Quennevia

Quennevia
Pondok dihutan...



[Season 2]


Mobil yang dikendarai Ethan itu melaju dengan cepat dijalanan kota, menuju ke sisi lain yang belum mereka datangi. Matahari perlahan mulai terbenam, dan suasana kota pun berubah diterangi cahaya lampu. Orang-orang yang sebelumnya masih beraktifitas pun satu persatu mulai masuk ke rumah mereka, membuat jalanan menjadi lebih sepi.


Disaat yang sama, saat ini Ethan dan yang lainnya sedang melewati jalan diperbukitan disisi lain kota.


" Pemandangan tempat ini lebih cantik dimalam hari, jika kulihat lagi." ucap Meliyana memecah keheningan sambil terus menatap kota dari jendela.


Niu yang ada disampingnya pun meliriknya sejenak, dan menjawab. " Kau benar. Terasa lebih tenang saat didengar, tapi kurasa jadi lebih bahaya jika diluar." ucapnya yang kemudian kembali pada buku ditangannya.


" Begitukah??" Meliyana kembali menyahuti dengan lesu.


Dia tidak suka suasana sepi didalam mobil ini, semuanya hanya diam tidak seperti sebelumnya. Oscar dan Arkan sepertinya jatuh terlelap karena sebelumnya tidak bisa beristirahat dengan santai, Niu hanya fokus pada buku baru tentang dunia ini yang ia dapatkan saat bersama Ethan. Dan Yuki, hanya diam karena dia selalu seperti itu.


Lalu Ethan sendiri, dia juga hanya diam terlihat memikirkan sesuatu dan fokus pada jalanan yang ada dihadapannya. Semuanya fokus masing-masing.


" Hufff... Mungkin aku juga tidur saja, ya." batin Meliyana sambil menatap Oscar dengan seksama.


Saat kemudian Ethan berkata, " Kita akan keluar dari jalan utama, bersiaplah dengan guncangan." ucapnya membuat yang lain bingung.


Bahkan Oscar dan Arkan pun langsung bangun dan menatapnya.


Seperti yang Ethan katakan, mereka memang keluar dari jalan dan berjalan dijalanan tanah yang penuh dengan lubang. Bahkan semak dan ranting-ranting pohon juga terjulur hampir menutupi badan jalan, meski begitu Ethan tetap melajukan mobil yang dikemudikannya dengan perlahan. Sementara itu....


" Jadi karena ini maksudmu guncangan..??" Oscar yang merasa kurang puas dengan istirahatnya menatap Ethan dengan ekspresi kosong.


Tapi Ethan hanya menanggapinya dengan tawa ringan, " Haha... Bukankah memang berguncang??" ucapnya.


Brughh...


Mobil mereka sekali lagi melewati lubang yang ada disana...


" Akk!! Kepalaku!." dan Arkan harus menahan rasa sakit karena kepalanya terbentur dengan atap mobil.


" Itu lubang yang sangat besar, sebenarnya kenapa kita kesini??" tanya Yuki kepada Ethan disebelahnya.


" Ah, itu--..."


Duak!


Ucapan Ethan terhenti karena suara sesuatu yang menabrak kaca depan mobil, dan itu mengalihkan perhatian yang lain juga.


" Apa itu?!" tanya Meliyana yang sangat terkejut ketika ia mendengar itu.


" Astaga, tupai yang kasian." ucap Ethan ketika ia melihat seekor tupai tertelungkup diatas kaca mobil, ia pun menarik tuas wiper untuk mengaktifkannya. Tupai yang ada diatas kaca pun didorong pergi oleh wiper itu, dan setelah memastikan kalau dia mendarat diatas tanah dan pergi, Ethan pun kembali melaju dengan santai. "..Dia pasti jatuh karena dahannya bergoyang." ucapnya pula.


Dia sangat santai sekali menghadapi hal itu, berbeda dengan teman-temannya yang berekspresi tak habis pikir dengan apa yang dia lakukan. Sampai-sampai mereka tidak bisa berkata apa-apa lagi karena nya. Ada banyak hal yang sudah cukup membuat mereka terkejut disana.


Tak lama dari itu, mobil yang mereka tumpangi itu pun berhenti, tepat didepan sebuah pondok kayu sederhana disana.


Disaat yang sama saat itu, seseorang datang melintas dijalan, ia teralihkan oleh sesuatu dan menghentikan motor yang ia gunakan ditepi jalan yang sepi. Apa yang ia lihat adalah... jalan yang sebelumnya dilalui oleh mobil Ethan dan teman-temannya, dimana jejak mereka masih tertinggal disana.


