Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 19 (S3)



Entahlah, aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba saja menangis. Seluruh air mata tumpah begitu saja tanpa aku tahan, padahal selama ini tiada waktu bagiku untuk menangisi seluruh hal yang sudah terjadi. Menjadi lemah bukanlah diriku, tetapi siapa yang tidak memiliki kelemahan? Pada akhirnya aku pun sadar jika aku tetaplah manusia. Aku memiliki hati, dari hati pun aku merasakan rindu, dari rindu yang berlimpah telah tumbuh kepiluan.


Malam berlarut seperti lorong sempit yang membawaku tertatih melewatinya. Borneo memaksaku untuk keluar dari plaza dan membawaku ke belakang parkiran mobil. Ia tidak sanggup melihatku seperti ini di keramaian. Sembari ia rangkul pundak kecilku, tangannya menyelimutiku dengan sweater hangatnya. Namun, dinginya hati ini tidak dapat aku elakkan. Tetap saja tangis mengalir tanpa berhenti dan tanpa aku pinta untuk berhenti.


Ia berada di depanku, duduk termenung dengan bau cengkeh dari rokok kretek. Isak yang aku nadakan padanya dengan sabar ia dengar. Tidak cukup satu batang tembakau yang ia sulut, Borneo kembali membakarnya lagi hingga aku benar-benar tenang. Ia sempat bertanya apakah aku sudah selesai, tetapi rasanya kepala ini terus saja menunduk tanpa jawaban. Ia kembali diam dengan langit yang ia pandang.


“Kau pernah menyesal?” tanyaku tiba-tiba.


Bibirnya manyun, asap rokok keluar ke hadapanku.


“Setiap orang pernah menyesal, Reira.”


“Berapa umur kau?” tanyaku.


“Dua tiga … kenapa?”


Selama ini aku tidak pernah bertanya umur padanya, ternyata ia lebih tua setahun dariku. Aku kira ia seumuran dengan Razel.


“Usia yang banyak menanggung penyesalan. Di umur kita yang masih muda, kita meninggalkan banyak hal. Dari banyak hal itu pun berupa penyesalan-penyesalan yang bakal kau ingat seumur hidupmu.”


“Aku enggak ngerti ….”


“Enggak perlu dimengerti, kau memang bodoh.” Aku menarik napas panjang. “Aku meninggalkan David, Papa sialan itu, Mawar Si Busuk, Reina yang suka ngatur, bahkan Bang Ali, semua itu demi tujuanku sendiri. Aku memang enggak menyukai sebagian dari mereka, tapi aku mengakui jika mereka berpengaruh dengan sepak terjangku. Entah kenapa aku merasa seperti separuh bagian hidupku hilang, tetapi aku tetap merasa itu bukanlah hal yang penting. Kau ngerti nggak sih? Kaya kau harus maju, tetapi ternyata mundur itu lebih indah. Di saat kau mundur, ternyata kau kalah dan itu lebih menyakitkan.”


“Kau itu berbelit sekali. Kau cuma rindu, itu saja. Aku belum pernah bertemu orang se-idealis selain Kakek Kumbang, kecuali kau. Jalanmu itu benar, tetapi bukan berarti kau bisa melupakan hal-hal yang dulu atau merasa mereka bukan hal yang penting.”


Aku diam sejenak memikirkan kalimatnya. Terkadang renung diriku di ujung malam menuangkan kesimpulan jika aku rindu mereka. Meskipun aku benci Papa, ia tidak pernah lupa ulang tahunku. David di dalam ketidakkonsistenannya, ia bertanya banyak hal yang membuatku kembali berpikir dan bereskplorasi. Sedangkan Mawar, dirinya yang paling setia, hanya saja kami mencintai pria yang sama.


“Iya benar, aku rindu, terutama David.”


“Seberapa penting David? Dia cuma awak kapal,” tanya Borneo.


