
Emas itu berada di dalam rumah Kakek Tarab, disembunyikan pada teman yang sama sekali tidak kami ketahui. Jelas sekali ia menyimpan emas itu di tempat paling rahasia. Aku mulai mencatat keseharian Kakek Tarab berharap aku bisa menemukan di mana emas itu berada. Kakek Tarab selalu bangun lebih awal dari kami. Tatkala adzan subuh berkumandang, ia tidak pernah melanjutkan tidur. Ia menonton tv kembali sebagaimana posisi biasanya, duduk di atas sofa dengan mata mengantuk. Setelah aku dan Razel terbangun dari kelanjutan tidur, ia memintaku untuk membuatkan sarapan dan kopi agar ia nikmati di meja samping rumah.
Razel penasaran denga napa yang aku catat, tetapi aku masih belum bisa memberitahukan hal yang sebenarnya. Aku hanya meminta Razel untuk mengingat-ingat apa saja yang dikerjakan oleh Kakek Tarab dalam kesehariannya di rumah. Ia memang senang duduk di hadapan meja samping sembari melihat aktivitas dermaga. Namun, tidak ada satu pun warga yang turut menyapa pria tua itu. Ketika siang hari, Razel diminta untuk membelikan makanan ke rumah makan terdekat untuk dinikmati bersama. Ia berbaik hati menanggung seluruh kebutuhan makan kami di sini.
Tatkala senja berkumandang, ia memintaku untuk memasukkan ayam-ayam ke dalam kandang, sementara itu masuk ke kamar tanpa diketahui apa yang sedang dikerjakan. Berlanjut malam hari, ia lagi-lagi duduk menghabiskan waktu di sofa depan televisi untuk menyaksikan berita politik negeri ini. Entahlah, aku rasa ia memang suka nonton televisi. Terkadang, ia meminta Razel untuk memperbaiki remot televisi yang rusak. Aktivitas monoton darinya aku perhatikan tidak ada yang berubah, bahkan sampai kami sudah seminggu di sini. Aku pun berani bertaruh ia tidak pernah meninggalkan rumah lebih dari lima langkah dari ujung teras.
“Semua aktivitas Kakek Tarab udah gue hapal. Dia memang enggak pernah keluar rumah.” Razel mengintip ke kertas yang aku catat. “Kakak sedang ngapain sih? Apa yang sedang disembunyikan?”
“Tarab itu punya emas batangan seberat satu kilo yang dia curi dari kakekku.” Aku mengambil surat yang disembunyikan di balik ranjang. “Gue diminta buat mengambilnya kembali. Bukan gue, tapi kita.”
“Apa? Gue enggak dapat bagian?” Ia mengembalikan surat itu kepadaku. “Ini enggak adil.”
“Tenang, lo itu dibawah tanggung jawab gue. Jadi, jangan khawatir tentang bagian,” balasku.
“Tapi Kak, pekerjaan ini bisa bikin kita terbunuh. Dua orang sebelumnya sudah dibunuh Kakek Tarab.” Razel memperingatkan.
“Kita harus bermain cerdas. Untuk sekarang, kita cukup observasi kebiasaan Kakek Tarab. Gue yakin emas itu berada di sekitaran Kakek Tarab, di dalam rumah ini. Buktinya, maling itu menemukan emasnya di rumah.” Aku mengintip sebentar ke luar kamar. “Apa dia udah tidur?”
Razel melihat jam tangannya. “Pukul sepuluh malam, dia sudah pasti tidur.”
Aku memegangi kedua kepalaku. “Gue udah nyari ke dapur, ruang tengah, bahkan di kandang ayam, tapi masih belum ada tanda-tanda.”
“Bagaimana kalau emas itu ada di kamarnya?”
Aku menyadari selama ini kami tidak pernah melihat bagaimana rupa kamar Kakek Tarab. Selalu terdengar bunyi kunci yang diputar tatkala Kakek Tarab meninggalkan kamarnya tersebut.
“Yang jadi pertanyaan, bagaimana kita masuk ke sana? Kakek Tarab menguncinya selalu. Dan … pistol selalu terpasang di belakang bokongnya. Kita bisa ditembak sebelum berhasil masuk ….”
“Ikuti aku ….”
