
EPISODE 134 (S2)
Nauren melempar senyum padaku yang tegang akibat suasana ini. Tak ada sedikit pun rasa canggung yang ditampakkan oleh pria itu, tetap dengan tegap tubuh percaya diri. Ya memang aku akui, Nauren sangat tampan. Lembut sekali aku rasakan tangannya sewaktu bersalaman. Aku pastikan ia tidak pernah memegang sekop semen ketika merenovasi sebagian kecil bagian rumah dan cangkul untuk melonggarkan parit ketika gotong RT. Aku hanya setinggi dadanya. Lengannya lebih besar dariku yang kurus kecil, hanya sedikit otot di bagian kaki karena sering berlari bermain bola. Seperti idaman wanita zaman sekarang, berkulit putih dengan rahang tegas dan sedikit kumis tipis yang menggoda.
Ia adalah anak orang kaya, terlihat sekali dari pembawaan yang ia tunjukkan pada kami. Mengkilap jam tangan mewah yang terangkat tatkala tangannya bergerak. Ingin bersin hidungku tatkala menghirup parfum harum yang menyengat masuk dengan nyaman. Aku rasa orang kaya harus belajar menyemprotkan parfum, atau memang begini parfum mewah itu, seperti yang dipakai oleh Reira saban hari.
Aku hanya menatap Reira tatkala Nauren tidak merasa yakin denganku.
“Kau bisa apa?” tanya Reira untuk membalasnya.
“Hey, santai ....” Nauren kembali tersenyum. Ia menoleh padaku kembali. “Senang berkenalan dengan lo.”
“Iya, gue juga,” balasku singkat.
Ia melihat kami satu per satu. “Kalian mau ke mana?”
“Ke kamar.” Reira menunjuk lantai dua.
“Oh, gitu ....” Tiba-tiba suara Pak Bernardo membuatnya menoleh berbalik ke belakang, tepat ke arah ruang tamu. “Sepertinya kalian harus mengurungkan niat. Reira dipangil.”
Aku isyaratkan agar Reira segera menghampiri pertemuan yang ada di ruang tamu tersebut. Reira dipanggil namanya oleh Pak Bernardo untuk duduk di sana. Isyaratku direspon dengan anggukan kepala dari Reira. Anak itu pun menunjuk ke atas setelahnya.
“Naik aja ke kamar gue, enggak lagi di kunci. Gue ada peliharaan baru. Lo lihat aja di sana.”
“Iya, gue bakalan ke atas. Sekarang, pergilah ke tempat papa lo.” Aku mendorong pelan punggung Reira untuk segera melangkah.
Nauren menyapaku dengan alisnya, lalu bersanding berdua bersama Reira menuju ruang tamu. Menyadari tidak ada yang bisa aku lakukan di sini, aku segera menuju kamar Reira yang katanya punya peliharaan baru. Aku berharap ia tidak memelihara hewan aneh, apalagi langka. Aku tidak ingin ada pihak polisi kehutanan yang menangkap anak itu hari ini, terutama di hari berkabung.
Menyeruak wangi parfum Reira yang khas tatkala aku masuk ke dalam kamarnya. Satu yang berbeda, bunyi akuarium ukuran sedang yang berbunyi berkat mesin pembersihnya. Ternyata ini yang dimaksud oleh Reira sendiri bahwasanya ia memiliki peliharaan baru berupa ikan hias jenis guppy dan maskoki yang berenang ke sana ke mari mengikuti arus air dari gelembung udara. Terdapat pula ikan sapu-sapu yang melekat pada dinding kaca akuarium, menyedot lumut-lumut yang ada di sana. Mataku lebih tertarik pada dua ekor hewan unik dalam akuarium itu, yaitu kura-kura kecil. Aku tidak tahu kura-kura apa itu, yang pasti ia berbatok.
Berkerumun ikan ketika aku masukkan pelet ke dalamnya. Bersuka cita mereka di dalam air karena mendapatkan makanan. Tak seperti diriku yang sendiri, ditinggali oleh Reira yang sedang ada di bawah sana. Aku terduduk sejenak. Baru kali ini aku merasa seperti nyamuk yang tengah singgah ke rumah seseorang, merenung seekor diri di dalam kamar tanpa seseorang pun untuk aku hisap darahnya.
