Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 156 (S2)



EPISODE 156 (S2)


Gelap ditempuh oleh tapak pada jalan kecil landai ke bawah. Hanya Reira yang memegang pencahayaan, tetapi anak itu malah menyuruh Mawar untuk berpegangan denganku. Aku heran terkadang kenapa ia lebih mempercayai diriku daripada dua orang yang sedang di belakang. Sementara itu, dirinya pun bisa rasaku untuk membuat Mawar tidak tergelincir. Di situ pula sifat dasar Reira terlihat. Ia tak ingin mengerjakan hal sepele yang harusnya dilakukan oleh awak kapal seperti kami. Di antara kami, ia yang lebih cocok di depan. Jikalau ada ular yang melintas, ia yang akan menebasnya dengan sebilah parang di tangan.


Bayang-bayang bulan jatuh di permukaan air yang mengalir. Bulan seakan berbercak, membentuk fatamorgana di tengah gurun pasir. Rasa haus yang teramat sangat membuat para penjelajah untuk segera berlari menggapai fatamorgana palsu itu. Hingga ia sampai, rasa haus tak pernah pulih dari tenggorokan jahannam. Haus menggerogoti mereka hingga mati menelan pasir. Begitulah aku saat ini. Ingin aku sentuh fatamorgana bulan di tengah sungai, tetapi aku sadar bahwasanya aku bukanlah orang bunian yang bisa berjalan di permukaan air. Belum sampai aku beberapa meter dari tepian, aku sudah mati tenggelam dibawa arus.


Air mengepakkan tubuhnya tepat di tepian seperti pantai sempit berpasir kuning. Sebelah kanan kami merupakan tanah yang dikikis oleh air sungai. Menjulang pohon di atas kami. Batangnya menjorok ke badan sungai hingga dedaunan yang kering pun jatuh terbawa arus. Pada tebing pendek bekas erosi ini terdapat banyak lubang-lubang dalam kegelapan yang samar-samar terlihat dari pencahayaan. Razel menyebutkan bahwasnya lubang-lubang itu merupakan sarang ular. Ia berani memasukkan tangannya ke dalam dengan anggapan ular merupakan hewan yang aktif di malam hari. Beruntung lubang yang ia congkel itu tidak berisikan ular. Jikalau ada ular yang belum sempat keluar, atau masih mengurusi urusan rumah tangganya di dalam, sudah pasti kami malam ini ke rumah sakit untuk mendapatkan suntik anti bisa.


Terdapat sebuah sampan yang cukup untuk kami berlima. Reira menariknya ke tepian karena sampan itu sedikit terbawa arus, tetapi masih tertahan oleh tali yang dikaitkan pada salah satu dahan pohon. Setengah lututnya basah karena masuk ke dalam air, lalu ia naik ke atas sampan itu. Ia meminta Razel untuk naik duluan, tetapi belum meminta aku, Candra, dan Mawar naik ke sana. Sampan masih berisikan air, sehingga harus dikuras dengan menggunakan ember.


Tangan Reira menjulur. Mawar naik dengan hati-hati dengan sedikit gumam panik dari bibinya. Barulah aku dan Candra naik ke atas sana. Perasaan cemas timbul tatkala gerakanku sedikit membuat diriku bergoyang. Kemudian, Reira memberikan aku dan Razel sampan dayung. Ia meminta kami berdua untuk mengikuti ritme dayungannya di depan.


“Rei, lo beneran bisa ngebawa kita ke sana?” tanyaku dengan khawatir.


Bolehlah ia bisa menyupiri kapal Leon yang besar itu. Walaupun tua, berlumur, dan dipenuhi kerang yang menempel, kapal itu masih kokoh melaju ketika di laut. Namun, kali ini entah punya siapa sampan tak bertuan ini. Ia entah darimana tahu ada sampan yang tersimpan di tepian, sehingga ia pakai sesuka hati tanpa meminta izin terlebih dahulu.


“Bisa ... tinggal dayung apa susahnya. Jangan gerak banyak-banyak. Gue sama Razel mungkin masih bisa berenang. Tapi buat kalian, gue enggak mau manggil tim SAR buat evakuasi.”


“Serem amat kalimat lo,” sindir Candra.


Reira menoleh ke belakang. “Tanyain sama Razel, sungai ini kayanya lebih deras daripada laut.”


