
EPISODE 129 (S2)
Retak hatiku mendengar deru tangis yang ia isak dalam rengkuh hangat tubuhku. Bercerita satu kalimat mengenai tragedi yang terjadi entah kapan, bisa jadi tatkala kami sedang berbahagia bersama tadi. Jika kabar itu ia dengar ketika kami saling menabur senyum tatkala tangan kami saling bergenggam satu sama lain, aku merasa orang yang paling hina karena tidak mampu merasakan getaran yang ia rasa. Sebegitu kuatnya hati Reira untuk menahan semua ini agar tidak meluap ke permukaan. Merelakan dirinya yang rapuh itu untuk tidak bercerita, menahan betapa perihnya kehilangan orangtua.
Tak mampu aku berkata tatkala ia meneteskan air mata. Tutur kata tak jelas itu tak aku respon sama sekali. Aku tersedot ke masa lalu yang tak akan bisa sama sekali berdamai denganku. Tatkala dua orang yang paling berperan di dalam hidup ini satu per satu direnggut atas nama kuasa Tuhan.
Sakit ... rasa itu masih menderu dalam urat nadiku sebagai sebuah trauma yang tak akan pernah hilang. Sepi ... suasana yang aku lihat tatkala kata itu terdengar olehku. Orang yang paling tidak ingin ia merasa, kini akhirnya ia menjumpai titik singgung itu. Reira kini berada di dalamnya.
Tahu betul aku apa yang tengah ia rasakan di dalam hatinya saat ini. Sepi, marah, sedih, dan berbagai macam perasaan kini berkecamuk menjadi satu hingga ia tak tahu lagi untuk berbuat apa selain menangis. Aku sudah pernah di dalamnya, sehingga aku tak mungkin bisa menghindari getaran lutut Reira yang tak sanggup untuk berdiri. Ia jatuh dalam pelukanku, menangis dengan isak yang ditahan. Tak ada daya bagi Reira untuk berdiri, ia sanggah seluruh beban tubuh dan beban perasaannya itu kepadaku. Hingga, aku membawanya duduk ke undakan parkiran.
Aku biarkan Reira menangis sepuasnya. Sebagai mana yang Fasha kutip dariku, pundak akan mencari kepala untuk menyadari. Namun, kini pangkuan yang berbicara pada Reira. Tertunduk Reira dalam pangkuanku yang hangat, menangis dengan perasaan dingin yang membara. Ia sedang kosong kali ini, diisi oleh tangis yang tak berhenti-henti. Ia lupa dengan seluruh senyum ia tabur kepada kami, kini hilang sirna separuh napas hidup hari ini. Entah kapan akan habis, tertuang berbicara dalam tunduknya yang menangis.
“Seluruh manusia akan mati.” Hanya itu yang sanggup untuk aku katakan padanya.
Reira tak menjawab, terlalu disibukkan oleh kekosongan pikiran dan hati darinya.
“Konsekuensi orang yang hidup adalah mati. Konsekuensi orang yang melihat kematian adalah merelakan. Mama udah tenang sama pangkuan Tuhan. Dia tersenyum sekarang, mungkin aja di samping lo. Kita enggak bisa lihat. Lo anak yang paling dia sayang, meskipun seberapa hebatnya Reina dari lo. Tetep lo yang paling dekat Mama.”
Reira mencengkram kakiku. Seluruh beban perasaan kini berada di ujung tangan untuk diekspresikan.
“Gue udah seberusaha mungkin buat rela sejak dahulu karena gue tahu betul Mama bakalan pergi. Semenjak nge-drop lagi, dokter udah bilang kalau hidup Mama cuma bisa bertahan dengan alat. Tapi, gue teriakin dokter di sana, gue maki mereka kalau mereka bukan Tuhan yang tahu kapan Mama bakalan pergi. Gue bisa aja berkeputusan buat ngelepasin semua alat kesehatan Mama, tapi gue enggak mau karena gue bukan Tuhan. Gue cuma manusia yang berharap kepada Tuhan.”
Kalimatnya tak terdengar jelas olehku, tetapi masih bisa aku pahami.
“Menangislah, Rei. Kalau cuma dengan cara itu biar lo bisa tenang, gue enggak bakalan ngelarang. Semuanya udah terjadi, kita sebagai manusia cuma bisa menerima.”
“Gue berdosa, kan? Gue berdosa kan ngebiarin Mama tersiksa lebih lama?”