Seseorang itu terdiam ditempat nya sambil menatap itu, dia pun kemudian melihat jam diponselnya, dan mengirimkan pesan kepada seseorang. Setelah itu... ia kembali menyimpan ponsel itu dan mengarahkan motornya ke jalan yang sama, dia masuk menembus jalanan dihutan yang gelap itu. Ingin melihat siapa yang datang ke sana sekarang.


Sementara itu, Ethan dan yang lainnya turun dari mobil ketika sampai diperhentian mereka dan berjalan mendekati pondok kayu dihadapan mereka saat ini, tempat itu sangat gelap dan juga dingin, mengingat sekarang mereka memang ada ditengah hutan. Karena itu, masing-masing dari mereka harus menggunakan sihir untuk membuat bola cahaya agar bisa melihat sekitar.


" Kita dimana?." tanya Niu sambil melihat-lihat sekitar.


" Ini pondok yang digunakan Quennevia untuk bersembunyi saat ia jadi buronan didunia ini. Kita mungkin bisa menemukan sesuatu disini." sahut Ethan.


Mereka pun berjalan memasuki pondok itu dan melihat dalamnya dengan seksama, itu cukup berdebu dan juga pengap mengingat tidak ada seorang menempati tempat ini selama kurang lebih enam tahun lamanya. Meski begitu, Arkan menemukan sesuatu disana...


" Lihat ini..." ucapnya menarik perhatian teman-temannya, ia pun berjongkok didepan sebuah rak buku dan menunjuk sesuatu dilantai. Sebuah jejak kami.. "..Seseorang seperti nya datang kesini baru-baru ini." lanjutnya kemudian.


" Oh, kau benar." Meliyana yang melihat itu pun menyahutinya.


Saat kemudian, Niu memanggil mereka dari ruangan sebelah. " Hei, teman-teman. Lihat apa yang aku temukan."


Mendengar itu, Niu dan Arkan pun saling pandang sejenak, dan keduanya pun beranjak menghampirinya diruangan itu, sepertinya itu adalah kamar. Yuki juga ada bersama dengannya, mereka berdua terlihat sedang membersihkan sebuah kotak yang sebelumnya ada dibawah tempat tidur.


Itu menarik perhatian mereka karena hanya benda itu yang memiliki jejak pernah dipindahkan disana. Sementara itu, mereka tidak menenukan keberadaan Oscar dan Ethan disana.


Karena penasaran, Meliyana pun bertanya kepada Niu dan Yuki. " Ethan dan Oscar pergi kemana?."


" Mereka berdua pergi ke ruang bawah tanah.." Yuki pun menyahutinya setelah mendengar itu, ia kemudian menoleh dan kembali berkata. "..Kau bisa menyusul mereka jika kau mau." ucapnya.


" Uhh.." tapi, Meliyana yang memikirkan itu merasa agak.. ragu.


Dan itu membuat Arkan tersenyum jehil kepadanya, " Nah, disana tidak ada apa-apa. Mungkin hanya debu, beberapa sarang laba-laba, dan juga tikus." ucapnya menggoda Meliyana.


" Ahaha... tidak mau." Jelas sekali, Meliyana tidak akan menyukai itu.


" Ah. Terbuka." dia berhasil membukanya.


Tiga orang disana yang mendengar itu pun langsung menatapnya dengan penasaran, saat Niu dengan perlahan membuka kotak itu dan melihat isinya. Membuat yang lainnya menantikan hal itu...


Sementara itu ditangga menuju ke bawah, Ethan dan Oscar berjalan perlahan dilorong yang cukup sempit dan gelap. Tidak ada penerangan sedikit pun kecuali yang mereka bawa. Dan saat mereka sampai dibawah, ada pintu lain dihadapan mereka.


Ethan terlihat membuka pintu itu dengan sebuah kunci, yang sebelumnya mereka temukan dikamar yang sama dimana teman-temannya berada saat ini. Tak lama kemudian, pintu pun akhirnya terbuka.


Dan saat Oscar melihat apa yang ada didalamnya... tempat itu lebih seperti sebuah ruangan kerja dibandingkan gudang bawah tanah. Ada banyak buku yang menumpuk di sisi lain dinding, dan disampingnya ada sebuah papan dengan catatan, sebuah peta, rencana, pencarian, dan lokasi-lokasi yang dituju diberbagai negara.


Semuanya ditempelkan menggunakan pin-pin kecil, dan dari semua pin itu, ada benang merah yang mengikat mereka menjadi satu. Seperti membentuk sebuah jalur yang luas.


Melihat hal itu membuat Oscar bertanya-tanya, apa yang sebenarnya dicari atau hendak dilakukan oleh Quennevia saat didunia ini. Entah itu penting atau tidak, Oscar tidak tahu. Meski begitu, ia memutuskan untuk menyimpan salinan rencana itu, menggunakan alat bernama 'ponsel' yang Ethan tunjukan pada mereka sebelumnya.