“Selain awak kapal, dia pacarku. Tepatnya mantan pacar kalau untuk sekarang. Kau bisa bayangkan bagaimana hatiku memutuskan untuk ninggalin dia? Lalu, aku mengizinkan wanita lain buat bersamanya. Betapa bodohnya aku ….”


Borneo memutar bola matanya ke atas, tepat ke arah lampu jalan yang berada di sekitar kami.


“Terkadang Reira, apa yang membuatmu senang barangkali enggak baik buatmu. Hal yang didepan menurutmu buruk, bisa jadi itu baik. Semuanya misteri, kau tinggal menunggu.”


Aku memicingkan mata ke arahnya. “Kau itu terkadang bijak. Secara umur, kau memang tua dari aku.”


“Iya, aku tahu dari Razel. Makanya aku enggak mau waktu kau marah karena minta dipanggil kakak.”


“Hahah … aku kira kau seumuran dengan Razel. Mungkin Razel yang mukanya ketuaan dari umurnya.” Aku memanjangkan tanganku ke pundak seberangnya. Rangkulan itu berasa hangat karena ia seorang laki-laki. “Terima kasih udah dengarin aku.”


“Aku begini karena ingin gajiku dibayar.”


“Selalu ada maunya!”


Beruntung Razel cukup lama berdua dengan Nisa sehingga aku memiliki waktu untuk memulihkan kondisi mata. Aku tidak mau ia malah bertanya apakah aku habis menangis karena nantinya ia terus bertanya mengenai hal tersebut. Razel orang yang nyinyir, satu pertanyaan tidaklah cukup untuk menjawabnya.


Aku membiarkan Borneo yang membawa van karena aku ingin menikmati eskrim yang dibelikan oleh Nisa. Setelah mengantarkan Nisa pulang, kami kembali ke kapal untuk beristirahat. Aku ingin mereka tidur cepar agar besoknya punya tenaga untuk membersihkan badan kapal bagian bawah yang banyak menempel kerang laut.


Hari esok tiba dengan gelimpang suara deru ombak yang menyaut tanpa henti. Aku senang melihat keributan di luar karena Borneo dan Razel berdebat tentang memperbaiki radio rusak. Razel ini sok tahu, aku pastikan ia kurang ilmu tentang itu. Dua minggu lalu aku memang mengeluh dengan radio rusak. Hanya radio sebagai media penerima informasi dari luar. Benda itu tanpa kabel listrik, hanya baterai yang bisa aku jemur untuk mengisi dayanya. Dari sana aku tahu apa yang sedang terjadi di Ibu Kota, terutama kemacetan dan banjir yang diprotes oleh banyak orang.


Aku berpesan kepada Razel agar mengelola keuangan dengan baik selama aku pergi ke Bali demi menemui Erasmus Kompeni. Sejumlah uang dibrangkas sudah aku titipkan padanya dan silahkan digunakan untuk keperluan sehari-hari. Aku mengizinkan mereka untuk mencari hiburan di tengah kota, seperti berkaraoke, main ke bar asal jangan minum-minuman mahal dan juga dilarang memesan LC dunia malam  untuk asyik-asyikan. Kalimatku tegas agar mereka jangan pulang terlalu malam agar tidak menyinggung keluarga Pak Salman. Jikalau mereka membeli makan di luar, bawakan juga untuk mereka agar tahu rasa terima kasih.


Mereka berdua mengantarkanku menuju bandara ketika esok hari. Nisa sempat diajak, tetapi ia tidak berkesempatan hadir karena harus berkuliah jadwal sore. Aku ingat bagaimana tidak enaknya kuliah di jam sore, mengantuk sekali. Di bandara, aku memeluk Razel dan Borneo dengan erat. Untuk pertama kalinya selama perjalanan ini aku meninggalkan mereka dengan jarak yang jauh. Aku khawatir Borneo malah membawa Razel pergi mabuk-mabukan.


