Quennevia

Quennevia
Pekerjaan diluar Akademi



Saat ini semua murid baru tengah berasa di kelas mereka, ini adalah hari pertama mereka belajar secara resmi di Akademi. Quennevia dan yang lainnya pun sudah ada di sana dan mereka tengah menunggu guru pembimbing mereka, kelas itu cukup besar hingga para murid pun hanya dibagi menjadi dua kelas.


Untung nya peringkat 50 ke atas berada di satu kelas, jadi baik Quennevia dan teman-teman sekamar nya, maupun Ethan juga ada di kelas yang sama.


" Hei, Quennevia. Menurut mu siapa wali kelas kita nantinya??. " tanya Meliyana yang duduk di samping nya.


" Aku tidak tahu, tapi kuharap orang yang punya prinsip yang bagus. " sahut Quennevia sambil membaca buku ditangannya dengan santai.


" He... Kau benar, soalnya orang yang tidak punya prinsip itu menyusahkan. " ucap Meliyana pula sambil melirik Arkan di sebrang sana.


Iya, Meliyana berasa agak sedikit terganggu karena dia selalu saja mengikuti nya dan mengatakan kalau dia menyukai Meliyana. Meliyana menganggap dia tidak punya prinsip, karena masih selalu menggoda perempuan lain meski sudah mengatakan perasaan nya kepada dirinya.


" Itu salah mu, kenapa kau membuatnya tertarik. " ucap Yuki pula datar.


" Siapa juga yang membuatnya tertarik, justru dia sendiri yang mendekati ku. " sahut Meliyana kesal.


" Iya, iya. Baiklah, itu bukan salah mu. " ucap Niu pula.


Perhatian semua murid pun teralihkan ketika pintu kelas terbuka, dan masuklah guru yang akan menjadi guru pembimbing mereka itu. Guru mereka masih terlihat sangat muda, apalagi tampangnya yang terlihat ramah itu.


" Halo, semuanya. Namaku Reil, aku yang akan menjadi guru pembimbing kalian kedepannya. Mohon bantuannya nya ya. " ucap Reil dengan senyum ramah di wajahnya.


" Baik. " sahut semuanya.


Namun melihat Reil itu membuat Quennevia teringat seseorang, " Dia mirip paman Mice. " batin Quennevia, sifat nya yang dimaksud.


" Baiklah, kalau begitu. Mari kita mulai pelajaran nya hari ini. " ucap Reil pula.


Semua murid fokus kepada hal-hal yang dijelaskan oleh Reil, pelajaran yang berlangsung di Kelas itu begitu dicermati oleh para murid. Semuanya begitu fokus dan tidak ada satupun kerbutan ditempat itu, semua orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik disana. Seperti yang diharapkan dari akademi elit.


*******


Beberapa hari berlalu sejak pelajaran pertama mereka dimulai, tidak ada yang terlalu istimewa dalam jangka waktu itu, hanya belajar dan latihan, kemudian beristirahat. Meski sebenarnya ada banyak hal yang bisa di lakukan di Akademi itu.


Namun semua itu tidak berlaku bagi Quennevia yang harus belajar ekstra, di pagi dan siang hari ia belajar bersama teman-teman nya. Sedangkan malam hari ia harus belajar bersama para tetua, dia menjadi murid paling sibuk sepanjang masa.


Namun hari ini sedikit spesial bagi nya...


" Eh?? Pekerjaan di luar Akademi??. " ucap Quennevia dengan bingung mendengar itu dari teman-temannya.


Yang kemudian diangguki oleh Ethan, " Benar, ayo lakukan perkerjaan nya. Ini akan jadi hal yang bagus untuk kita lakukan dari pada di sini sepanjang waktu. " sahut nya dengan sangat bersemangat.


" Memangnya boleh bekerja di luar Akademi??. " tanya Niu, tidak ada yang memberitahu nya dan juga Quennevia tentang hal itu.


" Tentu saja, Akademi sendiri yang menyediakan perkerjaan itu. Katanya banyak orang yang meminta tolong ke mari, dan pekerjaan nya selalu diambil oleh para murid atau pun guru. Yang paling penting... Setiap pekerjaan yang berhasil diselesaikan bisa ditukar dengan uang atau poin untuk masuk ke menara perpustakaan di timur Akademi. " jelas Oscar panjang lebar.


Iya, itu perpustakaan paling sulit dimasuki sih, tapi itu adalah perpustakaan paling lengkap dengan semua buku-buku langka bahkan kuno didalamnya, karena nya banyak orang yang harus bersusah payah untuk masuk ke sana. Namun sebenarnya... Quennevia bisa pergi ke perpustakaan itu sebanyak yang ia mau sih.