Seharusnya aku di sini bersama Reira. Aku suka tatkala ia bercerita mengenai pribadinya, meskipun aku jarang sekali bertanya hal-hal privasi. Keterbukaan yang Reira bawa dalam diri menjadi daya tarik tersendiri. Ia menjadi wadah kaca untuk aku bercermin, mengenali kembali diri sendiri, hingga memaknai setiap gerak-gerik diri di atas dunia itu. Terkadang, aku seakan duduk bersama Mahatma Gandhi yang begitu filosofis. Di satu waktu aku seakan duduk bersama Wiji Thukul yang hilang ketika ia berbicara mengenai papanya, di waktu bersamaan ia menjadi Tan Malaka dengan pemikiran pro kepada marjinal. Satu waktu lain pula yang membuat aku kesal, ia menjadi Stalin di saat bersamaan tatkala ia sedang berusaha mendominasi, diktator bukan main anak itu.
Mataku tertuju ke salah satu laci meja belajar. Berbunyi bagian laci tatkala aku tarik keluar. Tersibaklah benda sebesar telapak tangan yang diselipkan di antara tumpukan buku filsafat. Ragu tanganku untuk menyentuh, tetapi hatiku berusaha untuk mengambilnya. Keragu-raguan itu dikalahkan, aku kini benar-benar memegang sepucuk senjata revolver lengkap dengan peluru. Aku tidak tahu bagaimana menggunakannya, sehingga aku berhati-hati sekali untuk tidak menyentuh bagian pelatuk.
Inilah yang disebutkan Reira waktu itu bahwasanya sepucuk senjata ini merupakan milik Kakek Kumbang sebagai alat jaga-jaga dari para perompak laut. Reira bisa menembakkan ini kapan saja, kapan ia mau karena anak itu memang gila. Entahlah ia menembakkan senjata di kepala seseorang atau bukan, seperti yang dikatakan olehnya.
Apakah waktu itu ia sedang bercanda denganku? Aku masih bertanya hal itu di dalam hati. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi bercanda. Ia serius di dalam perkataan. Sejak detik aku mengetahui perihal ini, masih terpikirkan bagiku bagaimana pola pikir dari Reira. Aku hanya berpegang pada suatu pernyataan, yaitu jangan pernah anggap remeh di setiap perkatan Reira, meskipun ia sedang dalam keadaan bercanda. Kata bercanda pun terselipkan makna tersirat bagi mereka yang berpikir ulang, apalagi dengan nada serius seperti di kala itu.
“Rei ....” Seseorang membuka pintu tiba-tiba.
“Mawar ....” Aku menyelipkan sepucuk pistol tersebut di celah pinggang belakang, ditutupi kaos yang kupakai.
“Gue baru tahu lo diizinin masuk ke kamar Reira. Ini kamar seorang gadis, meski dia pacar lo.” Mawar melepaskan tangannya dari gagang pintu.
Jujur, aku gugup sekarang. Salah bertingkah, Mawar akan tahu mengenai rahasia ini. Anak itu aku rasa lebih pandai membongkar rahasia daripada Reira sendiri. Ia tahu bagaimana membongkar melalui pendalaman yang ia dapatkan semasa belajar di kampus.
“Selagi gue diizinkan sama pemiliknya, itu enggak ada masalah.”
Kepala Mawar memereng. “Iya, seharusnya lo enggak masuk seenaknya.”
“Gue disuruh sama Reira, serius!” tegasku padanya.
Mawar melangkah ke kiri, tepat di sisi kiri ranjang. Tidak lama kemudian ia membungkuk meraih sebuah tas. Tas itu merupakan miliknya yang selalu ia bawa ke kampus.
“Jadi, Reira di mana?” tanya Mawar.
Aku masih berdiri di sini seperti paku yang menancap pada sebuah papan, sama sekali tidak beranja. Hanya arah tubuhku saja yang berusaha untuk menghadap padanya.
“Di ruang tamu. Ada tamu kenalan papanya.”
“Tumben Reira mau ikut ke sana,” balas Reira.
“Ya, mungkin aja lagi jadi baik.”
Mawar mengangguk tatkala ia kembali berdiri melangkah menuju pintu. Tepat di kala tangannya menyentuh gagang pintu, ia menoleh padaku. “Jangan bilang keluarga cowok yang sedari nonton TV di bawah?”
“Iya, sama dia. Nauren namanya.”
Pintu Mawar tutup rapat-rapat seketika. Matanya merambat lurus menuju diriku. Melangkah ia pelan ke arahku seperti seekor kucing yang sedang mengintai target di malam hari. Tanpa kuduga, aku pun turut mundur ke balakang.
Dirinya semakin dekat dan semaki dekat saja. Degup jantung tak bisa aku hindari, mata pun tak bisa aku alihkan darinya yang menyedotku dalam satu ruangan. Tepat ia benar-benar di hadapanku, tangannya melingkar ke tubuhku.
“David ...”
Ia memelukku.
***