Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 48 (S2)



EPISODE 48 (S2)


 


Ada banyak makna yang tersimpan di dalam kehidupan. Makna-makna tersebut terselipkan di dalam setiap langkah umat manusia yang menapaki bumi tua ini. Saking tuanya bumi, tanah pun kini ikut mengeriput, walaupun bukan seirama dengan kerut kening wajah manusia. Tanah mengeriput menjadi beton-beton dan tonggak-tonggak bangunan yang mencakar langit, membuat manusia begitu kerdil dan sangat rendah. Manusia begitu hina tak bisa mengikuti alur menuanya bumi, terkatung di dalam beban-beban yang memenjarakan manusia itu sendiri.


Benarkah manusia itu adalah binatang?


Dalam teori evolusi, manusia berasal dari monyet yang berubah dalam jutaan tahun, hingga terwujudnya manusia yang lebih maju, yaitu homo sapiens. Pola pikir manusia yang ini tak lagi seperti binatang yang hanya hidup hanya untuk mencari makan, menyambung napas, serta menyalurkan hasrat seksual.


 


Manusia mulai berpikir untuk menghancurkan batu menggunakan kapak, memasak ikan menggunakan bara api, hingga yang paling menyebalkan yaitu menyalurkan seksual aman dalam bentuk mastrubasi. Kenapa aku membahas hal ini? Karena binatang tidak mungkin melakukan hal demikian untuk hasrat seksualnya, selalu mencari pasangan.


 


Maka, kita menelisik kembali ... apakah manusia itu adalah binatang?


Ada yang bilang, manusia itu merupakan binatang yang dapat berpikir. Maka, pernyataan itu bagiku adalah salah. Tidak ada binatang yang dapat berpikir. Karena binatang tidak dilengkapi dengan pikiran, maka Tuhan anugerahkan binatang dengan sebuah insting untuk bertahan hidup. Namun demikian, manusia pun juga memiliki insting. Bayangkan saja orang yang menderita skizofrenia berat, ia tidak lagi menggunakan pikirannya untuk bertahan hidup, hanya tertinggal insting untuk bertahan hidup itu sendiri yang ada. Maka dari itu, orang gila pun masih bisa mencari makan, buang hajat, serta menyalurkan seksual. Siapa bilang orang gila tidak bisa melakukan hal yang seperti itu?


 


Sekali lagi aku tanyakan pada kalian ... apakah manusia itu adalah binatang?


Sudah berapa kali aku bertanya hal ini pada kalian. Bukan untuk menghina eksistensi manusia sebagai makhluk yang paling sempurna, hanya saja aku ingin ada orang yang bisa berpikir melalui kemampuan logikanya.


Bagiku, manusia adalah manusia yang berpikir maupun yang tidak bisa berpikir. Mungkin kalian mempunyai defenisi masing-masing untuk itu, aku tidak mempermasalahkannya. Karena manusia bisa berpikir, maka ia akan bisa memikirkan hal-hal abstrak yang akan terjadi selanjutnya. Binatang hanya bisa melindungi diri apabila bahaya sudah ada di depan mata, tidak abstrak. Contohnya saja, seekor rusa hanya lari ketakutan apabila sudah tampak singa di depan mata. Tidak ada rusa yang memilah wilayah apakah di sana ada singa atau tidak, sungai berbuaya belasan pun masih juga dihantamnya.


Namun, manusia punya pikiran untuk memprediksi hal tersebut. Tidak lagi menunggu banjir untuk pindah rumah, melainkan untuk tidak menebang pohon sembarangan agar tidak terjadi banjir. Kemajuan yang sangat luar biasa sekali dari para binatang yang tidak pernah menebang pohon hanya untuk keserakahannya. Kemajuan yang luar biasa sekali karena binatang tidak pernah menghancurkan batu dengan kapak, hingga meruntuhkan sebuah bukit besar. Wah ... manusia maju sekali.


Begini, Kawan ... jika benar teori evolusi itu benar, manusia berevolusi menjadi homo sapiens yang memiliki pemikiran lebih modern, maka manusia pun sekarang sedang menuju kemunduran itu sendiri. Manusia jaman dahulu hanya menebang pohon untuk membuat rumah kecil agar tak tersengar matahari dan gemeretak dingin hujan di malam hari, kini manusia yang katanya berpikir modern itu pun bisa menebang pohon sebegitu banyaknya untuk membuat kertas-kertas atau gedung-gedung, dan parahnya lagi kertas itu pun dibagikan dengan tulisan himbauan untuk tidak menebang pohon. Manusia sangat maju sekali dari binatang, makanya aku tak ingin menyamakan manusia sebagai binatang, walaupun bisa berpikir sekali pun.


Makna-makna, hanya itu yang bisa diprediksi oleh manusia. Dengan makna-makna, manusia masih bisa hidup hingga saat ini dan tidak punah seperti dinosaurus dan harimau Jawa.


