
EPISODE 66 (S2)
Terdapat sepuluh butir telur dan sebuah spanduk bertuliskn pengkhianat yang ia pinta kepada Kak Reina untuk dibawa. Di bawah rembulan yang terang meskipun rusuh terjadi di seberang sana, tak mengurungkan niat Reira untuk melakukan hal gila kali ini. Hatiku cemas, bunyi serine polisi berdengung di arah gedung DPR RI. Teriakan dari mahasiswa yang mencoba melawan sampai hingga ke sini. Sementara itu, jalanan begitu sunyi karena tak ada yang berani lewat. Hanya mobil mewah plat merah ini yang berani menapaki jalanan.
Entah kapan Reira merencakan hal ini. Namun, aku yakin bahwasanya rencana ini sudah ia pikirkan matang-matang sejak lama. Pasti ia sudah mendengar desas-desus demo di DPR semenjak sebulan yang lalu, apalagi kedatangan Ketua DPR yang memberikannya kesempatan untuk berbincang sejenak, bahkan berdebat mengenai nasib guru honorer dengan segala undang-undang yang mengaturnya. Tepatlah di kala itu Ketua DPR berjanji akan membuat undang-undang yang menyentuh hati rakyat, namun saat ini ia sama sekali melanggarnya. Kesempatan Reira untuk menyanggupi tantangan itu.
Aku tahu bahwasanya mobil dinas miliknya dibeli oleh rakyat. Aku tahu juga bahwasanya beliau sama sekali tidak ada mengeluarkan uang sepeser pun untuk perawatan mobil, atau bahkan hanya untuk membeli bahan bakar. Seluruh fasilitas yang digunakan akan dianggarkan dalam kas negara yang notabene berasal dari pajak-pajak rakyat yang dibebankan pada setiap individu. Dalil tersebut menguatkan hati Reira untuk berani melakukan hal itu. Entah bagaimana nasib kami nantinya apabila kami diincar dan hilang tiba-tiba di malam hari.
“Hanya ada satu kata, lawan!” Reira menutup pintu mobil.
Keringat kami disapu oleh dinginya suhu udara dalam mobil. Baru kali ini aku menaiki mobil semahal ini. Rasa ketika diduduki sebenarnya sama dengan mobil-mobilnya, tetapi ada sensasi lain yang dirasakan. Mungkin saja aku yang terlalu kampungan untuk menaiki kendaraan ini.
Reira duduk di depan, sementara aku dan Bang Ali di belakang. Reira kembali melemparkan kepada kami beberapa botol air berasa yang ia izinkan untuk kami minum.
“Kalau mau ngerokok, ngerokok aja. Mobil ini milik kalian juga,” ucap Reira sembari merendahkan posisi bangku yang ia duduki.
Kak Reina melirikku ke belakang. “Reira ada ngerokok, ya? Dia pro banget sama perokok. Dia bilang tembakau adalah anugerah Tuhan yang banyak diingkari oleh umatnya yang benci atas satu hal yang bernama waktu tenang.”
Aku tertawa habis ketika Kak Reina mengatakan hal itu. Sudah jelas Reira anti dengan perokok karena ia selalu menyindiriku dan juga Candra. Di mana berdiri, di sana pula bunyi gemeretak tembakau terdengar ketika kami sulut perlahan. Acap kali dirinya menghindar karena tidak tahan baunya.
“Mana ada, Kak. Udah jelas dia nyindir kami yang perokok,” balasku.
“Reira itu kerjaannya cuma matahin batang rokok anak-anak Mapala,” sambung Bang Ali.
“Hahah ....” Reira menundukkan kepalanya di atas paha. “David yang bilang itu. Gue hanya mengutip. Tapi ada benarnya kalau tembakau udah berperan besar ke negeri ini, contohnya asuransi kesehatan, beasiswa pendidikan, ekonomi, dan banyak lagi. Hanya saja, orang hanya tau buruknya.”
“Merokok tetap saja mematikan, apa pun dampak positifnya,” balas Kak Reina sembari menyetir.
“Iya, gue juga berpikir begitu. Tapi, ada yang mematikan lagi. Orang yang bilang begitu, tapi enggak ada kontribusinya terhadap manfaat. Hahah ... sebenarnya kita enggak boleh mandang sebelah mata aja, sih ....”
“Okkay ... i got it.” Kak Reina memutar stir mobil.
Kami berencana untuk melewati pintu belakang gedung DPR. Aku kebingungan apakah tidak ada pemeriksaan yang dilakukan terhadap seisi mobil, sulit juga nanti urusannya jika penjaga menemukan tiga orang yang sedang memakai almamater beasiswa, walaupun sedang di dalam mobil dinas pejabat tinggi. Namun, Kak Reina sudah memastikan bahwasanya tidak akan ada pemeriksaaan karena penjaga sudah tahu plat nomor ini siapa dan mereka sudah biasa melihat Kak Reina yang sering mengantar papanya.
Rasa cemasku kembali mencuat ketika melihat gerbang belakang di jaga oleh beberapa personil polisi. Kak Reina bahkan menghidupkan musik EDM lebih keras lagi agar polisi itu sadar akan keberadaan kami. Kak Reina santai saja, ia berhenti tepat di barisan penjagaan sembari mengklakson berkali-kali. Sementara itu, Reira memintaku untuk menunduk di bawah dan melepaskan almamater.
