
EPISODE 71 (S2)
Entah ilmu dari mana itu ketika dikejar oleh anjing maka seseorang harus jongkok. Bagiku, jongkok malah meningkatkan resiko untuk diserang karena seseorang tidak memiliki pertahanan yang cukup. Mungkin saja anjing milik Mawar bermaksud untuk bermain, anjing tersebut langsung duduk dengan menggerak-gerakkan ekornya ke kiri dan ke kanan. Lidahnya terjulur begitu lucu, wajahnya tersenyum kepada Reira.
Reira menunjuknya. “Gue enggak mau megang .... jadi duduk aja di sana. Good boy.”
“Hahaha ... gue kira dia bakalan nyerang. Tapi, enggaklah ... Bam-Bam anjing yang baik,” balas Mawar ketika melangkah ke sini.
“Tenang, gue ini sahabat seluruh binatang.”
Aku elus kepala Reira karena ia sudah mengatakan hal tersebut. “Sahabat dari mana kalau lo tega nyembelih ayam buat ngeganggu buaya muara Sungai Mirang.”
“Buaya? Di Sungai Mirang?” Kepala Mawar. Tentu saja ia tahu tentang buaya di daerahnya tersebut. “Lo gila!”
“Hahah ... buaya itu benar-benar ada. Gue udah ngebuktiinnya.” Reira mengangguk.
“Jadi boleh minjam mobil kakak lo?”
“Boleh, dia sedang sibuk juga di rumah nyusun penelitiannya.”
“Mantap,” pungkas Reira.
Aku rasa Mawar memang pecinta binatang berbulu. Di sepetak halaman berumput yang ada dua gazebo untuk bersantai itu, terdapat beberapa kelinci putih yang sedang berlarian menikmati udara. Reira asyik sekali mengejar kelinci yang sangat tidak suka dikejar-kejar, hingga Reira mengeluh sendiri ketika ia kesulitan untuk menangkapnya. Melangkah kami ke mobil Mawar setelah wanita itu mengeluarkannya dari garasi. Sementara itu, vespa tahun lima puluh aku itu bertengger masuk ke dalam garasinya, begitu pula dua helm baru sebagai pengganti yang sudah dimaling sebelumnya.
Sekitar lima puluh menit perjalan kami tempuh menuju pesisir utara Ibu Kota di mana ada sebuah perkampungan nelayan kecil di sana. Memang, kami belum sampai hingga tepat di perbatasan wilayah tersebut, namun mobil-mobil pengangkut ikan sudah tampak di kiri dan kanan. Kotak-kotak gabus penampungan bertumpuk di bak belakang mobil-mobil tersebut.
Aku sama sekali tidak tahu rumah Kakek Syarif. Reira mengatakan agar kami mengikutinya saja ketika sampai nanti. Diparkirkanlah mobil Mawar di dekat dermaga nelayan karena untuk masuk ke jalanan perkampungan hanya bisa berjalan kaki atau menggunakan kendaraan roda dua. Jalannya hanya berupa jalan kecil, beberapa jalur pun hanya berupa kayu-kayu yang disusun sedemikian rupa.
Kembali mataku berkutat di sebuah perkampungan nelayan yang begitu sederhana. Bapak-bapak mengangkut hasil tangkapan ikan mereka di punggung, sebagian yang lain sedang bercanda ria di kedai-kedai kopi tradisional. Yang paling Reira senangi ialah lari-lari kecil bocah keling dengan lubang pusar yang menonjol. Lucu sekali mereka mengejar satu sama lain tanpa hal-hal mewah yang tak bisa orangtua mereka belikan. Terkadang, Reira pun malah ikut mengejar mereka hingga membuat anak-anak tersebut kebingungan.
Jangan berdebat mengenai Tuhan ada di mana, celana di atas mata kaki atau tidak, haram dan halal, jika masalah makan dan penghidupan masih dianggap urusan masing-masing. Entahlah, kawan ... ada orang-orang kecil di sekitar kita, bisa jadi tetangga, dan kita tidak tahu jika ia tidak bisa makan hari itu. Kadang naif juga jika mengatakan seseorang sebagai pemilik agama. Mungkin saja menjadi orang beragama adalah masalah bagi orang yang memiliki agama.
