
Awalnya aku menemukan batu itu dari sebuah surat yang selama ini disimpan oleh Bunda. Surat itu berada bersamaan dengan batu amber warna kuning di dalam kotak kayu warna cokelat tua. Surat itu menuliskan jika batu itu didapatinya setelah berjudi dengan preman di daerah Pasai, Aceh. Uniknya, batu itu terdapat fosil semacam kumbang. Penelusuranku di internet memang menjumpai banyak batu yang serupa.
Pemuda pejudi yang bertarung dengan Kakek Kumbang di masa lalu bernama Tarab. Kini ia hampir sama tuanya dengan Kakek Syarif, hanya saja ia sudah tidak bisa berjalan dengan normal. Oleh karena itu, ia tampak menggunakan tongkat kayu yang kini ia todong kepadaku. Wajahnya tidak seperti orang Aceh pada umumnya yang sedikit bercampur rupa Arab atau India, melainkan seperti orang Melayu pada umumnya.
“Bertaruh? Baik … aku akan bertaruh Kakek.”
Ia menurunkan tongkat itu dariku. Lalu berjalanan ke samping rumah yang diikuti oleh kami berdua.
“Kau pandai bermain apa?” tanya Kakek Tarab sembari duduk di kursi.
“Aku tidak pandai berjudi, yang sederhana saja.”
Tampak tangannya mengambil sesuatu di dalam laci meja, lalu meletakkan sekumpulan kartu di hadapanku. Kartu itu merupakan kartu remi bermotif ikan koi warna jingga di belakangnya.
“Sederhana saja, kita masing-masing mengambil lima kartu. Lalu, ambillah sejumlah kartu yang akan kita tebak jumlahnya masing-masing. Letak saja kartu itu di atas meja, tutup dengan tangan, lalu tebak berapa jumlahnya.”
Razel mengenggam pundakku. “Kak, itu punya Kakek Kumbang. Lo jangan semudah itu bertaruh.”
“Tenang aja.” Aku kembali menoleh kepada Kakek Tarab. “Tapi, Kakek akan menaruhkan apa?”
“Aku punya sejumlah informasi …..”
Aku menggeleng. “Tidak sebanding dengan harga batu ini. Aku ingin bertaruh dengan seperti Kakekku.”
Matanya tampak melebar. Tangannya yang melipat di atas meja kini ia sembunyikan.
“Maksudmu?”
“Kakek takut? Kakekku bertaruh dengan dua kukunya sendiri untuk batu itu. Jika aku menang, dua kuku Kakek akan aku cabut. Jika Kakek menang, ambillah batu ini.”
Senyumku melingkar tatkala wajah Kakek Tarab menyimpan rasa cemas. Tentu saja ia akan mengingat masa lalu itu tatkala Kakek Tarab menyaratkan taruhan khusus kepada kakekku sendiri. Saat itu, Kakek Kumbang tidak ada lagi barang yang bisa ditaruhkan. Permusuhan di antara mereka berdua memang melegenda pada saat itu karena Kapal Leon selalu diganggu oleh preman pelabuhan yang sering menganggu. Pada saat yang genting, Kakek Kumbang memberanikan diri bertaruh dua kukunya untuk dicabuti demi batu amber berhiaskan fosil kumbang di dalamnya.
“Sekarang aku percaya kalau kau cucu Si Kumbang.” Ia menyimpan kembali kartu itu ke dalam laci meja.
“Tidak jadi?” tanyaku.
“Aku tidak seperti Kumbang yang ceroboh. Waktu itu ia hanya beruntung. Jika tidak, ia akan menjerit karena anak buahku mencabut kedua kukunya.” Ia memukul Razel dengan tongkatnya. “Kau ini siapa namanya? Ambil kopi di dapur, buatkan dua cangkir.”
“Aku?” tanya Razel sembari menunjuk wajahnya sendiri.
“Pergi sana, aku teh aja,” sambungku.
Razel pergi dengan kesal di wajahnya. Ia tidak bisa menolak karena kehadirannya di sini memang untuk itu. Cukup diriku dan Kakek Tarab yang berurusan satu sama lain. Sementara Razel membuat minuman, Kakek Tarab pergi sebentar ke dalam rumah. Ia kembali lagi bersamaan dengan Razel yang membawa nampan dengan tiga cangkir minuman di atasnya. Tatkala Kakek Razel kembali duduk, ia menyerahkan dua foto kepadaku.
