Quennevia

Quennevia
Kembali ke tempat awal semuanya



[Season 2]


- Hutan sebelah barat, perbatasan Kekaisaran Chrysos.


1 minggu berlalu setelah Ethan dan yang lainnya melakukan perjalanan untuk mencari bahan-bahan pembuatan tubuh Quennevia, berarti sudah 7 hari itu mereka keluar dari Akademi.Dimalam yang sepi itu mereka memutuskan untuk beristirahat disana sebelum besok melanjutkan perjalanan, dengan cahaya api unggun yang menerangi dan menghangatkan mereka dan ikan bakar yang mereka buat.


" Huahh... Rasanya seperti kita sedang berpetualang, ya. " ucap Arkan.


" Lah, bukankah kita memang sedang bertualang ya. " sahut Niu.


" Ini kan beda lagi cerita nya_- " sahut Arkan kembali.


" Apapun itu kurasa kita bisa menganggap ini sebagai pertualangan bukan, benarkan begitu Ethan??. " ucap Meliyana menengahi keduanya.


Mereka semua pun langsung menoleh kearah Ethan yang sedari tadi hanya memandangi kelinci Quennevia yang sedang tidur itu. Mendengar Meliyana yang menyebutkan namanya, ia pun menoleh kearah mereka.


Ethan menatap mereka sejenak dan kemudian tersenyum. " Iya, kurasa begitu. " jawabnya.


" Bagaimana dengan Quennevia??. " tanya Oscar.


" Kurasa dia baik-baik saja. " jawab Ethan lagi. Ia pun kembali mengalihkan perhatian nya kepada Quennevia, dan ia pun menyentuh nya dengan lembut.



" Kalau begitu Syukurlah. " Oscar merasa lega mengetahui hal itu. Selama seminggu ini mereka tidak terlalu sering bertanya tentang hal-hal yang bersangkutan dengan kejadian itu. Karena mereka tidak ingin mengungkit hal yang sensitive.


Ethan baik-baik saja selama ini karena masih ada kemungkinan untuk Quennevia, dan Ethan sendiri juga jadi lebih banyak mencurahkan perhatian nya kepada Quennevia.


" Ngomong-ngomong ya... maaf mungkin ini terlalu kasar, tapi apakah kalian sadar jika ukuran tubuh Quennevia itu seperti anak kelinci saat ini??. " tanya Arkan pula.


" Tentu saja. " dan yang lainnya pun langsung menjawab dengan serempak.


" Kalian sadar?? Lalu kenapa tidak ada yang berkomentar sama sekali??. "


" Quennevia kan memang masih anak kelinci, umur nya masih 17 tahun saat ini. Bagi spirit umur seperti itu masih seperti bayi bagi mereka, dan sekarang ia sedang dalam bentuk spirit nya. " jelas Yuki panjang lebar.


Arkan sedikit memikirkan nya kembali, dan semuanya masuk akal bagi nya sekarang. " Begitu ya.. "


" Kau baru memikirkan sekarang??. " tanya Niu yang merasa bingung sendiri dengan Arkan.


Sementara yang lainnya tertawa melihat hal itu, setidaknya ada Arkan yang selalu membuat mereka tertawa disaat-saat seperti ini. Mereka bisa jadi sedikit lebih tenang berkat dirinya dan sikapnya.


***


Malam semakin larut, berkat pelindung yang dibuat oleh Yue dan juga Zico mereka bisa beristirahat dengan tenang tanpa khawatir akan ada orang atau sesuatu yang menyerang mereka. Mereka terlihat tidur dengan pulas sekali, kecuali satu orang... yaitu Yuki.


Dia masih memikirkan pengkhianatan Ryohan kepada mereka, padahal ia sangat percaya kepadanya, tapi kenapa ia begitu tega sakali membuat nya merasa terhempas seperti itu.


" Hm... Yuki. Kenapa kau tidak tidur?? " tanya Meliyana yang saat itu kebetulan terbangun dari tidur nya.


Membuat Yuki yang sibuk dengan lamunan nya pun ikut tersadar, " Ah, tidak apa-apa kok. Kembalilah tidur. " ucapnya.


Tapi bukannya kembali tidur, Meliyana pun malah bangun dan mendekat kearahnya, kemudian duduk disisinya.


" Masih memikirkan Ryohan, ya?? " tanyanya lagi.


" Kau tidak perlu berbohong, aku tahu kau sangat menyukainya. "


Yuki terdiam karena itu, Meliyana menatapnya dengan ekspresi yang benar-benar sangat serius. Akhirnya menghela nafas berat mendengar itu, wajahnya pun menunduk penuh kesedihan. Benar apa yang dikatakan oleh Meliyana, tapi disaat yang sama ia juga membenci Ryohan akibat pengkhianatan nya itu.


Padahal dia adalah orang yang sangat ia percayai, orang yang sangat baik dan penuh perhatian, padahal tidak ada satu orang pun yang menaruh kecurigaan kepadanya. Tapi pada akhirnya ternyata dialah yang menusuk mereka dari belakang.