Kodeku kepada Razel meminta jawaban. Dirinya mulai mendayung seiring dengan gerakan Reira. “Iya, kalau dilaut relatif tenang. Tapi, liat dulu cuaca. Bedanya, di sini derasnya lebih parah. Di laut cuma masalah ombak.”


Kapal bergerak ke pulau kecil di tengah sungai yang sangat lebar ini. Gerakan tangan yang diayunkan selaras dengan Reira di depan. Razel paling belakang bertugas untuk mengatur arah sampan bergerak. Sementar aku dan Reira memberikan dorongan dari gerakan dayung. Cemasku memuncak tatkala kami sudah di tengah. Sebagaimana yang telah dikatakan, sungai ini beraliran cukup deras sehingga gesekan air ke badan sampan menimbulkan bunyi gemuruh menyeramkan. Bagiku saja mungkin menyeramkan, sedangkan yang lain biasa-biasa aja. Atau, Mawar dan Candra berusaha menyembunyikan rasa cemasnya itu.


“Nah, kita sampai. Semudah itu, kan?” Reira tegak di ujung sampan sehingga kami dibuat bergoyang.


Sampan mulai bergesek dengan pasiri di bawah, pertanda air sudah dangkal di sekitaran sini. Hal itu dibuktikan oleh Reira yang meloncat ke bawah. Air hanya sebatas betisnya. Dengan sekuat tenaga Reira menarik sampan itu agar semakin ke tepian, lalu menancapkan pancang kayu tepat di daratan sebagai penyangga sampan ini.


Barulah kami turun semua untuk menenangkan diri bahwasanya kami sudah sampai, terutama untuk diriku sendiri.


Tenda di bangun jauh ke tengah pulau delta yang tumbuhi oleh pohon kepala dan rerumputan pendek. Aku melihat kerbau-kerbau berkeliaran di sekitar sini. Entah siapa yang punya, mereka dibiarkan begitu saja. Pantas saja rumput di sekitar pendek seperti lapangan bola. Terdapat pula galian kubangan kerbau yang berlumpur dan dipenuhi oleh lalat. Reira meminta kami untuk berjarak dari kubangan kerbau itu.


“Ini bukan pulau, tapi endapan pasir yang lama kelamaan jadi pulau. Lihat, di sini ditumbuhi pohon.” Reira menunjuk ke tengah yang ada pohon kelapa. Tangannya menancapkan kayu penyangga tenda. Sementara itu, aku berjongkok di sampingnya untuk memerhatikan.


“Gue heran dari mana lo tahu tempat ini. Tiba-tiba aja ngajakin ke sini, kaya udah pernah,” balasku.


“Hey, Bang Ali itu selalu cerita tentang kampungnya sama gue. Yang paling sering itu adalah pulau ini. Dari dulu sih gue pengen ke sini cuma buat kemah, tapi jauh banget. Inilah momentum yang tepat.


“Selalu aja begini, ya ... gue enggak pernah lo biarin buat tidur nyenyak.”


“Hahah ... tidur itu lemah. Tapi tidur itu perlu.”


“Nah, lo berarti lemah, dong.” Aku berdiri untuk melihat Candra dan Razel ada di mana.


Mereka diminta oleh Reira untuk mencari cacing di dalam tanah. Mereka ingin memancing untuk makan di larut malam. Api juga sudah dihidupkan oleh Mawar.


“Ya, memang gue lemah. Tapi, untuk kali ini gue enggak mau jadi orang lemah.”


Aku menggapai rambutnya, lalu mengelusnya dengan lembut. “Iya, Reira yang kuat kaya Hercules. Lo itu setengah Poseidon dewa laut. “


“Lo itu setengah Hades, dewa neraka.”


“Parah banget, ya ... hahahah ....”


“Gue ke tenda dulu ya ngambil handphone.” Aku menepuk pundak Reira.


Wanita itu mengangguk. “Iya ... sekalian lihat Mawar. Gue curiga dia dicuri hantu.”


Sentilan jemariku mengarah tepat ke bibirnya dengan lembut. “Itu mulut perlu gue cuci?”


Candra dan Razel tertawa ketik aku melakukan hal tersebut.


Sedari tadi Mawar berdiam diri di tenda kemah. Sempat ia duduk di dekat mereka memancing, tetapi kembali lagi ke dalam tenda dengan alasan yang sama, yaitu mengambil handphone. Namun, wanita itu tak kunjung menampakkan dirinya sesuai janji untuk kembali lagi. Beralasan Reira mengkhawatirkan hal tersebut meskipun dengan alasan yang tidak masuk akal.


