Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 105 (S2)



EPISODE 105 (S2)


Sudah berkali-kali aku mengatakan kepada kalian bahwasanya aku tidak percaya dengan takdir. Aku tidak mempercayai segala sesuatu tanpa sebab akibat, termasuk takdir itu sendiri. Aku membebaskan kalian menghujatku sebagai orang yang tak mempercayai Tuhan. Namun, aku harus tekankan bahwasanya aku masih bertuhan kepada yang tak tampak, seperti layaknya otakmu yang tak bisa dilihat. Bisa jadi bagaimana aku meyakini Tuhan tidak seperti kalian yang tak pernah tinggal sembahyang lima waktu, atau melangkah bersama keluarga ke rumah ibadah sekali seminggu di pagi ahad.


Masih dengan perkataan Spinoza yang berkata bahwasanya Tuhan bukanlah dalang. Oleh karena itu, ketidakmungkinan di atas dunia disebabkan oleh kesalahan tangan manusia itu sendiri. Aku ada di samping Pak Dadan dikarenakan oleh agenda penelitian Mawar yang turut mengikutsertakanku sebagai penjaganya, atas nama Reira yang bengal itu. Aku ada dipelukan Reira waktu itu dikarenakan pertemuan awal di pentas seni kampus, di mana Reira mengangkat tangannya sembari mengaku sebagai kekasihku. Akhirnya, perkataannya itu pun benar. Aku menjadi kekasihnya saat ini.


Takdir itu hanya ada di keyakinan yang subjektif dan aku memilih sebagai orang yang tak memercayainya. Cinta bagiku bukanlah takdir. Ia merupakan sebab empiris dari logaritma perasan yang berkolaborasi pada waktu yang tepat. Di kala ruang dan waktu ada di titik yang tepat, pertemuan pun terjadi. Perasaan bermain dalam jangka waktu persamaan. Timbullah rasa biasa, rasa tertarik, rasa kagum, hingga ke inti permasalahan, yaitu cinta.


Mungkin harus merunut kepada first cause Aristoteles yang mengatakan bahwasanya segala sesuatu di dunia ini disebankan oleh penyebab pertama. Seperti layaknya bola bilyar yang dihantam oleh bola lainnya. Pergerakan bola bukanlah disebabkan oleh hantaman bola itu sendiri, melainkan dari gaya yang sebabkan dari tenaga pemegang stik bilyar. Tenaga dari pemain bilyar pun tak serta merta terjadi, terdapat pengolahan nutrisi tubuh yang mendistribusikan energi ke bagian tangannya. Energi di tangan pun tak timbul sendiri, ada makanan yang kita ambil dari alam, dan tumbuh dengan regenerasi.


Maka, alam bekerja dengan sebab akibat. Namun, sebab akibat bekerja dengan hukum alam yang diciptakan oleh Tuhan. Aku mempercayai hal tersebut. Jika cinta bukanlah takdir, maka aku mencintai Reira merupakan sebagian dari hukum alam Tuhan yang menyatakan bahwasanya pria akan mencintai lawan jenisnya, yaitu wanita.


Dapat aku simpulkan, ada kesempatan bahwasanya aku tak memiliki Reira suatu hari nanti. Empirisme alam mempermainkan kisah kami dalam sebab akibat yang berujung kepada perpisahan. Hukum alam bekerja pada masing-masing dari kami, hingga kami akan mencintai lawan jenis yang baru.


Namun, aku tak akan membiarkan hal tersebut terjadi. Aku akan melawan empirisme dunia tersebut. Hukum alam tak akan bisa aku tentang, bisa jadi Reira akan tertarik kepada pria lain nantinya. Namun, aku menghadang sebab akibat yang menjadi cikal bakal menjurusnya hal tersebut. Meskipun hati ini direkatkan berkali-kali, aku akan tetap menjaga Reira selalu di sisiku.


Satu jam menunggu di sini membuat kami lapar. Pak Dadang berkali-kali menyahut istrinya untuk menanyakan apakah ikan sudah selesai di bakar. Kami masih bertahan di sini sembari melihat kedua wanita di sana berjongkok di depan bakaran ikan.


“Ambil air kelapa, yuk. Enak buat diminum selesai makan.” Pak Dadang menyentuh lututku ketika berdiri.


“Oh, iya juga, Pak. Mana pohon kelapanya?” tanyaku.


Ia menunjuk sebelah barat. “Ada di seberang sana. Itu saya yang nanam.”


Pak Dadang memintaku untuk melangkah ke sana terlebih dahulu. Sementara itu, beliau permisi pergi ke samping rumah. Ketika di perjalanan, aku temukan sebuah galah penjolok yang ada di samping kolam. Berniat ada inisatif sendiri, aku pun membawa galah panjang tersebut. Sibuklah aku sendiri berkeringat di bawah pohon kelapa yang cukup tinggi, tetapi masih dijangkau oleh galah yang aku bawa.


Aku terkejut melihat Pak Dadang membawa seekor kera di pundaknya. Rantai panjangnya ia gulung di tangan. Dengan santai Pak Dadang melangkah bersama kera tersebut, persis seperti seorang kapten bajak laut yang memiliki peliharaan unik. Jika Reira ada di sini, sudah habis jera kera tersebut ia permainkan.


