Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 65 (S3)



Mataku bergantung pada sayunya tatap mata seseorang yang sedang memangku kepalaku pada pundaknya. Abimana bersentuh dengan rerumputan di bawah, bertelanjang kaki karena aku yang menyuruh. Sesekali kaki beningnya itu harus kotor oleh tanah rerumputan, biar tidak seperti kaki perawan yang tidak keluar rumah seharian.


Para undangan ulang tahun Mawar sudah hampir bubar. Bersisa teman-teman dekat yang sudah bersiap-siap untuk pulang. Candra pun tiba dengan istri tercinta tadi. Aku sempat memeluk Zainab yang sedikit gemukan di bagian pipi. Harap maklum, mengandung anak itu terkadang harus mengorbankan bentuk tubuh ideal ketika masih sendirian. Mungkin aku akan begitu nanti, butuh waktu untuk menjawabnya, aku hanya sekadar bertanya.


Terdengar suara Mawar memanggil. Ia baru saja mengeluarkan kue istimewa dari kakaknya yang disimpan untuk orang-orang terdekat. Kue itu hampir setinggi dadaku karena sudah bertumpu pada sebuah meja. Tetap saja kue itu merupakan termasuk kue terbesar yang pernah aku pandang. Seperti biasa, Candra dengan kekocakannya mencolek sedikit. Ia memang tidak pernah tahu malu, bahkan setelah menikah pun itu begitu.


“Reira … Reira … pergi tanpa kabar, datang tanpa berita. Lo selalu begitu ….” Ia menatap panjang Abimana kemudian. “Sekalinya datang bawa yang baru.”


Candra menyindirku. Padahal dahulu ia sering aku sindir.


“Candra … Candra … jadi PNS malah sibuk. Orang milih jadi PNS biar kerjaannya santai,” balasku.


“Lah, emangnya PNS itu cuma pejabat pemerintahan yang jam sembilan pagi masih keliaran di kedai kopi? Gue agak beda sedikit.”


“Mana anak? Kok ga dibawa?” tanyaku pada Zainab.


“Ada saudara di rumah. Jadi bisa ditinggalin. Sumpah aku tu ya enggak nyangka kamu di sini.”


Mataku memicing aneh. “Hey, ke mana logat Melayu kau?”


“Hahah … bertahun-tahun tinggal di Jakarta, logatku sedikit berubah,” balasnya.


Mawar mendatangi kami berempat. “Nikmatin apa yang ada. Jangan kebawa mimpi kalau nanti enggak kebagian.”


“Kue segede gunung gini kok ga kebagian? Btw, thanks banget udah ngundang gue ke sini. Maaf Borne tadi malu-maluin. Dia mana pernah datang ke party semewah ini.”


“Ah … biasa aja kok. Dia anaknya asyik juga. Banyak pengalamannya dia. Si Semara juga, baru tahu gue kalau dia make up artist. Kalau tahu duluan, mending gue pakai jasa dia buat malam ini.”


“Save aja nomor dia, mana tahu nanti butuh.”


Terlihat Abimana sedang berbaur dengan yang lain. Aku hanya duduk di sebuah kursi sembari menikmati wine yang semakin membuat kepalaku berat. Tanpa aku sadari, sebuah pesan singkat dari David terkirim lima menit yang lalu. Ia memintaku untuk masuk ke dalam rumah Mawar, tepatnya ke ruang perpustakaan pribadi di lantai dua.


Tatkala aku mendatangi ruangan yang sedang tertutup itu, terdengar musik lembut dari intrumen jazz dari dalam. Terlihat seorang pria sedang duduk bersantai di lantai balkon. Langkah pertamaku terpaku pada jejeran buku-buku dengan label tertentu. Mawar mengoleksi buku-buku Psikologi, filsafat, sastra, bahkan buku memasak pun ada di rak itu. Aku tidak diberi kesempatan untuk menyentuhnya, David lebih dulu memanggilku untuk mendekat.


Langkahku terhenti tatkala asap rokok yang ia hisap menerpa wajahku. Jelas sekali aku tahu bau itu karena orang kenalan dermaga kapal di Aceh sering merokok itu.


“Satu bandar udah gue bikin mampus, sekarang lo dapat ganja lagi.”