“Ingat … enggak ada alkohol sampai mabuk dan cewek-cewek!” Aku menunjuk Borneo. “Kalau mau minum alkohol, minum aja di kapal. Lebih baik di sana daripada kalian malah kacau di tempat ramai.”


“Iya aku tahu … jangan khawatir,” balas Borneo.


Kini aku menunjuk Razel. “Kalau kau mabuk, aku bilangin Bapak! Jangan mentang-mentang sudah lebih dari tujuh belas tahun.”


“Gue bakalan merindukan kalian. Mungkin aku seminggu lebih jauh dari kalian.” Aku kembali memeluk mereka berdua. “Cukup di parkiran aja kalian, jangan masuk ke bandara apalagi ke lintasan pesawat. Enggak usah kaya adegan-adegan di film.”


“Manusia mana yang mengantarkan sampai ke lintasan? Kau ini!” kesal Borneo.


“Kak, jangan lupa oleh-oleh ya … kalau ada bule, bawa aja ke sini. Mana tahu dia mau sama anak nelayan, heheeh ….”


“Tidurmu kurang miring, Kawan … bangun!” balasku sembari tersenyum.


Borneo menyelipkan selembar kertas kepadaku. “Ini ada alamat yang harus kau kunjungi. Aku enggak tahu di mana kediaman Kakek Erasmus, tapi di tepian dermaga Sangsit ada orang yang bisa membantu. Ingat … dia itu bule Belanda, bukan pribumi.”


“Baik … ini aku simpan dulu ya ….” Aku menyimpan kertas itu di dalam saku. “Aku pergi dulu, selamat bersenang-senang!”


Kedua orang itu aku tinggalkan di parkiran bandara. Keberangkatan dimulai tepat di pukul lima sore. Selama sekitar empat jam aku berada di atas pesawat. Entah ke mana ketika aku sampai nanti, yang pasti aku pasti akan seperti tourist backpacker. Sekitar pukul sembilan malam, aku tiba di Bandara Internasional Ngurah Rai, Kota Denpasar. Tidak ada waktu untuk merasakan jet lag karena kau harus langsung berkelana sendirian di Bali.


Sengaja aku membawa ponsel yang sudah lebih dari dua bulan tidak dihidupkan. Cemasku tidak terjawab karena ponsel itu bisa kembali hidup. Aku takut jika ponsel belasan juta itu tidak lagi berfungsi setelah sekian lama dalam mode mati. Berbekal kartu perdana paket internet yang aku beli, aku kembali berselancar di dunia maya. Tidak ingin aku membuka aplikasi media sosial yang berhubungan langsung dengan nomor telepon, aku hanya membuka laman Instagram yang relatif aman untuk tidak ketahuan.


Beruntung dunia sudah memiliki ojek onlinenya yang sangat berguna. Aku mengunjungi hiruk pikuk Pantai Kuta. Sebagai orang yang sudah lama tidak di keramaian, aku merasa sedikit asing. Setiap sudut berkumpul para muda-mudi, bule-bule yang mengenakan pakaian minim, atau pun anak-anak tepi pantai yang masih bermain di malam harinya. Angin pantai terasa sejuk, aku membuka kemejaku untuk menikmati malam hari ini.


Selapis jaket jeans dijadikan alas tatkala aku berbaring menghadap langit berbintang. Handphone kini memuat laman profil Instagram David yang memuat aktivitasnya sehari-hari. Tentu saja aku tidak mau membuka unggahan story yang ia buat hari ini karena ia akan melihat jika aku sudah melihatnya. Namun, aku melihat hal baru dari unggahan foto yang lain. Beberapa foto sudah memperlihatkan kedekatannya dengan Mawar. Aku tidak tahu apa hubungan sebenarnya dari mereka, tetapi mereka sangatlah dekat.


