Quennevia

Quennevia
Pertarungan Ego



[Season 2]


Pertarungan dan pertaruhan dengan waktu masih berlanjut, belum ada tanda-tanda kemajuan diantara salah satu dari dua hal yang sedang terjadi itu. Sementara itu waktu terus bergulir tanpa henti. Mereka hampir kehabisan waktu.


Dan Ethan benar-benar hampir dipojokkan.


Swiishh..


" Ukh..!!"


Tang!


" Huh?!."


" Matilah!."


Duakk!!


" Urkk..!!" Itu serangan yang benar-benar nyaris mengenainya, ditambah itu sangat kuat sampai-sampai menunggalkan kawah ditempatnya berdiri sebelumnya.


Dengan keadaan dan luka yang dia terima selama pertarungan mereka, Ethan tidak berpikir dia bisa menghindari itu sepenuhnya jika bukan karena ia berbagi kesadaran dan reflek bersama dengan Felice ayahnya.


" Bentuan yang bisa kuberikan padamu terbatas. Jangan sia-siakan itu, Ethan. "


" Aku mengerti, Ayah. " Ethan juga memahami itu dengan baik.


Serangan lain datang dengan cepat, cambuk Seraphine bergerak dengan meliuk-liuk dengan cepat seperti seekor ular yang sedang berburu mangsanya. Dan Ethan berusaha menepis semua serangan yang datang dengan pedangnya agar tidak terluka lebih parah.


Pertarungan ini tidak adil dan berat sebelah, sejak awal Seraphine mendapatkan kekuatan tak terbatas dari Quennevia karena ini adalah wilayahnya, dunia dimana mimpi dan kenyataan hanyalah garis tipis yang bisa dilalui dengan mudah. Karena itu, Ethan yang bukan bagian diantara nya harus bekerja lebih keras untuk tidak terbunuh sejak awal masuk kemari.


Karena itu juga, dia tidak bisa melepaskan kesempatan sekecil apapun...


Ketika Ethan melihat celah dimana cambuk Seraphine melambat, ia tidak boleh melewatkan. Dengan mengerahkan kekuatan kepada tangan, ia akan bisa menahan panasnya. Ethan menggenggam cambuk itu, menggulungnya ditangannya dan menariknya sekuat tenaga.


" Ah! Tidak..!!"


Seraphine yang tidak siap dengan gerakan tiba-tiba itu pun terkejut dan tertarik maju bersama dengan cambuknya kearah Ethan. Disaat yang sama, Ethan mengepalkan tangannya dengan erat, dan ketika saat nya tiba... dia memukul Seraphine tanpa ragu hingga ia terhempas jauh dan menabrak pilar yang ada dibelakangnya hingga roboh.


Duakk..! Bruukkgh..


Itu benar-benar pukulan yang kuat, karena sejak awal Ethan sama sekali tidak berniat untuk menahan diri.


Dan ia pun berkata, " Sudah berakhir. Biarkan aku bertemu Quennevia."


Ethan masih memperhatikan tempat Seraphine jatuh, dan seperti yang ia duga, Seraphine bangkit dari tumpukan pilar yang runtuh itu dengan mendorong satu yang menimbunnya. Bahkan meski dia terluka, dia tidak merasakan sakit sama sekali, dan lukanya pun perlahan sembuh.


" Sial... Kenapa.. Kenapa jadi begini?" gumamnya yang kemudian berjalan keluar dengan sedikit terhuyung-huyung, dan ia memegangi sisi kiri wajahnya. " Kenapa kalian semua tidak bisa menuruti kata-kataku, hah?!." Seraphine pun berteriak marah sembari menatap Ethan dengan tajam.


Ia pun langsung melesat maju dengan cepat mendekati Ethan, kali ini bukan cambuk, tapi Seraphine mengeluarkan sebuah belati dan bersiap menusuknya. Itu serangan yang benar-benar cepat.


Ethan menghindarinya dengan melompat dan terbang diudara, namun dia bukanlah satu-satunya yang bisa terbang disana.


Seraphine dengan cepat menyusulnya dan terus memberikan serangan bertubi-tubi dengan belati dan tangan kosong. Ethan berusaha keras untuk menahan semua itu, sampai-sampai ia harus menjatuhkan pedang Quennevia dari tangannya untuk mempermudahnya.


Pedang itu menancap dilantai dengan suara yang agak nyaring, tapi suara pertarungan keduanya lebih mendominasi ruang.


Tap...


