
[Season 2]
Beberapa waktu sudah berlalu sejak serangan yang mengejutkan itu, semuanya berubah menjadi sangat hening ketika Ethan berhasil masuk ke dalam istana. Karusakan yang ia timbulkan ketika melepaskan serangan besar itu sedang dipulihkan sendiri oleh Euclide. Sementara teman-temannya yang lain diam menatap kearah tangga berharap kalau Ethan segera muncul.
" Aku penasaran, apa yang membuatnya sangat lama." Arkan memegangi tengkuknya yang mulai terasa sakit karena terus mengangkat kepalanya.
Oscar yang ada disampingnya pun kemudian menimpali, " Entahlah, bisa jadi dia masih bertarung dengan Eclipse didalam." ucapnya.
Wusshhh....
Angin berhembus menerpa mereka seolah menyangkal hal itu, dan tidak ada tanda-tanda apapun. Hal itu membuat Arkan memasang ekspresi tidak yakin diwajahnya dari jawaban Oscar, dia yakin jika keduanya masih bertarung maka seharusnya sekarang sangat gaduh didalam sana. Tapi ini terlalu hening.
Berbeda dengan mereka berdua yang menunggu Ethan kembali, para gadis lebih fokus kepada Quennevia yang ada dibelakang mereka. Dia terlihat sangat lelah, dan menyandarkan dirinya kepada tubuh raksasa Zico yang terus menatapnya bersama dengan yang lainnya.
Meliyana berusaha menjaga Quennevia tetap setabil dengan membungkus tubuhnya dengan daun-daun herba yang dikeluarkan oleh spirit garden nya. " Quennevia, kau baik-baik saja??" tanyanya benar-benar sangat khawatir.
Tapi Quennevia yang mendengar itu hanya menatapnya dan kembali menundukan wajahnya dan menutup kedua matanya, dia benar-benar lemas. Itu membuat Meliyana semakin khawatir.
Sampai kemudian ia menoleh ketika Niu menepuk pundaknya, Niu tersenyum kepadanya dan berkata. " Jangan khawatir. Quennevia akan baik-baik saja. Kau ingat, kan? Kalau sejak Quennevia kehilangan tubuh fisiknya dia selalu tertidur? Dia menghabiskan waktunya untuk tidur, karena dia harus mengumpulkan energi agar tetap bisa mempertahankan wujudnya didunia tanpa tubuh fisik." jelasnya kepada Meliyana untuk membuatnya tidak khawatir lagi.
" Itu benar, kita tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padanya." Yuki juga ikut menimpali hal itu.
Melihat kedua temannya dengan yakin memastikan hal itu, berhasil membuat Meliyana sedikit tenang. Itu benar, karena telah berusaha keras untuk menjaganya selama ini. Dan akan tetap seperti itu seterusnya. Meliyana akan menanamkan hal tersebut didalam kepalanya.
Melihat semangat yang kembali ditunjukan oleh Meliyana, membuat Yuki dan Niu semakin tersenyum karenanya. Seperti itulah Meliyana seharusnya, pikir mereka.
Sementara itu tak jauh dari mereka, Violetine berdiri diam ditempatnya, dan menatap Quennevia dengan seksama. Ekspresi nya terlihat sedih, tapi juga keyakinan yang telah ia temukan kembali. Violetine sangat ingin mendekatinya dan bertanya kepadanya sekarang...
'Apa dia sudah siap?'
Dia ingin menanyakan hal itu kepadanya.
Tapi.... saat melihat Oscar dan yang lainnya bergegas menghampiri Quennevia ketika ia jatuh, berbeda dengan dirinya yang hanya terpaku ditempatnya. Violetine merasa dia akan merusak pemandangan hangat itu. Dia tidak akan bisa berada bersama mereka setelah apa yang ia lakukan..
Dia hanya.. ingin mengetahui apakah jawaban yang ia pikirkan adalah hal yang Quennevia maksudkan.
