
EPISODE 49 (S2)
Malam ini kau berharap Reira akan memelukmu dengan hangat karena rasa haru atas kehadiran kami, maka harapan itu sudah salah besar. Ia malah tertawa lepas bercanda dengan Bang Ali seperti kawan sama besar, padahal umur mereka tentu saja berbeda jauh. Aku pun biasa melihat hal tersebut dari mereka. Selain itu, ia malah kegirangan setelah berhasil mendebat ketua DPR yang sempat datang dengan membahas bagaimana nasib guru honorer nan tunggang langgang membangun pendidikan di desa-desa terpencil. Jangankan di desa terpencil, di perkotaan pun guru honorer tengah bersusah payah membangun hidup dengan gaji kecil dan beban pekerjaan yang berat.
Begitulah Reira dengan segala kejutan yang ia berikan. Tidak akan ada satu pun yang bisa menebak hal yang akan ditunjukkan selanjutnya. Selalu dipenuhi oleh lika-liku rahasia yang membuat lawan bicara tercengang. Bahkan, Bang Ali pun sama sekali tidak tahu jika Reira berasal dari keluarga yang berada, oh bukan ... sangat berada. Ia hanya mengetahui jika Reira merupakan anak dari seorang janda sendirian yang tinggal di sebuah rumah kecil arsitektur Belanda dengan taman yang rindang di mukanya.
Wanita itu ternyata merahasiakan latar belakangnya selama ini. Aku pun paham kenapa ia melakukan hal itu. Ia tak ingin hubungan pertemanannya dengan orang lain hanya atas dasar jika ia merupakan anak orang kaya. Itulah hubungan yang palsu menurut Reira. Hubungan pertamanan haruslah berasal dari keterkaitan emosional satu sama lain, tanpa sedikit pun memikirkan latar belakang keluarga dan juga materi. Jika mereka tahu latar belakang Reira, hanya dua kemungkinan. Pertama ialah jika mereka hanya membangun hubungan palsu yang disebutkan oleh Reira, kedua ialah mereka malah menjauh karena merasa tidak cocok untuk bergaul dengan anak sepertinya.
Bang Ali mengajak Candra dan Mawar untuk mencari makan malam di sekitaran rumah sakit. Di sekitaran sini banyak bertebaran lapak-lapak makanan tepi jalan yang murah, lagi mengenyangkan. Tentu saja Candra bersemangat untuk hal itu. Aku pun meminta Mawar untuk ikut dengan mereka karena ia sama sekali belum makan malam. Sementara itu, Reira membawa aku dan Dokter Alfian untuk duduk di sebuah taman rumah sakit. Ia memilih paling sudut, tepat di bawah lampu bulat yang memancari sebuah bangku panjang untuk diduduki. Di sana Reira melintang berbaring tanpa memberikan dokter tampan itu untuk duduk.
Reira bersenandung Melayu yang terdengar asal-asalan. Familiar sekali senandung itu sering sekali diputar oleh Pak Cik Milsa di pagi hari, melalui DVD di rumahnya. Sembari memberi makan burung hias miliknya, Pak Cik pun ikut menyanyikan lagu-lagu Melayu yang dputar.
“Penyakit Jantung Koroner. Terdapat penyempitan pembuluh darah oleh lemak. Dokter masih menimbang untuk melakukan operasi. Keadaan Bu Fany mulai beranjak baik setelah bangun dari koma,” balas Dokter Alfian tatkala aku bertanya mengenai keadaan Bu Fany yang sebenarnya.
“Oh, begitu ....” Aku membuka kotak rokokku dan sedikit menjauh dari Dokter Alfian. Ia adalah dokter spesialis paru yang sangat anti dengana asap rokok. “Gue ngerokok dulu, ya. Jangan larang gue walaupun lo dokter paru-paru. Hahaha ....”
“Merokok salah satu penyebab penyakit jantung,” balas Dokter Alfian dengan tersenyum.
Aku menaikkan alisku sembari memantik api. “Jika Tuhan berkehendak, gue rela.”
“Marahin aja, Alfian. Itu anak bandel banget. Di mana berdiri, di sana dia merokok.” Reira bangun dari posisi telungkup di atas bangku panjang.
“Hahah ... salah satu orang paling bandel dibilangin adalah perokok. Banyak pasien gue yang gue larang merokok, eh tetap merokok juga. Mau bagaimana pun, itu pilihan masing-masing.”
Aku mengangguk. “Nah itu ... pilihan masing-masing. Jadi ... kalian udah berteman sejak lama, ya?”