Aku merenungi ini tatkala menjemput Mawar ke kediamannya, setelah Reira memintaku agar sekalian membawa Mawar menuju rumah sakit di mana mamanya Reira dirawat. Reira kini sedang di dalam fase menangkap makna-makna tersebut, betapa pentingnya kehadiran orangtua, walaupun ia sangat benci kepada papanya itu. Ia sedang memprediksi hal yang mungkin terjadi selanjutnya―aku harap ia melakukan hal itu―hingga ia lebih bisa membangun hubungan yang lebih baik dengan papanya. Karena, ia akan tahu kelak apa itu rasanya kehilangan. Aku tidak ingin Reira gagal menangkap makna-makna itu, hingga dirundungi oleh penyesalan manusia. Walaupun ia alien, aku harus tetap menasehatinya sebagai manusia yang sedang berusaha memanusiakan diri.


Mawar tersenyum di muka rumah dengan lambaian kecil pada tangannya. Wangi parfum yang sama tercium seperti ketika aku di mobil bersamanya tatkala itu. Vespa tahun lima puluh milikku ia perhatikan dengan seksama dari mata kecil beralis lentik bak gelombang laut pantai Manggar. Ia menyambut helm bogo yang aku cadangkan untuknya, dengan senang hati ia duduk di belakang dengan menjaga jarak sebisa mungkin.


“Muka lo bengong, mikirin apa?” tanya Mawar dengan memajukan wajahnya di belakangku.


“Hmm ... cuma pusing mikirn teori evolusi Charles Darwin. Kenapa bisa manusia dari monyet ....”


Ia tertawa kecil. Lagi-lagi aku lihat ia tak menjadi dirinya sendiri yang bisanya berdiam diri. “Itu bukan teori sains, melainkan teori filsafat. Tesisnya tidak bisa diuji, kalau Charles Darwin kuliah di sini, dia enggak bakalan wisuda.”


“Oh ... lo seperti merasa lebih pintar dari Charles Darwin.” Aku mencoba menggas motor berkali-kali.


“Bukan begitu, tapi bagaimana bisa membuktikan manusia berasal dari monyet? Monyet pun enggak bakalan ingin disamai dengan manusia.”


Aku menggelengkan kepala. “Ah ... jadi pusing gue. Ayo pergi ....”


Seakan tidak ingin melekat, ia letakkan tas satu talinya tersebut di antara kami, persis seperti aku bawa ia dengan motor King tua milik Pak Cik Milsa. Kami pun menelusuri jalanan Ibu Kota yang macet minta ampun, berbeda dengan jalanan Manggar yang lengang dan berwangikan tepi laut. Kiri kanan yang kemarin hanya dihuni oleh rumah-rumah sederhana dan desiran pasir yang disapu ombak, kini berganti dengan gemerlap lampu gedung megah dan juga klakson pengendara yang tidak sabaran. Perbedaan yang kontras sekali, seakan aku sudah bertahun-tahun meninggalkan kota ini.


Kami sampai di parkiran rumah sakit empat puluh lima menit kemudian. Ia ucapkan terima kasih dengan helm yang sudah aku pinjamkan setelah ia kembalikan padaku.


“Lo emang enggak punya kendaran atau bagaimana?” tanyaku.


Ia menaikkan kedua alis. “Gue di rumah cuma punya satu mobil, tidak ada motor. Mobil dipakai sama Kakak.”


“Trus, bagaimana lo pergi kuliah? Susah dong ke sana-sini dianterin mulu.”


“Hahah ... emang gue tipe orang yang suka ke sana-sini? Gue jarang tuh nongkrong, temen aja dikit.” Ia alihkan wajahnya ke spion vespaku untuk bercermin. “Gue pergi kuliah pakai sepeda. Lebih sehat.”


“Wah, sangat ramah lingkungan sekali,” pujiku ketika turun dari vespa. “Gue punya sepeda, sekarang udah berkarat di gudang.”


“Sayang sekali. Bersepeda itu menyenangkan.”


Kami melangkah menuju depan rumah sakit. Di sana aku dapati Candra dan Bang Ali sedang duduk seperti preman yang sedang ingin memalaki pejalanan kaki. Apalagi Bang Ali hanya mengenakan kaos hitam dan jeans robek di lutut. Wajah pun sangar dengan tatapan dalam, walaupun ia orangnya kocak minta ampun. Mereka berdua menghela napas ketika melihat kedatangan kami berdua. Sepertinya mereka sudah menunggu lama.


“Lama banget?” tanya Candra.


“Ya dikira motor gue sekali engkol langsung hidup?” tanyaku balik.


“Sumpah kami berasa jadi pohon di sini,” balas Bang Ali.


Aku mendahului mereka berdua, sedangkan Mawar mengikut di belakangku. “Ayo, deh ... temui Reira.”