" Jika kau tidak yakin dengan dirimu sendiri, bukankah kau harusnya bertanya padanya, kan??"
Suara Felice mengalihkan perhatiannya, Violetine menoleh kepadanya yang sekarang berjalan mendekat dan berhenti tepat disampingnya. Felice juga melihat kearah ikatan kuat itu. Dan kemudian beralih kepada Violetine...
" Bukankah kau sangat ingin bertemu dengannya lagi??" tanya Felice kemudian.
Violetine yang mendengar pertanyaan nya terdiam sesaat, dan lalu ia mulai menundukan wajahnya dengan senyuman sedih diwajahnya.
" ....Kuharap aku bisa lebih berani dihadapannya." timpalnya kemudian.
Itu jawaban singkat, yang menjelaskan semuanya.
Violetine merasa tidak pantas mengatakan apapun lagi, karena itu hanya akan menjadi alasan atas perbuatannya. Dan dia tidak ingin hal itu terjadi. Felice juga seperti nya mengerti dengan maksudnya, itu mengingatkannya kepada Ethan dahulu. Mereka merefleksikan satu sama lain dalam beberapa hal, karena itu ia tidak bertanya lebih lanjut dan membiarkan nya saja seperti itu.
Violetine harus mendapatkan keberaniannya sendiri dari pada dipaksa orang lain.
Niiingg..!!
Tiba-tiba Violetine merasakan sesuatu yang benar-benar menyakitkan dikepalanya, membuat ekspresi nya berkerut ketika menahan itu, telinganya berdengung dengan suara keras. Dan itu membuat kepalanya benar-benar sangat sakit. Ia merasa ada sesuatu yang memaksa masuk...
" A-...apa ini??" Violetine perlahan membuka kembali kedua matanya yang sebelumnya terpejam, dan ia merasa melihat bayangan seseorang dihadapannya.
Sensasi dingin tiba-tiba merayap dipunggungnya, nafasnya sangat sesak seolah ada sesuatu yang menjerat lehernya. Violetine melihat kegelapan dengan warna merah yang mengerikan didepannya...
{"Kau payah. Menyerah semudah itu."}
Kata-kata itu tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya dan terus berputar-putar, suaranya penuh dengan kemarahan membuatnya benar-benar merinding. Violetine hampir kehilangan kendali atas dirinya sendiri dalam ketakutan, saat...
" Anu.."
" Huh..?!!"
Violetine terperanjat kaget dan kembali ke dunia nyata ketika suara Meliyana terdengar ditelinganya, dan ya... seperti yang seharusnya. Meliyana ada dihadapannya saat ini, menatapnya dengan bingung.
" Kau baik-baik saja...?" Meliyana pun pada akhirnya jadi menanyakan hal itu karena reaksi Violetine sangat aneh kepadanya.
" A-Ah... iya.." Violetine sendiri bingung dengan diri nya, tapi ia berusaha untuk tenang dan mengembalikan fokusnya kepada apa yang terjadi. " ...Ada apa?"
" Oh, Quennevia bilang dia ingin bicara denganmu."
" ...Apa?"
Violetine kembali terkejut dengan hal yang dikatakan oleh Meliyana padanya, pasalnya dia tidak pernah berpikir ini akan terjadi. Tapi menilai dari ekspresi Meliyana, dia tidak berbohong sama sekali.
" Quennevia tidak bisa bicara, jadi dia menggunakan komunikasi pikiran. Dia bilang dia bisa mencapaimu, tapi dia ingin kau mendekat." jelas Meliyana sembari menunjuk mulutnya sendiri.
Tapi Violetine tetap ragu dengan hal itu, " Tapi... Aku..."
Meliyana hanya memiringkan kepalanya melihatnya yang seperti itu, dan dengan inisiative nya sendiri, ia meraih lengan Violetine dan menariknya. " Ayo, tidak apa-apa untuk pergi kesana, kok." ucapnya yang langsung berlari.