Quennevia nampak memikirkan hal itu, prinsip nya hampir sama dengan pekerjaan di Guild meraka salama ini, tidak buruk juga untuk bisa keluar dari akademi disaat-saat seperti ini. Lagipula pelajaran yang ada sudah pernah diajarkan oleh Everon di hutan, mengingat itu ia jadi malah membuat depresi nya kembali datang, karena Everon mengajarinya dengan tampang yang menakutkan.


" Hanya kita berempat??. " tanya Quennevia memastikan hal itu.


" Tentu saja, jika kita mengajak yang lain itu malah akan merepotkan. " bisik Ethan yang juga diangguki oleh Oscar.


Mendengar persetujuan dari Quennevia itu membuat Ethan dan Oscar bersorak girang, keduanya tersenyum dengan aneh saat ini, namun Niu yang masih di sana melihat itu dan hanya menatap mereka datar.


" Nampaknya mereka merencanakan sesuatu. " batin Niu dengan curiga.


--


Keesokan harinya, mereka berkumpul di depan tempat penerimaan pekerjaan, disana juga cukup banyak orang yang juga ingin menjalankan perkerjaan.


Niu dan Quennevia hanya menunggu Oscar dan juga Ethan yang sedang mencari pekerjaan yang mereka inginkan, mereka berharap kalau mereka berdua cepat menemukan nya dari pada Meliyana dan yang lainnya keburu datang menyusul. Padahal sudah susah payah untuk pergi diam-diam, tapi jika ketahuan berakhir lah sudah.


" Yuhuu.. Kami sudah mendapatkan nya. " ucap Oscar yang berjalan menghampiri mereka dengan sangat senang.


" Itu bagus, sekarang ayo!. " sahut Quennevia pula yang langsung menyeret mereka berdua pergi dengan Niu yang mengikuti.


Keduanya bingung kenapa buru-buru sampai diseret begitu, namun setelah kepergian mereka itu, nampak lah dengan jelas apa yang jadi alasan nya.


Dari kejauhan sana, Meliyana yang tengah menyeret Yuki, dengan Arkan dan juga Ryohan yang tengah berlari ke arah tempat pengambilan pekerjaan itu dengan sangat terburu-buru.


Brakk.....


Meliyana sampai menggebrak meja di depannya dan membuat senior yang berjalan di sana terkejut karena kedatangan mereka.


" Senior, bisa kau bertahu kami apa ada 4 murid baru yang datang mengambil pekerjaan di sini. Dua orang laki-laki, yang satu berambut merah yang satunya lagi berambut pirang. Dan juga dua orang gadis cantik yang satu berambut coklat dan yang satunya berambut emas yang paling cantik seantero dunia. " tanya Meliyana dengan terburu-buru, hingga membuat senior yang menjaga tempat itu pun jadi bingung sendiri, apalagi saat melihat mereka berlari sebelum itu.


" Meliyana, tenang. Jika bertanya itu pelan-pelan. " ucap Yuki dengan santai.


" Bagaimana bisa kita tenang, mereka baru saja meninggalkan kita. " ucap Ryohan dengan kesal.


" Iya, benar. " sahut Arkan.


Yuki hanya bisa menghela nafas nya melihat itu, nampaknya ia tahu alasan Quennevia dan yang lainnya meninggalkan mereka di Akademi, namun kenapa dia harus ditinggalkan dengan mereka juga.


" Apa kesalahan ku sampai harus ditinggal dengan tiga orang idiot ini. " batin Yuki mengingat nasib malang itu.


" Jadi Senior, apa mereka ke sini??. " tanya Meliyana lagi.


" Ah, iya, iya. Mereka memang datang ke mari beberapa saat yang lalu, tapi mereka sudah berangkat. " sahut Senior itu kemudian.


" Bisakah kau memberitahu kami kemana mereka pergi, Senior??. " tanya Arkan.


Tapi itu dibalas gelengan kepala oleh nya, " Soal itu, maaf aku tidak bisa memberitahu kalian. " jawab senior itu pula.


Mereka nampak kecewa karena itu, sudah terlambat mereka juga tidak mendapatkan informasi kemana mereka pergi lagi.


" Tidak mungkin, ayolah Senior. " ucap Meliyana sambil memohon.


" Maafkan aku. " sahut Senior itu pula sambil tersenyum, karena itu adalah peraturannya.


Akhirnya mereka hanya bisa pasrah dan kembali ke kelas mereka, dengan perasaan kecewa karena di tinggalkan. Mereka mungkin saja akan marah-marah saat Quennevia dan yang lain kembali nantinya.