Quennevia

Quennevia
Rapat




3 hari setelah kembalinya Ethan dan yang lain ke Akademi...



Para pemimpin negara segera mengirimkan setiap perwakilan mereka, mendesak untuk mengadakan rapat terkait situasi benua yang kacau saat ini. Kegelisahan tidak hanya dirasakan oleh rakyat, bahkan orang-orang yang ada diruang rapat saat ini juga sama.


Sejak rapat ini dimulai, mereka sudah ribut membahas soal penyelesaian masalah ini secepat mungkin.


" Kita harus segera menggancarkan serangan! Klan Retia tidak bisa lagi dibiarkan sesuka hati seperti ini!."


" Saya setuju. Kita tidak bisa lagi menundanya. Mereka telah melakukan serangan sepanjang tahun terakhir, sudah banyak orang yang menjadi korban kekejaman mereka."


" Tapi... Jika kita gegabah malah kita yang akan kalah."


" Kita masih belum tahu pasti, soal kekuatan tempur musuh. Apalagi selama ini, para anggota peringkat atas, Seriana dan anak-anaknya dan juga Seretia tidak sekalipun turun ke garis depan."


" Bagaimana dengan laporan terbaru dari pasukan garis depan? Apakah ada informasi baru tentang pasukan musuh?"


" Para prajurit semakin kelelahan dan mendapatkan guncangan mental yang cukup berat. Karena beberapa dari pasukan mayat yang mereka lawan, ada kerabat dan teman mereka."


" Kita harus segera melakukan sesuatu, jika tidak kita justru akan dijajah semakin parah."


Perdebatan mereka sangat panjang sejak tadi, sementara itu Quennevia dan teman-temannya hanya diam mendengarkan semua itu. Semua yang diutarakan disana hanya menyebabkan kebingungan dan kebingungan lain muncul secara bertahap.


Tapi sepertinya, para perwakilan sangat keras kepala karena kegelisahan yang mereka rasakan saat ini. Sampai-sampai tidak lagi memandang sikap berdiskusi yang benar dan tenang.


Ketika semuanya malah jadi semakin rumit, Quennevia pun akhirnya mengangkat tangan kanannya dan buka suara disana.


" Semuanya, tolong tenang." ucapnya kepada mereka.


Yang langsung membuat semua orang diam ketika mendengar suaranya. Dan Quennevia pun melanjutkan kata-katanya...


" Aku tahu kalian semua gelisah, aku juga tahu situasi saat ini tidaklah baik untuk kita. Tapi jika kita kehilangan ketenangan kita, itu justru akan menjadi celah bagi musuh. Terburu-buru mengambil keputusan akan menyebabkan perpecahan dalam hirarki. Kita tidak bisa membiarkan pertahanan kita runtuh sebelum kita bisa melancarkan serangan balik pada musuh." lanjutnya sembari menyilangkan kedua tanganya dibawah dagunya.


" Akan tetapi, Yang mulia. Kita juga tidak akan bisa terus bertahan seperti ini. Kondisi pasukan tidak bisa terus ada dalam keadaan optimal karena menghadapi musuh yang tidak pernah lenyap." ucap salah seorang disana pula menutarakan pikirannya.


" Karena itulah, waktunya untuk perang utama dimulai." Karena itu, Arkan pun menimpalinya. Sebagai orang yang terlihat paling santai disana, ia menatap orang-orang yang ada ditempat itu dan mulai menyunggingkan seringai yang menandakan keseriusan kata-katanya. " Ayo gempur markas musuh dengan semua kekuatan kita dalam sekali serang." lanjutnya.


Melihat ekspresi serius itu dari nya membuat mereka jadi sedikit gugup, tentu saja tidak ada yang meragukan kemampuan kelompok yang di isi oleh Quennevia dan Ethan dimana pun. Tapi...


" Tapi.. Apakah benar-benar tidak masalah jika kita langsung mengerahkan semua kekuatan sekaligus seperti itu?"


Mereka juga ragu apakah usulan itu benar-benar pilihan yang bijak.


Saat Meliyana pun kemudian menimpali itu, " Ini adalah perang suci, lho. Wahyu dewi telah turun, ini akan jadi pertarungan terakhir dengan klan Retia sesuai kehendaknya." ucapnya.


