
EPISODE 96 (S2)
Tak ada siang yang lebih syahdu daripada menyantap makanan lezat di bawah awan teduh, tepat di hadapan bukit berpepohonan lebat. Mataku sangat dimanjakan di sini hingga aku rasa apa pun makanannya akan terasa lezat di lidahku. Udara sama sekali tak berkata panas, sejuk menjilat leherku yang dingin. Masih berpepatah primata yang bergelantungan di pepohonan bukit tersebut, seakan memanggil-manggil kami untuk ke sana. Menari bersama mereka di antara ranting-ranting rapuh, hingga mereka leluasa mencuri makanan kami yang ditinggalkan.
“Begitu lucu dan manis,” ucap Mawar.
Bibirku berhenti bergerak untuk mengunyah makanan. Sontak aku fokus pada matanya yang lurus padaku, lalu kembali lagi mendongak ke arah bukit.
“Oh, tentu saja lucu dan manis. Mereka berekor panjang, besar, dan berbulu.”
“Apaan, sih? Besar dan berbulu?” tanya Mawar kembali. Nadanya ambigu di telingaku.
“Hey, jangan memancing saya!” Aku kembali menyantap makanan di piringku.
Dua kepiting yang lumayan besar itu berakhir di mangkuk kosong. Aku bertambuh nasi berkali-kali, untuk apa pula menjaga image di hadapan dirinya. Hanya Mawar yang menyantap sedikit nasi, tetapi menghabiskan kepiting jatahnya. Sendawa pun dikeluarkan hingga Mawar menampakkan wajah jijiknya padaku. Aku tenang saja, bukankah ia selalu mendengarku bersendawa sehabis makan besar? Bahkan, ia mungkin lebih sering mendengar Reira yang tidak tahu malu itu.
Sisa-sisa waktu sehabis makan aku habiskan untuk mensyukuri nikmat Tuhan dari sebatang tembakau cengkeh yang menyatu di dalam kertas lintingan. Aku buka tutup bungkus rokokku, lalu menjarak sedikit dari Mawar untuk menghargai dirinya. Sudah aku timbang-timbang ke arah mana angin berlalu, agar asap tidak sampai mengenai wanita itu. Berdenting bunyi pemantik api di hadapan wajahku, menyulut ujung tembakau sedikit demi sedikit. Asap menyembur sesaat ke udara. Menyeruak wangi cengkeh rokok beratku, meruahkan seluruh rasa yang mengalir di dalam pikiranku, lalu merenunginya melalui hatiku. Aku hela pelan-pelan keluar untuk menikmati setiap detik embun yang bergerak di dekat bukit. Sungguh syahdu suasana ini. Rasanya, hari tuaku ingin dihabiskan pada tempat-tempat seperti ini, tetapi bukan rumah mewah, melainkan rumah kecil kayu dengan halaman kebun yang cukup luas.
“Berhentilah merokok, merokok dapat membunuhmu,” ucapnya. Sudah dua kali ia memperingatiku untuk tidak menghabiskan waktu dengan candu. Satu di Manggar dan ini yang kedua kalinya.
“Nih, cobain!” Aku menyodorkan bungkus rokokku. Namun, hal ini hanya untuk bercanda. Ia menatap tak yakin padaku. “Hahah ... hanya bercanda. Gue hanya memberikan rokok kepada orang yang cukup bijak buat merokok.”
“Enggak ada kebijakan di dalam sebatang rokok,” tegasnya kembali.
Aku rasa ia belum mengerti. Padahal, sewaktu itu kami sudah mendiskusikan tentang hal ini bersama-sama.
“Ah, ada dua hal yang paling enggak bisa dibilangin. Pertama perokok, kedua pembenci rokok. Sudahlah, kita sama-sama makhluk Tuhan yang akan mati. Kita akan mati dengan cara masing-masing.”
“Haha ... dan gue memilih mati dengan damai tanpa penyakit.”
“Begitu pula gue, gue merasa damai dengan merokok dan mungkin aja ini cara gue untuk mati. Seperti kutipan novel Looking for Alaska karya Jhon Green, i smoke to die.”
Ia memerengkan wajahnya. “Gue rasa Alaska ada kemiripan dengan Reira.”
“Kayanya bener juga, sama-sama liar dan penuh misteri. Hahah ....”
“Gue beresin dulu piring-piringnya.” Ia berdiri.
Belum sempat ia menyempurnakan posisi berdirinya, aku menahan piring untuk diangkat. “Biarkan gue belajar buat berterima kasih. Ambil aja bola basket itu , coba lemparkan ke dalam ring.”
