
EPISODE 57 (S2)
Bagaikan sebuah nama, tidak akan bermakna tanpa sebuah arti. Tak ubah layaknya gambar, tak akan indah tanpa warna. Begitu pula dengan hari tanpa wanita itu. Senyumnya seperti arti sebuah nama dan warna pada gambar, memberikan makna-makna yang akan aku petik pada setiap perkataannya. Aku pun menari cara lain dengan melakukan aktivitas yang lebih bermanfaat, seperti melaksanakan tugas-tugasku di rumah, membantu Dika lebih giat lagi, serta memperbanyak waktu menulis agar tulisanku bisa rampung dengan cepat.
Jika berpikir setiap kata-kata itu keluar begitu saja, maka itu merupakan jawaban yang salah. Bodoh rasanya seorang penulit tidak pernah membaca buku karena dari buku-buku pula kita mendapatkan kosa kata baru yang akan bisa digunakan di dalam tulisan. Hari-hariku pun kini tak lepas dari buku-buku, mulai dari buku novel yang aku baca kembali, buku sejarah milik Rio yang masih tersimpan, dan bahkan buku-buku filsafat yang Mawar pinjamkan padaku.
Tiada aku sangka ketika mengunjungi kediaman Mawar, ternyata ia memiliki perpustakaan buku sendiri yang hampir sebesar kamarku. Perpustakaan tersebut berbeda ruangan dengan ruang buku milik kakaknya. Sekeliling ruangan buku Mawar diletakkan rak-rak buku yang hampir setinggi ruangan itu sendiri. Bagian lantai merupakan karpet lembut yang sangat nyaman untuk berbaring, tanpa meja atau kursi untuk tempat membaca. Aku tampak merasa kecil oleh ilmu pengetahuan tatkala pertama kali memasuki ruangan tersebut. Pantas saja Mawar sepintar itu karena ia sudah terbiasa membaca, hingga bukunya sudah setumpuk bukit barangkali. Kalaulah seluruh buku ini ditimpakan padaku, sudah pasti aku akan masuk rumah sakit saking banyaknya.
Waktu kuliah sebentar lagi akan tiba. Namun, Reira belum juga menunjukkan sinyal-sinyal untuk pulang. Entahlah, mungkin saja masih banyak urusan yang harus dilakukan di sana. Penyembuhan mamanya memerlukan waktu yang lama agar mencapai maksimal. Mereka pasti tidak ingin setengah-setengah untuk hal itu.
Dika akhir-akhir ini sedikit aneh aku lihat. Ia lebih sering menghabisi waktu di depan handphone dengan senyum sendiri, terkadang tertawa menatap layarnya yang terang itu. Tidak jarang pula ia menelpon seseorang dengan nada lembut, sudah pasti dengan seorang wanita. Apabila orang yang ia hubungi itu ialah pria, Dika pasti dengan gaya bicara aslinya yang cenderung keras.
Aku pun penasaran dan memberanikan diri menanyakan siapa gerangan yang telah ia hubungi. Tepat di meja kasir bengkel, ia terlihat duduk sambil merokok. Sementara itu, ia biarkan pegawainya untuk melayani pelanggang. Kadang aku bingung juga dengannya. Ia yang punya anak buah pun masih ingin ikut membantu pekerjaan. Ia bisa saja cuma hengkang-hengkang kaki di rumah sembari menunggu hasil.
“Hoi!” Aku menepuk meja kasir. “Ketawa-ketiwi aja kerjaannya. Siapa sih?”
“Mawarlah ... siapa lagi.” Ia menjulurlah lidah padaku.
“Eh, Mawar mana mau sama lo,” balasku. Lalu, aku mengintip ke layar handphone-nya. Namun, ia tak memberi kesempatan untuk aku melihatnya. “Siapa sih?”
Ia tersenyum lebar. Alisnya terangkat seakan bangga. “Biasa ... calon kakak lo.”
“Siapa, ya?” Aku menyentuh daguku untuk berpikir. Baru aku ingat sewaktu itu ia pernah bergaya ke acara kendurian, hanya untuk menarik perhatian anak gadis Pak RT. “Oh, anak Pak Ucok?”
“Nah itu ... gue dapet nomor dia dari group persatuan pemuda RW. Lumayan nih, gue kan jomblo.”
