
Saat ini kesadaran Quennevia tengah ada di sebuah tempat yang gelap dan sunyi, tempat yang dipenuhi dengan air di bawah nya dengan dirinya yang duduk di atas air tersebut. Sama seperti tempat Everon di segel dulu, hanya saja tempat itu sekarang kosong, dan yang terdengar disana hanya suara dari tetesan air*.
(*Air disini bisa diartikan sebagai kekuatan Quennevia yang ada dalam kesadaran nya)
Tes...
" Hei, Sirius. Apa yang kau bicarakan dengan mereka sebelumnya??. " tanya Nevia.
" Hm... Kau tidak melihat dan mendengar nya, ya?? Yah, itu bukan masalah yang terlalu besar, dan kurasa Yue juga tidak akan menyakiti Ethan lagi. " jawab Sirius yang saat ini ada di belakang nya, mereka saat ini sedang saling menyandarkan punggung satu sama lain.
" Aku.. sama sekali tidak tahu jika ada jiwa lain lagi selain Seretia, tidak kusangka kalau anak dari paman Mice juga adalah diriku sendiri di masa lalu. " ucap Nevia pula.
" Kau benar, aku juga tidak menyangka akan hal itu. Tapi itulah takdir. Takdir 'nya' yang memegang akhir dari cerita ini, apakah akan jadi baik ataukah sebaliknya. Namun 'dia' hanya bisa lahir jika mendapatkan dua kekuatan jiwa yang saling bertentang, dengan begitu kehadiran nya sebagai kunci penghubung 4 dunia juga akan sempurna. " ucap Sirius panjang lebar.
Tes..
(*Dia yang dimaksud oleh Sirius adalah jiwa Quennevia yang sesungguhnya, yang mana adalah gabungan dari jiwanya dan juga Nevia*)
Nevia mengangguk setuju dengan ucapan Sirius, dia sadar kalau selama ini dirinya hanya menggunakan identitas orang lain selama hidup di dunia ini. Jika saat nya tiba, orang yang harusnya memiliki identitas itu akan terlahir dan dirinya akan jadi bagian dari orang itu.
Tes..
" Soal itu yah... jadi potongan ingatan itu milikmu, Sirius??. " tanya Nevia pula.
" Ya, seperti itulah. " jawab Sirius.
" Kenapa kau tidak melawan waktu itu, bukankah kau itu penguasa air??. " tanya Nevia lagi.
" Mungkin apa yang kau katakan itu memang benar, aku salah seorang penguasa elemen. Akan tetapi aku ini lemah, hatiku tepatnya.. aku selalu saja tidak ingin melukai siapapun, tanpa sadar ternyata aku malah menyakiti diriku sendiri. Dan yang waktu itu aku malah mati di penggal ya. " sahut Sirius yang malah tertawa seolah itu bukan apa-apa, menertawakan takdir nya sendiri.
" Kenapa kau malah tertawa?? Kau itu mati, loh. Laki-laki itu, para spirit guardian dan juga ibuku, lalu juga.. paman Mice. Semuanya.. mereka bersedih karena kau terbunuh seperti itu. " ucap Quennevia berbalik menatap Sirius dengan agak marah.
Tes..
Yah itu tidak bisa dimengerti oleh nya, karena dirinya juga seperti itu waktu mati dulu, sekarang ia tahu kesedihan yang dirasakan Kagura dan lainnya waktu ia meningalkan mereka. Quennevia tidak mau.. jika hal itu harus terjadi lagi. Sirius sendiri yang mendengar nya pun terkejut, namun kemudian ia pun tersenyum kepada Quennevia.
Tes..
" Itu sudah berlalu 200 tahun yang lalu, dan aku ini berbeda dengan mu. Aku mati karena putus asa, aku sudah bosan dengan hidupku yang hampir abadi waktu itu. Tapi kau berbeda, kau mati demi melindungi orang-orang yang kau sayangi. Kau itu kuat, cantik, pintar dan juga penuh perhatian, kau benar-benar perwujudan yang sangat sempurna. Sekarang aku mengerti kenapa jiwaku yang tertidur dan kau lah yang mendominasi tubuh ini, itu karena... kau lebih cocok dengan dunia yang kejam seperti ini, meskipun sebenarnya aku juga tidak ingin kau merasakan nya. " jelas Sirius.
" Tapi.. tetap saja.. " ucap Quennevia.
Sirius pun menyentuh tangan Quennevia dan bersandar di pundak nya, " Tidak apa, itu sudah berlalu. Sekarang kita hanya perlu menemukan cara untuk bisa melebur satu sama lain, dengan begitu Quennevia yang sesungguhnya pun akan lahir. Benar bukan??. " sahut Sirius menimpali.
" Sirius... " ucap Quennevia lirih.
" Jika saja Seretia tidak ikut masuk ke dalam tubuh ini, mungkin Quennevia benar-benar terlahir di hari itu, dan kau tidak akan dikirim ke dunia lain. Karena itu... jika kita ingin melebur, kita harus menyingkirkan Seretia dari tubuh ini terlebih dahulu. " ucap Sirius pula.