" Karena dewi telah berkata demikian, maka kita harus mulai mencabut kejahatan yang telah tertanam lama ditanah ini. Itulah alasan kita ada disini sekarang." Dan Yuki pun ikut menambahkan.


Tentu saja, mereka juga tahu soal wahyu dewi yang telah turun. Karena itu, perkataan Yuki dan Meliyana tidaklah diragukan lagi.


" Murid-murid yang dianggap cukup layak diakademi juga akan dikerahkan, tentu saja kita harus menekan jumlah korban semaksimal mungkin apalagi dari generasi muda. Karena itu, penguasa hutan memberitahu kami kalau dia juga akan mengerahkan para spirit kelas atas dan spirit guardians ke medan perang." jelas Niu kepada para perwakilan disana.


" Bukan hanya pasukan dimedan perang, para pengungsi juga penting. Keluarga Veillain, bersama dengan beberapa keluarga bangsawan lainnya akan berkontribusi dibalik layar untuk menyediakan pasokan makanan, akomodasi dan hal-hal yang cukup penting lainnya yang diminta oleh setiap negara dan mengirimkannya ke lokasi dengan aman. Kami juga akan memastikan tidak akan ada serangan dari belakang atau apapun. Karena itu kalian tidak perlu khawatir soal apapun lagi." ucap Oscar pula.


Mereka memang membutuhkan semua dukungan yang ada untuk memastikan tidak akan ada kerugian dalam hal apapun saat ini..


" Lalu, yang paling penting..." ucap Ethan kemudian, yang membuat semua perhatian jadi tertuju kepadanya. "...pemantauan medan perang saat ini. Bagaimana jika kita mengobservasinya sekarang??" ucapnya membuat para perwakilan bertanya-tanya apa maksudnya. Sementara itu dirinya hanya melirik Quennevia disampingnya.


Quennevia yang mendengar itu pun menganggukan kepalanya menanggapi hal tersebut dan ia menyebut nama seseorang.


" Sakura."


Karena itu pintu yang ada disana terbuka dan Sakura yang dipanggil pun melangkah masuk ke dalam sana. Ia berjalan dengan percaya diri dan berdiri disamping Quennevia dengan sebuah buku catatan ditangannya.


" Bagaimana dengan rencana yang kau buat, Sakura?" tanya Quennevia padanya.


Sakura pun menganggukan kepalanya dan menjawab, " Iya. Seperti yang saya katakan, saya membuat sebuah alat yang bisa mengambil gambar dari kondisi medan perang saat ini tanpa disadari. Saat ini, semua alat yang saya buat telah terbang diatas medan perang." ucapnya.


Prok.. Prok..


" Woah.."


" Ini.."


Itu adalah hal yang telah ada didunia modern sebelumnya, sebuah layar hologram yang menampilkan gambar dari alat semacam robot berbentuk burung yang dibuat Sakura kepada mereka semua.


Sakura perlahan menarik nafas sejenak, dan ia kembali berkata. " Semuanya.. Tolong fokuskan perhatian kepada layar itu. Saya akan mulai menjelaskan kondisi, geografi dan statistik medan perang saat ini." ia memiliki sikap yang tegas dan berwibawa ditempat itu.


***


Setelah rapat penting yang panjang dan membosankan itu berakhir, semua langsung kembali ke kegiatan mereka masing-masing. Semua disibukan soal persiapan besar yang akan terjadi.


Tapi ada juga yang masih bersangai untuk menemui saudara dan juga orang yang ia sukai, yang lain pergi untuk berlatih. Sementara seorang lagi harus mendiskusikan persoalan dari negara yang telah lama ia tinggalkan kepada orang yang ia percayai.


Sementara Quennevia... Selayaknya Quennevia, dia masih sibuk dengan perencanaan perang yang akan terjadi. Dan Sakura yang jadi asistennya terus berjalan mengikutinya.


" Sakura, apa ada kabar dari ibu? Bagaimana keadaan Nevia?"


" Iya. Nyonya Misika bilang, kak Nevi berasimiliasi dengan sempurna bersama Kagura. Setelah ini untuk kedepannya.. Yang akan mengendalikan tubuh itu adalah kak Nevi dan Kagura akan tidur."


" Begitu, baguslah."


