Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 45 (S2)



EPISODE 45 (S2)


Mungkinkan laut menunjukkan rahasianya pada kami hari ini? Reira berkata―ditambah dengan kepastian dari Kakek Syarif ―bahwasnya lautan mempunyai segudang misteri yang sama sekali belum terpecahkan hingga saat ini. Bagaimana pengalaman dua kakek pelaut itu menemui hal-hal aneh di lautan yang hingga sekarang menjadi sebuah pertanyaan bagiku. Aneh sekali bukan menemukan sebuah pasar terapung di tengah laut yang sama sekali tidak berpenghuni, hingga seringai besar yang datangnya entah dari mana. Setidaknya itulah yang aku dengar dari Kakek Syarif tatkala ia bercerita saat itu.


Kapal Leon seperti sebuah bintang bergerak apabila dilihat dari langit. Hanya kami objek paling terang di lautan yang sedang bergerak menuju tujuan. Bak sebuah hamparan semesta yang gelap, itulah lautan yang sedang kami arungi. Sedangkan lampu terang yang memenuhi sekeliling kapal mengubah kami menjadi bintang bergerak itu. Sekeliling kami hanyalah ombak laut tenang yang sunyi, entah apa yang sedang menatap kami di bawah sana, entah menyeringai atau tersenyum berkat kedatangan tamu.


Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Perjalanan kami masih jauh dari kata sampai, masih ada berjam-jam perjalanan yang harus kami lalui hingga esok hari. Memang, menunggu itu sangatlah membosankan, apalagi dengan pusingnya kepalaku yang terombang-ambing melalui ombak. Untung saja Razel menyarankanku untuk mengolesi perut dengan balsem yang banyak, serta di bagian kepala agar tidak masuk angin dan merasa pusing. Ternyata tidak hanya aku yang merasakan itu, Candra pun mengeluh hal yang sama. Itu dikarenakan kami jarang sekali berperjalanan laut yang begitu panjang.


Tidak ada kata yang bisa aku sebutkan malam ini selain keindahan langit yang berbintang bersih tanpa bercelah sedikit pun. Bulan baru menunjukkan diri di langit awal Januari. Melengkung bersih dan pipih seakan aku ingin bergelantungan di atasnya, sembari mencuil permukaan bulan yang katanya terbuat dari sebuah keju. Ya, itulah tontonan kartun yang aku lihat semasa kecil, di mana tokoh kartun memakan bulan yang terbuat dari keju berongga. Aku pun tersenyum menyadari aku sedang memikirkan hal gila tersebut.


Perut kami kenyang oleh masakan koki muda terbaik di Manggar, yaitu Mawar. Aku dan Candra membantunya untuk memasak di dapur umum tadi sore. Selain itu, ia berkali-kali dirayu candaan oleh para awak kapal yang seumuran dengan kami. Ia yang pemalu hanya bisa bermuka merah mendengar hal itu. Mencairlah suasana di dapur umum saat itu, hingga Reira masuk dan menokok kepala mereka satu-satu dengan sebuah nampan makanan. Semenjak itu, mereka ampun untuk merayu orang yang paling dilindungi akhir-akhir ini oleh Reira.


Rasanya tampak puas wajah Reira di sampingku saat ini ketika ia menadahkan wajah ke langit, tepat di paling ujung kapal yang lancip. Aku berdiri sembari meminum bir kalengan yang ternyata disimpan oleh Kakek Syarif di ruang penyimpanan. Rasa dingin di luar setidaknya bisa diredam oleh hangatnya dada. Seperti yang dikatakan oleh Reira, aku pun anti dengan mabuk. Sekaleng kecil ini sudah cukup untuk menghangatkan diri.


“Kalau lo mau minum, enggak apa sih. Gue enggak larang. Di sini dingin,” ucapku.


Reira menggeleng. “Sorry, gue enggak minum bir kalengan murah.”


Aku memicingkan mata karena pahitnya bir. Terasa panas dan nyaman di tenggorokan.


“Iya, deh ... lo minum wine puluhan juta yang kalo diminum sedikit udah bikin teler.”


Tangannya merebut bir kalengan dari tanganku, lalu meminumnya sedikit. Tampak wajahnya yang sediki memicing. “Enak juga, ya ....”


“Lah, katanya enggak mau.”


“Suka gue, dong.”


Mataku melihat ke atas langit, tepat pada bulan sabit pipih yang melengkung. “Bulan itu terbuat dari apa?”


