Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 161 (S2)



EPISODE 161 (S2)


Mengapa dia lagi? Sebenarnya ada apa di antara Reira dan pria itu? Aku jarang sekali melihat Reira ditelpon oleh seorang pria, kecuali diriku dan teman-teman gilanya di Mapala. Sebagai orang primitif dalam bidang komunikasi, wanita itu lebih suka didatangi langsung daripada dihubungi via telepon, kecuali hal tersebut benar-benar penting untuk disampaikan segera. Begitulah Reira apa adanya, tetapi aku menangguhkan pertanyaan untuk hal yang satu ini.


Memang, aku telah bersalah atas kejadian kemarin dan kesalahan terbesarku bukanlah dari melakukan hal tersebut, melainkan membuat sebuah rahasia penting di antara kami. Rahasia ini merupakan dosa terbesar sebagai konsekuensi untuk tetap saling terbuka, apa pun masalahnya. Aku pernah mengatakan padanya mengenai privasi yang tak bisa dimasuki ranah masing-masing, tetapi ini bukanlah hal yang bersifat privasi. Sifatnya rahasia, tetapi dalam kelabu dusta yang mengelabuhi.


Ujung mataku tertutup tatkala Reira mematikan layar handphone miliknya. Segera aku menikmati perjalanan ini hingga sampai tujuan, tanpa kata-kata dan hanya bersandar. Sesekali aku tertidur dangkal, tetapi terbangun kembali dalam sentak diri yang tak sengaja. Bang Ali benar-benar membawa mobil ini cepat sekali. Setiap aku membuka mata, Mawar selalu melihatku dari samping. Masih dengan tatapan datar tatkala kami di acara kemarin, kami tak lagi membagi senyum satu sama lain. Lalu, dirinya memalingkan wajah ke depan sembari melipat tangan di dada.


Diam memaku kami satu per satu untuk saling tak bicara semenjak hari kemarin. Entahlah, mulut kami telah disumbat dengan rahasia. Api yang dimainkan memang bernyala kecil seperti lilin yang hampir padam, tetapi cahayanya terang sehingga harus kami tutupi. Aku merasa serba salah atas semuanya. Tak tahu harus berbuat apa diri ini, kecuali merahasiakan.


Akhirnya, kami sampai di Kota Pekanbaru yang panas. Kami menyempatkan diri mampir ke rumah makan Minang tepi jalan lintas di mana langganan Bang Ali ketika menjadi supir travel. Setelah itu, kami bergegas pergi menuju bandara.


“Makasih banget, Bang.” Reira mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya. “Ini buat main di jundul.”


“Eh, muncung apa muncung itu?” Bang Ali menyambut uang pemberian dari Reira. “Dari mana lo tahu istilah itu?”


“Kemarin kami ketemu supir truk yang ngantarin kami di sana.”


“Kalian berangkat jam empat, bukan?” tanya Bang Ali.


Reira mengangguk. “Iya, lo enggak usah nungguin kami. Pergi aja pulang segera. Istri menunggu di rumah.”


“Mana bisa gitu, dong ....”


Pintu kami terbuka satu per satu. Reira tetap memaksa untuk melarang Bang Ali untuk melepas mereka sampai di dalam. Perdebatan kecil pun dimulai dari dalam mobil. Aku melepaskan saja mereka berdebat satu sama lain, sementara aku mengumpulkan tas-tas mereka yang berat.


“Ih, kalau si Redi udah gue bogem lo!” Bang Ali keluar dari mobil. “Oke-oke ... gue enggak nungguin kalian.”


Tangan Reira melipat ke dada. Ia mengangguk pelan kepada Bang Ali yang kesal. “Nah, gitu dong. Jangan bikin drama-drama kayadi film deh ngelepasin orang yang lo sayang di bandara. Ingat, kita bukan berpisah. Hanya jasad yang berjarak. Jadi, lo di sini aja, enggak usah ke dalam.”


“Peyuk gue, dong ....” Suara Bang Ali memelas manja kepada Reira.


“Sini kakak peyuk ....”


Kami hanya bisa menghela napas ketika melihat hangatnya persahabatan mereka. Bang Ali tersenyum lebar seperti seorang kakak yang akan meninggalkan adiknya. Tidak lama kemudian, kami menyalami Bang Ali seraya berterima kasih karena sudah berbuat baik. Ya, aku pun masih kesal sebenarnya karena Bang Ali terlalu ngebut di jalan.


“Parah banget gue ya, udah punya bini, main peluk anak orang. Hahahah ....” Bang Ali tertawa. Ia mengelus rambut belakangnya.


Aku mengangguk. “Sekali lagi makasih, Bang. Kami pergi dulu.”


“Iya, sampaikan salam gue sama Dika. Semoga lancar sampai hari H.”