Ketika itu.. Quennevia tiba-tiba berhenti disana, dan memandang sebuah kolam didekatnya. Ia menatap bayangannya sendiri yang terpantul diatas air, dan ia terdiam sambil sesekali memperhatikan ikan-ikan yang lewat.


Sakura yang melihat itu jadi bingung, tapi ia tidak menanyakan apapun. Dia hanya menatap wajah Quennevia saat ini, dia terlihat sangat tenang, sama seperti air dikolam itu. Ia jadi tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya saat ini.


Sampai saat itu, dia tiba-tiba terpikirkan hal yang aneh. Sesuatu yang membuatnya penasaran selama ada didunia baru ini. Dan itu... Benar-benar membuatnya merasa aneh.


" ... Apa ada yang ingin kau tanyakan padaku saat ini??"


" Eh..??"


Sakura tersadar dari lamunannya ketika ia mendengar Quennevia berbicara, ia pun jadi kembali menatapnya. Tapi Quennevia masih berada dalam posisinya dan menatap kolam itu.


Ia pun kemudian menundukan wajahnya, dia sedikit ragu. Itu mungkin hanya perasaan nya saja, tapi...


" ...Iya." Dia juga ingin tahu.


" Kakak, aku... Merasa sedikit aneh disini." ucapnya.


" Apakah kau tidak menyukai dunia ini??" tanya Quennevia kemudian.


" Bukan begitu. Hanya saja... Semuanya terasa familiar."


Ketika Sakura mengatakan itu, seolah dunia untuk sesaat menjadi hening, ada suara tetesan air yang jatuh dan katak diatas batu didepan mereka mengeluarkan bunyinya.


Sakura melanjutkan kata-katanya, " Maksudku... Aku baru ada disini tiga atau empat hari, kan?? Mau secepat apapun kemampuan beradaptasi seseorang, tetap saja butuh waktu bagi orang itu untuk menyesuaikan diri ditempat yang baru." ucapnya.


" Jadi itu yang mengganggumu??" Quennevia pun meliriknya sekarang.


Saat Sakura menganggukan kepalanya dengan sedikit ragu-ragu. "...Iya. Aku merasa akrab dengan semuanya, seolah.. Aku mengalami deja vu yang aneh. Tidak ada satupun ditempat ini yang membuatku terkejut, seolah sejak awal aku tahu semuanya. Kupikir itu adalah pengetahuan yang kudapat dari 'Crystal Creation', tapi... Apakah itu mungkin untuk mempengaruhi perasaan ku hingga sedetail ini??."


Suara Sakura perlahan pecah, ia dapat merasakan sesuatu yang aneh itu kembali mencuat dari dalam dirinya. Bahkan tanpa ia sadari, air mata pun mulai turun dari matanya. Itu sangat membingungkan baginya.


Ia meremas dadanya dengan semua kebingungan itu dan kembali berkata, " Aku merasa... Aku merasa kalau aku sudah lama merindukan tempat ini, harusnya aku sedang mencari sesuatu.. Kenapa begitu?? Kenapa aku merasa seperti itu, kak??" tanyanya dengan putus asa, seolah dia tidak dapat mengendalikan perasaan yang mengalir diseluruh tubuhnya.


Sementara itu, Quennevia yang mendengarkan perkatannya tetap terdiam. Kesunyian turun diantara mereka ketika tak ada lagi siapapun diantara mereka yang membuka mulut. Untuk beberapa saat tetap seperti itu sampai kemudian..


" Heh.." Quennevia tersenyum karena pengungkapan Sakura.


" Kakak??." Sementara Sakura yang melihat itu justru semakin bingung dengan reaksi yang diberikan Quennevia kepadanya.


Quennevia pun kemudian berbalik menghadapnya, masih dengan senyuman itu diwajahnya dan ia menatap Sakura dengan lekat. Ketika bibirnya yang indah itu perlahan terbuka, dan ia mengatakan sesuatu...


" Apa kau ingin mendengarkan sebuah cerita... Sakura??" Quennevia melemparkan pertanyaan itu kepadanya.


" Cerita...??"


" Iya, cerita. Ini adalah kisah tersembunyi dari 100.000 tahun yang lalu, ketika aku mati untuk pertama kalinya.."