Captain Reira

Captain Reira
35



Salah satu dari kesalahan besar yang pernah aku perbuat ialah menghancurkan kepercayaan yang pernah seseorang titipkan padaku. Emosi yang telah banyak aku korbankan dalam hubungan ini, kini hancur berderai tidak bersisa. Aku membuat semuanya sirna dalam satu momen yang tidak bisa aku hindarkan. Kecupannya meninggalkan sejumlah tanda tanya besar bagiku.


Apakah itu berarti cinta?


Atau sekedar alat untuk mencemburui Fasha?


Aku tidak bisa menafsirkan kecupan yang Reira berikan. Wanita itu teralu sulit untuk ditebak. Jalan pikirannya bagaikan labirin yang menjebak. Selalu ada lika-liku yang ia tinggalkan ketika aku berusaha untuk menelusurinya. Terlalu banyak yang ia simpan hingga aku sendiri tidak mengetahui.


Reira berlari setelah tamparan yang ia terima dariku. Tidak ia pedulikan bahaya yang menantinya ketika Reira menyeberang jalan tanpa melihat ke kiri dan ke kanan. Ia tetap melangkah dengan tangis yang ia bawa. Bahkan, tampak bulir air matanya yang menetes ke jalaan. Tangannya tidak henti menghapus garis tangis yang tercipta. Usahaku akhirnya terhenti. Aku tidak sempat mengejarnya ketika ia memberhentikan sebuah taxi untuk melarikan diri.


Tidak ada tempat lain yang ia tuju selain rumahnya sendiri. Reira kudapati tertidur kursi rotan yang berada di terasnya. Masih lengkap dengan riasan yang ia poles sedari tadi, wajahnya tampak basah oleh keringat dan air mata. Napasnya pendek terlihat dari dadanya naik turun dengan cepat. Sesekali erangan kecil terdengar dari wajahnya yang lelah itu. Tubuhnya panas oleh sisa demam yang ia curhatkan padaku kemarin. Ia hanya bergeming dalam bunga tidur yang tengah terputar. Bahkan, ia tidak sadar ketika suaraku berkali-kali memanggil nama Bu Fany dari luar rumah.


Hanya kecupan kecil di kening yang kutitip setelah mengangkat Reira ke kamarnya. Ucapan kecil kusampaikan yang berartikan kata maaf. Aku menyesal, sangat menyesal sekali.


Semenjak hari itu tidak ada kabar dari Reira yang datang padaku. Bahkan, ia tidak pernah berada di gedung kosong yang berisikan anak-anak jalanan yang selalu berharap makanan setiap kali Reira datang. Anak-anak lucu yang Reira sebut dengan awak kapalnya itu, berkata bahwa Reira tidak pernah tampak semenjak seminggu ini. Padahal ia selalu datang di setiap hari kamis, ketika jadwal kuliahnya tidak terlalu padat sehingga meluangkan waktu dengan anak-anak itu.


Seluruh media untuk menghubunginya tidak mendapatkan respon apa-apa. Sudah kukunjungi kedua rumah yang menjadi kediamannnya, namun tidak ada yang menyahut salam dariku. Semuanya kosong seakan telah pergi sejak lama. Ia bagaikan kapten kapal yang tengah beranjak ke sebuah samudera, lalu dihantam gelombang besar, hingga hilang tidak berkabar. Padahal aku ingin mendengar suara tawanya yang kecil ketika menceritakan hal-hal yang sebenarnya tidak lucu. Aku hanya tertawa sekadar menghargai dirinya yang telah berusaha menghiburku.


Aku terasa hampa tanpa orang-orang berarti bagiku. Fasha sudah dengan jelas memintaku untuk dijauhi, sementara itu Reira telah hilang tanpa kabar. Candra selalu sibuk dengan tugas, begitu pula Dika yang hanya peduli dengan bengkelnya saja.