" Tu-tunggu..." Violetine yang ditarik olehnya tidak bisa memberikan penolakan sama sekali.
Ia hanya pasrah dan menatap Meliyana yang terlihat biasa saja saat menggendeng tangan orang yang sebelumnya berusaha menghalangi mereka. Karena hal itu, Violetine merasa sesuatu yang aneh padanya.
" ....Kenapa rasanya... hatiku seperti digelitiki..." Violetine merasa aneh dengan perasaan yang telah lama ia lupakan.
Violetine tidak menyadari karena terlalu fokus pada perasaan itu, dan sekarang dia sudah ada tepat didepan Quennevia. Didepan sosok yang sangat ia temui...
Quennevia yang terdiam ditempat nya dalam kondisi yang tidak seharusnya ia miliki, kondisi terlemahnya. Violetine tidak bisa mengalihkannya pandangannya dari nya, dan ekspresi nya penuh rasa khawatir.
Lalu, Quennevia pun membuka kembali kedua matanya, dan menatap Violetine yang ada disampingnya. Ia mengulurkan tangannya berusaha untuk meraihnya, karena itu Violetine pun dengan reflek langsung menggenggamnya. Karena itu, suaranya pun bisa masuk kedalam kepalanya dengan lebih jelas...
<"Violetine... maafkan aku. Kau pasti sudah lama menunggu, kan??">
" Quennevia..."
Seperti yang ia duga ia tidak bisa menahan gejolak perasaan yang berusaha keras ia tahan. Rindu, senang, sedih dan kesal disaat yang sama... semuanya bercampur menjadi satu. Violetine menundukan kepalanya dengan tubuh yang gemetaran seolah masih berusaha bertahan, ia menjaga mulutnya tetap tertutup entah karena apa.
<"Kau sudah melewatinya dengan baik, aku yakin kau mengerti maksudku sekarang. Jadi kau tidak gagal, juga tidak akan hilang. Karena kau dan aku adalah satu kesatuan yang utuh."> Quennevia kembali berkata dalam kepalanya, suaranya terdengar sangat hangat dan penuh kasih sayang.
Teman-temannya yang lain juga menatap itu dalam diam, mereka berpikir dan merasakan... bagaimana rasanya jika mereka juga mengalami hal yang sama. Kepedihan yang begitu besar dari ketidakpastian, dan kerinduan yang mandalam selama ratusan ribu tahun. Memikirkan hal itu, membuat masing-masing dari mereka memiliki ekspresi sedih diwajah mereka.
<"Masa depan begitu jauh dan masa lalu mulai terlupakan. Aku bahkan mulai lupa untuk apa aku dilahirkan. Kenapa aku hidup menanggung semua kebencian dan kesedihan ini. Violetine, kau bisa membenciku jika itu memang bisa membuatmu merasa lebih baik. Aku hanya berharap kau tidak jatuh ke jalan kejahatan.">
Bahkan Euclide yang juga mendengar itu tidak bisa menyangkalnya. Dia jadi salah satu yang paling tahu, tentang apa yang terjadi pada mereka selama ini.
Sementara Violetine masih tertunduk, dengan air mata yang jatuh bercucuran dari matanya, tangannya menggnggam erat tangan Quennevia. Ia pun berkata dengan suara yang sedikit bergetar, " Aku... selalu menunggu.. Aku sangat ingin bertemu denganmu lagi.. Tidak masalah meski itu akan jadi yang terakhir.. itulah yang kupikirkan." ucapnya.
Quennevia pun menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu, <"Ya.. aku tahu.">
" Aku selalu berpikir kau membuangku. Sekarang, setelah melihat semua yang baru saja terjadi... setelah melihat ikatan yang begitu kuat yang mereka miliki. Aku sadar.. betapa sempitnya pikiranku itu. Kau yang penuh kasih sayang... kau yang paling menghargai kami. Kau tidak mungkin meninggalkan kami tanpa alasan."
