
EPISODE 51 (S2)
Baru kemarin aku melihat Planet Jupiter dan Saturnus merayap di langit malam Januari, bersemayam pula bintang-bintang kecil yang terlihat lebih besar pada saat itu. Malam ini di atas vespa lima puluh yang aku kendarai, kembali aku mencari titik letak objek yang aku lihat kemarin. Padahal aku rasa tepat daerah langit yang kini aku tatap, namun mata yang serba terbatas ini tidak akan bisa melihat garis cincin Saturnus, bahkan bulatan planetnya pun tidak bisa aku pandang. Sepanjang jalan menuju rumah Reira, aku hanya sibuk melihat langit yang cerah, sesekali melihat ke samping jika ada gadis yang lewat.
Jalanan kota ramai seperti biasanya hingga lengang kudapati ketika memasuki kawasan rumah mamanya Reira yang berupa daerah pemukiman biasa. Tibalah aku muka rumah arsitektur Belanda yang khas itu. Rumah tampak terang dengan lampu-lampu yang dihidupkan. Terdapat sebuah mobil yang aku tahu itu bukanlah mobil milik mamanya karena mobil sedan tua itu selalu terparkir di garasi kayu halaman belakang rumah.
Aku pun memberanikan diri untuk memencet bel rumah yang tertempel di muka pintu. Tidak lama kemudian, terdengar sahutan seseorang dari dalam rumah berupa suara perempuan. Pintu rumah pun terbuka, tampak raut wajah yang hampir serupa dengan Reira, namun cenderung terlihat dewasa.
Rambutnya pendek bergelombang di bagian ujung dan berponi seperti khas gadis-gadis Jepang. Ia tersenyum padaku, menunjukkan dua buah gigi seri yang dihiasi oleh kawat gigi.
“Hai ... nyari Reira?” tanya dirinya padaku.
“Iya, Kak ... aku David,” balasku.
“Wah ... David?” Ia melihat ke belakang sebentar, lalu kembali memandangiku. “Aku Reina, kakanya Reira."
Ia menjulurkan tangannya untuk kusambut bersalaman. Salaman itu berakhir ketika Reira baru saja tiba dengan mendorong Kak Reina ke tepi dinding.
“Jangan lama-lama salamannya!” sindir Reira. Ia melihatku. “Ayo masuk, ada pizza.”
Aku tak perlu melangkahkan kaki terlebih dahulu, melainkan langsung ditarik oleh Reira ke dalam.
“Cantikan gue atau Kak Reina?” tanya Reira ketika duduk di atas sofa, tepat di hadapan TV. Sebuah meja di depannya tersajikan pizza utuh yang masih belum diambil sebagian pun. Ia mempersilahkanku untuk duduk pada sebuah kursi kecil.
“Tentu saja gue, dong!” Kak Reina membalas pertanyaan Reira.
Kedua wanita itu duduk bersamping-sampingan, persis seperti anak kembar. Apalagi sama-sama mengambil pizza serempak. Tampak begitu mirip dengannya, oh tidak ... lebih tepatnya mirip dengan Bu Fany. Aku rasa, begitu pulalah rupa wajah Kakek Kumbang.
“Kalian berdua sama-sama cantik,” balasku.
“Oh, lo manis juga ... cocok sama Reira. Tapi cocoknya sama gue.” Kak Reina menyentuh tanganku.
Lantas Reira meninju lengan kakaknya karena tak ingin kekasihnya sendiri digoda begitu saja.
“Sembarangan ....” Ia kembali menyuap pizzanya. “Jadi, ke mana kita akan cari butik Melayu di kota ini?”
“Kalian pingin mencari fashion Melayu?” tanya Kak Reina. “Kalian datang ke orang yang tepat.”
“Kakak tahu emangnya di mana?” tanyaku.
Reira menangguk. “Tentu saja tahu ... dia seorang desainer. Bodohnya dia, lulus magister keuangan di Paris, datang ke sini malah jadi desainer. Bukan menjadi bankir atau jadi komisaris di perusahaan. Padahal, Papa udah nawarin posisi di salah satu perusahaan temennya papa.”
