
Ia memang berwajah riang di hadapan puluhan pembaca yang sedang menunggu tanda tangan buku terbarunya. Namun, aku mampu melihat sisi lain dari sorot mata lemahnya tersebut, teduh, tetapi tidak menyejukkan sebagaimana yang aku lihat sebelumnya. Ada sebuah titik di mana aku akan balik ke masa lalu, di mana aku mendapatkannya sedang tidak baik-baik saja. Sudah banyak yang aku lalui selama ini, begitu pula dengan dirinya.
David merupakan orang penggila kesendirian. Ia mampu menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menghabiskan waktu dengan diri sendiri. Aku akui David orang yang kreatif, tetapi ia lemah di dalam pendirian sehingga tetap menjadi pengikut orang lain ke mana-mana. Ia tidak terbuka, sulit kali untuk menggali sesuatu yang terpendam di dalam dirinya. Seluruh beban sering kali David simpan sendirian, tidak heran bagiku ia akan tenggalam seperti ini.
“Dia dan Mawar berpacaran,” ucap Alfian dengan lemah.
Entahlah kawan, aku tidak merasakan apa pun dengan kalimat itu. Seperti biasa saja, tetapi aku lebih prihatin dengan wajah dokter yang ada di sampingku. Hatinya telah jatuh kepada orang yang salah. Mawar terlalu pintar untuk ia taklukkan.
“Mawar udah balik dari Jerman?” tanyaku.
“Udah … dia balik tahun lalu, sempat bekerja di Jerman beberapa bulan setelah tamat. Waktu balik ke Indo, gue tarik jadi Psikolog di rumah sakit Papa.”
“Ah … wanita pintar, cantik, dan menarik. Siapa yang enggak mau sama dia. Sejak kapan mereka pacaran?”
“2020 … dua tahun yang lalu⸻”:
“Kenapa KAU ndak bilang!” Aku menarik kerahnya dengan satu tangan. Logat Melayu Pekanbaru keluar untuknya.
“Gue mana tahu! Mereka pacaran diam-diam. Mawar cerita sama gue waktu udah jadi Psikolog di rumah sakit.”
“Rei ….” Borneo menyentuh tanganku untuk menyingkirkannya dari lengan Alfian. “Orang-orang lihat kau di sini.”
“Maaf ….”
“Lo masih suka sama dia?” tanya Alfian sembari merapikan kerah kemejanya.
Aku menggeleng lemah. “Gue enggak ngerti dengan perasaan gue. Yang gue rindukan selama di Pekanbaru bukan dia. Tapi, kebebasan gue yang selama ini hilang. Mungkin gua udah berhasil ngelupain David. Lebih tepatnya, gue khawatir dengan David.”
“Haruskah kita penjarain dia?”
“Jangan … itu cuma memperburuk keadaan. Bukan cuma David yang dirugikan, tapi juga Mawar.”
“Lo itu sadis, Rei … tapi masih sempat-sempatnya peduli.” Ia menyingkirkan tubuhnya dari besi pembatas.
“Bukan karena gue mantannya David, tapi lebih tepatnya karena gue wanita.”
Ia menoleh padaku. “Bilang apa yang lo butuhkan, gue lakukan segera.”
“Cari penyuplai ganja David, kasih tahu ke gue.”
“Lo mau ngapain?” tanya Alfian dengan penasaran.
“Cuma segelintir pekerjaan yang biasa dilakukan sama bajak laut.”
Kalimat itu aku hadapkan kepada Borneo. Aku tidak tahu apakah Borneo mengerti, tetapi ia harus ikut jika nama itu ditemukan.
Aku dan Borneo tinggal di rumah Bunda berdua. Lebih baik aku mengawasinya dari dekat daripada mencari wanita penghibur untuk aku pergoki ketiga kalinya. Untuk tidak dicurigai oleh tetangga, aku menarik Mawar untuk pergi dari kosan setelah sebelumnya ia menolak untuk menempati rumah tingkat du aini sendirian, katanya terlalu besar untuk satu orang. Lagi pula, komplek individualis ini tidak peduli dengan kehidupan orang lain. Mereka hanya datang bertamu ketika ada orang yang meninggal, selebihnya sibuk dengan kehidupan duniawi sendiri.
Rasanya tidak lengkap tanpa kehadiran Razel yang selalu aku bangunkan dengan tumpahan air setiap pagi. Ia sudah besar, berhak untuk memiliki kehidupannya sendiri. Namun, adanya Semara di sini cocok sebagai penyeimbang diriku dan Borneo yang sering berdebat dalam berbagai hal.
