
Selanjutnya adalah pertandingan anatara Quennevia dan juga Lilac, dan itu merupakan pertandingan penentuan siapa yang akan menang di antara mereka. Keduanya sudah berada di arena, tapi memang sejak awal Quennevia ada di arena sih, sambil saling menatap satu sama lain.
" Mohon bantuannya, senior. " ucap Quennevia.
" Mohon bantuannya. " sahut Lilac.
Lalu saat juri memulai pertarungan, mereka pun langsung saling serang dengan sangat sengit. Xi yang masih ada di sana pun juga ikut menyerang, yang mana membuat Lilac juga harus memanggil hewan spirit nya, yaitu seekor macan kumbang api.
Trangg.....
" Pedang yang bagus. " puji Lilac saat mereka beradu pedang.
" Terima kasih, senior. " sahut Quennevia.
Pertarungan mereka membuat semua orang yang ada di sana jadi sangat tegang, keduanya nampak seimbang dalam pertarungan itu. Membuat orang-orang sulit menentukan siapa pemenangnya.
" Menurutmu siapa yang akan menang??. " tanya Sayles pula kepada teman-temannya.
" Siapa yang tahu, mereka seperti nya seimbang sekarang. " sahut Jino sambil memperhatikan.
Memang sangat sulit ditebak, bahkan oleh Kian sekali pun. Semantara itu di tempat Ethan dkk.....
" Ayo Quennevia!!. " teriak Meliyana dengan sangat semangat.
" Kalahkan dia!!. " teriak Niu pula ikut-ikutan.
Mereka heboh sendiri untuk menyemangati Quennevia, semantara yang lainnya hanya bisa gelang-gelang kepala melihat tingkah kedua nya.
Namun di tengah-tengah pertarungan itu, Quennevia malah tiba-tiba berhenti bergerak dan terpaku di tempatnya. Belum ada yang menyadari hal itu sampai saat Lilac hendak mengarang nya yang diam saja di sana, tiba-tiba saja Yue dengan wujud manusia nya muncul dan menghalau serangan itu.
" Woohhh.... Itu roh rubah!. "
" Quennevia punya roh lainnya?!. "
" Hebat sekali!. "
Begitulah ucapan-ucapan para murid yang kagum dengan kemunculan Yue, begitu pun dengan para guru yang lainnya. Sementara itu di tempat Ethan dkk.
" Kenapa Quennevia tidak bergerak sama sekali??. " tanya Arkan.
" Tidak tahu, apakah terjadi sesuatu??. " tanya balik Niu.
Yang lainnya pun menggelengkan kepalanya karena tidak tahu juga apa yang terjadi, itu sangat membingungkan bagi mereka. Sedangkan di arena...
" Cukup sampai di situ. " ucap Yue saat melihat kalau Lilac akan menyarang lagi, tentu saja dia jadi bingung mendengar itu, tapi Yue tidak memberinya penjelasan malahan menolah kearah juri.
" Hei, bisakah pertandingan nya ditunda dulu. Master ku sedang mengalami pemulihan penglihatan nya. " ucap Yue kepada juri.
" Ah, soal itu... " ucap sang juri pula dengan bingung.
" Tidak perlu. " potong Lilac, membuat mereka menolah kearahnya pula, ia pun menyarungkan kembali pedang nya. " Aku menyerah. " ucapnya pula.
Ucapan itu membuat semua orang yang ada di sana jadi bingung, kenapa Lilac tiba-tiba menyerah seperti itu.
" Alasan nya??. " tanya Yue.
" Quennevia lebih kuat dari diriku, mungkin lebih dari yang bisa ku rasakan. Bahkan saat ini pun kekuatan nya sedang meningkat secara drastis. " jawab Lilac.
Yue hanya menyipitkan matanya mendengar itu, iya memang benar sih dengan apa yang ia ucapkan. Tapi Yue bingung bagaimana harus menyikapi nya.
" Juri aku menyerah. " ulang Lilac sambil berbalik hendak pergi dari sana.
" Ka.. Kalau begitu, pemenangnya adalah Quennevia. " ucap sang juri.
Semua orang bersorak heboh dengan kemenangan itu, meski sebenarnya mereka juga bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya.
" Apa kau yakin, Senior??. " tanya Quennevia pula yang sudah selesai dengan pemulihan nya.
Mendengar itu Lilac berbalik ke arahnya dan mengangguk, " Iya, lagi pula... Aku sangat menyukai mu. " ucapnya pula sambil tersenyum kemudian kambali berjalan pergi dari sana.