“Bekerja dengan usaha sendiri lebih menarik daripada menjadi bawahan. Gue bisa aja megang posisi penting di BUMN. Tapi, gue enggak mau sukses gara-gara nama Papa. Selain itu, gue kan SMK di jurusan tata busana. Jadi, gue paham yang beginian.”
“Wah, Kak Reina berarti punya butik sendiri, dong?” tanyaku.
“Tentu saja.” Ia langsung menyambar handphone-ku dan mengotak-atik layarnya. “Nih, gue follow-kan instagram butik gue. Nanti gue follback.”
Aku tersenyum melihat gelagat Kak Reina yang hampir sama dengan Reira. Perilakunya terlihat frontal, persis seperti adiknya sendiri.
“Nih ....” Ia mengembalikan handphone-ku kembali. “Nanti gue kirim lokasi butik khas Melayu sama Reira. Kalian tinggal pergi ke sana.”
“Baik, Kakak tercinta.”
Reira membawaku ke hadapan pintu yang terdapat awalan namanya. Ia buka pintu kamarnya itu dan langsung meloncat ke atas kasur empuk hingga ia kembali memantul ke atas beberapa sentimeter. Ruangannya tercium wangi parfum miliknya yang menyeruak ke hidungku, namun samar-samar tercium bau tengik jangkrik yang ia letakkan pada sebuah kotak plastik. Jangkrik itu akan menjadi pakan seekor ikan awarnawa putih yang berenang di dalam aquarium kaca. Ikan itu seakan menatapku untuk kembali mengusirku keluar. Mungkin saja kehadiranku dianggap sebuah ancaman oleh kedua bola matanya yang hitam itu.
Aku terduduk di atas ranjang, tepat di samping Reira yang berbaring. Ia mendengus ranjangnya sendiri, seperti anjing pelacak yang tengah marah kepada orang lain. Tidak aku pedulikan wanita itu yang tengah melakukan hal aneh. Aku hanya memerhatikan berbagai tokoh dunia yang tertempel dalam bentuk poster, termasuk Kakek Kumbang yang sedang berkacamata hitam dengan gaya dingin menatap kamera. Setelah aku pikir-pikir, ternyata benar ... Reira, Kak Reina, Bu Fany, dan Kakek Kumbang memiliki keserupaan wajah yang cenderung mirip. Tentu saja, mereka dalam satu garis keturunan.
Reira menarikku hingga aku terjungkang ke belakang. Tepat kepalaku menghantam kasur, pandangan kami sama-sama berhadapan. Senyumnya yang setulus hembusan angin laut itu kini menerpa raut wajahku yang sayu. Ia memegang sebelah kerahku, lalu menggeseknya menggunakan jemari. Tangan kami saling bersentuhan kemudian.
Ia membuka satu kancing kemejaku, lalu beranjak kancing berikutnya. Tidak ada ekspresi apa-apa dari wajah Reira, setelah ia memadamkan senyum untuk melakukan hal itu. Dadaku sontak berdegup dengan kencang. Rasaku pria mana yang tidak akan panik apabila ada seorang wanita tengah melakukan hal itu padanya.
“Kenapa ada pria yang tidak tertarik untuk berhubungan ****?” Ucapannya terhenti ketika jemarinya menyentuh kancing terakhir yang akan ia buka.
“Gue tahu lo sedang ngetes gue ....” Aku menyentuh wajahnya. “Rei, lo itu bukan orang yang seperti itu dan gue paham dengan lo.”
Ia tersenyum. “Kalau gue mau, bagaimana? Lo pasti mau, kan?”
“Iya, gue mau ... apa susahnya. Tinggal tutup pintu, kunci, hidupin musik biar kakak lo enggak curiga dan ... semua terjadi begitu saja.“
“Freud, tokoh Psikianalisa dari Austria pernah bilang, perilaku manusia didasari atas dasar libido seksual. Kalau lo percaya itu, maka setiap orang akan selalu berhasrat seksual.” Aku tersenyum kemudian.