" Yah.. Mau bagaimana lagi, kenyataan selalu lebih pahit dari mimpi, Meliy. " jawab Yuki yang terdengar pasrah dengan kenyataan itu.


Meliyana yang melihat nya pun mengerti perasaan nya, ia pun merangkul Yuki dan memeluknya yang sedang membutuhkan sandaran dan kehangatan itu.


" Tenang saja, kami selalu ada untuk mu. " ucap Meliyana.


Sedangkan saat itu, Yuki yang mendengar ucapan nya hanya terdiam dan menggigit bibir nya, tubuhnya gemetar menahan perasaan yang ia rasakan saat ini. Ingin ia menangis keras karena kekecewaan itu, tapi ia tidak ingin membuat suasana diantara dirinya dan teman-temannya semakin rumit karena dia dan masalah Quennevia.


Disisi lain ia juga takjub dengan Meliyana yang sudah semakin dewasa, bahkan sampai menghiburnya seperti ini. Dulu... jika mereka bertemu dan Meliyana menangis, ia lah yang selalu memenangkan nya.


" .... Meliy, bisakah aku meminjam pundakmu sebentar?? " tanya Yuki dengan suara yang kedengaran bergetar.


" Tentu saja, kali ini aku yang akan menenangkan mu saat menangis. " jawab Meliyana yang tersenyum mendengar nya.


Yuki pun akhirnya membalas pelukan Meliyana, dan menangis dalam diam sembari menyembunyikan wajahnya di pundak Meliyana. Dan Meliyana membiarkan Yuki menangis sepuas nya, berharap setelah ini dia tidak akan merasa terbebani dengan perasaan nya lagi.


Sementara itu di belakang mereka, Ethan yang masih belum tertidur tengah berbaring sembari memandangi bintang-bintang di langit malam, dan mendengarkan semua percakapan mereka, bukan dengan sengaja tapi karena ia memang bisa mendengarnya. Dengan kelinci Quennevia yang tertidur di samping nya serta Zico dan Yue yang juga tak jauh dari tempatnya, dia hanya diam dan membiarkan kesunyian malam berkuasa.


" Terlalu banyak yang menderita karena masalah ku, Quennevia, dan juga Seretia. Jika saja bisa kuakhiri saat ini juga... " ucap batinnya, setelah mendengar percakapan Meliyana dan Yuki itu.


Langit terasa sangat hampa, dan bintang-bintang yang berkelip hampir kehilangan cahayanya ditelan kegelapan, akan seperti apa masa depan yang menyambut mereka. Masih tidak akan ada yang tahu..


******


Esok harinya, ketika matahari bersinar terang di atas kepala mereka. Perjalanan menuju ke tempat awal pun dilanjutkan kembali, dan Yuki juga kelihatan nya sudah lebih baik dari sebelumnya. Tak lama lagi mereka akan sampai di kota Kekaisaran Chrysos.


" Yuhu.. Akhirnya tujuan pertama kita. " Arkan bicara dengan kedua tangannya berada dibelakang kepala terlihat sangat santai.


" Apa kau senang kembali lagi ke Chrysos?? " tanya Ethan yang mendengar sepertinya Arkan antusias sekali.


" Tentu saja aku senang, disana selalu banyak hal yang menarik. " jawab Arkan cepat dengan penuh semangat.


Membuat teman-teman nya pun tersenyum mendengar hal itu, memang selalu banyak hal yang menarik di tempat itu. Karena mereka belum selesai menjelajahi ibu kota Kekaisaran Chrysos sebelum nya, dan seperti nya mereka juga tidak akan punya banyak waktu saat ini.


Tak berapa lama kemudian, mereka pun sudah memasuki kawasan ibu kota Kekaisaran. Kota itu masih saja selalu ramai oleh hiruk-pikuk orang-orang yang beraktifitas disana dimari, akan tetapi.. alasan mereka datang ke kota ini sebenarnya adalah mencari informasi tentang sebuah tanaman yang disebutkan oleh Yigitte, yang bisa membangkitkan Quennevia kembali.


Tujuan awal mereka adalah Guild yang masih diikuti oleh Quennevia, Niu dan Oscar. Meskipun mereka tahu di sana bukan penyedia informasi(Guild informan), tapi setidaknya pemilik Guild itu mungkin tahu sesuatu tentang apa yang sedang mereka cari saat ini.


" Niu, Oscar. Apa kalian yakin kalau mereka bisa membantu kita?? " tanya Yuki memastikan hal tersebut.


" Yah, setidaknya patut dicoba. Master Guild adalah orang yang hidupnya sudah lebih dari seabad, mungkin saja dia tahu sesuatu. " jawab Niu.


" Aku bukannya tidak percaya, tapi bukankah akan lebih baik jika kita pergi ke Guild informan saja?? " sahut Meliyana pula.


" Tidak masalah tempat apapun itu, asalkan kita bisa mendapatkan nya. " ucap Ethan menimpali, sementara itu Meliyana hanya menganggukkan kepalanya mengerti.