“Jomblo sih jomblo, apa enggak beda jauh dia sama muka lo ....”
Ia menegakkan wajahnya. “Eh, lo apa lagi ... Reira itu manis, lo apaan?”
“Heheheh ... iya juga, ya.” Aku mengusap bagian belakang kepalaku.
Tepat setelah sebatang tembakau kami habiskan, berhenti sebuah mobil tepat di muka bengkel. Jarang-jarang sekali mobil berhenti di muka bengkel karena ini meruakan bengkel motor. Salah satu pegawai bengkel Dika menghampiri mobil itu, tidak lama kemudian berbalik kepada Dika.
“Bang, nyariin Abang,” ucapnya.
Dika mematikan rokoknya di atas asbak. “Oh, biar gue urus. Lo balik aja ke kerjaan lo.”
“Oke, Bang.”
Terdapat seorang pria bersetelan jas tengah berdiri di depan bengkel. Tangannya menenteng sebuah kota koper yang selaras warnanya dengan pakaian yang ia kenakan. Dika pun memasang peci hitamnya, lalu menghampiri pria tersebut. Aku hanya memerhatikan mereka dari jauh. Terjadi percakapan yang terlihatnya serius. Tanpa diduga, pria tersebut berjalan ke arah rumah.
Dika menoleh padaku. “Ikut ke rumah.”
Aku hanya mengangguk tanpa menjawab. Seluruh pertanyaan kini ada di pikiranku mengenai siapa gerangan yang tengah berkunjung. Selama ini, tidak pernah orang yang bersetelan rapi seperti itu yang berkunjung. Paling tidak hanya petugas listrik yang sedikit rapi dan datang untuk memfoto meteran listrik.
Pria tersebut aku tebak sekitaran empat puluhan tahun. Ia memakai kacamata bergagang warna hitam yang sedikit lebar permukaan kacanya. Sedari tadi, ia tidak ada sedikit pun berbicara, hanya sibuk memerhatikan layar handphone yang menyala. Seucap kata akhirnya aku dengar di ruang tamu ketika Dika menanyakan minuman apa yang ia inginkan. Ia memilih kopi untuk menjadi teman perbincangan ini, walaupun tak kunjung dimulai.
“Pak, rokok ambil aja, Pak.” Aku menggeser bungkus rokok milikku ke depannya.
Ia hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih dengan singkat, tanpa mengambilnya sebatang pun. Ternyata ia bukanlah perokok, ia hanya pengopi tanpa nikotin.
Dika datang dengan membawakan tiga buah cangkir kopi ke hadapan kami, lalu ia duduk di sampingku. Masih belum memulai percakapan, pria itu masih sibuk menatap layar handphone-nya. Masing-masing wajah aku dan Dika terangkat ketika ia mendehem. Bapak itu mengeluarkan bungkus rokok putih. Ternyata, ia juga merokok. Hanya saja, ia menolak rokokku karena tidak satu selera dan tidak satu harga. Miliknya tiga kali lipat lebih mahal dari punyaku.
Ia menyeruput kopi, lalu menghembuskan asap rokok. “Ini mengenai Pak Reymond.”
Telingaku berdiri setelah pendengar nama Ayah. Dika masih diam tanpa ekspresi.
“Tunggu, tentang Ayah? Kalau boleh tahu ... Bapak siapa?”
“Saya teman bapakmu sewaktu kuliah. Setelah saya sarjana, saya melanjutkan studi untuk menjadi pengacara. Sedangkan Reymond, memilih bekerja di salah satu perusahaan yang hampir membuatnya dipenjara.” Ia menjulurkan tangannya untuk bersalama. “Saya Cipto, pengacara yang mengurusi kasus bapak kalian itu.”
Aku sama sekali tidak tahu menahu tentang kasus tersebut. Tatapan yang aku sorot menunjukkan rasa tidak percaya terhada perkataan yang Pak Cipto ucapkan.
Ia hanya menggeleng. Ternyata kami sama-sama tidak tahu. “Entahlah ... gue juga enggak tahu. Mungkin saja Rio tahu.”
“Kalian masih sangat kecil untuk tahu masalah itu. Waktu saya datang ke sini, hanya bapaku, ibumu, dan Rio. Kalian sudah tidur di jam dua belas malam.”
“Lalu, ada apa urusannya dengan ini semua?” tanya Dika.