Aku membuka tirai tenda. Terlihat kotak P3K terbuka di hadapan Mawar. Ia duduk bersila, terang oleh lampu baterai yang dihidupkan. Tatap matanya mengarah padaku tatkala aku menampakkan kepala. Aku heran, dahinya mengernyit sembari memegang jemarinya yang naik ke atas.


“Lo kenapa?” tanyaku. Aku segera mendekat.


“Enggak apa-apa, kok.” Ia memasukkan kembali sebuah benda berbentuk wadah pasta gigi itu, lalu menutup kota P3K.


Aku diam sesaat. Ada yang tak beres dengan tangannya. Setelah aku tarik paksa tangannya tersebut, terlihatlah tangan Mawar yang merah melepuh dibagian telunjuk. Bekas bakaran tersebut mulai menggembung besar, sehingga mencoreng mulus tangannya itu.


“Lo tadi kepercik api ya?” tanyaku.


Ia mengangguk pelan. “Iya, waktu gue lagi buat api.”


Kembali dibuka kotak P3K tersebut, lalu mengeluarkan isi gel yang biasa dioleskan pada bekas bakaran. Sebuah kain kassa aku potong seukuran jemarinya untuk penutup luka.


“Hat-hati ...,” ucapnya padaku. Tanganya terasa bergetar tatkala aku lilitkan kain kassa tersebut.


“Ini udah hati-hati.” Aku mengikatnya dengan ikatan yang tak begitu kuat. “Lain kali, kalau ada masalah ... bilang-bilang ke kami. Lo jangan ngenyembunyiin kaya gini. Kita ke sini sama-sama.”


Mawar hanya mengangguk, terdiam dengan waktu yang cukup lama. Sementara itu, aku memberesi kota P3K tersebut.


“David,” panggilnya.


“Iya ...”


“Boleh enggak lo megang tengan gue sekali lagi,” pintanya.


Aku tersentak kemudian. Tatap wajahnya itu bercahaya oleh pantulan lampu, menampakkan diriku dari pupilnya yang hitam.


“Buat apa?”


Tak sempat aku menolak, ia menggenggam tanganku. Gerakannya memasuki celah-celah jemariku, sanggam seperti gembok yang terkunci kuat. Dinginnya tangan Mawar menjalar ke ujung kuit, memasuki suasana yang ada di dalam kemah.


“Lo ada masalah?” tanyaku untuk memastikan.


Ia menggeleng. “Sepertinya gue udah nemuin jawaban yang selama ini gue cari. Gue enggak bakalan ngecari jawaban itu dari lo karena jawaban itu adalah lo sendiri. Gue suka sama lo.”


“Mawar, ini enggak seperti yang gue kira. Ini sebuah kesalahpaham―”


Wajahnya mendekat dengan cepat, mengincar kasarnya ujung bibirku yang tergigit oleh jawabannya tadi. Mata Mawar yang penuh dengan harapan itu terpejam. Seperti diam yang bergerak di kegelapan malam tatkala hantu meraba dirimu, seperti itu sunyi yang Mawar tunjukkan padaku. Tangannya memasuki celah bajuku, menyentuh dadaku dengan lembut. Dada tak bisa berkata apa-apa kecuali berdebar seperti dentuman meriam perang pasukan Kerajaan Ottoman melawan Kekaisaran Rusia. Bibirnya menarik ujung bibirku, memijatnya dengan napas yang tidak beraturan. Merayap hantu itu ke telinga, ke leher, hingga aku jatuh perlahan ke pelukannya yang penuh dengan insting hidup. Insting hidup yang keluar bagaikan monster lapar yang memangsa seekor kijang bodoh. Lalu, kijang bodoh itu pun tak bisa berbuat apa-apa kecuali jatuh ke dalam ketakutan yang luar biasa. Ketakutan yang aku rasakan kini tak bernilai apa-apa, tatkala Mawar semakin membawaku jatuh dalam ritme yang ia mainkan.


Pernah aku bilang, setiap pria itu sama gila dan bodohnya. Ia seperti menekan sebuah tombol yang selama ini aku tahan tatkala kami bersama di villa Bu Fany. Tombol itu memerah, tanganku merayap. Ia memejam jatuh dengan napas yang berat.


***