Tanpa keduanya sadari, suara pedang itu mengundang sesuatu, dan dia mengawasi dengan tenang tanpa suara.


Ditengah semua itu, disaat Ethan berusaha keras bertarung sekuat tenaganya, amarah Seraphine semakin memuncak. " Sial! Sial! Sial! Kalian semua... Sekumpulan orang bodoh! Dasar keras kepala!!." dan ia berhasil menendang Ethan jatuh kembali ke tanah.


" Ackk!!." Ethan bisa merasakan punggungnya menghentam lantai dengan keras, jika dia manusia biasa dia yakin dia sekarat sekarang.


" Ethan!!."


" Huh?!!"


Teriakkan Felice membuat Ethan tersadar, dan ia menggulingkan tubuhnya kesamping ketika Seraphine menerjang dan bersiap menginjak tubuhnya sampai hancur bersama lantai itu.


Brakkk!!


Dan jelas itu serangan yang kuat.


Ethan kembali berdiri dengan siap, dan ia melihat bagaimana penampilan Seraphine yang termakan oleh amarah berubah seperti monster tanpa akal yang siap menghancurkan apapun yang ada dihadapannya. Itu berhasil membuatnya merinding.


" Kenapa? Kenapa? Kenapa?... Kenapa kalian tidak mendengarkanku?? ...Violetine juga berkhianat dan malah pergi.. padahal kalian berjanji.."


Seraphine mulai menggumamkan kata-kata seperti itu, dia benar-benar sudah tidak sadar lagi dan ia mulai menyerangnya lagi. Mereka kembali naik ke atas, dan Ethan yakin dia bukan Seraphine yang sebelumnya...


" Kenapa?! Kenapa?!!!" saat ia mulai berteriak dan menghempaskannya, Seraphine mengangkat kedua tangannya diatas kepalanya.


Seraphine mengumpulkan semua energi yang ia punya dan membuat sebuah bola energi bertekanan tinggi yang siap menghancurkan mereka kapan saja. Itu akan menjadi serangan yang benar-benar kuat.


Ethan sampai hampir kehabisan kata-kata melihat bagaimana dia mulai menggila, " Serangan ini..." dan ia bisa dengan jelas merasakan semua kebencian yang dia kumpulkan itu. " Bagaimana aku bisa menahan serangan sebesar ini...?." dan dia khawatir dengan itu.


Ethan mengeratkan pegangannya pada pedang yang ada ditangannya, memikirkan bagaimana cara mengatasi itu tanpa meninggalkan efek samping kepada tubuh atau kesadaran Quennevia sendiri. Tapi dia sama sekali tidak bisa memikirkan apapun, semua usaha yang ia cari justru membuat kepalanya pusing.


Tapat disaat itu, suara Felice yang muncul terasa seperti sebuah pencerahan. " Ethan." ia sedikit tersentak, dan kemudian ia merasakan sentuhan tangan hangat dipundaknya. " Kendalikan kekuatan mu. Kau harus tenang dan ingatlah apa yang kuajarkan padamu." suara itu begitu lembut hingga membuat Ethan merasa tenang.


Ethan menutup kedua matanya dan mulai menarik nafas panjang, sembari mengingat memori lama yang telah berlalu. Saat dia pertama kali berlatih menggunakan kekuatan nya bersama dengan ayahnya.


 


Saat itu, dia masihlah anak kecil yang selalu gagal dan sering melakukan kesalahan...


Wuunggg... Blarr!


" Akk..!! Aw..." dan ia selalu melukai dirinya sendiri saat itu terjadi.


" Kau tidak apa, Ethan?? Apakah kau kesulitan mengatur kekuatanmu??" Kemudian Felice selalu datang menghampirinya sambil tersenyum dengan lembut dan menanyakan keadaannya.


" Umm... Iya." Ethan sebenarnya takut dengan kekuatan nya sendiri. Dan fakta bahwa ia tidak bisa mengendalikan itu membuatnya semakin takut, karena itu dia selalu menekannya.


Felice juga pasti menyadari kegelisahan putranya, jadi ia tidak pernah berhenti memberikannya motifasi. " Ini tidak menakutkan, Ethan. Kekuatanmu hanya sedikit spesial, jadi kau sulit mengendalikannya." dia selalu berkata seperti itu.


" Belajar sedikit lebih keras, dan lebih banyak latihan, maka kau pasti bisa mengendalikannya dengan baik. Kau bisa menggunakan kekuatan ini untuk melindungi semua yang berharga bagimu, termasuk orang yang kau cintai." Felice berkata kepadanya.