Reira meloncat lalu memanjangkan tangannya pada leher Dokter Alfian. “Dia temen gue semenjak main masih pakai kolor. Lo kira dia anak orang kaya manja yang dikasih barang apa pun sama orangtuanya, maka lo salah. Kami sama-sama main parit waktu keci.”
“Ih ... Rei ... lo meluk gue di depan pacar lo!” Dokter Alfian melepas tangan Reira.
Aku pun tertawa, namun tidak mempermasalahkannya.
“David itu orangnya bukan yang seperti itu dengan orang yang deket sama gue karena dia tahu temen-temen gue itu siapa. Kaya lo datang ke candi, bukan berart lo harus murtad. Hahaha ....”
“Hahaha ... hubungan itu dibangun dengan rasa percaya, bukan rasa cemburu. Bagaikan rembulan yang tak pernah menyemburui bintang gemintang, walaupun terkadang manusia lebih menikmati hamburannya. Karena ia tahu, bintang hanya ada untuk malam yang hadir untuk rembulan.”
“Wow ....” Ia memerengkan wajah. “Lo ini seperti berpuisi.”
“David itu penulis, penyair, anak indie yang suka senja-senjaan.” Reira mengambil stetoskop pria itu, lalu mengenakannya di telinga. Ia tempelkan stetoskop itu ke dada Dokter Alfian. “Lo ini vampir atau bagaimana? Enggak ada detak jantungnya.”
“Eh ini lo nempelnya enggak tepat. Baju yang gue pakai juga tebel.” Ia mengambil stetoskop itu kembali. “Jangan dimainin, nanti rusak.”
Reira bertegak pinggang. “Jadi, kapan lo datang ke kapal gue lagi?”
Kapal yang dimaksud Reira ialah gedung terbengkalai yang dihias sedemikian rupa untuk tempat bermain anak-anak jalanan itu.
“Hari rabu atau kamis. Gue selalu ke sana kok sekali seminggu kalau gue enggak lagi sibuk di klinik atau di rumah sakit.”
“Beri mereka pengetahuan yang luas. Di antara mereka banyak yang tidak sekolah.”
“Tenang saja.” Dokter Alfian merapikan posisi jas dokternya. “Gue izin pamit dulu, ya. Gue ke rumah sakit dulu.”
Aku memberikan jempolku. “Oke ... terima kasih ya udah datang ke sana.”
“Iya ... lo gue saranin deh buka kelas sastra untuk mereka. Seperti gue dan Reira,” balas Dokter Alfian.
“Hahah ... iya ... aman.”
Percakapan kami berakhir tatkala Dokter Alfian melangkah kembali menuju rumah sakit. Ia pasti ada banyak tugas di sana, tidak seperti kami yang hanya memikirkan tugas kuliah, itu pun masih malas-malasan.
Reira mencolekku. “Besok malam lo kawanin gue ya beli gaun pesta.”
Aku memerengkan wajah. “Kan lo udah punya gaun kemarin? Waktu kita ke pesta ulang tahun Fasha waktu itu.”
“Gue udah bosan, gue mau yang baru buat besok.”
“Bosan bagaimana? Baru sekali pakai, kok.”
“Gue mau yang baru buat ngegandeng lo besok. Gue mau menjadi orang yang spesial di mata lo, hanya dalam satu malam.”
“Rei ... sebanyak apa pun malam yang kita lalui, lo tetap yang paling spesial. Bahkan saat ini.” Semakin aku genggam tanganku padanya. “Kalau lo tetap mau beli ... gue bisa request ga?”
“Apa itu?” tanya Reira.
“Lo pakai baju kurung khas Melayu. Kaya yang dipakaikan Zainab ke elo waktu itu. Lo cantik parah,” balasku.
“Cantik parah? Lebay banget. Hahaha.” Ia mendongak padaku. “Tapi, gue bisa request juga, enggak?”
“Apa tuh?”
“Lo pakai baju Melayu juga. Pakai peci hitam, trus sarung songket. Gue yang beliin.”
Mataku memicing. “Lo pasti paham kan gue enggak pernah peduli sama fashion gue sendiri? Tapi baiklah, selagi gue enggak ngeluarin duit buat itu. Hahahah.”
Ia mendorong pelan kepalaku. “Dasar bokek!”
“Tahu sendiri ... hahahah.”
Malam semakin larut, aku duduk di muka masuk lobby rumah sakit untuk menunggu mereka bertiga yang tengah bersantap ria di sana. Tepat tatkala aku menoleh ke gerbang keluar, terdengar dari arah sana tawa besar seorang pria yang tengah bercanda ketika melangkah. Wajahnya gelap, segelap jalan yang ia lewati. Itulah Bang Dika yang sedang memimpin jalan Candra dan Mawar.