* Lilac
*******
Melihat kemenangan Quennevia yang begitu mudah itu membuat para guru jadi penasaran, apa yang membuat Lilac memilih menyerah dari pada lanjut bertarung dengan Quennevia. Meski sudah mendengar Pengakuan nya saat di arena tadi, mereka masih penasaran seberapa kuat Quennevia yang sebenarnya.
" Hufttt...aku malah semakin penasaran, rasanya aku ingin membawanya pulang dan meneliti nya. " ucap Real bercanda.
" Hei, kami juga penasaran. Jangan memikirkan dirimu sendiri, dong. " sahut Claus.
" Benar, bagaimana pun dia gadis yang spesial. " ucap Rem pula.
" Iya, apalagi setelah mendengar alasan Lilac itu. Aku jadi ingin mengetahui nya juga. " ucap Orya.
*******
Setelah pertandingan itu, Quennevia pun pergi ke tempat para tetua, sayang sekali tadinya ia ingin ikut merayakan kemenangan nya bersama dengan teman-temannya. Tapi mau bagaimana lagi kalau sudah di panggil.
" Tetua Rouen, Quennevia datang sesuai permintaan. " ucap Quennevia sambil memberi hormat kepada Rouen.
" Oh, Quennevia. Duduk lah, nak. " sahut Rouen.
" Tetua, apa ada hal yang ingin di sampaikan??. " tanya Quennevia setelah duduk.
" Benar, ini tentang wanita pembawa bencana itu. Kedepannya jika kau bertemu dengan beberapa orang ini kau harus hati-hati, karena mereka adalah orang-orang yang memiliki hubungan dengan nya. " ucap Rouen sebelum memberitahu nya.
" Akan Quennevia ingat. " jawab Quennevia.
Akhirnya Rouen pun memberitahu kan semua orang itu kepada nya, Quennevia hanya diam sambil menyimak semua orang itu. Nampak nya dia benar-benar harus berhati-hati ke depan nya, bisa saja orang-orang itu juga menginginkan hal lain selain jiwa wanita itu.
Setelah semua yang harus dikatakan Rouen selesai di sampaikan, Quennevia pun pamit untuk kembali ke asrama nya. Dia benar-benar lelah hari ini, bukan hanya tubuhnya tepi juga pikiran nya. Dimana dia tidak bisa tenang dengan semua hal yang membebani nya itu, andai saja ia bisa seperti gadis lainnya mungkin dia tidak akan se-tertekan itu.
" Kupikir datang ke dunia ini akan jadi hal yang bagus, ternyata tidak ada yang berubah sama sekali. " gumam Quennevia sambil mengghela nafas lelah.
" Master, jangan terlalu dipikirkan. Aku yang akan melindungi mu sampai kapanpun. " ucap Yue yang ada di pundaknya.
" Hm... Terima kasih, Yue. Kau benar-benar bisa diandalkan, andai saja Xi belum kembali tadi, tapi dia buru-buru sekali ya. " sahut Quennevia.
" Iya, jika dilihat dari ekspresi nya waktu itu. Nampaknya dia mendapatkan panggilan yang sangat buruk dari Everon. " jawab Yue pula.
" Tidak mungkin, memangnya kenapa Everon memanggilnya seperti itu??. " (Quennevia)
" Dia kan selalu seperti itu. " (Yue)
Quennevia pun akhirnya sampai di depan kamarnya...
Ceklek....
" Itu memang benar, tapi.... " ucap Quennevia pula menggantung.
Saat ia membuka pintu dan masuk ke dalam sana, ia dikejutkan dengan kehadiran teman-temannya di sana.
" Kejutan!. " teriak mereka serempak.
" Kalian...??. " ucap Quennevia.
" Hehe... karena sebelumnya kita belum merayakan nya, jadi sekarang saja. " ucap Niu dengan sangat ceria.
" Iya, selamat untuk mu. " ucap yg lainnya pula.
Quennevia hanya dapat tersenyum melihat semua itu, teman-temannya memang sangat keras kepala. Padahal sudah mau malam tapi bisa-bisa nya malah membuat pesta seperti ini, dan lagi kenapa diasrama perempuan ada 4 orang laki-laki.
Tapi ia juga senang dengan hal itu, mereka sangat perhatian kepada nya, andai kebahagiaan itu bisa terus berlangsung selamanya.
" kalian ini... benar-benar sangat bodoh ya. " gumam Quennevia pula dengan sangat pelan.