“Lo itu aneh, ya ... harusnya lo itu panik loh. Hahah ... tapi biasa aja mukanya.” Reira tertawa.
“Siapa bilang gue enggak panik. Kalau gue kebablasan bagaimana?” Aku berdiri dan kembali memasang kancing kemejaku.
Kepalanya memereng dengan ringan. “Ya ... gue nikmati. Semudah itu, kan? Hahaha ....”
“Gue pacaran sama orang gila.” Aku berdiri dari ranjang dan menyambut tangan Reira untuk menolongnya berdiri. “Ayo, kita pergi. Gila gue lama-lama di sini ... hahaha.”
“Oh, ya ... ke garasi sekalian dan ambil kotak daging ayam suir-suir buat Minerva. Gue mau ganti baju.”
Aku menoleh kembali ke belakang. “Enggak gue temenin?”
Ia melempariku dengan bantal. “Celupin dulu jemari lo ke aquarium arwana selama satu menit. Kalau sanggup, lo bebas ngelihat gue enggak pake baju.”
“Hahaha ....” Aku melangkah ke pintu.
Aku memasuki garasi dengan membawa sekotak ayam suir-suir dari kulkas yang dijadikan makan malam bagi burung hantu putih jantan itu. Ia terlihat berdiri dengan tegap di dalam sebuah sangkar besi, tepat di sisi kiri garasi kayu ini. Minerva sama sekali tidak bersuara ketika aku datang. Padahal, aku berharap ia akan mengucapkan salam setelah dilatih oleh Reira berbicara. Namun, aku baru sadar bahwasanya burung itu bukanlah burung beo yang akan bisa dilatih mengucapkan salam.
Garasi yang bau debu ini penuh dengan barang-barang tidak berguna. Sebagian besar terdiri dari barang elektronik yang telah rusak. Sebuah lemari kayu besar aku buka sesaat karena penasaran dengan isinya, ternyata hanyalah berupa sekumpulan perkakas yang disimpan. Aku memandang ke Minerva yang sedari tadi menatapku yang tak kunjung memberinya makan. Barulah aku memuka gembok sangkar itu dan memasukkan makanannya ke dalam tempat makannya di dalam sana. Minerva pun makan dengan lahap.
“Wah, Minerva makan dengan lahap.” Reira baru saja tiba ke dalam garasi.
“Cepet banget ....” Aku memerhatikannya dari bawah ke atas. Ia hanya menggunakan sepatu kets, bawahan jeans, serta hoodie warna abu-abu dengan lambang NASA di dadanya.
“Gue harus ngapain? Make up aja cuma punya bedak bayi dan lipstik.” Ia membuka pintu mobil. Lalu, menghidupkan mesihnnay dengan sekali putaran kunci. “Oh, iya ... gue baru ingat. Nanti, temenin gue juga beli alat make up. Gue juga mau make up sendiri sebelum pergi ke pernikahan Fasha. Kemarin itu, Mama yang make up-in gue.”
“Oke, deh ... ke mana aja yang lo mau, gue temenin.”
Kini aku dipekerjakan oleh Reira sebagai supir dengan balasan senyuman darinya. Oh tidak, ia membayarku dengan sebuah janji akan dibelikan sepasang setelan baju Melayu beserta peci hitam dan sarung songket. Ia berkata bahwasanya ia ingin kami berdua akan terlihat seperti pasangan Melayu di tengah orang-orang yang memakai kebaya Jawa dan batik nantinya. Tentu saja Reira senang jika berpenampilan berbeda dan mengangkat budaya asli dari suku kakeknya tersebut. Sebenarnya, Reira bukanlah orang Melayu karena Arnorld Bernardo merupakan seorang dari Suku Jawa. Melayu itu suku yang berasal dari garis keturunan Ayah atau patrilineal. Namun, aku tahu Reira pasti saja mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Melayu.
“Keluarga dari Mama lo enggak datang ke sini, Rei?” tanyaku pada Reira ketika menyetir.