Benar juga kata orang, kita tidak perlu agama untuk berbuat baik, tetapi agama selalu mengajarkan seseorang untuk berbuat baik. Ada banyak orang tak beribadah tetapi jika sekali donasi sosial melebihi sedekahmu dan dana kuota internet untuk streaming penceramah kekinian selama satu tahun. Ada banyak temanku yang jarang ke rumah ibadah, kecuali hari jumat— itu pun jika tidak 'ambil jatah`―tetapi jika ada kegiatan sosial dan gotong royong lingkungan rumah mereka selalu ikut untuk berpartisipasi. Itulah kawan, urusan dengan Tuhan selalu diperlihara, namun lupa ada hubungan dengan sesama manusia yang harus dibangun. Agama hanyalah dianggap sebagai urusan vertikal, tetapi buruk secara horizontal.
Kami tiba di sebuah rumah kayu tingkat dua dengan motif yang sama seperti rumah Pak Milsa di Manggar. Motif lebah bergantung khas Melayu melekat pada tepi atap dan warna kuning yang mendominasi. Rumah tersebut kental dengan aroma rumah panggung Melayu di atas tanah Betawi yang heterogen secara budaya. Ada pemandangan yang unik di hadapan tempat kami berdiri.
“Kakek Syarif!” teriak Reira. “Kami datang!”
Teriak panggilan yang disebut Reira menggema di udara, hingga tampaklah seorang remaja yang keluar dari pintu. Razel memicingkan matanya melihat keponakannya―memang Razel setingkat sebagai paman bagi Reira―seperti penagih utang yang mendatangi rumahnya. Reira pun berlari menuju rumah panggung tersebut, menaiki tangga, lalu mengapit leher Razel dengan lengannya. Razel tercekik meminta untuk dilepaskan, tetapi Reira masih merasa gemas dengan anak itu.
“Mana bapak lo?” tanya Reira dengan masih mengapit leher Razel. “Kami ingin berbicara.”
“Bapak sedang di dermaga!” Razel menggeliat untuk melepaskannya. “Dia pergi memancing.”
“Dasar! Bisa-bisanya dia memancing tanpa mengajak gue! Pakai kapal Leon pula!” Reira berbalik arah. Padahal, kami belum naik ke rumah tersebut. “Ayo, kita ke dermaga secepatnya!”
Mau tidak mau, kami pun ikut berlari mengejar anak itu yang melesat seperti dikejar anjing. Mawar kesusahan untuk menyamai kecepatan aku dan Reira. Ia ketinggalan di belakang dengan wajah memerah karena letih. Harapanku untuk bisa mengopi ria dan mendengarkan segala wejangan dari kakek harmonika itu ternyata gagal. Aku malah dibawa berkeringat bersama Reira.
Tepat di ujung dermaga, terlihat kapal Leon sudah meniupkan klaksonnya yang besar. Kapal mulai bergerak meninggalkan tepian, namun masih tetap hampir menyentuh dermaga. Reira menambah kecepatannya, lalu meloncat ke atas kapal tepat melewati papan gerbang sebagai tempat masuk ke kapal. Aku pun panik, ia sudah di sana sementara itu aku dan Mawar masih di belakang. Teriakannya menyemangati kami untuk menambah kecepatan.
Aku menggenggam tangan Mawar, menyentuh lembut kulit putih gadis keturunan Tionghoa itu. Aku bawa ia meloncat ke atas kapal yang sudah berjarak selangkah dari tepi papan dermaga. Di udara terasa menegangkan, kami terbang menuju papan kapal dengan bersama-sama.
Namun, tepat pijakan pertamaku yang menyentuh lantai kapal, keseimbanganku terganggu akibat Mawar yang mengantam tepat di belakang. Aku jatuh terlungkup, sedangkan Mawar terjerembab di sampingku. Tangan kami masih bergenggaman erat. Sementara itu, mataku menyorot kaki Reira hingga ke ujung rambutnya. Di hadapanku sudah berdiri Reira yang bertegak pinggang menatap kami yang sedang tidak biasa.
“Lepas,” ucap Reira.
***