“Santai … silahkan panggil polisi jika lo mau,” balas David sembari menarik sebuah kursi untukku.


“Terima kasih.” Aku duduk bersila pada kursi tersebut, menyaksikan David yang sangat santai sekali. “Kenapa lo nyuruh gue ke sini?”


“Ada banyak yang mau gue bicarain. Tapi ada banyak juga yang udah gue lupain untuk dibicarakan.”


“Berdiksi di depan muka gue itu sampah,” balasku. “So … hal pertama kali yang gue pikirin waktu melihat lo ngeganja pertama kali adalah … lo sampah.”


David tersenyum mendengarnya.


“Sampah selalu berguna pada tangan orang yang tepat. Semua orang itu sampah, Reira. Lo juga sampah, tetapi lo ngegunain kesampahan lo itu dengan baik. Manipulatif, munafik, hmmm … ketika lo ngehina papa lo yang gila kekuasaan, tanpa lo sadari itu menurun ke elo.”


“Lo semakin liar semenjak gue ga ada⸺”


“Bukan, gue itu berjalan sendiri semenjak kecil. Lingkungan ngajarin gue begini.” Ia melebarkan tangannya. “Lo lihat semuanya kan Reira … gue bisa tanpa lo.”


“David … David … lo itu kenapa sih?”


“Uang … pengaruh … wanita … teman kalangan atas, gue dapat semuanya.”


Jelas ia sedang mabuk ganja sekarang, ditambah wine setengah botol yang mungkin ia habiskan sendiri.


“Lo balas dendam dengan keadaan lo dulu,” simpulku.


Ia mengangguk. “Iya, benar. Ada banyak hal yang dulu enggak pernah gue dapatin, sekarang bisa gue genggam sekarang. Manusia memang enggak pernah puas. Kita ini buas, hampir sama seperti binatang.”


“Suatu hari nanti lo bakal sadar kalau semua itu enggak ada gunanya dan korelasinya dengan tujuan hidup lo. Gue udah merasakannya sejak gue remaja. Lo cuma menunggu waktu.”


“Lo bicara begitu karena lo udah ngedapatin semuanya sejak dulu, bahkan tanpa perlu berusaha dengan keras.”


Aku tertawa kecil. “Hahaha … intinya sama, bukan tentang siapa yang dapat duluan dan usahanya buat itu. Gue cuma mau ngingetin, kalau semua orang ada batasnya.”


“Lo nyindir diri sendiri? Ambisi bodoh lo itu mau dibawa ke mana?” tekannya.


“Iya, gue pun sadar ambisi gue itu ada batasnya. Ambisi gue itu hanyalah imajinasi anak lima tahun yang belum tahu realita apa-apa. Tapi lo lihat, gue bisa setidaknya selangkah mendekati tujuan akhir ambisi itu. Gue bisa ketemu dengan kakek gue, gue bisa berlayar di lautan, punya teman-teman setia, dan lo mau bukti apa lagi dari gue?”


Kami terdiam berdua sehabis nadaku yang terlalu tinggi. Ia memancingku, aku tidak bisa menahan itu. David bukanlah orang pasif sebagaimana aku kenal, ia sudah memiliki prinsip tersendiri.


“Bagaimana dengan Abimana?”


“Iya, dia baik, ganteng, tinggi, dan punya uang.”


David meludah di hadapanku. “Omong kosong. Gue tahu lo lagi berbohong. Lo cuma ngebawa Abimana buat ngebuktiin kalau lo bisa dapetin orang lain.”


“Lo bicara seolah-olah tahu semuanya.”


“HAHAHA … bukannya elo juga begitu dulu ke semua orang?” Ia menertawaiku. “Lo seakan bukan seperti diri lo. Abimana bukan tipe lo, Reira. Gue tahu itu.”


“Bagaimana lo nyimpulin itu.”


“Karena lo masih suka sama gue.”


Aku menyiraminya dengan wine di hadapan.


“Iya, gue masih suka sama lo. Tapi bukan berarti gua mau sama lo yang bajingan begini!”


Aku pergi meninggalkannya. David benar-benar orang yang berbeda. Ia seakan tidak aku kenali.


***