Ia memerhatikanku dengan banyak berkas. Sudah sehari ia bersamaku di rumah Bunda.
“Kamu sibuk ngapain, Rei?”
“Ini ….” Aku menunjuk berbagai berkas yang berserakan di atas meja. “Aku mau lanjut kuliah. Pendaftaran dimulai seminggu lagi. Kamu mau kuliah? Kampus lamaku memang enggak ada jurusan tata rias, tapi ada jurusan fashion. Kamu bisa kerja sama Reina nanti.”
Ia menggeleng sembari menuangkan anggur ke gelas piala yang ia genggam. “Ah enggaklah … kampus bukan habitat aku, Reira. Aku lebih senang berkaktivitas seperti ini.”
“Bagaimana bisnis tata rias kamu?” tanyaku.
“Tiap minggu pasti ada job. Pokoknya lancar bangetlah, jadi aku berterima kasih sama kamu yang udah ngasih aku kesempatan ini.”
“Oh ya? biasanya kamu ngapain?”
“Biasa … make up pengantin sekalian henna di tangan. Kan aku udah punya sertifikat, jadi banyak client yang percaya sama aku.”
Aku tersenyum padanya yang sudah berkembang jauh. Dulu, aku menemukan Semara menangis di depan pintu setelah dikecewakan oleh pelanggan bulenya. Namun, sekarang ia berkali-kali lipat lebih berkembang dan berharga dari sebelumnya.
“Teruslah berkarya ….” Aku mengambil gelas yang dituangkan anggur oleh Semara. “Terima kasih.”
“Kalau kamu, apa aja yang kamu kerjain di Pekanbaru?”
Napasku terasa berat mengingat seberapa rumitnya pekerjaan memimpin sebuah perusahaan.
“Ribet … aku benci jadi orang penting. Lebih baik jadi sepertimu yang masih bisa bebas⸻”
Kalimatku terhenti oleh Borneo yang datang tiba-tiba. Aku kira ia sedang di garasi kayu belakang yang sekarang ia jadikan sebagai workshop seninya, ternyata ia datang dari pintu depan.
“Orangnya udah dapat, penyuplai narkoba ke David.”
Aku melepaskan pena yang tergenggam. “Di mana?”
“Ikut aku ….”
Wajah Semara aku sentuh. “Jaga rumah dan jangan lupa beli makan Minerva. Ayam suirnya ada di kulkas.”
Mobil sedan tua milik Bunda bergerak menuju tempat yang Borneo maksud. Ia mendapatkan informasi mengenai penyuplai itu dari Alfian yang mengikuti David diam-diam. Sekarang, Borneo berperan sebagai pembeli yang sudah memiliki jadwal untuk transaksi. Sebuah jalan sepi dengan pohon kayu putih di kiri kanannya, aku melihat seseorang memakai motor matic sedang berhenti. Ia terlihat memakai masker dengan kupluk hoodie yang ia gunakan untuk menyembunyikan wajah.
“Berapa?” tanya Borneo keluar dari mobil.
“Seratus ribu. Enggak mau barang lain?”
“Oke⸻”
Tidak sampai penyuplai itu melanjutkan kalimat, Borneo menghantam kepalanya ke kaca mobil. Aku sempat naik darah karena takut kaca mobil Bunda pecah, tetapi tidak ada benda keras selain kaca itu. Orang itu oleng, Borneo langsung memasukkannya ke dalam mobil.
“Cepat Reira!!!” Borneo menutup pintu.
Aku melajukan mobil ke gedung kosong tempat biasanya anak-anak jalanan bermain. Namun, sekarang gedung itu sudah kosong karena mereka sekarang beraktivitas di asrama yang disediakan oleh yayasan. Borneo menggiringnya dengan paksa menuju lantai paling atas. Berbekal api yang aku hidupkan di dalam tong besi, pria itu kini mampu melihat wajah kami dengan jelas.
Ia terduduk di atas kursi dengan wajah penuh darah karena Borneo sempat menghajarnya habis-habisan di dalam mobil.
“SIAPA LO!” Ia meneriaku. Tangannya tampak mengambil sesuatu dari dalam jaketnya. Benda tajam itu tegas mengarah kepadaku.
Bunyi pelatuk pistol revolver membuat tangannya turun. Aku melesatkan satu tembakan keluar, meskipun itu hanya peluru kosong.
“Satu peluru ini bisa bikin lo mati hari ini, percayalah. Sekarang buang pisau itu,” pintaku.