“Woi, gue mau lewat. Anaknya Bernardo ini!” teriak Kak Reina. “Lo liat platnya!”
Aku dan Bang Ali menahan tawa ketika menunduk di bawah. Bisa-bisaya kakak berparas anggun itu berteriak layaknya seorang Reira. Aku semakin menyimpulkan bahwasanya gen DNA dari Kakek Kumbang benar-benar tertanam pada diri mereka.
Petugas security pun berbincang kepada salah satu personil. Setelah itu, barisan pun direnggangkan. Gerbang dibuka untuk kami lewat.
“Iya, Pak ... bapak minta dijemput.” Kak Reina menoleh.
“Oh, baik ... silahkan. Ngomong-ngomong, itu anak bungsu Pak Bernardo, ya?”
Reira melambaikan tangan. “Iya, Pak. Saya anak bungsunya.”
“Oh, ternyata kalian berdua mirip. Hayuk ... lewat aja, enggak apa-apa.”
Kak Reina memajukan mobil perlahan. “Baik, Pak. Makasih banyak, ya. Bilangin sama polisinya jangan ngalangin jalan.”
Aksi saling berimprovisasi dari dua bersaudara itu terlihat alami sekali. Mereka memanipulasi keadaan hingga dengan lancar mencapai tujuan. Mungkin saja itu sudah menjadi sifat dasar mereka yang sangat mudah sekali cair di dalam suasana, mudah mengenali lawan bicara, dan paling terakhir ialah tidak takut untuk malu karena malu tidak ada di sistem syaraf mereka.
Kami menelusuri jalanan aspal mulus komplek DPR. Aku yakin seluruh tempat ini dipasang oleh CCTV. Namanya juga tempat paling penting yang mengeluarkan banyak undang-undang, oleh karena itu penjagaan seperti itu mestilah berlapis. Reira menenangkanku, walaupun aku tak ada sama sekali berbicara, bahwasanya kami jangan khawatir dengan diri sendiri dan begitu pula dirinya. Ia tidak peduli nama papanya sendiri tercoreng apabila ketahuan bahwasanya mahasiswa yang mengotori mobil target baru saja keluar dari mobil Bapak Bernardo. Begitu pula Kak Reina, mereka berdua memiliki rasa tidak peduli yang tinggi apabila menyangkut papanya sendiri. Apalagi Reira yang selalu berseteru dengan orangtua lelakinya tersebut.
“Nah, lihat mobil Alphard tersebut.” Reira menunjuk pada barisan parkiran yang salah satu titik tertuliskan bahwasanya khusus untuk Ketua DPR. “Itu mobilnya.”
Tempat ini kosong tanpa siapa-siapa. Mungkin saja konsentrasi tertuju ke rapat yang ada di gedung dan demonstrasi yang ada di luar. Kak Reina sedikit mendekatkan mobilnya ke barisan parkiran tersebut.
“Kalian harus kerja cepat. Lempar dan langsung letak spanduk itu di atasnya. Kita bisa pergi dengan cepat.”
Reira membagikan kami telur satu per satu. Ia menenteng spanduk itu di ketiaknya. “Kalian yakin, kan?”
“Selagi gue ada jaminan aman, siapa takut.” Bang Ali menjawab tegas.
Wajah Reira menoleh padaku. Sorot matanya penuh dengan intervensi terhadap mentalku sendiri. Aku seakan dipaksa untuk mengiyakan pekerjaan ini dengan lantang, tanpa rasa keragu-raguan.
“Gue asisten kapten kapal. Jangan ragukan gue,” tegasku.
Sebelah alisnya naik mengapresiasi jawabanku. Tanpa menjawab, ia langsung keluar dari mobil. Aksinya kami ikuti dengan turut mengikutinya menuju mobil tersebut. Lemparan tepat di muka kaca depan memecahkan telur-telur yang kami lempar. Vandalisme tingkat tinggi atas nama kebencian terhadap ketidakadilan, mungkin itu yang bisa aku katakan terhadap aksi ini.
Meskipun rasa cemas tengah menghantui diriku, melebihi rasa takutku ketika berhadapan dengan polisi tadi, tetapi ada gelora yang tengah berdesir mengalir di dalam nadi. Adrenalin sangat terpacu oleh tawa Reira yang gila itu. Bena, ia sangat gila. Saking gilanya, aku tak bisa menemui argumen bahwasanya ia sedang waras kali ini.
Begitu pula kami, kami pun sama gilanya.
Satu hal yang aku pelajari, tanpa menjadi gila ... orang tak akan tahu bagaimana menjadi waras. Inilah cara kami untuk menjadi waras, mewarasi diri sendiri, melampiaskan rasa amarah dan kegilaaan, hingga kami sadar bahwasanya semua ini bagian dari perjuangan pemprotesan tersebut.
Spanduk bertuliskan pengkhianat menempel di atasnya. Reira berjalan membusungkan dada ke dalam mobil sembari mengenakan topi koboi Kakek Syarif. Ia buronan malam ini ... oh tidak, mungkin saja kami semua.
***