<"Apa yang kau sadari..?">
" Aku punya tugas. Caraku untuk kembali padamu..." Violetine perlahan mengangkat kembali kepadanya, dan menatap Quennevia yang ada dihadapannya. "...Aku adalah salah satu kunci untuk mengembalikan segalanya seperti semula." ucapnya dengan tegas, meski air mata tetap jatuh membuatnya terlihat seperti anak kecil yang baru saja menemukan kembali miliknya yang hilang.
Senyuman perlahan mengembang diwajah Quennevia mendengar itu, sebuah senyuman yang sangat lembut. Quennevia pun mengulurkan tangannya yang lain kearah pipi Violetine, dia mengusap air mata yang jatuh dari matanya.
Dia pun berkata, <"Iya. Kau adalah kunci yang sangat penting."> ucapnya.
" Kalau begitu... Apakah aku sudah siap sekarang?" Violetine kembali bertanya, itu akan menjadi pertanyaan terakhir bagi nya.
Tidak. Lebih tepatnya wujud nya berubah, kembali menjadi kelinci kecil yang tak berdaya. Karena itu, Yue yang sedari tadi duduk diatas punggung Zico sambil memperhatikan semua itu pun langsung turun. Ia mengulurkan kedua tangannya dan memangku Quennevia. Master yang telah lama tak ia lihat wujud nya dengan baik.
Dan lalu, barulah ia menatap Violetine yang masih terdiam ditempat nya setelah mendengar perkataan terakhir dari Quennevia.
Yue berkata, "...Master telah menentukan. Apa kau siap melakukan peranmu??" ia bertanya demikian.
Violetine yang ditanya olehnya pun menarik nafasnya sejenak, dan ia pun menganggukan kepalanya. " Ya... Aku siap." jawabnya. Ia bangun berdiri sambil mengusap air matanya menggunakan lengannya dan menatap Yue yang ada dihadapannya sekarang.
Yue yang telah melihat keyakinan yang pulih yang mengalihkan perhatian ke tangan kanannya, kepada permata kehidupan yang diberikan Ethan padanya sebelum ini. Dan ia memberikan itu kepada Violetine.
" Kau bisa melakukannya sendiri, jadi tak perlu kujelaskan." ucapnya pula.
" Ya.." Violetine hanya mengiyakan hal itu.
Ia menerimanya dengan baik dan berjalan agak jauh dari mereka yang ada disana, sementara Oscar dan teman-teman yang lain menatap dengan penasaran.
" Apa yang akan dia lakukan, Yue??" dan Niu pun bertanya soal itu.
Yue disampingnya meliriknya sejenak, kemudian kembali kepada Violetine sambil menjawab. "..Mengembalikan dunia ini seperti sedia kala." ucapnya.
" Benar juga. Dewa agung bilang tempat ini pada dasarnya tidak seperti ini sejak awal." sahut Oscar mendengar itu.
" Tapi... apa bisa dengan permata kehidupan saja? Bukankah bisa dibilang dunia ini terlalu luas?" Arkan pun mengatakan pendapatnya kepada mereka.
Dan, itu memang masuk akal...
Sementara Yue hanya mendengus, " Karena itulah dibutuhkan pengorbanan." jawabnya pula dengan ekspresi malas diwajahnya.
" Hah?!" dan tentu saja itu membuat mereka sangat terkejut.
" Tidak mungkin.." Ekspresi Meliyana yang mendengar itu langsung berubah sedih sekerika. "...Bukankah itu artinya Violetine akan lenyap??" tanyanya pula.
" Egonya, iya. Tapi secara eksistensi, dia kembali pada Master. Itu satu-satunya cara dia kembali kepada penciptanya dengan aman, yaitu dengan menghapus seluruh ego dan perasaan 'Violetine', dan kembali menjadi 'Quennevia' seutuhnya." jelas Yue.
Mereka yang mendengar nya mengerti dengan itu, meski... mungkin ada sedikit perasaan mengganjal dihati mereka.