Jempolku tertunjuk padanya, lalu kami berbalik arah untuk segera menunggu jadwal keberangkatan. Bang Ali tetap berdiri di sana, terlihat dari pantulan body mobil yang mengkilap. Berdirinya kokoh sembari menghisap tembakau yang melayang-layang asapnya. Tak ingin Reira jika Bang Ali ikut ke dalam karena semakin terbayang bahwasanya tak lama lagi dirinya dan Bang Ali akan berpisah panjang. Bang Ali sudah memiliki hidup baru bersama seorag wanita yang dicintai. Memang, kami akan bertemu dengannya ketika jadwal wisuda. Namun, setelah itu kami benar-benar akan berjumpa lagi dalam waktu yang tak akan pernah kami bisa kira.


Waktu titik kami berpisah pun tiba. Kami tak tahu apakah Bang Ali masih di sana atau sudah berangkat pulang, yang jelas kini kami sudah bergegas masuk ke pesawat. Lama perjalanan hampir sama dengan yang kemarin. Aku tidur selama perjalanan karena nyamannya udara pesawat yang sejuk.


Sekitar jam delapan kurang, kami tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Aku hanya mengikuti langkah mereka akan ke mana karena aku tak tahu bagaimana proses setelah sampai di bandara. Jujur, aku cukup kampungan untuk soal ini.


“Siapa yang akan menjemput kita?”


Kami terus berjalan menuju area penjemputan. “Redi ... gue udah nyuruh buat ngejemput pakai mobil orangtua dia.”


“Lo ini serba bisa nyuruh-nyuruh orang, ya? Hahah ....”


Reira menggandeng tanganku. “Iya, dong. Itulah enaknya jadi seorang kapten.”


Tengah asyik melangkah, entah badai apa yang membuat Reira berhenti secara tiba-tiba. Ia menatap panjang sebuah mobil sport 4 WD mewah yang ada di tepi jalan terminal. Genggamannya semakin kuat seiring beberapa orang keluar dari mobil tersebut. Memang, aku tahu persis mobil Pak Bernardo berjenis yang sama, tetapi punya beliau memiliki plat dinas, bukan plat pribadi seperti itu. Gentar mataku ketika tiga orang orang dewasa bertubuh tegap tengah memandang sinis kepada kami.


“Ngapain mereka ke sini?” tanya Reira pada diri sendiri.


Rambut klimis yang necis ia tunjukkan dengan paduan setelan kemeja, seperti kaum-kaum parlente kelas borju. Lenggok jalannya tenang dari sepatu pantofel miliknya yang berbunyi tatkala beradu dengan lantai. Tak seperti wajah jenaka yang aku lihat sewaktu di rumah Reira, kini ia lebih dingin yang aku kira. Nauren segera menghampiri kami, diikuti oleh beberapa orang dewasa berperawakan bodyguard tepat di belakang. Seketika mata kami saling beradu tatkala ia sudah di hadapan.


“Lo kira lo udah di atas angin?” tanya Nauren seketika.


“Apa?” Aku memerengkan kepala. “Maksud perkataan lo itu apa?!”


Tangan Reira seakan melindungiku agar tidak mendekati pria itu. Namun, aku sudah terlanjut untuk tepat beradu dahi dengannya.


“Haha ... Dave, lo bodoh. Sungguh manusia paling bodoh yang gue temui selama ini.” Sesaat ia beralih pandangan ke arah lain, lalu kembali lagi ke mataku dengan tangan yang menarih kerahku. “Cukup! Lo tinggalin Reira sekarang karena dia milik gue.”


Tenagaku tak sanggup untuk melepaskan genggaman tangannya pada kerahku. Sementara itu, Reira terus berusaha untuk melepaskan kami. Aksinya Reira gagal ketika ketika orang tersebut menarik paksa Reira untuk segera menghindar. Reira pun meronta sesegera mungkin, hingga Razel menghadang mereka dengan sigap. Razel tetaplah Razel yang baru beranjak dewasa. Tenaganya tak cukup untuk melawan orang dewasa yang lebih kekar darinya.


Aku menatap Reira. “Apa yang terjadi?!”


Ia sama sekali tidak menjawab. Wajahnya seakan tak ingin menatapku.


“Lo lihat? Apa lo lihat dia peduli? Dave, lo itu hanya sekian dari banyak pria yang gue izinkan untuk dekat dengan Reira. Lalu, lo hanya satu orang dari mereka yang gue izinkan untuk membagi cinta dengan Reira. Selagi itu izin dari gue, Reira adalah milik gue. Bukan lo ....” Ia melepaskan genggamannya dari kerahku. Lembut tangan jahatnya itu memperbaiki posisi kerah hingga rapi kembali. “Dia milik gue sebelum ketika gue pergi untuk waktu yang lama. Gue izinkan dia cari pengganti, hingga gue kembali lagi. Jadi, saatnya sekarang gue ngambil sesuatu yang dulu milik gue. Lo udah terlalu baik buat jagain Reira.”


Aku segera menatap Reira yang menteskan air mata di tengah kekangan tangan-tangan besar. “Rei, jelasin semua ini sama gue. Lo lagi enggak ngerjain gue, kan?!”


Sekali lagi, Reira tak mampu untuk menjawabnya. Ia hanya mengalihkan pandangan sembari menangis dengan tetes air mata yang deras, seakan aku terlalu hina untuk ditatap olehnya.