Iya, Ethan bilang benda itu mempermudah mereka untuk berkomunikasi dan mengumpulkan petunjuk, jadi mereka mendapatkan masing-masing satu. Tapi selain itu, tidak ada apapun lagi yang membuatnya merasa itu pantas dilihat...


" Aku tidak menemukan apapun disini, bagaimana denganmu Ethan?." tanya Oscar yang kemudian menoleh kepadanya dibelakang.


Sementara Ethan ditempat nya, dia hanya diam sambil memegangi sebuah buku dengan sampul bunga begonia pink. Baru sesaat kemudian baru ia menarap Oscar..


" Em? Ah, tidak apa-apa. Ayo tanya yang lain diatas." dan dia berkata seperti itu.


Setelah mengatakan itu, dia langsung berjalan kembali naik ke lantai atas tanpa mengatakan apapun lagi. Sementara Oscar yang melihat itu hanya menatapnya dengan curiga.


"...Dia menyembunyikan sesuatu lagi.." batinnya berkata seperti itu.


Jelas sekali Ethan memiliki sesuatu yang sangat mengganggu pikirannya disini, tapi dia kelihatan nya enggan untuk mengatakan itu, entah itu karena dia merasa mereka tidak perlu tahu atau sesuatu itu memang sangat berbahaya disana. Dan itu membuat Oscar benar-benar penasaran.


Yah... apa yang lebih berbahaya selain dua dunia yang sebelumnya mereka kunjungi terlebih dahulu, jadi sepertinya bukan itu.


Dan Ethan sendiri... Iya, dia memang sedang memikirkan sesuatu. Semua yang ia tahu dari kota dan pondok kayu rumah rahasia lama mereka ini tetap sama, tapi ada sesuatu yang sangat berbeda dengan suasana kota dan sesuatu yang ada dibaliknya.


Dibagian selatan...


Tempat itu biasanya memang selalu gelap, tapi Ethan merasa ada sesuatu yang hilang disana.


Ia berjalan sambil terus memikirkan hal itu, sampai saat diatas. Lamunannya pun akhirnya buyar....


" Wah, keren! Tempat ini benar-benar keren!! Bagaimana bisa dia memiliki barang-barang bagus seperti ini? Ada senjata juga!." saat Arkan berteriak heboh seolah dia baru saja menemukan sebuah harta karun.


" Ada banyak buku menarik! Ini seperti harta tersembunyi!." Meliyana juga sama, kedua orang itu terlihat sangat bersemangat dengan apa yang mereka temukan disana.


Berbeda dengan Niu dan Yuki yang tidak peduli sama sekali.


Oscar dan Ethan yang melihat itu hanya bisa tertawa, seperti biasanya... mereka selalu ceria seperti itu.


" Haha... Mereka semangat sekali, ya." ucap Oscar.


" Tidak apa-apa... Itu bagus mereka bersenang-senang." sahut Ethan kemudian.


Suasana disana menjadi lebih hidup berkat mereka, tentu saja itu bagus. Disamping itu, Ethan merasa tidak ada benda apapun lagi yang bisa dijadikan petunjuk ditempat ini. Jadi sepertinya pencarian mereka saat ini bisa dihentikan disini, dan mereka harus menemukan tempat untuk tidur malam ini.


" Kita harus kembali ke kota dan pergi ke hotel, tempat ini aman karena tidak tersentuh oleh orang-orang dunia kita, jadi kita sedikit bebas." ucap Ethan kemudian.


" Benarkah..?!"


" Tidak perlu tidur dihutan lagi!."


" Eh..? Um, iya.."


Niu dan Meliyana jadi yang pertama merayakan hal itu, keduanya sudah lama tinggal diluar ruangan selama perjalanan ini. Akhirnya setelah penantian yang lama, mereka bisa berbaring diatas tempat tidur yang empuk dan hangat, itu benar-benar menggembirakan.


" Ah~ Kasur yang empuk dan hangat.."


" Aku bahkan bisa merasakan selimut itu memelukku."


Mereka bahkan sampai sudah membayangkan hal itu.


Yang lainnya hanya tersenyum melihat itu, tentu saja mereka layak mendapatkan liburan yang memuaskan bahkan meski hanya satu malam. Mereka sudah berusaha keras selama ini.


Ethan senang mereka tetap sama seperti dulu, tetap santai dan juga bebas.


Kreett...


Saat kemudian Ethan merasakan kehadiran seseorang yang lain disana... " Siapa disana..?!."


Bukan hanya dia yang merasakan itu, yang lainnya juga sama. Karena itu mereka sontak melihat kearah yang sama sekaligus, dan ada sesuatu yang terlempar kearah mereka.