" Caranya?? Mutiara pemisah jiwa sudah diambil, kita tidak punya sesuatu yang bisa membantu lagi. " tanya Quennevia.
" Pasti.. akan ada jalan dimasa depan nantinya. " namun itulah yang Sirius katakan.
Tes..
************
Disisi lain, di salah satu tempat di jantung hutan. Mice sedang bermeditasi tepat diatas sebuah batu di tengah-tengah kolam yang ada di tempat nya, sampai ia kedatangan seseorang di sana.
Mice pun membuka matanya dan berkata, " Lalu?? " tanyanya.
" He.. tidak biasanya kau datar seperti itu, apakah kau tidak ingin menyapanya dulu. Yah setidaknya jiwanya bangun sekarang, sebagai seorang ayah seharusnya kau lebih memperhatikan putrimu bukan? " sahut Everon dengan santai.
" Selama Quennevia hidup artinya Sirius juga hidup, jadi aku tidak perlu terlalu mengkhawatirkan nya. " jawab Mice pula.
Everon hanya menghela nafas melihat Mice yang tidak biasanya itu, apakah dia tidak mau pergi ke sana karena tahu kalau Beatrice juga ada di Akademi. Jika Everon pikirkan lagi memang akan buruk sih, saat mendengar laporan bahwa Yue sampai mengamuk karena perempuan itu saja sudah merepotkan, apalagi jika Mice yang mengamuk ya. Everon tidak akan bisa membayangkan jika hal itu sampai terjadi lagi.
" Tapi... jika jiwanya juga ikut bangun, maka tubuh Quennevia tidak akan bisa bertahan terlalu lama bukan??. " tanya Wais pula yang tengah bersantai di atas salah satu pohon disana. Mice dan Everon yang mendengar suaranya pun langsung menoleh kearah nya.
" Tiga jiwa dalam satu tubuh, belum lagi kekuatan besar yang dimiliki oleh setiap jiwa. Jika Sirius dan Nevia sudah melebur, kekuatan itu tidak jadi masalah. Tapi jiwa Seretia yang jadi pengganggu keseimbangan itu lah masalah nya. " ucap nya pula.
" Itu memang benar sih.. tapi caranya untuk menyatukan keduanya bagaimana?? Seretia saja masih ada di dalam tubuhnya. " ucap Everon.
" Jika kau punya ide untuk melakukan nya maka katakan caranya??. " tanya Mice pula.
" Sederhana sekali... " sahut Wais, ia pun turun dari atas pohon itu dan berjalan agak dekat dengan mereka. " Reruntuhan kuno. " lanjut nya pula.
" Reruntuhan kuno??. " ucap Everon dan Mice pula mengulangi ucapan Wais.
" Benar, menurutmu kenapa aku terus bepergian kesana kemari dan tidak pernah ada di tempat. Aku menemukan banyak reruntuhan di tempat-tempat ini, dan coba tebak apa yang aku temukan disana.... adalah cara untuk memisahkan dua jiwa dari satu tubuh. " jelas Wais panjang lebar.
" Hoo... " sahut Mice dan Everon pula mulai kagum dengannya.
Tidak biasanya Wais punya ide yang begitu bagus seperti itu, namun jika itu adalah reruntuhan kuno maka mereka pasti harus menerjemahkan maksud nya lebih dulu bukan.
" Yah, meskipun perlu waktu cukup lama untuk mempelajari nya.. itu bukan rencana yang buruk. " ucap Everon.
" Apa kau tidak takut jika Quennevia akan lebih senang aku yang jadi ayahnya nantinya??. " tanya Mice yang mulai lagi mempermainkan Everon.
" Hah?! Apa maksud mu itu, memangnya kau bisa jadi ayahnya?!. " tanya Everon pula yang merasa kesal mendengar itu dan ia melupakan apa yang sebelumnya ia katakan.
" Hehe.. tentu saja, Sirius kan juga bagian dari diri Quennevia. " ucap Mice dengan percaya diri.
Dan itu membuat Everon tidak bisa berkata-kata lagi, memang benar sih apa yang dikatakan oleh Mice itu. Namun Everon tetap saja kesal karena hal yang jadi daftar persaingan nya dengan Mice jadi bertambah.
" Dasar ular sialan!. " ucap Everon.
" Hah?? Apa maksud mu kadal tua??. " sahut Mice pula tambah memancing emosi nya.
" Diam ular bau!. "
" Kau tidak berkaca diri ya??. "
" Pokoknya aku ini jauh lebih baik darimu, ingat itu!. "
" Padahal sifatmu kekanak-kanakan seperti itu. "
" Apa?! kau ngajak ribut ya?!!. "
" Oh, ayo siapa takut??. "
Keduanya malah kembali bertengkar seperti biasanya, di sisi lain Wais yang harus melihat pertengkaran itu hanya menghela nafas. Yah memang kebiasaan mereka seperti itu sih.