Sementara itu, Ethan hanya menatapnya, sampai Kemudi dengan polosnya ia pun bertanya. " Apa ayah pikir seseorang akan mencintaiku seperti ibu mencintai ayah??"


" Tentu saja, semua orang pantas dicintai. Hanya saja kau harus mencarinya dengan caramu sendiri." Felice menjawab itu dengan suara yang hampir tertawa, dan ia pun kemudian mengusap kepala putranya. " Kau anak baik Ethan, kau pasti akan dicintai. Dan saat kau bertemu dengan wanita yang kau cintai, kau harus selalu melindunginya. Karena dia adalah orang yang sangat berharga. Orang yang mencintaimu pastilah sosok yang sangat hebat."


Saat itu, Ethan tidak tahu apa maksudnya. Baginya tidak ada yang seperti itu didunianya, ayah dan ibunya lah satu-satunya, itu karena dunia Ethan masihlah terbatas pada istana dan orang-orang yang hidup didalamnya. Dia tidak tahu apa maksud Felice, tapi dia juga ingin mencaritahunya.


" Ayo, kita harus obati lukanya terlebih dahulu."


" ...Iya."


Ethan tidak pernah melupakan uluran tangan hangat itu, yang menggenggam tangannya dan mengobatinya dengan hati-hati. Ethan selalu ragu dengan kekuatan nya sendiri, tapi ayahnya selalu percaya kalau dia bisa menguasai itu dan menggunakannya untuk kebaikan. Karena itu, ayahnya selalu mengingatkannya...


" Ethan. Kekuatan yang ada dalam dirimu bukan hanya kekuatan mu saja, itu adalah kekuatan juga yang diturunkan oleh leluhur kita. Kita yang mendapatkan berkat dari matahari akan melawan kejahatan dan melindungi semua yang berharga dalam hidup kita. Suatu hari kau akan menjadi matahari itu, karena itu.. kau harus tahu cara untuk mengendalikan kekuatanmu dengan baik..."


 


Nasehat yang tidak pernah ia lupakan dan selalu ada dalam ingatan nya...


" Fokus... Maka kau/aku akan dapat menggunakan kekuatan yang lebih besar dari yang kau/ku kira."


Mereka berdua mengatakan itu bersamaan, seolah membuktikan kalau kata-kata itu telah tertanam jauh didalam kepala mereka.


Disaat yang sama, Felice menyelurkan kekuatannya, dan Ethan mengumpulkan semuanya bersama. Ethan akhirnya mengerti, jika dia ragu karena tidak ingin menyakiti Quennevia dengan kekuatan nya, Ethan tidak perlu melawan sebagai 'Dewa Matahari', tapi dia bisa melawan sebagai dirinya yang adalah 'Putra Mahkota Dari Pelayan Matahari'.


Dan saat itu, Mantra baru pun terucap dan serangan baru tercipta,...


" Raja dari para Raja Dewa, tolong beri aku kekuatan mu yang tiada tandingan nya. Biarkan aku menggabungkan kekuatan dari semua Raja Dewa menjadi satu." Kekuatan nya berkumpul dengan jenis yang berbeda.


" Huh?!!" Cahayanya pun semakin terang hingga membuat Seraphine terkejut.


" Pimpin keadilan didunia, dan singkirkan semua kejahatan. Bawa kedamaian di dunia ini. Mantra pemurnian:..."


" ..Hujan Cahaya!."


Mereka berdua pun mengerahkan serangan kuat mereka bersamaan, membuat keduanya saling bertabrakan dan menorong satu sama lain. Tapi seperti yang seharusnya terjadi, kekuatan korupsi tidak akan bisa mengalahkan mantra pemurnian dengan kekuatan sebesar itu.


Kekuatan Seraphine kalah, dan pemurnian Ethan langsung menghantam nya yang berada dalam jalurnya. Seraphine tidak bisa mencegah atau menghindari itu, dan ia terjebak didalam nya.


Siinnggg!!


Kekuatan itu melingkupi area sekitarnya dengan jarak yang cukup besar, dan bersinar sangat terang hingga mengaburkan semua pandangan.


Tak lama kemudian, cahaya itu pun meredup dan semuanya kembali normal. Dan diantara itu, Seraphine yang tidak bisa menahan kekuatan Ethan jatuh lemas dari ketinggian dan menghantam lantai dengan suara keras.


