalung tersebut malah lebih dulu direbut oleh Quennevia.
" Eitss... siapa bilang aku tidak mau yang ini juga. " ucap Quennevia.
" Katanya tidak bisa kau pakai. " ucap Ethan lagi-lagi bingung.
" Memang tidak bisa dipakai di leherku, namun aku bisa menggunakan nya untuk hal lain bukan??. " jawab Quennevia.
Ethan memikirkan hal itu, memang benar sih kalung itu bisa digunakan untuk hal lain bagi Quennevia, jadi tidak ada yang tidak berguna baginya.
" Iya, benar sih. " ucap Ethan.
" Kalau begitu aku ambil ini, kali ini kau yang bayar ya. " sahut Quennevia.
" Kan dari awal menang aku yang membayar semuanya_-' " jawab Ethan menimpali.
" Ayolah, kau ini satu-satunya Pangeran Foldes. Uang yang kau miliki sangat banyak, jadi berbagilah sedikit dengan ku. " ucap Quennevia pula.
Ethan hanya mengiyakan nya saja, tidak akan ada habisnya jika Quennevia sudah menyebut-nyebut statusnya sebagai Pangeran Foldes. Jadi ya ia turuti saja, karena dia memang tidak akan rugi hanya karena hal itu sih, lagipula harga kalung itu murah tidak seperti kalung yang sebelumnya ia berikan kepada Quennevia.
Sebenarnya ia ingin memberikan nya permata lagi, namun Quennevia malah menariknya untuk masuk dalam toko pernak-pernik murah itu. Asalkan Quennevia senang apalah yang tidak mungkin dilakukan oleh Ethan untuk nya.
" Itu.. Bukankah Yuki dan Ryohan??. " tanya Quennevia.
" Sembunyi. " ucap Ethan tiba-tiba yang langsung menarik Quennevia dari jalanan itu ketika Yuki dan Ryohan berjalan kearah mereka.
Sementara itu Yuki dan Ryohan...
" Kenapa kau tiba-tiba mengajakku ke kota ini??. " tanya Yuki datar, meski begitu pipinya agak merona karena hanya berjalan berduaan bersama Ryohan. Jujur saja saat ini pun jantung nya berdebar sangat kencang dari pada biasanya, ia jadi merasa aneh sendiri dengan dirinya.
" Yah, kulihat kau terus di Akademi saja sih. Sebaiknya sekali-sekali kau berjalan-jalan seperti ini di kota. " sahut Ryohan.
" Itu... karena menurutku tidak ada yang terlalu menarik di kota, jadi aku di Akademi saja. " jawab Yuki pula.
" He.. kau memang murid yang rajin sekali ya. " puji Ryohan pula tersenyum lembut kepada Yuki.
Yuki semakin merona mendengar pujian itu, dan mereka pun melewati jalanan yang agak ramai itu berdua. Sementara di sebuah gang yang di lewati oleh Ryohan dan Yuki itu, Quennevia dan Ethan mengintip mereka dari sana.
" Kenapa meraka ada di sini, ya??. " ucap Ethan bertanya-tanya.
" Dan kenapa Yuki malu-malu seperti itu, ya??. " ucap Quennevia pula ikut bertanya-tanya.
" Mungkinkah mereka... " ucap keduanya pula menggantung.
Ethan dan Quennevia saling pandang dengan sangat terkejut, kemudian meraka kembali menatap Ryohan dan Yuki yang berjalan semakin jauh itu.
" Mereka sedang berkencan!. " ucap keduanya pula.
Ethan terlihat amat sangat terkejut dengan asumsi nya sendiri itu, berbeda dengan Quennevia yang malah lebih ke terharu mengatahui hal itu. Meskipun mereka masih belum tahu yang sebenarnya, namun melihat keduanya sangat dekat seperti itu pikiran mereka jadi mengarah kesana.
" Mau diikuti?? " tanya Ethan.
" Ide bagus. " jawab Quennevia yang kelihatan sangat penasaran.