“Dari beton-beton proyek konspirasi yang bisa dihidupmatikan kaya sebuah lampu. Saklarnya ada di sebuah tempat di muka bumi ini. Bulan itu ada mesinnya di dalam,” balas Reira dengan santai.


Aku hampir terbatuk mendengar jawaban gilanya itu. Ilmuan-llmuan rasanya ingin menangis apabila mendengarnya secara langsung dari seorang wanita gila yang sekarang sedang berdiri di sampingku. Bagaimana mungkin bulan terbuat dari beton dan ada mesinnya di dalam.


“Apa? Lo belajar darimana? Gila lo,” jawabku.


“Iya, gue udah pernah ke sana.”


“Rei ... mau gue cemplungin ke laut?” tanyaku.


“Iya, beton itu terbuat dari tanah yang mengeras. Katanya sih dari hantaman keras meteor ke bumi, lalu sebagian kecil dari tanah bumi yang pecah itu mengeras menjadi bulan saat ini.”


“Itu bukan beton namanya,” balasku.


Reira menatapku. “Tapi, gue mau bilangnya beton.”


“Iya, deh ... suka-suka lo. Trus, saklarnya di mana? Lo bilang ada di suatu tempat di muka bumi ini?”


“Ada, namanya ilmu pengetahuan alam. Sains adalah saklar dari hidup matinya cahaya bulan. Ada sebab akibat yang terjadi,” jawab Reira.


Tanganku menempatkan diri di atas kepalanya. “Lo ini pintar, tapi menjawab dengan jawaban yang bodoh.”


“Itu bukan bodoh, tapi gila.”


“Gue enggak setuju bulan adalan proyek konspirasi. Ya kali Mamarika yang bikin bulan, lo gila.”


Reira tertawa terkiki dengan menempelkan kepala di atas pembatas kapal. “Itu gue bercanda. Jangan diseriusin.”


“Gue enggak setuju kalau saklarnya itu sains. Berarti lo enggak setuju kalau Tuhan ada, dong?” Aku memancingnya.


Matanya memicing menatapku, lalu menunjuk ke arah kaleng yang sedang aku genggam.


“Jangan bicarain Tuhan, lo lagi minum bir.”


“Hahah ... itu urusan masing-masing. Lo enggak perlu ngatur. Lo bukan malaikat yang nyatat dosa gue.” Aku menggeleng.


“Hahaha ... dasar ....” Ia terdiam sejenak sembari menghela napas masing-masing. “Ini jawaban yang paling tepat, Tuhan bukan saklar, saklar cuma media. Tuhan itu kaya administrator kehidupan, dia yang ngendaliin, dia yang ngerencanain, tapi medianya atau saklarnya ada di ilmu pengetahuan. Lo harus ingat itu. Ga serta merta Tuhan hidup matiin cahaya bulan, tapi selalu ada sebab akibat biar manusia itu berpikir. Tapi, itu tergantung kepercayaan masing-masing. Seperti yang lo bilang, itu urusan masing-masing.”


“Filsafat apa yang sedang kita bicarain?” tanyaku.


“Filsafat orang gila dari dosen sarjana gila.” Ia menunjuk dirinya sendiri.


Hmmm ... ia sedang membawaku pada pikirannya yang luas itu. Tidak pernah aku berpikiran di luar batas seperti yang dikatakan oleh Reira. Hanya darinyalah aku mendengar kalimat-kalimat seperti ini. Entah dari mana yang mendapatkan pencerahan pikiran yang sedikit jernih itu, oh bukan, sedikit gila tepatnya. Mungkin benar, ia adalah alien betina yang sedang menyamar menjadi seorang manusia yang tak berekor. Maksudku, manusia yang tak bersifat seperti binatang, membuang jauh-jauh segala hasrat duniawi untuk diri sendiri, melainkan untuk membahagiakan orang lain.


“Gue baru dengar soal mama lo dari Kakek Syarif. Itu benar?” tanyaku.


“Benar ... mama punya riwayat sakit jantung. Gue udah bilangin berkali-kali kalau kurangin banyak kerjaan, tapi dia itu bandelnya minta ampun. Gue suruh dia merekrut manager buat cafe-nya, dia enggak mau. Gue minta jadi manager, tapi dia nolak gara nyuruh gue fokus kuliah aja. Malah keras kepala buat ngurusin langsung sendiri. Beratnya bukan di situ sih, tapi beberapa bisnis lain yang butuh kerja sama buat meeting sana-sini. Gue udah ngeralang dia, ya ... dia memang begitu, sih. Gue cuma dianggap sebagai anak kecil yang baru tahu aja gitu.”