Aku dengan seksama memerhatikan foto tersebut. Terdapat dua orang yang saling merangkul satu sama lain. Satu pria memakai kacamata hitam dengan jaket berbahan jeans. Sementara satu orang lagi berambut panjang hingga sebahu dengan baju kaos sempit bermotif wajah Hitler.
“Yang memakai kacamata itu adalah kakekmu. Itu dua hari setelah Kumbang menyelamatkanku dari kepolisian setempat.”
“Tapi kalian bermusuhan, kenapa bisa?” tanyaku dengan heran.
“Iya benar, aku dan Kumbang itu bermusuhan. Aku dan anak buahku sering mencuri barang dari Kapal Leon milik Kumbang. Syarif pernah hampir aku tembak karena datang sendirian ke markas kami. Tapi, Kumbang orang yang baik … berkat itu aku berteman dengannya.”
“Ini kakekku ….”
“Iya … itu Kumbang. Kapalnya hancur di tahun 2002 dan terpaksa menetap di Australia selama lima tahun. Aku tidak tahu ada masalah apa dengan Kumbang kenapa tidak balik lagi setelah itu. Tepatnya sekitar tahun 2007, ia datang ke dermaga ini. Ia masih sehat sebagaimana aku melihat Kumbang sebelumnya.”
“Dia menembak ayahku sendiri dengan pistol revolver. Karena rasa bersalah, dia kabur menghilang ke Australia,” balasku sesuai dengan penjelasan di surat-surat itu.
“Bukan hal yang aneh jika Kumbang menembak orang. Kami berdua hampir sama. Hanya saja, dia menembak di zaman yang salah.”
Kakek Tarab mengambil rokok milik Razel yang sudah aku jatahkan untuknya selama menemaniku.
“Jadi kau ceritanya mau mencari Kumbang?”
Aku mengangguk. “Benar, aku mencari kakekku. Apa Kakek tahu dia di mana sekarang?”
“Mencari Kumbang sama halnya dengan mencari hantu. Dan apa aku terlihat seperti pawang hantu?” tanya Kakek Tarab.
“Apa kakekku tidak memberitahu apa pun sebelum dia pergi lagi?”
Wajah Kakek Tarab menggeleng. “Kumbang pergi tengah malam dengan meninggalkan sekotak susu bubuk kalsium untuk orang tua. Ia tahu kalau aku sedang butuh kalsium. Selebihnya, Kumbang hilang dengan kapalnya.”
“Apa dia membawa orang di kapal itu?”
“Setahuku ada, tapi mereka tinggal di kapal saat itu. Kalau kau bertanya padaku apa aku pernah melihat orang-orang itu, maka aku jawab tidak. Entah mereka semacam hantu atau apa, aku juga tidak tahu.”
Aku dan Razel saling menatap. Helaan napasnya tampak panjang setelah mendengar kalimat Kakek Tarab. Kami sama-sama menemui jalan buntu ke mana Kakek Kumbang berada. Ia selalu memberikan teka-teki lokasi pada suratnya sehingga aku tidak mengetahui di mana itu. Di satu surat ia sedang di tepi sungai, tanpa memberitahu di mana itu. Surat lainnya bertanda jika ia sedang di atas langit, aku juga tidak tahu di mana itu.
“Beritahu kami semua yang Kakek tahu. Aku punya uang ….”
Ia tersenyum padaku. “Untuk apa uang banyak bagi orang yang sebentar lagi mungkin akan mati? Itulah semua yang aku tahu, Reira. Kumbang benar-benar pergi tanpa memberitahu tujuan selanjutnya.”
“Baiklah … terima kasih untuk informasinya Kakek. Kami akan kembali ke kapal ….”
“Kalian ke sini pakai kapal?” tanya Kakek Tarab dengan wajah tidak percaya.
“Iya, kami ke sini pakai Kapal Leon.”
“Apa Kapal Leon? Kalian gila. Kau pandai mengemudikan kapal?”
Aku menunjuk Razel. “Kami ada pelaut murni di sini, namanya Razel. Dia anak Kakek Syarif ….”
Kakek Tarab menatap Razel, lalu menatapku kemudian. “Tidak aku percaya. Cucu Kumbang dan anak Syarif berada di sini. Kalian tinggal saja di rumahku selama yang kalian mau. Kumbang dan Syarif banyak jasanya, jadi anggap saja aku berterima kasih.”
“Terima kasih Kakek ….”
Aku menjatuhkan tasku ke pangkuan Razel. Ia sudah tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Apa lagi kalau bukan membawakan barang-barangku. Bukankah itu gunanya awak kapal?
***