“Udah jelas, semuanya? Lo tahu foto yang ada di dompet itu? Itu sama sekali bukan foto biasa. Itu foto sewaktu kami jadian sejak lama. Selamat, lo ditipu oleh penipu ulung.”


Tarikan napasku pendek, hingga tepat menghujam kepalanya yang sombong itu. Aku tak peduli dirinya anak siapa, yang terpenting diriku hanya ingin melampiaskan amarahku padanya. Candra tak ingin perkelahian ini lebih lanjut lagi, hingga dirinya menahan tubuhku untuk mendekat. Perkelahian ini terlalu mengundang perhatian pengunjung sedari tadi, hingga aku melihat petugas keamanan mulai mendekat.


“Segera lo lupakan Reira karena lo enggak bakalan bisa ngedapatin hati dia dengan sempurna. Keluarga kami sangat dekat dan saling menyetujui. Alasan kenapa Pak Bernardo enggak sekali pun ngelihat lo adalah itu sendiri. Karena ia hanya tahu kami berpacaran sejak lama, bukan lo.” Ia menyapu pipi yang aku hantam menggunakan tangannya. Matanya kemudian menatap pada Reira. “Ayo, Rei ... Papa udah nunggu di rumah.”


Satu hal membuat hatiku retak berkeping-keping ke dalam palung yang paling dalam adalah ketika anggukan setuju Reira bergerak untuk diajak pulang. Segenap jiwaku hilang tatkala paras wajah manisnya menatap pria lain di dalam satu titik, seakan tidak ada yang normal di dalam hidup ini. Padahal, baru saja sepeluh menit yang lalu kami berpegangan tangan untuk memadu kasih, hingga momen di akhir melepaskan itu semua.


Aku mengambil ancang-ancag berlari. Ke mana kapten yang selama ini aku kenal? Ia sama sekali tak seperti Reira yang tak ingin dipengaruhi oleh dominasi mana pun. Namun, ia seperti menjadi sebuah boneka kayu yang digerakkan oleh seutas tali, dibawa bergerak oleh sang majikan. Ia bukanlah Reira yang aku kenal. Wajahnya tak segarang lautan biru yang mengamuk setiap saat, tetapi tak ubah layaknya seorang wanita lemah yang selama ini aku tertawai oleh kebodohannya.


Aku memanggil penggalan namanya. Namun, sombongnya hati telah merubah semua. Apakah ini semua adalah bagian dari masa lalu Reira yang ia sembunyikan dariku? Apakah in bagian dari sisi privasi yang selama ini ia jaga? Ia telah berjanji untuk menceritakan masa lalu dirinya di atas rumah sakit tepat pada helipad keluarga Dokter Alfian. Jika aku sampai di titik itu, apakah hari itu pula yang menjadi akhir apabila seluruh misteri terkuak semua?


Ia adalah milikku, bukan orang lain. Pernyataan itu tak sebanding dengan anggukan setuju dari Reira yang menolak mentah-mentah eksistensi diriku. Aku yang ada, dibuat semacam tak ada.


Tangan Mawar menahanku untuk pergi, tetapi diriku lebih kuat darinya. Mawar tertarik mengikuti gerak tubuhku yang cepat, hingga dirinya terseret di atas lantai. Aku kembali memanggil nama Reira dengan kuat. Ia sudah hampir masuk ke dalam mobil Nauren. Salah satu dari pengikut Nauren menghadangku. Rio sama sekali tak pernah mengizinkan aku untuk menghadang seseorang karena sudah pasti diriku kalah. Aku pun terpental ke belakang, hingga mereka segera masuk ke dalam mobil. Mobil bergegas dengan cepat pergi, meninggalkan jejak-jejak hitam di atas jalan terminal.


Aku tertunduk menangis meratapi realita. Jika benar aku dibohongi selama ini, apakah ada hati yang benar-benar sanggup melakukan itu? Sudah sekian momen yang kami lalui, kenapa ia sanggup melakukan hal ini?


Pelukan dari Mawar tak memberiku jawaban. Ia lebih hangat dari yang aku kira.


“Sudahlah ... biarkan ia pulang,” ucap Mawar dengan pelan.


Tanganku mendorongnya dengan kuat. Ia tersungkur di atas lantai dengan menindih sakit pada tangan. Untuk pertama kali seumur hidupku, aku melanggar janji yang pegang selama ini, yaitu memperlakukan lembut seorang wanita. Namun, amarahku terlalu mengambil alih tubuhku.


“Lo kan dalang semuanya?! Bilang Mawar!”


“Enggak ada―” Mawar terdiam ketika aku kembali berteriak.


“Lo jahat Mawar!”


Candra terus menahanku untuk menjauh. Pikiranku sekarang tak lagi memandang seorang teman. Candra pun aku dorong untuk menjauh. Tak ada lagi kata percaya karena percaya itu sudah hancur beberapa waktu yang lalu. Aku berlari menjauhi mereka, tanpa tujuan, tanpa maksud, tanpa siapa-siapa. Hanya gelapnya malam yang menuntunku untuk pergi.


***