Dan Ethan pun juga ikut turun melihat keadaannya...


Sementara itu di luar sana...


" Yaahh!!."


" Hore, Ethan!."


Keadaan menjadi sangat ribut karena Oscar dan yang lainnya bersorak heboh dengan kemenangan Ethan. Mereka bagitu gembira melihatnya berhasil mengalahkan Seraphine, sampai-sampai kegirangan begitu. Rasanya jadi seperti mereka sedang menonton pertandingan yang biasanya mereka lakukan


Arabel yang melihat nya sampai tak bisa berkata-kata karena sangat terkejut, sementara itu Mariana hanya tersenyum ikut senang melihat kegembiraan mereka.


Setidaknya ada hal baik yang dirasakan oleh mereka.


Dan entah bagaimana, seperti nya semua sorakan suka cita itu juga sampai kepada Ethan. Ia terlihat menepuk sisi kiri kepalanya ketika merasakan telinganya sedikit berdengung, dan ia benar-benar bingung apa alasannya.


Ethan pun kemudian kembali menaruh perhatian kepada Seraphine yang terbaring dilantai tak bergerak, melihat kondisi nya saat ini, Ethan tidak berpikir dia akan bangun dengan cepat. Meski begitu, dia tidak ingin menunggu sampai ia bangun.


" Ayo kita pergi, masih ada hal lain yang lebih mendesak."


" Kau benar, kerja bagus sudah berjuang."


Ethan melangkahkan kakinya pergi dari sana, waktu yang ia miliki semakin tipis. Ia hanya berharap dia bisa menemukan Quennevia lebih cepat...


" Ukh..."


Namun langkahnya kembali terhenti ketika mendengar itu, dan ia pun langsung menoleh kembali kearah Seraphine yang mulai bangkit kembali secara perlahan.


" ..Sialan.."


" Tidak mungkin." Ethan sampai hampir tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


Begitu juga yang ada diluar...


" Oh, ayolah.."


" Yang benar saja."


" Ethan sudah menang!."


Mereka merasa kecewa dengan apa yang mereka lihat sekarang.


Seraphine yang seharusnya tidak sadarkan diri justru bangkit kembali dalam sekejap mata. Ethan sampai tak bisa berkata-kata, karena tidak peduli bagaimana dia menarik kekuatan yang tak terbatas dari Quennevia, kecepatan pemulihan dirinya tidaklah wajar.


Dan jelas itu tidak menyenangkan untuk dilihat.


" ....Kau tahu, jika kau terus mengambil kekuatan jiwanya seperti ini. Waktuku mungkin memang habis dan terkurung disini, tapi Quennevia juga akan benar-benar mati sekarang." ucap Ethan dengan ekspresi yang benar-benar sangat serius diwajahnya.


" Berisik!!." Tapi Seraphine sama sekali tidak mau mendengarkannya, ia justru berlari kearahnya dan bersiap menyerang. " Itu tidak akan terjadi selama kau cepat keluar dari sini!!." lanjutnya.


Dia tidak kenal menyerah. Dan jelas dia benar-benar marah. Ethan sendiri bersiap menahan serangan itu, saat...


DOR!


Serangan lain lebih dulu dan lebih cepat mengenai Seraphine dari kejauhannya, membuat nya kembali terjatuh ke bawah dengan darah yang mengalir keluar dari bahunya.


Ethan terkejut dengan itu, dan dengan cepat ia pun langsung menolehkan kepalanya kearah lain. Lebih tepatnya kearah seorang wanita dengan rambut Violet yang ada diatas pilar batu tak jauh dari mereka. Berlutut dengan sebelah kaki menyentuh pilar itu, dan ia memegangi sebuah senapan ditangannya.


" Fyuhh..." Wanita itu menghela nafasnya, kemudian bangkit berdiri dan mengangkat senjata ditangannya keatas. " Tepat sasaran." ucapnya kemudian.


Dan kemunculannya disana benar-benar mengejutkan, terutama bagi Ethan dan juga Sakura.


" Nevia.."


" Kak Nevi!!."


Benar, Nevia.


Salah satu kesadaran Quennevia yang diwujudkan belum lama ini, dan salah satu yang mengontrol tubuhnya sebelumnya.


Dan seperti biasanya, Nevia selalu memiliki ekspresi dingin dan angkuh diwajahnya. Ia menatap kearah Seraphine yang mengerang kesakitan dibawah sana, dan kemudian turun dari pilar itu.


Seraphine yang melihat kedatangan nya pun kemudian juga menggeram marah kepadanya.