“Ini yang lo sebut kebijakan di dalam merokok?’
“Bukan ... ini kebijakan sebagai manusia bersyukur. Hahaha ....”
“Mana bisa kaya gitu, Mawar. Cantik-cantik tapi ******!” Aku menyelesaikan piring terakhirku.
Selesai dari tugas, aku menghampiri anak itu yang tengah sibuk sendiri. Sebenarnya aku tidak terlalu handal bermain olahraga yang digandrungi oleh anak SMA ini. Aku juga tidak tahu kenapa derajat kekerenan anak basket bisa meningkat karena mendapatkan predikat tersebut. Aku rasa, sama saja kerennya anak basket, anak futsal, anak silat, kan sama-sama berolahraga. Namun, wanita kurasa mempunyai kebebasan memilih defenisi kerennya masing-masing. Acap kali pertandingan basket di SMA selalu menjadi perhatian para wanita yang ingin melihat para pria tinggi tegap berkeringat, lalu meneriaki namanya dengan harapan pria tersebut menatap balik.
Aku rasa defenisi anak basket itu keren merupakan stereotipe anak SMA yang sudah turun temurun melekat dalam kontruksi kognitif mereka. Bagaimana halnya wanita pandai memasak, begitu pula dengan anak-anak basket ini. Memang, postur tubuh anak basket boleh dikatakan cukup ideal untuk dikatakan tampan, yaitu tinggi. Terhinalah bagi orang-orang pendek sepertiku. Budaya pertelevisian serta perfilman negeri ini pun menambah stereotipe itu semakin mengakar dengan menampilkan anak-anak keren yang memiliki hobi bermain basket, lalu pasangangan yang selalu diincar yaitu kapten cheers manis yang bergoyang demi mendukung mereka.
“Apa lo ngerasa anak basket itu keren?” tanyaku pada Mawar.
“Keren dari perspektif mana dulu?” tanya Mawar balik.
“Ya, kacamata lo sebagai wanita. Soalnya, waktu kita SMA ... anak basket pasti dikatain keren. Sedangkan kami yang keseringan main futsal, enggak ada keren-kerennya sama sekali.”
“Kalian sama-sama merebutkan sebuah bola, sama halnya sesama kalian yang berebut wanita. Apa kerennya?”
Aku tersenyum mendengarnya menganalogikan. “Ya lo tahu sendirikan gimana dulu anak-anak basket selalu keren di mana cewek-cewek.”
Ia memberikan bola tersebut padaku. Dengan kemampuan seadanya, aku melakukan lay up menuju ke ring. Untung saja bola tepat memasukinya.
“Gue bukan cewek yang berorientasi keren itu dari fisik. Sedikit, sih ... ya enggak gue pungkiri juga senang ngelihatin cogan. Tapi, itu bukan defenisi keren bagi gue,” balasnya sembari mengangguk sehabis melihat aksiku.
“Boleh juga ....”
“Hahah ... dikit-dikit gue bisa, lah ....” Aku melangkah menggapai bola. “Jadi, menurut lo anak basket itu keren?”
“Bagi gue keren, kalau dia meraih prestasi yang mumpuni. Kalau soal ganteng-gantengan, di atas langit masih ada langit.”
Ia tersenyum saat aku beri bola.
Isyaratku memintanya untuk melalukan hal yang telah aku tunjukkan tadi. Namun, ia menggeleng karena tidak bisa. Ia hanya memantulkan bola beberapa kali, lalu mencoba melakukan shooting, meskipun tidak sampai.
“Jadi, defenisi keren bagi lo apa?” tanyaku untuk memancingnya.
Ujung telunjuknya menyentuh dahi. “Pikiran dan wawasan. Gue lebih kagum dengan itu. Setidaknya, dia bisa mengimbangi gue untuk mendiskusikan sesuatu.”
“Baiklah ... gue paham defenisi keren dari lo. Dan gue yakin kenapa banyak orang yang menyerah waktu ngedekatin lo. Lo itu orang yang terlalu idealis,” balasku.
Namun, ia malah menggeleng. “Idealis itu perlu, terkadang kita juga butuh jadi realistis biar tahu kenyataan. Mungkin aja suatu hari gue bertemu dengan pemuda yang sama sekali enggak pernah sekolah, cuma punya sepetak kebun yang diolah, tetapi gue jatuh cinta. Nah, di saat itu gue nemuin hal baru yang lo bilang itu. Gue enggak bakalan nanya lagi mengenai jawabannya dari lo sendiri. Hahaha ....”
Tawa kami saling bersahutan dengan sebuah shooting dari Mawar yang tepat memasuki ring basket.
***