Kami berdua masih sama-sama belum menyentuh kopi sama sekali. Bahkan, rokok yang ada di hadapan pun tak sedetik pun tersebut. Pak Cipto membuka koper tersebut dan mengeluarkan beberapa berkas. Terdapat berlembar-lembar kertas yang ia genggam dengan satu tangan. Salah satu lembaran tersebut ia pisahkan dari tumpukan.
“Ini soal warisan.”
Dika langsung terbatuk mendengar kata tersebut. Aku seketika berhenti mendengar ketika Pak Cipto mengatakannya.
“W-w-warisan?” tanya Dika dengan terbata-bata. “Setahu kami, warisan Ayah sudah semuanya sama Ibu. Dan telah habis untuk membayar utang.”
“Ada sesuatu yang ditinggalkan untuk kalian, tepat di umur David sudah beranjak 23 tahun, ia berpesan kepada saya untuk segera membagikannya pada kalian. Hanya saja, aku selama ini belum ada waktu untuk mengunjungi rumah kalian. Inilah waktu yang tepat.”
“Apa Ayah punya harta yang lain? Seharusnya dia udah memberitahukan kami semua,” balas Dika dengan tatapan yang tidak yakin.
Pak Cipto mengambil kertas yang ia pisahkan tadi. Lalu, mendekatkannya ke mata untuk dibaca.
“Dengarkan ini .....” Ia mengambil napas sesaat. “Anak-anakku ... ketika kalian membaca ini, sudah aku pastikan bahwasanya aku sudah tiada. Kalian sudah besar-besar semua dan aku harap Rio telah berubah dari semua perbuatan buruknya selama ini. Aku menyayangi kalian melebihi semua orang yang aku sayangi di dunia ini. Tidak luput pula kalian selalu dilindungi oleh kasih sayang Ibu yang memperlakukan kalian sebegitu lembut, berbeda denganku yang sangat keras. Tapi percayalah ... hal itu hanya untuk menguatkan hati kalian. Dunia yang kalian hadapi hari esok tidaklah selembut tangan Ibu, bahkan lebih keras dari didikanku selama ini. Maka, tepat hari ini ... aku menuliskan surat ini karena aku tahu umurku tidaklah panjang lagi. Aku merasakan malaikat akan menjemputku. Aku titipkan semua pesan kepada sahabatku dan suatu waktu akan mengunjungi kalian kalau sudah melewati semua ujian yang diberikan. Ada hal yang aku berikan lebih awal dan ada hal yang aku tahan agar kalian bisa mengerti kehidupan. Itulah alasanku tidak serta merta memberikan kalian seluruh harta yang aku wariskan. Aku hanya belajar dari perkataan kakekmu, jangan terlalu mewarisi anak dengan harta, melainkan dengan ilmu. Aku rasa kalian sudah menyerap semua ilmu-ilmu kehidupan yang aku titipkan pada kalian. Maka, janganlah bersusah lagi. Maafkan aku yang telah meninggalkan semua pilu untuk kalian.”
Surat itu dibacakan sebegitu detailnya oleh Pak Cipto. Air mataku dan cucuran tangis dari Dika tidak terbendung ketika mendengar suara hati Ayah yang tersimpan di dalam secarik kertas HVS lusuh. Rindu-rindu itu semakin mencuat ketika Pak Cipto memberikan sebuah foto lama yang memperlihatkan kehangatan keluarga kecil kami. Ayah tengah menggendong Dika, aku yang masih menyusu dengan botol tengah berada di pangkuan Ibu, sedangkan Rio Si Sulung sedang berdiri tegak di antara kami. Aku tidak tahu di mana tepatnya lokasi itu, yang pasti aku melihat kami sedang berdiri di atas batu karang dengan pemandangan lautan.
Pak Cipto mengeluarkan dua buah kartu ATM dari tas kopernya. “Ini adalah kartu ATM yang berisikan uang yang tidak aku ketahui jumlahnya. Aku tidak tahu pasti isi rekening kalian berdua, kecuali punya Rio.”
“Ini hanya dua ... punya Rio di mana?” tanyaku.