Karena itu sama saja artinya, menghapus keberadaan 'Violetine'. Meski sejarahnya saat hidup ada, tapi dia benar-benar lenyap seutuhnya.
Violetine kini ada ditempat yang tepat, dia menundukan kepalanya menatap permata kehidupan yang mengambang diantara tangan nya dengan cahaya hijau yang cerah. Seperti mata Quennevia.
Ia pun kemudian menutup kedua matanya, menarik nafas dalam dan mengalirkan kekuatannya kepada permata itu. Ketika permata kehidupan mulai bersinar lebih terang dan naik ke udara, dan cahaya itu juga membungkus Violetine, permata itu mengeluarkan energi kehidupan yang sangat kuat.
Dan dengan perlahan.... kekuatan itu mulai menumbuhkan kembali semua tanaman yang sebelumnya hilang menjadi dataran garam yang transparan.
Semua yang melihat perubahan itu terpana, menatap nya dengan penuh kekaguman. Rerumpuran dan bunga-bunga kembali tumbuh diatas tanah dunia atas, mengembalikan dataran hijau yang diingat semuanya. Pepohonan juga kembali, tumbuh besar dan kuat. Bersamaan dengan itu, hewan-hewan yang telah lama menghilang pun kembali.
Wajah dunia atas kembali seperti sebelum semuanya berubah...
Dan itu juga membuat Oscar dan yang lainnya terpana...
" Indahnya.." Meliyana sampai tidak bisa mengedipkan matanya melihat itu.
Dan Yuki merasakan perbedaan suasana yang sangat jelas disana. " Tempat ini memang mirip dunia kita. Hanya saja... terasa lebih aman dan segar." tidak ada pertumpahan darah yang sia-sia ditempat yang indah ini. Tidak ada sedikit pun kesalahan.
Sementara itu, ditempat nya, Violetine telah mengerahkan semua yang ia miliki untuk mengembalikan semuanya seperti sedia kala. Tubuhnya mulai berubah menjadi transparan karena itu.
Tak lama kemudian, permata kehidupan pun jatuh dari udara ke tanah. Dan perlahan Violetine mulai kehilangan keseimbangan nya, tubuh nya terhuyung-huyung. Dan saat ia akan jatuh ke belakang...
Seseorang mengulurkan tangannya dan menahannya dari jatuh menghantam tanah. Itu Ethan.
Tidak ada yang menyadari kedatangannya, bahkan teman-temannya juga terkejut melihatnya sudah ada disana.
Violetine hanya menatapnya dengan mata kosong, ketika Ethan pun dengan perlahan membiarkan nya duduk diatas rerumputan hijau dan tetap memeluk bahunya. Membuatnya bersandar dibahu Ethan. Sementara itu tangannya yang lain menggenggam tangan Violetine yang mulai menghilang.
" ....Kau.. sudah mendapatkan apa yang kau cari..??" tanya Violetine kepada Ethan disana.
Ethan yang mendengar itu pun menatapnya sejenak dan menjawab, " Iya."
" Apa yang terjadi kepada Eclipse??"
" Dia masih ada diatas sana. Dia bilang dia akan mengembalikan struktur asli istana dan menungguku."
" Kau tidak menyingkirkannya..?"
" Untuk apa aku melakukan itu?"
" Tidak. Bodohnya aku bertanya soal itu..."
Percakapan mereka berlangsung cukup lama, Violetine banyak bertanya tentang hal sepele yang selalu ingin ia ketahui. Dan Ethan menjawab semua itu dengan sabar. Adegan itu sangat menggarukan, itu membuat teman-temannya semakin sedih dan tersentuh. Bahkan sebagian dari mereka tidak bisa lagi menahan air mata mereka.
Meski, Violetine mungkin tidak akan benar-benar bisa menanyakan semuanya. Sekarang, tubuhnya sudah mulai menghilang sepenuhnya.
Saat itulah, sesuatu terlintas dikepalanya...