" Dasar... Apa kau juga berniat melawanku, Nevia?!." Seraphine bertanya demikian.


" Hmph... Apa kau pikir hanya kau yang bisa melakukan apapun disini. Ini adalah dunia tak terbatas dalam kesadaran Quennevia, dan aku juga bagian di dalamnya." ucap Nevia kepada Seraphine dihadapannya, saat seringai terangkat diwajahnya dan ia mulai memiringkan kepalanya. " Jadi... aku juga bisa melakukan apapun yang aku inginkan disini. Kau itu bukan Quennevia, berhenti bersiap seolah kau yang paling benar." ucapnya melanjutnya dengan ekspresi sinis.


Dan jelas itu ekspresi menakutkan yang dipikirkan oleh semua orang, " Dia masih saja sama menakutkannya dengan biasanya."


Tapi bagi Seraphine, itu adalah tantangan yang membuatnya sangat jengkel. " Beraninya kau...!!" karena itu sasaran serangannya pun berubah dari Ethan kepada Nevia.


Tapi Nevia yang melihat itu hanya diam tak bergerak sedikit pun dari tempatnya, bahkan saat Seraphine mengumpulkan kekuatan nya. Itu karena, dia bukan satu-satunya disini...


" Falling Water!." suara itu datang setelah dirinya.


Swaasshh!


" Ukk!!."


Dan Seraphine yang berniat menyerang Nevia dihujani oleh air terjun yang deras bertekanan tinggi, yang berhasil menembus dinding panasnya dengan mendinginkannya.


Saat seorang wanita lain turun dengan perlahan tak di siai lain mereka, rambut birunya berkibar diudara dengan indah. Dan ia mengangkat sebuah tombak ditangannya kearah Seraphine.


" Tidak akan kami biarkan kau menyakitinya!." Sirius, berhasil mewujudkan dirinya.


" Kalian..." Ethan benar-benar kehabisan kata-kata melihat mereka berdua ada dihadapannya sekarang.


Sebelumnya ia pikir kalau mungkin Seraphine telah mengurung atau menelan semua ego lain milik Quennevia dan hanya sisa-sisanya saja yang ada, sama seperti Adelaide dan Violetine sebelumnya, tapi seperti nya Nevia dan Sirius adalah pengecualian.


Lamunan Ethan buyar ketika Nevia bergerak lebih dekat, dan melewati Ethan yang ada dihadapannya. " Kau pergilah cari Quennevia. Masuk ke pintu itu dan bangunkan dia." ucapnya sembari menunjuk sebuah pintu dari arah dimana ia datang sebelumnya.


Dan Ethan kembali terkejut, karena pintu yang tiba-tiba muncul itu. Seperti yang ia duga, hanya kesadaran Quennevia saja yang bisa mengendalikan posisi pintu yang ia tuju.


" Serahkan saja dia pada kami, pergilah Ethan." ucap Sirius pula kepadanya.


" Eh? Ah, baiklah. Tapi..." Ethan masih sedikit ragu untuk meninggalkan mereka, bahkan meski Felice menepuk pundaknya berusaha meyakinkannya.


" Sudahlah cepet pergi sana." karena itu Nevia pun menyelanya, ia kembali menyiapkan senjata ditangannya, ketika Seraphine mulai bangkit kembali. Dan ia memlirik Ethan dengan tajam. " Lagipula disini kau hanya akan... mengganggu saja." lanjutnya kemudian sambil mengarahkan senapan ditangannya kepada Seraphine.


" Menakutkan..." Ethan hanya tersenyum melihat itu, dan sedikit gemetar karena dia punya hawa dingin yang benar-benar berbeda. Tapi seperti yang dia katakan, dia tidak bisa hanya diam disini. " Kalau begitu aku serahkan pada kalian ya." ucapnya yang kemudian pergi ke arah pintu dan masuk ke dalamnya.


Sementara itu, Nevia dan Sirius yang akan menghadapi Seraphine.


" Baiklah, ayo kita mulai." Nevia sudah siap.


" Kalian akan menyesali ini.." begitu pula Seraphine.


" Kami akan lebih menyesal jika hanya diam saja." bahkan Sirius juga sama.


Mereka berdua saling menatap satu sama lain untuk beberapa saat, sampai Sirius dan Nevia bergerak maju kearah Seraphine yang mulai bersiap secara bersamaan.


Itu akan menjadi pertarungan yang baru antara ego dari Quennevia.