“David, pakai ini, dong! Pengambil kelapa otomatis, tidak pakai mesin.”


“Hahah ... bener juga, Pak. Baru tahu saya kalau Bapak punya kera,” balasku sembari bertegak pinggang. Galah aku jatuhkan ke permukaan tanah.


“Ini peranakan dari kera milik Pak Kumbang. Dia punya kera, dulu selalu disimpan di villa itu. Jadi, dia sering berkunjung ke rumah gara-gara Reina selalu minta menginap di rumah saya.”


Ia mengangguk. “Ya pernah, dong. Yang mengantarkan Reina selalu ke rumah saya adalah Pak Kumbang sendiri. Kalau ke sini, dia pasti mendaki Gunung Salak sendirian, padahal udah setua itu. Fisiknya kuat, tubuhnya lebih kekar dari saya. Kalau ke sini, selalu menginap di villa anaknya, tempat kalian menginap sekarang.”


Aku terdiam sejenak. Terdapat saksi bisu kehadiran Pak Kumbang di villa tersebut.


“Berarti ada seseorang yang tahu Kakek Kumbang selain Pak Dadang? Soalnya, pasti ada yang menjaga villa itu sebelum bapak sendiri yang jaga.”


Ia mengangguk setuju. Tangannya melepas kera itu ke tanah, lalu meloncat-loncatlah kera itu seperti kegirangan. Melihat diriku, kera itu pun menyeringai marah. Aku sedikit mundur dibuatnya.


“Ada ... bapak itu udah lama meninggal. Saya kan dulu kerja sama Pak Bernardo, jadi yang jaga villa itu beliau. Tapi, saya masih sempat ketemu beliau. Bahkan, kalau pulang kampung, kami bertiga juga ngopi- ngopi bareng. Bapak itu, Pak Kumbang, lalu saya. Begitulah ... saya lumayan dekat sama Pak Kumbang gara-gara ngantarin Reina ke desa saya.”


“Oh, begitu ya, Pak. Informasi yang menarik.” Aku menatap ke atas.


“Pak Kumbang selalu tidur di lantai dua. Ada kamar yang dia sendiri punya kuncinya. Bahkan, saya enggak pernah masuk hingga sekarang.”


Kalimat itu membuatku penasaran. Rasa penasaran pun menghantuiku hingga kera tersebut memutar satu per satu kelapa muda. Santap makan siang dengan ikan bakar tak lepas dari penasaranku dengan sebuah pintu di villa tersebut. Bisa jadi ada banyak peninggalan yang menjadi sinyal bagaimana akhir dari Kakek Kumbang.


Setelah puas besantap ria, kami pun bersantai-santai hingga ibadah petang menyambut. Barulah pergi menuju Desa Sukasari untuk mengunjungi Laras kembali. Wawancara terakhir membuatku terasa sangat mengantuk sekali. Aku tetap dihindangkan kopi oleh Mawar, tetapi mereka berbincang terlalu lama. Terpaksa kami magrib di rumah Laras, hingga kami pulang di pukul tujuh malam. Wawancara Mawar pun selesai. Ia mendapatkan informasi untuk dimasukkan ke dalam penelitiannya.


Malam bergantung di langit gelap. Bulan masih sama dengan yang lalu. Terangnya bintang gemintang menjadi kemilau yang sangat aku ingat, tak ubah layaknya bintang di pesisir Manggar. Sesampainya di villa, aku tak langsung masuk ke kamar mandi. Rasa penasaranku masih bertahan hingga sekarang.


Naiklah aku ke lantai dua. Tangganya ada di dapur. Anak tangga terbuat dari kayu yang berbau khas. Gelap gulita menyambut diriku di lantai dua. Aku harus menghidupkan cahaya handphone untuk melihat saklar lampu. Barulah terang penglihatanku ketika cahaya lampu menerangi segala penujur. Lantai dua terdapat sebuah area bersantai dengan TV yang sangat besar, seperti ruangan teater untuk menonton film bersama.


Baru kali ini aku melihat layar kaca sebesar itu, selain di bioskop. Atau aku saja yang terlalu kampungan, aku tidak tahu.


Sebelah kanan, ada pintu yang langsung mengarah ke balkon kayu di luar. Mataku kembali menoleh ke samping kiri. Hanya ada satu pintu kamar yang terlihat. Aku menduga pintu inilah yang dimaksud oleh Pak Dadang. Rasa penasaranku pun mengalahkan semuanya. Dengan berani aku menekan gagang pintu.


Jantungku terasa dihujam benda padat. Berdetak sekencang-kencangnya ketika pintu ini benar-benar berdecit terbuka. Pak Dadang mengatakan pintu ini tidak pernah dibuka dan kuncinya hanya ada pada Pak Kumbang. Mataku terbelalak melihat keadaan ranjang yang tak seperti biasa.


Dari posisi seprai ranjang yang berantakan, hal itu menjadi pertanda bahwasanya kamar ini baru saja digunakan.


***