Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 25 (S3)



Bertemu dengan David merupakan satu-satunya hal yang mustahil untuk aku katakan sekarang, meskipun aku percaya jika segala sesuatu bisa dilakukan jika ada kemauan. Pantang sekali jika ada seorang mengatakan kemustahilan di atas dunia ini jika masih bisa diusahakan, Namun, aku tidak bisa melakukan itu karena sudah terikat oleh janjiku sendiri dan janji kepada orang lain. Aku tidak dapat bertemu dengan David secara langsung, cukup melihatnya dari kejauhan sebagaiman David memandang Fasha dahulu.


Ia adalah hantu, sudah aku bilang. Menakutkan untuk aku temui, tetapi tatkala aku berlari kabur, ia malah mengejarku  untuk kembali. Pengait rasa darinya seperti kail yang mampu membawaku kapan saja. Aku berusaha keras untuk melepaskan ikatan tersebut, tetapi aku tidak bisa. Entah kenapa ketika awal itu merupakan kesalahan, akan menjadi kacau untuk seterusnya.


Mencintai David itu tragedi dari perasaanku yang penuh ironi. Bertemu dengannya merupakan kesalahan dari kisah langkahku yang cukup memprihatinkan. Berjalan di atas cinta palsuku kepadanya agar menghindari Nauren, ternyata seperti bom waktu yang menungguku di ujung tebing. Aku benar jatuh cinta kepada pria itu, cinta palsu itu nyata adanya. Di kala aku mengira ia telah jatuh cinta kepadaku, ternyata tanpa aku sadar aku pun telah hanyut di dalam cintanya.


Bunyi gunting di tangan Semara bergema pada telingaku. Helai demi helai rambut jatuh ke bawah seperti dedaunan kering dari pepohonan. Aku duduk termenung menatap Minerva dari teras belakang, sementara Semara sibuk memotong rambutku sebagai mana yang akum au. Sebenarnya, aku ingin mengecat rambut, tetapi Bunda selalu melarangku untuk itu. Aku harap Bunda juga tidak melarang ketika aku memendekkan rambut seperti polisi wanita. Semara katanya mampu  untuk melakukannya.


Semara berpengalaman bekerja di salon wanita. Ia pandai memotong rambut wanita, perawatannya, serta merias wajah untuk berbagai keperluan. Tidak heran keahliannya tersebut berguna untuk mempercantik diri ketika ia hidup dari dunia malam.


“Kamu nyerahin David ke Mawar?” tanya Semara ketika menggunakan catokan untuk menata rambutku.


“Ya begitulah … aku tu minta Mawar buat mendekati David, sebagai janjinya … aku menyerahkan sepenuhnya David.”


“Bukannya itu ngorbanin perasaan kamu sendiri, Reira?”


“Semua orang pasti berkorban, meskipun itu perasaan sendiri.” Aku melihat rambutku dari cermin yang aku sentuh, ternyata potongan rambut dari Semara bagus juga. “Aku tahu jika suatu saat nanti bakalan pergi. David itu cuma sebagai tempat sementara bagi aku. Lebih baik dia bersama Mawar daripada terus melihat aku.”


“Kamu itu berani banget buat mainin perasaan ….”


“Itu terkadang yang membuat jahatnya aku, Semara. Aku harap kamu paham nantinya.” Aku tersenyum menatap Semara yang selesai dari tugas memotong rambutku.


Jarang sekali aku bercurhat seperti ini kepada wanita lain yang baru saja aku kenal. Entah kenapa semuanya lepas jika aku bersama Semara. Mungkin karena Semara juga terbuka kepadaku, sehingga aku melakukan hal yang serupa. Ia pendamping yang cocok untukku, sifatnya lembut untuk mengimbangi aku yang keras. Terkadang aku seperti membawa seorang adik yang manja, di sisi lain aku juga sedang membawa kakak yang sangat peduli, itulah Semara.