Rumah sakit yang bertingkat seperti hotel ini kami naiki dengan lift sesuai tepatnya lokasi ruang inap mamanya Reira berada. Kami mengelilingi setiap koridor untuk mencari lokasi ruang yang dimaksud. Tatkala kami melewati koridor, terdapat rombongan penjagaan yang sedang menuju dengan arah berlawanan. Kami terpaksa menghindari ketepi karena penjagaan tersebut. Alangkah terkejutnya kami tatkala melihat wajah pria dalam penjagaan itu begitu familiar di ingatan.


Kami pun dibuat saling memandang satu sama lain tatkala iring-iringan penjagaan tersebut memasuki lift.


“Ketua DPR, *** ....” Bang Ali menepuk punggungku dengan kuat.


“Iya ... kok bisa, ya?” tanya Candra dengan polos.


“Kok bisa? Eh, papanya Reira itu bukan sembarangan orang,” balasku padanya.


Pikiran kami masih terkagum-kagum dengan kehadiran orang yang sangat penting di negeri ini. Hingga beberapa saat kemudian, tampak wajah wanita berambut terikat yang baru saja berbelok dari koridor selanjutnya. Ia didampingi oleh seseorang berompi putih khas dokter dan stetoskop yang masih tergantung di lehernya.


“Woi ... akhirnya kalian datang,” teriak Reira.


Aku mengernyitkan dahi. Bagaimana bisa ia berteriak di koridor yang sunyi ini, serta suasana yang seharusnya tidak memungkinkan bagi dia untuk berteriak seperti itu.


“Wai-woi ... wai-woi ... ini rumah sakit, Rei ... bukan fakultas,” balasku.


“Hehehe ....” Ia menggaruk belakang kepalanya. “Habis, gue baru seneng baru ngedebat Ketua DPR RI, kenapa gaji guru honorer kalah sama UMR pramuniaga sebuah toko. Padahal mereka mencerdaskan bangsa.”


“Bagaimana bisa Ketua DPR RI datang ke sini dan parahnya lagi lo ajak debat?” tanya Bang Ali dengan nada tak percaya.


Aku menatap dokter yang berada di sampingnya. Ia hanya tersenyum melihat kami berdebat.


“Oh, iya ... lo belum tahu kan, Bang. Gue anak dari Arnorld Bernardo, ketua salah satu komisi di DPR. Makanya dia bisa aja datang ke sini.” Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Bang Ali. “Tapi, jangan bilang siapa-siapa ya, Bang. Terutama anak Mapala kampus.”


Bang Ali menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Bagaimana bisa gue berteman sama anak ketua komisi DPR dan dia yang paling semangat kalau demo di DPR? Haduh ... gue kira lo anak kos kaya kami, Rei.”


“Yang menjadi pertanyaan ... lo harusnya bersedih hati dong waktu pertama kali kami lihat di sini,” balas Candra.


Wanita itu malah tersenyum. “Gue seneng karena mama udah bangun di ICU. Gue bersyukur banget ngelihat jari Mama udah gerak. Oh, iya ... kenalin ... ini Dokter Alfian, dokter spesialis paru yang gue bilang waktu itu.”


Dokter muda itu tersenyum padaku. Lalu, menjulurkan tangannya untuk bersalaman.


“Gue Alfian, kebetulan temannya Reira. Maaf-maaf kata kalau dia agak nyusahin, hahahah.”


“David,” balasku singkat. Aku masih memerhatikan detail wajahnya tampan seperti dokter-dokter selebritas yang sering tampil di acara kesehatan.


“Alfian ... ini David yang gue ceritain ke elo. Dia pacar gue.” Ia memandang padaku setelah aku dan dokter itu berlepas tangan. “Waktu gue ceritain kalau gue pernah tinggal kelas, ada seorang anak yang bikin gue makin enggak mau pergi sekolah gara-gara enggak masuk di sekolah yang sama. Inilah orangnya ....”


Aku terkagum memandangnya. Ternyata ia seseorang yang pernah membuatku penasaran. Kemuliaan hatinya yang turut membimbing anak-anak remaja yang kurang beruntung itu, selaras dengan cerita Reira mengenai masa lalunya yang tak ingin pergi ke sekolah. Namun, aku lebih tertarik kepada kharisma yang dimiki oleh dokter muda tersebut. Postur tubuhnya yang tinggi dan berotot―terlihat dari jas dokter yang ketat dibagian lengannya―membuatku sedikit merendah diri.


Gantengnya beda jauh dari gue, ya ....


Sementara itu, Bang Ali kembali menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


“Seorang Reira pernah tinggal kelas?” tanya Bang Ali dengan nada yang lucu.


Kami tertawa bersama-sama setelah ia bertanya tentang hal itu, terutama ketika Reira mengapit leher pria sangar itu dan menggosok kepalanya dengan kepalan tangan Reira. Sebegitulah dekatnya Reira dengan Bang Ali. Tak heran ia telah menganggap Bang Ali sebagai saudara lelakinya sendiri.


***