
EPISODE 119 (S2)
Sungguh tak ada yang bisa aku katakan daripada ketakutan yang luar biasa. Aku seakan disergap oleh seekor harimau tua yang belum makan selama satu bulan penuh, beringas menyakar leherku dengan kukunya. Nanar mata Kakek Syarif menyayat inti ketenanganku, cemas berkelabu dari sinis sorotnya. Kalimat pertanyaan itu menghujam tepat pada realita bahwasanya aku menikmati dua linting mariyuana tadi malam. Masih dengan tangan mengepal di dahi, aku tegang berkat kepalaku yang sedang di ujung tanduk. Gegabah sedikit, bisa pecah oleh tangan kekar bekas mengangkat jangkar kapal bertahun-tahun.
Bagaimana ia bisa tahu? Aku bahkan tidak mengerti bagaimana ia bisa menebak sebegitu tepatnya. Apakah ia sedang menggunakan mata batinnya yang peka itu untuk mengawasiku? Itu sangat melanggar privasi seseorang. Namun, ia sangat yakin dan merasa benar apabila aku baru saja bergelimanga asap tengik mariyuana.
“Apa?” tanyaku untuk mengelabuhi. Tidak ada cara lain dipikiranku.
Ia menamparku tepat di pipi. Sebisa mungkin bagi Kakek Syarif agar tidak menimbulkan bunyi yang besar. Aku pun tak mempermasalahkannya, daripada Dika yang berurusan langsung denganku.
“Aku berteman dengan segala bandar, mau bandar apa yang kau tanya? Kartel narkoba di China lewat pasar gelap tahun tujuh puluhan? Penyulundupan manusia untuk diperdagangkan menjadi budak? Bandar judi togel? Mau apa lagi?” tanya Kakek Syarif berkali-kali ia bertanya dengan serius, tetapi tak sanggup aku jawab hal yang sebenarya.
“Jangan mengelak, aku tahu orang yang habis meng-gele.”
Tidak ada yang bisa aku lakukan, kecuali diam seribu bahasa dihantam pertanyaan-pertanyaan itu. Benar, lawanku bukanlah anak kemarin sore yang berbangga hati karena pertama kali melangkah di sebuah club malam bersama ******* yang ia sewa murah di jalan. Sudah berapa lama ia menjalani hidup ini, sudah banyak pengalaman yang ia lewati. Insting kehidupan bekerja pada orang\-orang tua sepertinya.
“Benar, aku melinting ganja tadi malam.”
Lututnya bersarang ke perut. Aku tertunduk lesu karena tidak bisa bernapas. Tepat di ulu hati hantaman itu sangat tajam mengenaiku. Aku yang benar-benar tidak mampu berjalan, langsung dibawanya ke atas. Diseretnya bajuku hingga terdengar suara yang hampir koyak. Tertatih diriku mengikuti langkahnya yang memaksa itu.
“Cepat bilang, di mana kamar kau?” tanya Kakek Syarif dengan nada rendah, tetapi tegas menghenyukkan hati. “Jawab, bedebah!”
“Ambil kunc―” Aku terbatuk sesaat. Sementara itu, telunjukku mengarah ke sebuah lemari kayu di samping kami. “Kuncinya di atas.”
Dihantamnya tubuhku ke lantai hingga aku terkulai lemas seperti orang yang baru saja lari berkilo-kilo. Napasku sesak tersenggal-senggal. Perutku mual yang kuatahan.
Terdengar Kakek Syarif membuka sebuah pintu di hadapannya, lalu kembali menarik tanganku untuk diseret. Persis seperti sebuah penyiksaan bagiku, aku sama sekali bergerak tanpa kaki, melainkan diseret dengan hina oleh seorang kakek tua bertopi koboi. Bagaimana bisa aku berdiri, hantaman lututnya ke perutku begitu telak.
Kembali Kakek Syarif menghantam tubuh belakangku agar aku tertelungkup segera. Ia ambil sebuah kursi kayu. Alangakh tak bisa disangka, kaki kursi tersebut ia hantam tepat ke jemari telunjukku. Sementara itu, tanganku ditahan oleh badannya. Aku tak bisa berteriak, tetapi rinti aku tekan sekeras-kerasnya pada nada yang paling rendah. Keluar air mataku untuk menahan tangis yang mendera. Siksaan ini sangat sakit sekali.
“Di mana kau simpan?” interogasinya padaku.
“Di lemari!” tegasku.
Tangan Kakek Syarif menarik bajuku agar aku bisa berdiri. Ia hantamkan tubuhku tepat di pintu lemari sembari memerintah agar membuka pintu lemari tersebut. Bergetar jemariku yang membiru ditekan oleh kaki kursi, lalu menarik lemari tersebut. Salah satu buku yang cukup besar aku tarik perlahan. Tanpa melihat, aku serahkan ke belakang padanya.
“Duduk kau di sini, hadap padaku!” Ia menekan pundakku.
Tak sanggup aku menahan malu dan juga takut kepada Kakek Syarif. Aku alihkan pandanganku ke bawah sembari bersandar pada lemari. Ia duduk atas ranjang kasur Rio tepat di hadapanku. Terdengar di telinga lembaran buku yang dibuka, lalu ia mengeluarkan isi yang ada di dalamnya. Terbungkus dua lapis yang terdiri dari kertas dan plastik. Barulah barang itu ia campakkan di depanku.