Ia menghisap rokoknya kembali dengan perlahan. “Tepat Ibumu masuk rumah sakit, aku mengunjungi diam-diam dan meminta menggunakan warisan Rio untuk dijadikan biaya pengobatan ibu kalian yang sangat besar. Tidak ada gunanya uang anak itu karena Rio sudah meninggal. Setidaknya, ia memiliki bekal pahala yang masih mengalir setelah ia sudah tiada. Yaitu berbakti untuk terakhir kalinya kepada ibu kalian.”
Tangis Dika semakin pecah. Ia menundukkan kepalanya untuk meredam tangis. Namun, rasa yang tengah berkecamuk di hatinya terlalu besar dan meronta-ronta. Ia menghantam meja kaca dengan tangannya. Untung saja kaca itu tidak pecah, hanya bergeser dari posisi semula.
“Ayah *******! Kenapa dia biarin kami hidup terpontang-panting gara-gara utang bodoh yang ia tinggalkan! Dia sama dengan Rio ... sama-sama bodoh! Ayah bodoh! Dia tidak tahu betapa susahnya hidup kami tanpa sanak keluarga yang bodohnya pun sama! Kami sebatang kara, Ayah!”
Aku menarik kerahnya untuk menghadap kepadaku. “Dik ... Ayah itu enggak bodoh! Dia tahu yang terbaik buat kita! Lo udah tahu kan kalau semua ini biar kita belajar. Kita beruntung tidak punya apa-apa karena kita tahu cara untuk berusaha, bertahan hidup selama ini!”
“Hanya dua yang gue enggak sukai di dunia, Rio dan sikap kasar Ayah. Lo mungkin dimanjain sejak kecil, tapi gue enggak. Gue selalu benci sama dia dulu. Dan ini bagaikan penghinaan bagi gue!”
Pak Cipto berdehem. Ia merapikan jas hitam yang ia kenakan, lalu menggeser kertas wasiat beserta buku tabungan rekening kepada kami. “Ayah kalian itu memang seperti itu. Dia keras karena sedari kecil sudah dididik dengan keras. Ia tidak mau anak-anaknya tak lebih kuat dari dirinya sendiri. Sudahlah ... kalian bisa mengunakan uang ini untuk melunasi seluruh utang ayah kalian. Pinnya sudah aku tulis di belakang surat itu. Pergunakan dengan bijak, jangan beli narkoba. Ada untungnya juga Rio tidak menikmati uang ini, bisa-bisa dia belikkan ke sabu.”
“Bapak tau sanak keluarga kami yang lain ada di mana?” Dika menoleh padanya.
“Entahlah ... aku rasa mereka juga mengincar harta orangtuamu.” Ia merapikan seluruh berkas yang bukan untuk kami. “Seminggu setelah ayah kalian meninggal, salah satu perwakilan dari paman dan bibimu datang ke ibumu. Mereka mengatakan ada sebagian harta milik Reymond yang berasal dari kakek kalian. Maka, harus dikembalikan. Makanya, mereka bersikeras buat menguburkan ayah kalian di kampung halamannya.”
“Lalu, ke mana mereka sekarang?” tanyaku kembali. “Kami sama sekali tidak tahu menahu ke mana mereka sekarang. Seakan, kami memang terlahir tanpa sanak keluarga. Cuma waktu kecil dulu kami bermain sama sepupu-sepupu.”
“Saya enggak tahu tentang itu. Cuma, waktu itu saya melarang ibumu untuk memberi sepeser pun harta milik ayahmu kepada mereka. Aku datang dan mengancam untuk menuntut mereka dengan dalil pemerasan.” Ia tersenyum, lalu berdiri setelah menghabisi kopinya. “Saya sekarang adalah sanak keluarga kalian.”
Tangannya memberikan sebuah kartu nama miliknya.
“Apa bapak akan berkunjung lagi?” tanya Dika.
“Entahlah ... saya sibuk akhir-akhir ini. Banyak kasus petani yang dijerat undang-undang karena dianggap mencuri hasil perkebunan perusahaan.” Pak Cipto menghela napas sesaat. “Baiklah ... saya pulang dulu. Kalian udah tahu sekarang tempat untuk mengadu. Jangan foya-foya dengan uang itu.”
Ia pergi dengan meninggalkan bau tembakau di sekujur ruang tamu ini. Aku masih terdiam di ruang tamu, begitu pula Dika. Seketika aku melihat foto Ayah yang tergantung di dinding ruang tamu. Ia kini tengah tersenyum.
“Terima kasih, Ayah.”
***