Pagi ini aku pergi bersama Semara menuju lokasi proyek pembangunan sekolah yayasan. Pengukuran sedang dilakukan oleh anggota Alfian. Senang rasanya membangun semua ini untuk anak-anak terlantar bisa hidup dan bersekolah, walaupun tidak ada satu pun orang di lokasi ini yang menyangka jika akulah otak dari semuanya.


Setelah itu, aku dan Semara bertandang ke panti rehabilitasi narkoba milik pemerintah di mana Nauren sedang dibina. Aku tidak sabar untuk melihat wajah kalahnya itu. Di sebuah ruangan jumpa pasien rehabilitasi, aku duduk termenung sembari menunggu giliran besuk. Tidak lama kemudian, pintu terbuka tatkala petugas rehab membawa seorang pasien. Ia tidak berpakaian mewah sebagaimana yang aku lihat setiap hari, melainkan kaos lusuh dengan celana training warna hitam. Wajahnya pucat tidak bercahaya tatkala berhenti di setengah perjalanan. Ia menatapku seperti musuh.


“Nauren ….”


“Buat apa lo ke sini?”


“Buat apa?” Aku meminta Semara untuk memberikanku plastik buah-buahan dan makanan manis kepadanya. “Gue menjengku elo. Udah sakaw hari ini?”


“Semua orang sekarang bilang gue bajingan, bukan elo aja,” balasku.


“Reira, keluarga gue malu karena perbuatan cepu elo. Papa gue gagal dari gubernur. Bisnis gue hancur. Lo puas?”


“Apa lo ngira gue enggak kena dampaknya? Papa gue juga gagal jadi calon gubernur, keluarga Papa dan Bunda gue tahu kalau gue berusan dengan BNN, walaupun hasil akhirnya gue tetap negatif. Tapi, framing tetap aja kena ke keluarga gue, terutama kita ditemukan di dalam hotel berdua. Lo bayangin aja, keluarga mana yang enggak malu kalau anak gadisnya ketahuan di hotel berdua sama cowok dan itu disiarkan di berita gosip pagi. Anak politisi ketahuan bla … bla … bla ….”


“Diam lo Reira … lo bicara seakan semuanya itu mudah begitu aja bagi lo,” sanggah Nauren.


“Gue enggak menyalahkan lo sepenuhnya Nauren. Orangtua kita yang salah. Kebetulan lo bisa gue jadiin alat buat melancarkan rencana gue. Gue enggak pernah cinta sama lo tapi gue dipaksa oleh kedua belah pihak buat nikah sama elo. Bahkan kehadiran David pun enggak membuahkan hasil, mereka tetap aja maksa.”


Ia menatapku dengan sinis. “Gue keluar dari sini, gue hancurin hidup lo Reira.”


“Hahaha … lo mengancam orang yang salah. Lo enggak bakalan bisa nyari gue.”


“Sekarang mau elo apa?” tanya Nauren.


“Jangan pernah sentuh David karena dia enggak ada hubungannya dengan kita. Gue enggak mau sama elo bukan karena gue suka sama David, karena gue bukan cewek yang bisa dijodohkan dengan mudah. Gue bukan alat, tapi orang yang menggunakan alat, terutama elo yang jadi alat gue.”


“David? Dia cowok yang sekali gue sentuh bisa hancur hidup dia. Tapi gue enggak tertarik dengan dia. Pokoknya, setelah elo pergi dari sini … jangan harap hidup lo aman Reira. Lo udah banyak ngancurin hal-hal di hidup gue, pribadi gue dan keluarga gue.”


“Silahkan … lo mau bunuh gue? Silahkan. Lo mau buat miskin gue? Bodo amat karena gue punya hal yang lebih dari uang,” balasku.


“Jangan pernah main-main sama gue, Reira. Gue punya semuanya ….”


“Lo enggak punya kapal dan awak kapal ….”


Aku berdiri seraya tersenyum. Tanganku merangkul Semara untuk segera pergi dari sini. Sementara itu, Nauren terus menatapku yang keluar dari ruangan itu.


Hidup mulai saat ini benar-benar memiliki musuh. Nauren bukanlah orang yang bisa aku kalahkan dengan mudah. Keluarganya itu hampir sama seperti mafia.


***