Hela napasku beriringan dengan lembut belaian tangan pada rambutnya. Lembut sekali rambut Reira, tetapi tak seiring sejalan dengan perasaannya kali ini.
“Dosa enggak ada yang pernah tahu. Lo berbohong demi kebaikan pun belum tahu apa itu sebuah dosa atau enggak. Lo cuma bisa berusaha, itu doang.”
Reira menegakkan kepalanya. Ia tarik napas panjang-panjang untuk menenangkan diri sebisa mungkin, meskipun wajahnya basah oleh air mata. Tak ingin ia tatap diriku, ia hanya melihat ke depan dengan tatapan kosong. Tangannya mengepal menahan rasa yang tengah berkecamuk di dalam hati.
“Gue dapat pesan singkat dari Reina waktu sebelum kita ke acara tadi, tepat setengah jam setelah Mama pergi.”
“Gue enggak mau jadi pengacau kebahagiaan malam ini. Satu hal kenapa gue lama keluar rumah karena gue nangis. Gue selalu nangis di mana aja waktu enggak ada orang sama sekali di sekitar gue. Terkadang, gue nangis tanpa sebab. Gue kira kalau gue ini lagi gila. Gue ngerasa sedih, tapi enggak tahu apa yang gue sedihin.”
Aku tarik wajahnya untuk jatuh pada pundakku. “Berceritalah kapan lo mau bercerita, itulah gunanya gue di sini. Lo itu selalu aja nahan perasaan lo. Lo itu enggak adil dengan diri sendiri. Lo rela bikin orang lain bahagia, sementara lo sendiri sedih. Gue benci dengan orang seperti itu.”
“Gue memang orang yang patut dibenci, karena gue membenci banyak hal.”
“Semua orang pasti ada hal yang dibenci. Gue benci waktu nyombongin diri ke orang lain, walaupun maksud lo buat ngebalas mereka yang udah ngerendahin lo. Dan lo pasti punya hal yang dibenci.”
“Gue benci waktu lo jadi pengecut,” balasnya.
“Oke, gue paham kalau gue ini pengecut. Tapi, gue lebih benci lagi sama orang yang enggak peduli dengan diri sendiri.” Aku menekan dadanya, tepat pada jantung yang sedang berdetak. “Lo itu punya hati yang harus dihargai. Gue belajar banyak hal dari masa lalu gue, kalau setiap perasaan yang dipendam itu bakal bikin lo hampa. Gue pernah ada di posisi hampa, di mana enggak ada satu pun orang yang peduli sama gue. Tapi, gue berusaha buat membuka diri sama orang lain. Satu per satu mereka datang, Candra ... Fasha ... elo ... Mawar ... Kakek Syarif bahkan.”
Dirinya diam sejenak. Alur napasnya lebih tenang dari sebelumnya. Tidak lama kemudian. “Dave, gue ini enggak gila, kan? Gue sering nangist sampai-sampai gue ke Psikolog beberapa waktu yang lalu.”
“Lo wanita tergila yang pernah gue kenal. Mana ada cewek normal yang bisa nyupirin kapal tua ke Manggar?” Aku menaikkan alisku untuk memancingnya berekspresi. “Setiap orang punya beban. Mekanisme sederhana diri buat ngelepasin beban adalah menangis. Dan lo harus tahu, orang yang ke Psikologi itu enggak selalu orang gila. Mereka cuma butuh bercerita. Selagi Psikolog-nya bilang lo bukan dalam kategori gangguan, that`s fine.”
Reira mengangguk. “Iya, benar. Dia bilang gue cuma butuh cerita. Gue terlalu sering nyimpan perasaan sendiri, terutama semenjak Mama jatuh sakit.”
Aku menghela napas. “Lo udah tenang sekarang?”
“Iya ... mari kita masuk.” Ia mengusap air matanya. Bergoncang tas satu tali milik Reira, lalu mengambil satu benda kecil di dalamnya. Obat tetes mata itu ia tuang ke kedua bola matanya. “Gue selalu bawa obat tetes mata kalau sewaktu-waktu gue sedih, gue bisa normalin mata gue lagi.”
Matanya berkedip-kedip beberapa kali. Sebegitu sedihkah dirinya hingga menyiapkan hal seperti itu?
Aku ambil obat tetes mata itu lalu aku buang ke jauh-jauh ke sebelah.
“Jangan pakai itu lagi. Jujurlah pada diri sendiri.” Aku menarik tangannya. “Menangis bersama gue.”
Tangan kami semakin erat bergenggaman.
***