“Hmmm ... namanya juga orangtua. Seberapa pun benarnya kita atau dewasanya kita, ya ... tetap aja dianggap anak kecil yang masih sepedaan sambil ingusan. Setidaknya lo udah berusaha buat ngingatin mama lo itu.”


“Gue salah enggak? Kadang gue marah sama Mama kalau dia jatuh sakit,” tanya Reira.


Alisku naik keduanya untuk memikirkan hal itu. Memang, sebagai anak yang sangat peduli dengan orangtua, terkadang timbul rasa marah apabila ada hal-hal buruk yang terjadi pada mereka, terutama ketika letak kesalahan ada di tangan orangtua. Namun, di sisi lain terkadang sebagai anak menjadi serba salah ada di posisi ini.


“Marah boleh ... tapi jangan berlebihan, jangan nyakitin hati dia. Bagaimana pun, dia udah ngebesarin kita hingga dewasa kaya gini. Termasuk papa lo sendiri, kurang-kurangilah musuhan sama papa lo sendiri. Kalau udah tiada nanti, lo pasti rindu sama semua momen-momen itu. Lo bisa ngelihat contoh dari gue sendiri, kok. Betapa rindunya gue sama amarah Ayah yang ngelecutin kaki gue pakai ikat pinggang gara-gara pulang subuh. Menurut gue begitu,” saranku.


“Tapi, kalau Papa ... gue enggak pernah bakalan damai. Dia itu busuk tahu enggak?” Ia menoleh ke arah lain tatkala mengatakan hal itu. “Mama masuk rumah sakit gara-gara dia. Mereka bertengkar.”


“Apa? Gara-gara papa lo? Karena apa?”


Reira berbalik arah. Ia melangkahkan kaki ke depan. “Seperti yang gue bilang sebelumnya, ada ranah yang enggak bisa diketahui orang lain, itulah ranah privat. Gue belum bisa cerita sekarang, lain kali lo mungkin tahu sendiri.”


Aku memahami kalimatnya tersebut. Tak perlu aku mencerna begitu dalam untuk mengerti arti yang sedang ia ucapkan, helaan napas ringannya pun sudah membuatku paham sekali. Seberapa dekat pun seseorang dengan orang lain, tetap ada hal-hal yang tak akan bisa dimasuki, termasuk antara aku dan Reira. Apalagi itu merupakan urusan keluarga orang lain. Aku memahami diri sebaik-baiknya tempat untuk tetap berdiri di luar dan memposisikan diri sebagai pangkuan bagi Reira apabila ia tak lagi bisa menampung sendiri.


Kami melangkah bersama-sama untuk pergi menuju kabin kapal untuk beristirahat. Teman-teman yang lain pun sekarang sudah berada di kabin, kecuali Razel yang sedang mengemudi di ruang kemudi, dan beberapa awak kapal lainnya yang tengah duduk berbincang. Tatkala kami membuka pintu koridor kabin, tampak Kakek Syarif yang kelihatan seperti hantu tua yang berdiri tegak. Sempat tersirat darahku ketika menyadari sosok berkumis tebal dan bertopi koboi tiba-tiba saja menampakkan diri setelah kami membuka pintu.


“Astaga, Reira kira hantu tadi ... sumpah!” Reira mengelus dadanya.


“Ikut Kakek,” pinta Kakek Syarif.


“Ke mana?” tanya Reira sembari menutup pintu koridor.


“Ada sesuatu yang ingin ditunjukkan.”


Aku dan Reira saling menatap satu sama lain tanpa tahu ia akan membawa kami ke tujuan mana. Langkah berat kakek tua itu pun kami ikuti menulusuri koridor panjang ini. Hingga kami menemui pertigaan―ke kiri merupakan dapur umum―ia membawa kami berbelok ke kanan. Tepat di ujung penglihatan kami yang hanya bermodalkan lampu emergency, terlihat sebuah pintu kayu yang terdapat gambar ornamen kumbang berwarna hitam.


“Kau tahu selama ini aku melarang kau untuk masuk ke kamar ini?” tanyaku.


“Ada singa di dalamnya,” balas Reira.


Kakek Syarif tertawa kecil. “Itu hanya peringatan bodoh waktu kau masih kecil.”


“Jadi kamar-kamar apa? Reira enggak pernah masuk ke dalam. Padahal, semua kamar tidak ada yang terkunci.”


Kakek Syarif menarik tangan Reira. Lalu, meletakkan sebuah kunci di atas telapak tangannya. “Sekarang kau boleh memiliki satu kunci.”