Oh David … makanlah yang banyak, dia terlalu kecil untuk ukuran pria pada umumnya. Mungkin ia cocok jika berfoto denganku yang hampir sama tingginya. Namun, jika ia berdua dengan Mawar yang tinggi, sangat jelas perbedaannya. Terlebih lagi wajah Tionghoa dari Mawar sangat kental. Sedangkan David itu pribumi yang memegang oli ketika di bengkel Dika.


Puas bersendirian di tengah keramaian Pantai Kuta, aku butuh tempat untuk beristirahat. Aku sebenarnya tidak apa-apa jika tidur di emperan toko, tetapi sangat riskan akan kriminalitas di  kota yang ramai jika aku hanya sendirian. Aku memesan kamar murah di hotel sekitaran kawasan Jalan Gatot Subroto. Beruntung aku mendapatkan kamar tanpa memesan secara online, mengingat kota ini merupakan kota wisata yang memungkinkan kamar sudah penuh.


“Semoga saja besok tidak hujan ….” Aku membiarkan diri hanya mengenakan bikin di dalam kamar.


Aku duduk di meja kamar sembari menikmati arak bali yang tadi aku beli. Sangat orisinil sekali, menikmati produk asli di daerahnya sendiri. Entah kenapa aku menyukai minuman alkohol ini daripada produk luar. Terkadang orang bertanya-tanya kenapa aku tidak merokok. Orang bilang teman alkohol itu sama dengan kopi, yaitu rokok. Jelas aku dengan tegas mengatakan jika aku tidak ingin merusak tubuh lebih dari ini.


Perhatianku tertuju ke luar tatkala terdengar keributan antara seorang pria dan seorang wanita. Awalnya aku tidak peduli karena cukup santai dengan diri sendiri. Namun, tatkala beberapa tamparan terdengar, aku segera keluar dari kamar.


Mataku tertuju kepada seorang pria bule sedang menganiaya seorang wanita hingga tersungkur di atas lantai. Terdapat beberapa orang penghuni kamar yang menampakkan wajah, tetapi mereka terlihat tidak peduli dengan kembali masuk.


“Kalau nge-s*x, bayar⸺”


Tatkala ujung sepatunya terhantam kepada wanita itu, aku langsung menerjang pria yang aku rasa tingginya hampir dua meter. Ia sempat terdorong, tetapi tidak seberapa mengingat besar tubuhnya dua kali lipat daripada diriku sendiri.


“What the fuck are you doing*?” tanya pria itu.


“F*ck off! Where is your brain\, motherf*cker? I will call police!”


“Do it!” paksanya.


“Jangan main-main sama gue ….” Aku menampakkan pistol yang berada di sela celanaku. “You wanna meet the police or my bullet?”


Merasa terancam, ia mundur selangkah sembari mengeluarkan sejumlah uang. Beberapa uang lembaran seratus ribu Rupiah itu mendarat di kakiku. Terdengar suara isak tangis dari wanita yang teraniaya tadi. Ia terlihat sangat kacau dengan rambut berantakan dengan setelan bikini terbuka. Aku segera membuka jaketku, lalu menyelimutinya untuk dibawa kembali ke dalam kamar.


“Aku capek begini!” ucapnya sembari terisak. “Aku capek hidup begini!”


“Ayo kita masuk, jangan sampai kau dilihat oranng lain sedang begini …” Aku merangkulnya masuk kembali ke dalam kamarnya.


“Peduli apa kamu?!” Tiba-tiba saja ia menyalak sembari menyingkirkan diriku.


“Iya, aku enggak peduli. Tapi aku harap kau masuk sekarang!” Aku memasaknya untuk masuk.


“Pergi!”


Aku tidak merasa sedang tidak dihargai. Hanya saja ia butuh waktu untuk menenangkan diri. Agar memberikannya waktu, aku biarkan ia masuk kembali ke kamar tersebut. Ada sebuah hari di mana aku berpikir orang-orang sepertinya dipaksa untuk mengikuti dunia yang kejam ini, menyingkirkan etika moral demi bertahan hidup.


***