Wangi bakaran lintingan ganja tercium di pemakaman Rio. Asapnya mengawang dan bercampur dengan asap bakaran tembakau milikku. Sebenarnya aku benci melakukan ini, tetapi aku harus. Rio yang memintaku untuk melakukan itu. Ia membuatku seakan bakaran linting ganja dapat memanggil dirinya kembali. Hatiku gundah dan tidak tahu ingin bercerita kepada siapa. Hanya batu nisannya yang selalu mendengar tangis hatiku selama ini.


Terkadang, lintingan ganja membuatku penasaran untuk mencicipinya. Aku tidak tahu rasa lintingan yang membuat Rio ketagihan sewaktu dulu. Tentu saja rasanya jauh beda dengan tembakau yang selalu aku hisap. Rio selalu mengatakan bahwa imajinasi menariknya terbang saat hisapan pertama.


"Jangan pernah lo coba itu!" ucap seseroang dari belakangku. Aku segera menarik jemariku yang menyentuh lintingan yang aku letak di atas batu nisan Rio.


Aku menoleh, ternyata ia adalah Dika. Kulit hitamnya mengkilap oleh sinar matahari yang membelainya. Seperti biasanya, tidak ada senyum yang ia lemparkan saat bertemu padaku. Wajahnya selalu datar tidak berekspresi.


"Ngapain lo ke sini?" tanyaku. Aku bergeser sediki untuk memberinya tempat duduk.


"Gue heran kenapa adik gue pagi-pagi bawa bunga. Makanya gue susul lo ke sini," balasnya. Ia mengambil kotak tembakau yag tergeletak di bawah gundukan makam Rio, lalu menyelipkan sebatang ke sela bibirnya. "Jangan pernah lo coba barang yang pernah bikin Rio jadi gila."


"Rio enggak gila, dia lebih waras daripada lo," balasku untuk membela Rio.


"Cuma orang gila yang punya permintaan buat dibakarin ganja kalau lo ke sini." Ia mencoba membentuk bulatan asap dari bibirnya. "Jadi, ada masalah apa? Gue tahu lo ke sini kalau lagi ada masalah."


Dika mengangguk. "Lo suka sama dia?"


"Enggak tahu, gue aja bingung."


"Lo sering mengigau sambil nyebut nama dia." Dika tertawa sembari menyemburkan asap.


"Gue enggak tahu perasaan apa yang lagi gue simpan. Gue khawatir kalau dia enggak ada. Gue sedih kalau ada jarak─"


"Rasa khawatir yang lo simpan itu pertanda awal dari cinta, atau bisa jadi lo udah jatuh cinta," kata Dika sembari memerhatikan asap lintingan yang kubuat di atas batu nisan Rio.


"Dari mana lo tahu? Lo aja enggak pernah jatuh cinta," balasku.


"Hahaha ... sok tahu lo. Jelek-jelek gini, gue udah lebih berpengalaman daripada lo."


"Salah kalau gue menyimpan perasaan ke dua cewek sekaligus?" tanyaku pelan.


Ia menatapku. Sebenarnya ia tahu siapa satu orang lagi yang aku maksud. Fasha yang selalu ada di setiap lamunan puisi senja yang kutulis.


"Salah, cinta cuma bisa untuk satu orang. Kalau untuk dua orang, itu namanya nafsu," jawabnya dengan tegas.


"Gue bingung, Dik." Aku tundukkan wajahku ke tanah yang berkerikil.


Ia menarik leherku untuk mendekat ke bahunya sebagai sandaran. Wangi tubuhnya masih seperti bengkelnya. Terdapat sedikit noda oli yang menempel pada pakaiannya. Setidaknya, ia lebih bersih dari biasa. Dika melakukan hal yang paling jarang ia lakukan. Dia tersenyum padaku.


"Hati enggak pernah bohong. Pikirkan satu nama yang selalu lo selipkan sebelum tidur, itulah orang yang lo simpan di hati lo selama ini. Orang yang selalu ada buat lo."


Aku tertegun mendengar ucapan Dika. Ia melepaskan tangannya yang menjepit kepalaku. Sekarang aku tahu badai apa yang tengah berkecamuk, hujan yang tengah bermendung dalam mata hatiku, hingga membuatnya menangis.


Reira, ucapku dalam hati. Kapal kecilku tengah berlabuh padanya.


***