Dengan isyarat dari Kakek Syarif untuk meminta Reira membuka pintu itu sendiri, ia langsung memutar lubang kunci hingga terdengar bunyi hentakan dari sana. Menyeruaklah wangi kayu tua tatkala pintu terbuka, walaupun gelap gulita tak memberikan kesempatan bagi kami untuk melihat seisi ruangan. Kakek Syarif memimpin kami karena hanya dia yang memegang lampu. Lalu, tangannya menghidupkan beberapa lampu minyak yang tergantung di sekeliling ruangan. Kami hanya bisa berdiri tegak sembari melihatnya yang berkeliling menghidupkan lampu minyak tersebut.


Alangkah terkejutnya aku melihat seekor kucing sebesar anjing yang tengah mengering di sudut ruangan. Ketika aku memerhatikannya dengan seksama, ia berjumbai bulu kuning di sekitaran leher. Seringai giginya memantulkan cahaya lampu minyak yang memancar redup. Aku mulai mendekat dan ingin menyentuhnya. Namun, tangan Reira menahanku.


“Jangan sentuh apa pun,” ucapnya.


Aku menarik tangan kembali. Lalu, menatap Kakek Syarif. “Kalian menyimpan mummy singa kecil?”


Kakek Syarif melebarkan tangannya sembari duduk di sebuah kursi putar yang di hadapannya terletak sebuah meja jati. Ia keluarkan sebuah botol berwarna hijau beserta tiga gelas piala. Tangannya menuangkan air berwarna ungu pekat ke dalam gelas piala miliknya.


“Selamat datang di ruangan pribadi Si Kumbang. Tempat dia memasang strategi dagang, negosiasi, dan bersantai menikmati cerutu.” Ia menunjuk singa kecil itu selanjutnya. “Itu kami dapati waktu berdagang ke Vietnam. Ada seorang kolektor dari pasar gelap pajangan hewan yang mau menukarkannya dengan sebongkah batu bacan milik Kumbang.”


“Wow ... gue enggak percaya kalau Kakek punya ruangan sekeren ini.” Reira berputar di tempat untuk melihat sekeliling ruangan.


Sekeliling ruangan dihiasi oleh lukisan indah pemandangan alam―aku rasa itu Eropa karena berupa pemandangan sebuah kastil―lalu, buku-buku yang dipajang di dalam lemari. Di atas kami terdapat lampu hias besar yang sama sekali tidak bisa hidup. Aku sempat cemas karena lampu itu bergoyang seakan ingin jatuh.


“Aku rasa kau boleh memiliki kunci itu sekarang. Kumbang bilang, kunci itu diamanahkan kepada Reira kalau dia udah bisa melaut sepenuhnya. Inilah waktu yang tepat,” ucap Kakek Syarif. Ia menawarkan botol anggurnya pada kami. “Minum?”


Aku menggeleng untuk menolak. Jika ditambah lagi, aku bisa-bisa jadi mabuk di tengah laut.


Reira duduk pada sebuah kursi kayu tua yang terletak di hadapan meja. “Ini bisa aku jadikan tempat tinggal. Hahahah ....”


“Itu tidak boleh ... Kau memang sekarang memiliki kapal ini sepenuhnya. Tapi, hanya satu yang enggak bisa kau pegang sepenuhnya, ruangan Si Kumbang ini. Hahaha ...” Ia berdiri kemudian, lalu berbalik menuju lemari yang ada di belakangnya. “Ini yang sebenarnya ingin aku tunjukkan.”


Ia membuka lemari tua itu sebuah kunci kecil di tangannya. Sedikit sulit untuk terbuka karena lobang kunci yang sudah macet untuk diputar. Hentakan tangannya menandakan kami untuk segera mendekat, lemari sudah ia buka. Tatkala ia berbalik setelah mengambil barang yang ada di dalam, tampaklah sebuah keris panjang. Bentuknya memang seperti keris pada umumnya, dengan motif keris Jawa yang khas. Namun, panjangnya yang hampir seukuran panjang tanganku membuat keris itu terlihat istimewa.


“Kumbang pernah bilang, kalau keris ini masih bisa tegak ... berarti dia masih hidup di bumi ini.” Ia menyerahkannya pada Reira. “Suatu hari aku melihat keris ini berdiri tegak sebelum kembali jatuh, tepat tatkala aku membuka lemari ini.”


Tangan Reira bergetar memangku keris pusaka dari kakeknya itu.


***