Tangannya yang bergetar tatkala membuang pisau itu ke bawah.
“Apa mau lo?”
“Sebutkan bos bandar lo.”
“Enggak!”
Tamparanku melesat pada pipinya.
“Sebutkan bos bandar lo, jangan sampai gue bertanya tiga kali.”
“Plis jangan bikin gue mati gara dia,” ucapnya lemah.
“Ikat dia Borneo.”
Borneo langsung mengiyakan permintaanku. Ia mengikat kaki dan tangan pria itu tanpa memberikannya ruang untuk bergerak. Aku tidak meragukan tenaga Borneo, musuhnya kali ini belum ada apa-apanya daripada preman dermaga, bahkan dari Kakek Tarab yang tua renta sekali pun.
Aku memasukkan satu peluru ke revolver, lalu memutarnya hingga berbunyi khas.
“Sekarang kita bermain … satu pertanyaan, satu kali tembakan. Kalau pelurunya enggak keluar, berarti lo beruntung.”
“Kalian gila!”
“Iya, gue orang gila.” Aku meletakkan ujung pistol ke pahanya. “ Sekarang, sebutkan bandar lo siapa.”
“Plis … gue ga bisa sebutin itu …..” Kalimatnya beriringan dengan darah yang keluar dari hidung.
Aku menarik pelatuk, lalu melepaskan tembakan. Borneo menutup matanya, begitu juga pria itu. Namun, ia beruntung karena peluru tidak keluar. Lalu, aku kembali memutar silinder peluru untuk memulai ronde berikutnya.
“Sekarang lo beruntung, mungkin enggak dengan kesempatan berikutnya. Sekarang, gue tanya sama lo, siapa bandar yang di atas lo?”
“Gue bisa mati dibunuh dia kalau gue kasih tahu!” Ia meneriaku diriku.
“Baiklah … lebih baik lo mati di tangan gue daripada bandar lo sendiri.”
Aku melepaskan tembakan. Darah memuncrat dari pahanya. Peluru berhasil ditembakkan dengan tepat. Ia berteriak sekencang-kencangnya, sementara aku menghabis bercak darah yang sempat mengenai tanganku. Untuk memulai ronde berikutnya, aku memasukkan satu peluru dan memutar silinder kembali. Tanganku berpindah ke paha yang lain.
“Sekarang gue tanya, siapa bandar lo?”
“Plis … jangan lakuin ini. Kasih aja gue ke polisi atau bagaimana.”
“Oke baik.” Aku melakukan ancang-ancang.
Teriakannya membuatku menyingkirkan jemariku pada tuas pistol revolver.
“GUE KASIH TAHU!!! AKAN GUE KASIH TAHU!!!” Ia melepaskan tangis sesaat. “Singkirkan senjata itu dulu ….”
Aku menyimpan kembali senjata milikku, lalu mendengarkannya menyebutkan sebuah nama beserta lokasi rumah bandar tersebut. Pria itu segera kami boyong kembali ke dalam mobil. Sejumlah uang aku berikan padanya untuk biaya pengobatan. Sesampainya di depan klinik kesehatan yang relatif sepi, Borneo menyampakkan pria itu agar segera melakukan pengangkatan proyektil. Setelah menjauh, kami berhenti di depan minimarket untuk membeli minum. Menembak seseorang untuk pertama kali ternyata menguras adrenalinku.
“Kau kaya tenang aja ngelakuin itu, Reira.” Borneo menghisap rokoknya.
“Setidaknya kita enggak sampai bunuh dia, itu melanggar pasal dari Sepuluh Larangan Kapal Leon.” Aku mencari nama Alfian di ponsel untuk menghubunginya. “Halo Alfian, gue udah dapat bandarnya. Gue kirimin rekaman suaranya. Sekarang tugas lo buat ngehubungin kerabat lo yang pejabat polisi itu. Mungkin dia butuh bahan buat naik jabatan.”
Wajahku melihat kepada Borneo. Ia masih tampak takut setelah aku menembak seseorang.
“Kenapa? Lo takut?”
“Bukan itu … tapi gue cemas dengan kau. Kenapa kau setega itu?” tanya Borneo.
“Kalau gue tega, gue ngebiarin dia tunggang langgang di gedung itu setelah ditembak.”
“Okelah … aku enggak peduli lagi. Sekarang kita mau ke mana?”
Aku menunjuk sebuah gapura komplek perumahan.
“Di dalam sana, ada rumah David.”
“Kita ke sana?”
“Menurut kau aja,” pungkasku.
***