" ...Aku selalu berpikir, untuk apa aku dilahirkan..?" kata-kata itu akhirnya keluar, ia melanjutkannya. " ...Beberapa saat yang lalu, kupikir aku tidak akan punya satu penyesalan pun. Tapi setelah dipikir-pikir lagi... aku punya penyesalan itu.." ucapnya.
" Apa itu..?" tanya Ethan tentang hal itu.
" Aku punya... seorang bawahan yang terlalu penurut, saking penurutnya dia jadi menyebalkan. Aku selalu penasaran kenapa dia selalu mengikutiku, bahkan saat aku memilih mengasingkan diri, dia juga ikut bersamaku. Aku... ingin tahu.. kenapa dia seperti itu? Kenapa dia... rela menyerahkan nyawanya pada orang bodoh sepertiku? Kenapa dia mengorbankan segalanya hanya untukku?? Jika saja.. aku punya kesempatan untuk bertamu dengannya lagi.. aku ingin menanyakan--... Tidak, aku ingin memastikan keadaan nya. Tapi sepertinya.. aku tidak akan pernah punya kesempatan itu selamanya.." Violetine mengatakan semua yang ada dalam pikirannya kepada Ethan. Dan ia mengganti kata-kata nya karena sepertinya dia tahu jawaban untuk yang itu.
Ethan tidak segera menjawabnya, dan hanya diam menatapnya. Saat... kesadaran Violetine mulai semakin menipis, bahkan mempertahankan dirinya pun sangat sulit, dan ia akan menghilang. Saat itu, Ethan akhirnya menjawabnya...
" Kupikir kau tidak perlu khawatir soalnya." ucapnya, membuat Violetine menyerahkan kesadaran terakhir nya itu dan menatapnya. "...Dia sudah dilahirkan kembali. Dia sangat dekat dengan mu selama ini. Di kehidupannya kali ini.. dia adalah Haika, kakakmu." lanjut Ethan.
Mata Violetine melebar mendengar itu, bibirnya sedikit bergetar saat kemudian itu digantikan dengan senyuman. Ia tersenyum dengan bahagia.
" ...Begitu kah...?"
Itu adalah senyuman terakhir nya. Dan saat air mata terakhir jatuh dari matanya, tubuh Violetine menghilang sepenuhnya. Ethan hanya menatap itu, bahkan ia belum sempat membenarkannya. Setidaknya, dia tidak sedih, karena dia tahu Violetine selalu ada didalam diri Quennevia.
Sementara itu, dia percaya. Kalau ikatan kuat yang mereka jalin dimasa lalu, masih terhubung sampai sekarang. Jadi dia yakin, orang itu juga merasakannya...
--- Dunia Tengah saat ini..
" Periksa apakah ada orang yang terluka dan segara obati mereka!."
" Ada beberapa monster yang muncul dari arah utara, segera meminta bantuan!."
" Sterilkan lokasi! Jangan sampai ada masalah yang masuk ke sekitar tempat pengungsian."
Orang-orang sedang sangat sibuk saat ini, menstabilkan kembali situasi setelah badai. Namun bagi seseorang, sesuatu terasa berbeda padanya...
" Eh..??"
" Kakak, kenapa kau menangis??" Kagura bertanya sambil menggenggam tangan Haika yang ada disampingnya.
Haika sendiri dibuat bingung dengan itu, tapi ia segera menghapus air mata itu.
" Ti-tidak apa-apa, sepertinya mataku kemasukan debu." dan ia menanggapi pertanyaan Kagura seperti itu.
Meski begitu, dia sadar dengan apa yang ia rasakan. Disaat yang sama, dia juga dibuat bingung.
" Kenapa ya... rasanya hatiku seperti dicubit. Seperti... sesuatu yang kukenal hilang, tapi juga menjadi sesuatu yang baru disaat yang sama.. Ada apa ini..??" Haika benar-benar sangat penasaran dengan perasaan yang baru dirasakannya beberapa saat yang lalu.