Razek menyelinap ke luar kamar, diikuti oleh diriku dari belakang. Ia membawaku ke sebuah kamar kosong yang berada tepat di samping kamarku. Kamar pribadi Kakek Tarab berada di bawah kamar tersebut. Pintu tidak dalam keadaan terkunci sehingga kami bisa masuk dengan mudah.
“Kamar ini juga udah gue geledah. Cuma ****** yang gue temukan ….”
“Bagaimana bisa benda itu ada di sana?” tanya Razel dengan aneh.
“Entahlah … mungkin punya Borneo terdahulu.”
Razel menarikku untuk menunduk ke lantai. Ia memintaku untuk memerhatikan dengan seksama lantai kayu tersebut. Terdapat celah-celah kayu yang memungkinkan kami mengintip ke kamar Kakek Tarab di bawah sana. Benar, aku bisa memerhatikan Kakek Tarab yang sedang tertidur dalam keadaan terlentang. Di samping tubuhnya ia letakkan tongkat kayu mahoni tersebut. Lalu, di atas meja ternyata tergeletak pistol yang sudah membunuh dua orang suruhan Kakek Kumbang.
“Kamarnya sederhana sekali,” ucapku.
“Apa kakak kira dia butuh ranjang mahal untuk tidur? Di sofa saja dia bisa tidur berjam-jam,” sindirnya.
“Hey kau yang di atas sana?!” teriak Kakek Tarab.
Aku dan Razel sontak panik mendengar panggilan Kakek Tarab.
“Kita ketahuan ….”
Gelagat Razel yang panik ketika bergerak segera aku tahan. Lebih baik bertahan di sini dahulu untuk memerhatikan apa yang terjadi selanjutnya.
“Turunkan satu kelapa untukku. Aku haus!” ucap Kakek Tarab yang melantur karena mengigau.
“Untung aja dia cuma mengigau,” balas Razel sembari mengehela napas.
Tiba-tiba, Kakek Tarab terbangun dengan mata terbuka lebar. Ia duduk sembari meletakkan tongkat kayu itu di bawah. Sesegera mungkin kami kembali ke kamar untuk berpura-pura tidur. Kami tidak ingin melanjutkan pengintipan karena takut ketahuan. Oleh karena itu, Razel memintaku untuk tidur dan menunggu hari esok datang.
Dua minggu lebih kami berada di rumah ini tanpa mendapatkan apa pun. Kakek Tarab pun sudah bertanya sampai kapan kami berada di rumahnya, mungkin saja ia sudah mulai muak melihat kami berdua. Bunyi melodi harmonika milik Razel berirama tatkala aku memerhatikan dermaga dari anjungan kemudi.
“Kak, apa Kakak mencatat kalau di malam hari Kakek Tarab sering berjalan sendiri.
Dahinya menyerngit untuk berpikir. “Seperti malam kita mengintip ke kamar Kakek Tarab.”
“Iya gue tahu karena mendengar kunci kamarnya berbunyi. Biasalah itu, dia butuh buang air juga seperti kita ….”
“Apa wajah orang buang air sampai tiga hari satu malam? Apalagi dia dalam keadaan tidur sepanjang malam.”
Aku menoleh padanya. “Mungkin aja dia kena diabetes, katanya orang diabetes sering baung air kecil di malam hari.”
“Tapi, gue nemuin hal yang aneh. Karena selalu ada ketukan yang enggak bisa setiap Kakek Tarab berada di dapur. Awalnya gue kira itu hentakan tongkatnya ke lantai kayu. Tapi lama-lama, gue sadar kalau hentakan itu sedikit berpola.”
“Bagaimana maksud lo?” tanyaku dengan heran.
Ia mencoba memperagakan bunyi ketukan itu di atas meja. Terdengarlah bunyi tiga kali ketukan dalam satu periode, lalu dilanjutkan lagi dengan tiga kali ketukan yang sama.
“Seperti itu … mungkin Kakak enggak sadar karena tidur. Gue jarang tidur dalam kalau di malam hari. Bunyi sedikit pun bisa bikin gue terbangun ….”
“Ayo kita tanyakan ke Borneo nanti malam ….”
Razel setuju dengan rencana tersebut. Hanya Borneo di sini yang memiliki pengalaman relative lama tinggal di rumah Kakek Tarab.
***