Mereka pun diam-diam mengikuti kedua teman mereka itu, tidak ada yang terlalu istimewa diantara mereka selama berjalan-jalan. Yang mereka lakukan hampir sama seperti yang dilakukan oleh Quennevia dan Ethan tadi, diantaranya mencoba beberapa makanan yang dijual di sana, lalu melihat-lihat perhiasan seperti yang dilakukan oleh Quennevia sebelum nya.
Sampai hari menjelang sore, Yuki dan Ryohan pergi ke tepi sungai untuk menikmati pemandangan bersama. Tentu saja Quennevia dan Ethan yang masih setia mengikuti mereka pun ikut pergi kesana.
" Meraka sama sekali tidak melakukan apa-apa. " ucap Quennevia yang ada di belakang Ethan.
" Iyah, mereka hanya sedang menikmati pemandangan saja. " jawab Ethan pula.
" Haahh... membosankan, tidak ada hal menarik yang mereka lakukan. Padahal kupikir hubungan keduanya akan semakin maju. " gumam Quennevia.
Ethan mengangguk setuju dengan perkataan Quennevia, dia juga berharap seperti itu tentang mereka. Sementara itu Yuki dan Ryohan...
" Indah sekali bukan??. " tanya Ryohan.
" Yah, sangat indah. " jawab Yuki.
Yuki melirik kearah Ryohan yang sedang memandangi pemandangan didepan mereka itu, dia terlihat sangat tampan di mata Yuki. Lalu Ryohan yang menyadari itu juga ikut menoleh kearah Yuki dan tersenyum kepada nya, Yuki terkejut sendiri melihat itu dan ia langsung mengalihkan wajahnya, sementara itu Ryohan malah bingung.
" He.. Hei, Ryohan. Jika.. jika ada seseorang yang menyukai mu.. bagaimana??. " tanya Yuki dengan malu-malu, disisi lain Quennevia dan Ethan yang mendengar ucapan itu jadi bersemangat untuk menguping mereka.
" Hm... Iyah, jika dia perempuan yang baik maka aku juga akan belajar untuk menyukai nya. " jawab Ryohan.
" Be.. Begitukah. " sahut Yuki pula semakin merona malu.
Untuk sesaat tidak ada obrolan diantara mereka, sampai kemudian....
" Aku juga menyukai mu, Yuki. " ucap Ryohan dengan tiba-tiba.
" Eh??.. " sahut Yuki yang langsung kembali menoleh kearah Ryohan.
Dimana Ryohan juga menatap Yuki dengan sangat lembut, Yuki semakin berdebar mendengar perkataan Ryohan tadi. Ia seolah tidak bisa berkata-kata lagi karena itu, wajahnya semakin merah dan merah seperti kepiting rebus karena kata-kata yang sederhana itu.
Sementara disisi lain, Quennevia dan Ethan yang masih setia di tempat itu masih memperhatikan mereka, hanya saja....
" Uhh... Ethan, jangan menekan kepalaku seperti itu, aku akan jatuh. " ucap Quennevia.
" Sstt.... Mereka bisa saja mendengar mu. " jawab Ethan malah sibuk memperhatikan dengan sangat serius apa yang akan terjadi kepada kedua orang itu.
" Ethan, aku jatuh.. jatuh.. Jatuh!. " ucap Quennevia pula dan...
Brukk...
Quennevia benar-benar jaruh disana, sekaligus dengan Ethan sendiri yang sedari tadi malah menekan kepala Quennevia. Tentu saja mereka berdua yang jatuh itu membuat Yuki dah Ryohan langsung mengalihkan perhatian nya kepada mereka, padahal tadinya Yuki sempat ingin menjawab perkataan Ryohan.
" Kalian berdua??. " ucap Yuki dengan sangat terkejut, sama halnya dengan Ryohan.
" Hehehe... " Sementara Quennevia dan Ethan hanya cengengesan karena ketahuan seperti itu oleh mereka.