“Kau kira aku tak tahu ciri orang yang meng-gele?” tanya Kakek Syarif sembari membuka kotak rokoknya. Ia menyulut ujung tembakau tersebut sembari menahan kalimat yang diucap. “Kami mengenal itu semenjak umur sepuluh tahun. Pedagang dari China sering membawanya dan merokok ganja di malam hari. Kami anak-anak nelayan miskin yang jadi kuli barang, sudah sering melihat orang merokok ganja. Dan kami pun mencobanya.”
Kepalaku berdiri melihat Kakek Syarif tatkala ia mengatakan hal tersebut. Aku duduk merengkuh lutut, dingin kaki yang dirasakan karena takut. “Bagaimana Kakek tahu?”
“Mariyuana adalah barang lumrah bagi kami. Selingan kami waktu di kapal bersama Kumbang adalah daun itu. Harganya pun murah. Tapi, kami sadar bahwasanya itu merusak diri. Komitmen kami ditandai dengan membuanganya waktu perjalanan ke Vietnam.” Ia menghembuskan asap rokoknya.
“Baunya khas, jaket kau mengingatkanku bau itu sewaktu muda. Mata kau merah tak biasa. Aku tahu beda mata merah habis merokok ganja atau begadang semalaman. Kau berbohong waktu aku tanya.”
Air mataku menetes atas dasar penyesalan. Hatiku yang berkecamuk membuatku hilang arah. Sesuatu yang menjebak Rio dan aku hujat habis-habisan, malah aku sendiri yang mengikuti jejak tersebut. Lubang hitam itu sudah aku gali di permukaan, menunggu untuk mencoba dan mencobanya lagi hingga aku benar-benar gila seperti anak itu.
Kakinya memanjang pada diriku. Ia tempelkan pada dahiku dan mendorongnya agar kembali berdiri. “Laki-laki tak menangis dengan wajah menunduk! Tegakkan kepalamu! Ceritakan masalahnya apa!”
“Pak Bernardo enggak setuju dengan hubungan kami. Ia memintaku untuk menjauh, bahkan ia membayar seberapa pun jumlah uang yang akan aku minta untuk itu. Parahnya lagi, aku berbohong pada Reira dengan bilang kalau papanya benar-benar setuju!” tegasku padannya.
Akhir kalimat itu menurunkan kakinya yang menahan kepalaku agar tidak turun menunduk.
“Kapan dia bilang itu?” tanya Kakek Syarif.
Aku menyeka air mata dengan tangan. “Kemarin, sewaktu Reira ngundang papanya buat ke cafe. Kami bicara di sana. Aku kaya ngasih harapan bahagia yang sama sekali palsu kepada Reira. Aku berdosa karena hal itu!"
“Kau tahu kan ganja tak akan menyelesaikan masalah?”
“Aku hilang akal, Kakek. Aku tumbuh dewasa tanpa pegangan.”
“Kau kira Tuhan beri jalan ini sama sekali tak bisa kau tempuh?” tanya Kakek Syarif kembali.
Diam diriku sesaat. Aku tatap wajahnya yang serius itu. “Aku kurang yakin dengan hal-hal seperti itu.”
Ia mengangkat tangannya. “Kami pernah melihat ombak setinggi belasan meter di atas permukaan kapal kami, berombang-ambing memainkan kapal di badai. Petir macam nak memakan kami satu per satu. Kau tahu apa yang dibilang Kumbang?”
“Apa?”
“Dia bilang dengan lantang, 'Aku percaya adanya Tuhan, tapi aku tak percaya Tuhan ingin menghancurkan hamba yang menantang tantangan dari-Nya'. Badai adalah tantangan dan Kumbang menantang Tuhan untuk melewati tantangan itu. Ia percaya, Tuhan akan selalu memberikan tantangan yang bisa diselesaikan. Jika tak bisa diselesaikan, berarti Tuhan telah berdusta.”
“Dia gila telah menantang Tuhan,” balasku.
“Dia tidak gila, hanya gila bagi orang berpikiran sempit seperti kau!” tegas Kakek Syarif sembari menghembuskan asap rokok.
“Apa kalian lolos?” tanyaku kembali.
Kakek Syarif berdiri setelah mengambil plastik berisikan ganja kering tersebut. Ia rapikan jaketnya yang telah kusus berkat menyiksaku pelan-pelan. Nanar matanya kembali tertuju padaku. “Tuhan tak pernah berdusta, Anak Muda.”
Ada sebuah kalimat yang menghentak kalimat ini bahwasanya Tuhan tidak pernah berdusta. Tuhan Maha Benar dengan segala firman-Nya. Tak ada yang diragukan dengan perkataan Tuhan yang disampaikan melalui lembar demi lembar kertas,lalu dibaca hingga zaman berlarut seperti saat ini. Mutlak kebenaran Tuhan, lalu orang-orang sepertiku tak pernah menyadari hal tersebut. Kotor sekali hati ini yang bertumpuk dosa.
Langkah Kakek Syarif tertuju ke arah pintu kamar, ia bergegas ingin keluar setelah memasukkan plastik ganja tersebut.
“Kakek!” panggilku. “Apa Kakek bakal ngasih tahu ini ke Reira?”
Beliau menoleh ke belakang. “Aku pernah di posisimu dan aku tahu perasaannya ketika diberitahu kepada orang lain.”
Tertutup pintu itu dengan keras, lalu tangisku berlanjut dengan deras.
Aku rela dibunuh oleh Tuhan agar seluruh kesalahan ini terbayar.
***