
Satu hal yang kupikirkan, kutub hati pada Reira yang ia katakan akan saling tolak-menolak, kini telah berubah haluan untuk saling tarik menarik. Semua momen yang ia tunjukkan padaku memiliki sebuah maksud yang ia sembunyikan padaku. Tidak ada hati yang tidak menyimpan nama. Nama akan terukir jika semuanya telah terbiasa. Ia berbohong karena telah mengatakan tidak akan jatuh cinta. Namun, aku telah munafik karena telah merasakan hal yang sama.
Reira menyendiri oleh kesedihan yang ia pendam karena aku. Aku telah menjadi orang paling jahat sedunia. Tanganku telah melukai orang dengan hati yang paling putih, seputih buih laut yang ia tunjukkan padaku waktu itu.
Ingin kudekap tubuhnya untuk menyampaikan kata maaf. Merengkuh semua penyesalan untuk diceritakan ketika aku tidak sanggup lagi menahan air mata. Aku berharap sekali menyentuh wajahnya dengan tanganku yang berdosa itu, merangkak ke helaian rambut terikatnya, merasakan betapa lembutnya rambut itu kembali. Aku sungguh menyesal.
"Dika, gue mau ke Bromo," kataku setiba sampai di depan bengkelnya.
Ia berdiri dari duduknya yang nyaman. Bau tubuhnya masih serupa dengan oli. Kulit hitamnya terluhat mengkilap oleh keringat yang membasahi.
"Lo bercanda? Manjat tangga aja ogah lo. Mau manjat gunung?" balas Dika dengan tatapan datarnya.
"Gue serius. Reira sendirian di sana, dan gue mau nyusul dia. Gue mau minta maaf. Izinin gue kali ini," pintaku.
Ia kembali menatapku datar. Selalu akan seperti itu seakan tidak ada ekspresi lain yang bisa ia tunjukkan.
"Sejak kapan lo minta izin ke gue kalau mau pergi?" tanya Dika.
"Lo ngizinin atau enggak?"
"Kejar hati lo yang hilang itu." Ia menepuk pundakku sembari merogoh kotak rokok yang tersimpan dalam saku milikku.
Satu hal yang menjadi tujuanku saat ini.
Aku ingin menyusul Reira, sebelum matahari membalas senyumnya di puncak Bromo.
***
Aku dan Candra sudah gila merencakan sebuah perjalanan panjang hanya dengan jangka satu hari. Berkat bantuan dari keluarga Candra, kami bisa mendapatkan dua tiket kereta api yang akan membawa kami ke Surabaya. Aku tidak tahu jika kami masih sempat untuk menyusulnya di puncak Bromo, setidaknya aku telah berusaha untuk ini.
Tidak banyak yang kami bawa, hanya beberapa pasang baju hangat serta jaket tebal yang akan melindungi kami dari dinginnya udara pegunungan. Beberapa bungkus tembakau Candra sediakan untuk melepas candunya nanti. Entah mengapa anak ini meminta ikut. Ia berkata bahwa ia telah bosan berkutat dengan belasan kucing dan beberapa anjing yang dititipkan pada pet shop milik keluarganya. Tangannya selalu berbau pakan peliharaan.
"Di Surabaya, telepon ke nomor yang gue kasih. Dia temennya Rio waktu SMA." Dika memelukku ketika mengantar kami ke Stasiun Pasar Senen.
"Jangan lupa makan," balasku.
"Lo yang harusnya jangan lupa makan."
Dika berdiri dengan tangan terlipat ketika kami berangkat tepat pada pukul dua siang. Tidak ada ekspresi berarti yang bisa ia luapkan, selain tatapan lurus menuju kaca jendela tempat duduk kami. Asap tembakau yang mengawang pada wajahnya terhapus oleh gerak laju kereta api yang berangkat. Itulah pertama kalinya aku berjauhan dengan satu-satunya anggota keluargaku, setidaknya setelah Ibu telah tiada.
Tidak banyak yang kami lihat ketika di perjalanan, karena sebagian besar kami berada di malam hari. Hanya bercak bintang berkelap-kelip dan bulan bulat terang yang semakin mengingatkan diriku pada Reira. Andai saja ia menadahkan wajahnya ke langit saat ini pasti kami akan menyaksikan langit yang sama. Hanya rindu yang membuat jarak ini seakan semakin jauh.