Kedatangan mereka berarti perpisahan untuk malam ini. Kami sama-sama undur pamit karena harus pulang ke rumah masing-masing. Lambaian tangan dilancarkan tatkala kami berpisah beda tempat parkiran. Tampak wajah Mawar yang riang setelah baru saja bersama-sama mereka berdua.
“Seneng banget kayanya,” ucapku sembari menyerahkan helm untuknya.
“Mereka berdua kocak, ya ....”
Aku engkol motorku berkali-kali, hingga hidup dengan sempurna. Untung saja aku tidak membutuhkan keringat untuk menghidupkan vespa ini. “Bang Ali walaupun serem, dia orangnya lucu. Sedangkan Candra itu orangya luwes bergaul, mudah masuk di sana-sini.”
Ia menaiki vespaku tanpa meletakkan tas satu talinya di antara kami. Motor bergerak perlahan menuju jalanan yang ramai oleh kendaraan. Lampu-lampu di kiri dan kanan menjadi harmoni tersendiri bagi detak sebuah kota. Tidak ada gelap yang menjadi jejak-jejak tepat di tengah jalanan. Pencerah bagi mata-mata lelah yang seharian sudah terkatung oleh pekerjaan. Dari balik senyuman penjaja kaki lima yang belum ingin beranjak hingga tengah malam nanti, tersimpan bahwasanya keringat tulus itu tidak ingin berhenti demi sesuap nasi. Aku lihat pula di sampingnya terdapat restoran cepat saji yang masih ramai. Perbedaan yang kontras sekali yang biasa dilihat di sebuah malam di kota.
Mawar tanpa kata-kata ketika ia turun dan masih terpasangkan helm milikku. Ia membuka kunci tali helm, walaupun terlihat sedikit kesulitan. Barulah bibirnya bergerak tatkala ia memberikan helm itu kembali padaku.
“Masuklah ... masih ada kopi yang bisa diseduh.”
“Hmm ... kayanya―” Kalimatku terhenti ketika aku melihat langit malam.
“Kopi itu sakral, kan? Pantang untuk ditolak.” Ia tersenyum ringan.
“Hmm ... lo mainin gue. Hahah ... oke, gue mampir bentar. Asalkan gue bisa ngerokok.”
Ia berbalik arah dan melangkah menuju gerbang rumah.
Aku tercengang ketika memasuki areal rumah. Rumah modern tingkat dua tersebut sebagian tak berdinding batu, melainkan kaca bening yang langsung memperlihatkan suasana rumah. Sepanjang jalan plavinbox ini aku dimanjakan oleh pohon-pohon palem dan pohon bunga berkelopak yang bisa aku petik dan diselipkan pada sela telinga. Ternyata, wanita sipit itu melakukannya tanpa ragu, tanpa malu, tanpa menoleh padaku. Jalan plavin boxi sebuah garasi yang tersimpan sebuah mobil jenis sedan berwarna hitam. Tepat di samping rumah tersebut―pada hadapan dinding kaca bening―terdapat sepetak halaman rumput yang terparkir sebuah sepeda fixie. Berdiri pula dua buah pondok beratap aren sebagai tempat yang nyaman untuk bersantai. Kira-kira, besar sepetak halaman rumput itu seluas dua buah lapangan futsal.
“Lo boleh duduk di mana pun yang lo mau,” ucap Mawar.
“Apakah gue diajak masuk?” tanyaku.
“Apakah gue meminta masuk? Lo boleh duduk di mana pun yang lo mau.”
Aku tersenyum. “Gue bisa duduk di dalam rumah, dong.”
“Itu pengecualian.” Ia menjentikkan jemarinya.
Aku rasa, mereka menyewa arsitek yang mahal untuk mendesain rumah ini. Rumah tingkat dua itu memang berbentuk minimalis, namun terlihat mewah dan modern. Areal kosong ditumbuhi oleh bunga-bunga dan tumbuhan bonsai yang ditata rapi. Ditambah pula sepetak area terbuka dengan rumput-rumput halus tatkala aku pijak. Ia mengatakan jika aku boleh duduk di mana pun. Maka, aku duduk tepat di tengah-tengah halaman rumput hijau ini. Wangi rumput merangsang otakku untuk rileks. Mataku yang menadah ke langit berbintang membujukku untuk menghela napas panjang-panjang dan berteriak bahwasanya di sini sangat nyaman sekali.
Mawar tiba tidak dengan kopinya. Melainkan sebuah benda berbentuk tabung bergagang panjang ke bawah. Alat optik itu mengingatkanku bagaimana rasa penasaranku sewaktu kecil. Apakah kita benar-benar bisa ke bintang?
“Ayo kita melihat Jupiter ....” Mawar mengangkat teleskopnya.
***