Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 21 (S3)



Aku sekarang berada di hadapan satu teman seperjuangan dari kakekku sendiri, selain Kakek Syarif. Wajahnya tua sekali, keriput termakan usia yang sudah ia jalani selama ini. Bara pengelana dari matanya tidak bisa aku pungkiri, sudah lebih dari segudang pengalaman yang ia alami bersama Kakek Kumbang. Belahan laut yang  ia belah telah membentuh jiwanya yang sekarang, kuat seperti batu terumbu karang, tiada lekang dihantam oleh ombak badai.


Musik seni gamelan mengiringi sudut pandang yang kami lakukan.  Bersenandung dengan angin siang hari nan mengguncang pepohonan dengan daun yang bergesekan. Kontras sekali hijau di halaman belakang ini, cocok untuk menghabiskan masa tua. Kakek Syarif pun berdehem setelah membakar tembakaunya.


“Iya, saya tahu kalau kakek saya belum mati. Beliau mengirimkan surat, tapi saya enggak tahu dia di mana.”


“Sebelum kita lanjut, bagaimana kabar Syarif? Dia masih jadi peminum?” tanya Kakek Erasmus.


“Selama ini dia enggak pernah saya lihat minum lagi, Kakek. Emangnya dia dulu peminum?”


“Kakekmu dan Syarif itu peminum. Tapi sudah aku ceramahi.”


Erasmus Kompeni Si Pendeta, itulah julukan yang diberi oleh Kakek Kumbang. Aku rasa diri beliau yang paling religius di Kapal Leon dan Kapal Tigris.


“Bagus, Kakek. Itu baik untuk kesehatan mereka.” Aku menyindir diri sendiri.


“Bagaiman dengan Fany? Dia baik-baik saja?”


Berbicara mengenai Bunda selalu membuat napasku terasa berat. Kehilangan dirinya seakan membuat sebelah sayapku menghilang. Sosok Bunda bagiku sangatlah penting di tengah keluarga yang terombang-ambing di masalah egoisme. Dirinya yang mengajariku banyak hal, salah satunya kebebasan yang menjadi hak setiap orang.


“Bunda udah wafat, Kakek. Tapi bagus, biar Bunda enggak sakit dalam waktu yang lama.”


Ia mengangguk. “Terkadang kematian itu jadi hal yang baik kalau kita lihat dari sudut pandang lain. Kamu anak yang bijak.”


“Terima kasih, Kakek.” Aku menyicipi teh seduhan Adhi. “Apa Kakek punya informasi di mana kakeku berada?”


Asap rokok menyembur dari bibirnya yang keriput.


“Terakhri kali aku bertemu dengan Kumbang waktu dia mengantarkan aku ke Bali. Setelah itu, Kapal Tigris tidak pernah nampak lagi. Waktu itu aku sakit Malaria. Oh iya … aku kenal dengan pemuda bernama Borneo itu. Dia awak kapal termuda di Kapal Tigris.”


Selalu saja begitu, tidak ada tanda-tanda Kakek Kumbang akan pergi ke mana.


“Borneo sekarang jadi awak kapal saya, Kapal Leon.”


“Iya, aku dengar Kumbang mewarisi Kapal Leon kepada cucunya. Pertama aku tidak tahu siapa itu Reira, ternyata itu kau. Matamu mirip dengan kumbang, kecil tapi berapi-api.”


“Kakek kumbang sampai sekarang masih saya cari keberadaannya. Saya udah ke Teluk Ratai, dan selanjutnya saya mau ke Kerinci. Tapi, saya masih ragu kalau kakek saya ada di sana.”


Kedua bahuku terangkat. “Dia satu-satunya keluarga yang bisa menampung aku untuk saat ini. Kakek Kumbang lebih dari apa pun. Saya harus bagaimana?”


“Mencari sesuatu yang tidak bisa dicari cuma bisa dengan cara mengikuti, ikuti saja sinyal-sinyal dari Kumbang. Ambisi tidak akan berlaku dengan Kumbang karena dia benci dengan orang-orang ambisius.” Ia mendekatkan kepalanya padaku. “Percayalah, dia lebih mudah menyentuhmu daripada kau yang mencarinya. Dia lebih dekat daripada yang kita duga.”


Sungguh, aku terkadang benci ketika berbicara dengan orangtua. Memang, mereka banyak tahunya, tetapi aku selalu mengira mereka sok tahu. Kalimat hiperbolanya itu hampir sama dengan David, terkadang tidak bisa aku mengerti. Apa salahnya berjelas langsung bahwasanya ia tidak tahu di mana keberadaan Kakek Kumbang.


“Borneo bilang kalau Kakek Kumbang berada di Puncak Andalas. Apa kakekku pernah bilang tempat itu?” tanyaku.


“Itu Gunung Kerinci, kami pernah punya cita-cita kalau suatu saat akan mendaki ke sana. Tapi, aku ragu kalau Kumbang yang setua itu bisa mendaki Gunung Kerinci. Anak muda saja butuh persiapan matang,” balasnya.


Setahuku, Gunung Kerinci merupakan salah satu dari jajaran gunung tertinggi di Indonesia. Persiapan matang sangat dibutuhkan jika harus mendaki gunung tersebut.


“Bisa jadi dia ada di sana, kan?”


“Sepuluh banding seratus aku rasa. Tapi, kami memang punya rekan yang tinggal di kaki Gunung Kerinci.”


“Siapa?”


“Andalas, Kumbang memberinya nama itu. Andalas awak kapal termuda di tahun sembilan puluhan. Kira-kira umurnya lima tahun saat itu. Kami menemukan dia merengek di dermaga Dabo karena ayahnya mati sehabis melaut. Karena sebatang kara, kami bawa dia ke kapal.”


“Dia masih di sana sampai sekarang?”


Kakek Erasmus mengangguk. “Iya, terakhir kali kami berjumpa lima tahun yang lalu waktu Andalas jalan-jalan ke Bali.”


“Saya mau minta kontak Andalas,” pintaku.


“Kau kira orangtua seperti aku memegang hape? Aku mana punya, Reira,” balasnya sembari membakar satu rokok lagi. “Tapi, dia punya kebun teh yang bernama sama dengan namanya, Andalas. Kalau kau mau ke Gunung Kerincing, lebih baik kunjungi dulu Andalas. Mana tahu Kumbang pernah ke sana.”


“Baiklah Kakek, sepertinya aku ada harapan ….”


Mataku berseri-seri menatap Semra yang sama sekali tidak mengerti tentang pembicaraan kami.


***