Handphone-ku berbunyi. Kulihat nomor tidak bernama sedang menyasar dalam panggilan tengah malam.
"Halo?"
Candra terbangun dari tidurnya ketika suaraku serakku berkata. Tanganya mengucek matanya yang sembab oleh kantuk.
"Siapa?" tanya Candra.
"Itu Reira," jawabku.
Aku tidak mungkin salah. Sangat kuingat nada suaranya yang acap sekali memanggil penggalan namaku ketika ia kembali berbual mengenai imajinasinya.
"Cuma ada dua kemungkinan, pertama dia udah turun gunung. Kedua dia masih bersiap-siap untuk mendaki." Candra menjelaskan.
"Semoga kita ada di kemungkinan kedua," balasku.
Kereta api kami tiba kira-kira pukul setengah dua dini hari. Stasiun Pasar Turi Surabaya tampak lengang, hanya penumpang dari kereta yang mengisi stasiun. Terdapat juga beberapa satpam yang mondar-mandir menjaga keamanan.
Aku segera menelepon ke nomor yang telah diberi oleh Dika kemarin. Di balik sambungan panggilan, terdengar suara kantuk seorang pria yang kental. Tidak ada kalimat lain yang ia keluarga kecuali kata mengiyakan perkenalanku padanya. Ia mematikan sambungan panggilan ketika aku meminta dijemput di Stasiun Pasar Turi Surabaya.
Sembari menunggu orang tersebut, aku dan Candra menyalakan tembakau tengah malam di parkiran Stasiun Pasar Turi. Orang-orang yang satu tujuan turun bersama kami, perlahan menghilang satu per satu untuk melanjutkan perjalanan. Beberapa dari mereka ada yang tertidur di lantai untuk menunggu pagi menjelang.
Sorot lampu mobil menenerangkan asap tembakau yang kami hembuskan. Sebuah Hardtop merah dengan ban tahu berhenti tidak jauh dari kami. Lambaian tangannya menarik perhatian kami. Aku tidak tahu siapa dia, yang pastinya ia memanggil kami.
"David, ini orang yang lo cari," panggilnya ketika menampakkan diri dari jendela mobil.
Aku dan Candra saling memandang dalam tatapan kantuk. Kami langsung berlari ke mobil tersebut. Ternyata ialah orang yang katakan oleh Dika.
"Gue Adrian, temannya saudara lo, Rio." Ia memulai dengan memperkenalkan diri. "Ayo kita ke Bromo, kapan pun lo siap."
Sepertinya impianku untuk menyusul Reira berjalan dengan baik. Aku menikmati perjalanan dengan iringan musik pop Jawa yang Adrian hidupkan. Mataku tidak bisa tidur dengan ayunan yang terasa di dalam mobil. Namun, hal tersebut berbeda denga Candra. Semakin bergoyang, ia makin seperti dalam buaian.
"Gue ketemu lo waktu masih kecil banget. Waktu itu, lo masih pakai singlet sama celana dalam aja." Adrian memecah keheningan yang tercipta. Tangannya sibuk dengan stir mobil, tetapi matanya mengarah kepada cermin depan.
"Iya, Bang. Gue masih ingat lo dulu pernah main ke rumah," balasku.
"Gue turut berduka cita atas meninggalnya Rio. Padahal kami teman seperjuangan banget."
"Rio sama abang, dekat banget?" tanyaku.
"Gue sama dia teman satu pesantren. Lalu, kami juga teman karib waktu lanjut ke SMA. Di sana kami kenal sama yang namanya barang haram. Waktu kuliah, gue dikejar polisi karena difitnah mengedarkan. Akhirnya, gue lari ke sini dan pisah sama Rio. Enggak lama kemudian, Rio meninggal."
"Gue heran, kenapa harus Rio yang meninggal."
"Dia itu orangnya suka coba hal yang baru. Suatu waktu, Rio coba yang pake suntik. Sedangkan gue, enggak mau. Gara-gara itu ...." Ia menaikkan alisnya sembari tersenyum kecil. "Sekarang gue udah berhenti. Rio juga bilang kalau lo kuliah di kampus gue dulu."
"Sepertinya Abang tahu tujuan kita ke mana."
"Tentu saja tahu. Markas Mapala kampus kita di sana. Yang punya teman gue dulu."
***