“Gue enggak tahu banyak keluarga gue di Kepulauan Riau. Mama juga anak tunggal, sudah pasti enggak punya adik dan kakak. Tapi, mama pernah bilang kalau ada sepupunya di Siak, Riau. Tapi sudah lama sekali tidak ketemu semenjak Kakek membawanya ke Belitung dan menetap di Jakarta bersama keluarga Kakek Syarif. Mungkin aja mereka enggak tahu kalau Mama sedang sakit, atau bisa jadi mereka lupa kalau punya sanak saudara yang merantau di sini.”
“Berarti lo cuma tahu keluarga papa lo aja, begitu?” tanyaku.
Ia menangguk sembari melihat ke kiri. “Iya, apalagi hak asuh gue ada sama Papa. Untung saja setelah mereka bercerai, Bude dan Pakde tetap menganggap Mama sebagai adik ipar. Mereka jagain di rumah sakit kalau Papa lagi kerja. Atau bersama-sama Kak Reina di sana.”
Aku melihatnya. “Sepertinya papa lo masih menganggap Bu Fany sebagai istri, walaupun sudah bercerai.”
Matanya memicing padaku. “Hey, apa-apaan itu. Dia benci sama Mama, begitu pula Mama ke dia.”
“Rei, mana ada orang yang nangis tersedu-sedu setelah tahu Mama lo sadar. Enggak mungkin dia begitu kalau dia benci sama mama lo. Lo itu bisa mikir ke sana, kenapa sih Papa nangis sebegitu harunya.”
Ia menggeleng. “Gue enggak percaya itu, Dave. Hanya Bude dan Pakde yang peduli dengan Mama.”
Aku mengehela napas panjang. Anak ini memang sangat sulit dinasehati apabila itu berhubungan dengan orangtua laki-lakinya itu. Entah sampai kapan ia akan berdamai untuk sebuah hubungan yang lebih baik. Padahal, ia sebenarnya melihat tulusnya tangis seorang Arnorld Bernardo di depan pintu ICU dan dipeluk oleh sanak saudaranya.
Kami tiba di depan butik yang menjual fashion khas berbagai daerah di Indonesia. Kak Reina menyarankan tempat ini karena pernah berkunjung sebelumnya dan ia telah menemukan apa yang sedang kami cari malam ini. Pengunjung tengah ramai-ramainya sekarang. Parkiran sesak oleh para pengunjung yang memarkikan kendaraannya. Setelah mendapatkan tempat parkiran, kami pergi ke butik dua lantai tersebut.
“Butik Nusantara,” ucap Reira pelan tatkala melangkah. Tangannya mengenggam tanganku untuk menuntun jalan.
“Persis seperti namanya. Di sini pasti banyak fashion tradisional daerah masing-masing.”
Kami mencari pada daerah mana berada pakaian Melayu terpajang. Tidak kami temukan barang yang kami cari. Setelah bertanya kepada seorang pramuniaga, barulah kami diberitahu jika fashion Sumatera, khususnya Melayu, berada di lantai dua. Kami pun melangkah menuju tangga. Barulah kami dapati setelah terpampang tulisan Melayu di sana. Reira yang tak sabaran langsung menunjuk baju kurung berwarna kuning, tanpa melihat yang lain.
“Enggak lihat yang lain? Cepet banget milihnya, bukan kek cewek kalau lagi beli baju.” Aku terheran-heran melihatnya.
“Enggak ... gue suka yang itu.” Bersamaan dengan akhir kalimat Reira, datang seorang pramuniag. Reira mendekatu pramuniaga tersebut, tanpa ingin melepas genggaman tangannya. “Mbak, baju Melayu buat cowok yang mana?”
“Oh, buat suami Kakak ini, ya? Di sebelah sana ada.” Ia menunjukkan arah dengan penuh kesantunan.
Kami pun dibuat tersenyum satu sama lain. Dengan tarikan napas, aku pun memberanikan diri.
“Terima kasih, Mbak. Oh, ya ... istri saya mau yang model ini.” Aku menunjuk baju kurung Melayu pilihan Reira.
Aku rasakan genggaman tangan Reira semakin menguat setelah aku mengatakan hal itu.
***