
Setelah pertandingan itu selesai, Quennevia pun pergi untuk mengambil hadiahnya, kemudian keluar dari sana tanpa mengatakan apapun. Di depan arena itu, Niu dan Kai sudah menunggunya. Saat dia menghampiri mereka, Niu langsung saja berlari memeluknya, membuat Quennevia terkejut dengan itu.
" Ah, Nevia. Kau hebat sekali. " ucapnya kelihatan begitu gembira dengan apa yang telah terjadi.
" Tidak bisakah kau tidak memelukku seperti ini. " ucap Quennevia datar.
Niu hanya cengengesan sembari melepaskan pelukan nya itu, Iyah dia cukup mengingatkan nya pada seseorang yang ia kenal. Yang selalu langsung berhambur memeluknya saat melihat nya, ia jadi tidak bisa marah padanya dan hanya mendengus.
" Ambil ini. " ucap Quennevia kemudian.
Dia menyerahkan sekantung koin emas untuk mengganti uang milik Niu sebelumnya, Karena kantung itu dilempar tentu saja Niu otomatis menangkapnya.
" Ehh, aku tidak membutuhkan nya. " ucap Niu setelah melihat apa itu.
" Dan aku tidak mau berhutang kepada siapapun. " sahut Quennevia.
" Nona, apa yang akan anda lakukan selanjutnya?? " tanya Kai.
" Aku hanya akan membeli beberapa barang. "
Quennevia pun kembali ke pasar untuk membeli barang yang ia inginkan, tentu saja diikuti oleh Kai itu biasa karena dia sudah jadi bawahan nya. Tapi Niu...
" Sampai kapan kau akan mengikuti kami?? " tanya Quennevia.
" Hehe.. Aku hanya ingin ikut saja. Tidak akan lama kok. " jawab Niu.
Quennevia hanya menatapnya dengan datar, dia tidak akan bisa mengusirnya tanpa kekerasan. Tapi dia juga tidak mau melakukan masalah untuk saat ini, jadi dia membiarkan nya mengikuti nya seharian.
Saat hari semakin sore Quennevia pun harus segara kembali ke kediaman nya, jika tidak semua orang akan kembali cemas dan mungkin saja akan ada yg curiga.
" Aku harus segera kembali. " ucapnya.
" Ah, aku juga. Kalau begitu sampai jumpa kalian berdua. " ucap Niu yang langsung pergi dari sana begitu saja.
Quennevia sampai bertanya-tanya bagaimana ada orang sepertinya, dia datang dan pergi sesukanya. Bahkan mengikutinya kemana pun ia pergi seolah mereka ini teman lama, sepertinya Niu sangat tertarik padanya karena suatu alasan. Dan sekarang... Quennevia bahkan mempertanyakan dirinya sendiri, kenapa dia memikirkan itu...
" Bagaimana dengan mu, Kai. " tanya Quennevia mencoba mengalihkan pikirannya.
" Saya akan mengikuti anda kemanapun anda pergi. " ucapnya.
Quennevia tidak bisa kembali langsung dengan Kai yang terus mengikuti nya, jika ada yang melihat nya maka dia bisa saja dianggap penyusup. Apalagi tidak ada yang tahu kalau dia bisa melakukan sihir dan mengumpulkan energi petarung.
Sampai suatu ide muncul dikepala nya, itu dia yang harus dia lakukan.
" Kai, aku punya tugas untuk mu. " ucap Quennevia.
" Silahkan katakan. " jawab Kai cepat.
" Tetaplah di kota dan jangan ikuti aku, besok pagi kau pergi ke kediaman mentri Arkharega untuk menjadi pengawal putri Quennevia. "
" Ehh... Apa itu artinya saya tidak mengikuti anda?? "
Quennevia sedikit tidak mengerti dengan ucapan nya, ia mengira-ngira apa yang sekarang sedang di pikirkan orang itu. Kalau dilihat lagi, Kai itu baru berumur sekitar 15 atau 16 tahun. Tapi kenapa dia tidak mengerti apa yang ia maksud nya barusan, apa dia sepolos itu??
" Bukan begitu, aku ingin kau melindungi nya. " ucap Quennevia.
" Ah, apa anda kenal dengan nya? " tanya Kai.
" Iya, aku kenal."
" Baiklah, kalau itu keinginan anda nona. "
Akhirnya Quennevia dan Kai pun berpisah di kota, dan ia pun langsung kembali ke kediaman nya sebelum ada yang curiga. Setelah sampai di langsung masuk ke kamarnya untuk beristirahat sebentar.
" Nona, akhirnya anda kembali. " ucap Murphy yang sudah menunggunya.
" Apa ada masalah saat aku pergi?? " tanya Quennevia.
" Tidak ada masalah besar, Nona. Hanya saja tadi selir pertama datang ke mari, tapi saya bilang anda sedang beristirahat karena lelah. Jadi dia tidak jadi menemui anda" ucapnya.
" Baguslah tidak ada hal buruk yang terjadi. "
Dia pun duduk di sisi ranjangnya sambil mengeluarkan barang yang ia beli sebelumya dari cincin ruang yang juga baru ia beli.
" Nona, anda dapat uang dari mana. Setahu saya anda tidak membawa uang saat pergi. " tanya Murphy.
" Oh, tadi aku hanya mengikuti taruhan kecil. " jawab Quennevia. " Apa kau membawa apa yang ku minta?? " tanyanya.
" Iya, nona. "
Murphy pun langsung mengeluarkan sebuah gulungan yang ia sembunyikan di dalam lemari dan menyerahkan nya kepada Quennevia. Gulungan itu berisi resep-resep obat yang cukup lengkap.
" Bagus, dengan ini kita bisa membuat nya. " ucap Quennevia.
Saat dia bangun untuk mengambil beberapa bahan, pintu tempatnya tiba-tiba saja di ketuk dari luar. Dan ada seseorang yang memanggilnya, dia pun segara menyembunyikan semua berangnya ke dalam cincin ruang lagi.
Saat Murphy membuka pintu itu, masuklah selir kedua bersama dua dayangnya.
" Bibi Ellise, ada apa sampai datang kesini?? " tanya Quennevia dengan sopan kepadanya.
" Bibi dengar kau kurang sehat, jadi kemari untuk membawakan mu ramuan obat yang bibi buat. " ucapnya.
Dia pun mengambil mangkok berisi obat yang dibawa salah satu dayangnya, dan memberikan obat itu kepada Quennevia.
" Terima kasih bibi, selama ini hanya bibi yang memperhatikan kesehatan ku. " Quennevia memiliki ekspresi yang sangat cerah ketika mengatakan itu..
" Huh, dasar bodoh. Kau pikir selama ini aku tidak tahu kau memberiku obat yang sudah kau racuni. " tapi dalam hati dia mengumpat sangat kesal.
" Tidak perlu berterima kasih, putri. Lagipula kita ini keluarga. " jawab Ellise dengan tidak tahu malu.
Quennevia hanya tersenyum mendengar itu, dan ia pun langsung meminum obat itu sampai habis, dia tidak bisa langsung membuangnya karena bibinya yang baik hati itu, ekhem.. Dalam artian yang buruk, terus memperhatikan nya. Setelah obat itu habis, barulah bibinya itu mengambil mangkuk dari tangan Quennevia dan langsung pamit untuk pergi.
" Beristirahat lah, putri. Nanti malah, tuan akan kedatangan tamu dan semua orang harus hadir. Bibi juga akan pergi dulu agar kau bisa beristirahat dengan nyaman. " ucapnya.
" Baiklah. Murphy, tolong antar bibi Ellise keluar. "
" Baik, nona. "
Dia pun mengantarkan Ellise pergi dari sana, dan kemudian masuk lagi dan berjalan kearah Quennevia.
" Nona, apa anda baik-baik saja? " tanyanya saat melihat Quennevia terlihat seperti ingin muntah.
Dia terlihat sangat khawatir melihatnya seperti itu. Tapi itu sebenarnya bukan apa-apa, Quennevia hanya merasa jijik dengan kebaikan palsu seperti itu.
" Ber*ngsek." umpat Quennevia. " Murphy, tolong ambilkan wadah kecil untukku. " pintanya kemudian.
Murphy pun langsung cepat mengambil wadah yang diinginkan Quennevia dan memberikan nya. Quennevia pun menggunakan sedikit kekuatan nya dan mengeluarkan racun yang ada ditubuhnya.
" Nona, itu.. " Murphy terlihat sangat terkejut dengan apa yang terjadi.
" Hehe... Ternyata dia cukup bodoh juga. " Quennevia baru-baru ini mempelajari sihir resistance dan itu terbukti memiliki pengaruh yang sangat baik.
" Tidak ku sangka dia berani menaruh racun di obat anda, meskipun saya tahu dia itu orang jahat. Tapi apa dia tidak takut kalau ini akan ketahuan tuan besar. " ucap Murphy yang ikut kesal.
" Jangan khawatir, aku akan membalasnya ratusan kali lipat. "
Murphy mengangguk setuju mendengar nya, dia gadis yang sangat setia kepada Quennevia. Dan hanya dia yang peduli kepada nya, meski di sini masih ada para dayang dan pekerja yang lain, hanya dia yang selalu ada di sisinya.
Bahkan saat Quennevia dihina pun hanya dia yang membelanya, ayahnya selalu sibuk jadi hanya tau dari laporan orang saja. Selain Murphy hanya para pasukan yang menjaganya sebagai mana mesti nya.
Murphy dan Quennevia besar bersama, umur mereka tidak terpaut terlalu jauh. Dan Murphy sangat menghormati ibu Quennevia, karena itu dia ingin melindungi Quennevia yang sangat berharga bagi ibunya.