Captain Reira

Captain Reira
34



Tubuhku membeku di hadapan hangatnya kemesraan yang ditunjukkan Fasha dan kekasihnya. Orang yang kusukai kini memadu kasih di depan orang banyak dengan atas nama cinta. Kupaksa menarik senyum hingga ke sudut maksimalnya, sementara itu mataku tidak lepas dari tatapan Bagas yang berharap aku pergi.


"David, akhirnya kamu datang. Aku nungguin dari tadi," katanya sembari berpelukan dengan Reira.


Jabat tanganku dengan Bagas terasa kaku. Kami hanya saling menarik senyum yang telah kupasang sedari tadi. Masing-masing dari kami mungkin bisa merasakan tangan yang berkeringat dingin, mengingat kami pernah berseteru sebelumnya. Sementara itu, hatiku ingin segera mencabik-cabik orang yang telah merebut Fasha dariku.


"Happy birthday, Fasha." Kuhela napasku di antara kedua telapak tanganku yang tidak memberi kado. "Oh, iya ... semoga langgeng, ya."


Reira memulai aksinya. Semua orang di atas dunia ini seakan sudah ia kenali luar dalam.


"Oh, maaf soal kemarin. Kami cuma salah sangka." Reira mengingatkan kembali mengenai aksi pelumuran mobil Bagas dengan telur. "Bar, lo tahu enggak kalau mereka ini udah dekat dari SMA?"


Bagas memasang wajah tidak senang. "Maaf, gue enggak tahu."


"Aku sama David itu sudah berteman sejak lama. Soalnya, kami sering pulang bareng karena rumahnya searah. David juga orangnya baik banget." Mata Fasha memicing senyum kepada Reira.


Aku mulai tidak menyukai percakapan ini. Sementara itu, para undangan sudah ada yang mengantre di belakangku. Dengan cepat aku berpamit kepada Fasha dengan alih untuk mencicipi beberapa makanan yang ada di sini. Aku tahu apa yang akan terjadi jika Reira aku biarkan berbicara. Ia akan mengorek semuanya hingga ke titik terang sekali pun. Tidak peduli siapa yang akan terluka, Reira akan membela seperti kapten sesungguhnya.


Gadis ber-dress abu-abu itu menghempaskan tanganku yang menggenggamnya. Ia tidak tahan denganku yang berusaha menjauhkannya dari Fasha. Aku terpaksa. Permasalahan ini akan semakin panjang jika kubiarkan Reira terus berbicara. Wanita itu terlalu liar jika dibiarkan sendiri.


"Lo itu lemah kalau di depan Fasha," cibirnya. Reira melipat tangan di dada.


"Bukannya begitu, Rei. Gue itu masih mikirin hubungan mereka. Fasha itu bukan punya gue. Fasha bilang kalau dia bahagia bersama Bagas. Aku bisa apa? Cinta tidak bisa dipaksakan." balasku.


Ia duduk di sebuah bangku panjang di bawah pohon dengan hiasan lampu yang berkelap-kelip. "Lo sibuk memikirkan hati orang lain, sementara itu hati lo sendiri enggak pernah sekali pun dipikirkan."


"Siapa bilang? Gue enggak mau kehilangan dia, makanya gue tahan perasaan ini," balasku sedikit keras. Reira sedikit menjarak ketika aku duduk di sampingnya. "Kemarin dia nanya tentang perasaan gue."


Kepala Reira bergerak cepat. Matanya menatap tajam kepadaku. "Lo jawab apa?"


"Ini demi dia, gue jawab kalau gue enggak punya perasaan apa-apa. Gue ingin kami selalu sama-sama, walaupun pada akhirnya gue yang tersakiti. Hanya itu satu-satunya cara biar Fasha enggak menjauh."


"Bodoh! itu malah semakin membuat kalian berjarak!" Ia menarik tanganku dan menyeretku dengan paksa.


Langkahnya membawaku kembali kepada Fasha yang tengah sendirian di atas panggung kecil itu. Tangan Reira mencengkram kuat otot-otot tanganku. Tidak ia biarkan sedikit pun celah untuk berkilah kembali. Sudah cukup kesabarannya melihatku untuk terus mengelakkan sebuah pengakuan.


"Fasha, David mau bicara," ucapnya pada Fasha. Reira melepaskan genggamannya.


Fasha menatapku yang tengah tegang untuk mencari pembelaan yang tepat. Hatiku bingung hendak membalas apa, hanya getaran-getaran kecil dan bekas cengkraman tangan Reira yang terasa.


"Gue suka sama lo sejak dahulu─" Kalimatku tidak sanggup untuk melanjutkannya.


Hanya kami bertiga yang mengetahui percakapan ini. Orang-orang masih berkutat dalam kesibukannya masing-masing. Sementara itu, Fasha masih tidak menjawab. Matanya seakan memaksaku untuk menarik kalimat itu kembali.


"Fasha, David sudah menyimpan perasaannya selama bertahun-tahun. Semua itu demi lo, Fasha. Dia takut kalau lo bakal menjauh," balas Reira.


"David, kamu berpikir semua perhatian aku ke kamu itu adalah cinta, kamu salah," kata Fasha padaku.


Hatiku terasa terhempas oleh kalimatnya. Aku menggigit bibir, tidak tahu menjawab apa. Sementara itu, Reira terus berada di depanku untuk membela.


"Setidaknya lo mikirin perasaan dia─" Reira mendekat kepada Fasha.


Tanganku dengan cepat menahannya. Suaranya sudah menarik perhatian hadirin yang lain. Bagas pun begitu, ia bersiap-siap jika Reira melangkah sekali lagi. Tangannya sudah berada di depan Fasha.


"Udah, Rei. Kita pulang," ucapku untuk menahannya.


Reira tidak merespon kalimatku. Ia tetap menatap tajam kepada Fasha. "Lo suka sama David. Buktinya, lo cemburu gara-gara kami dekat. Lo yang bilang sama gue."


Gadis laut itu mempunyai segudang rahasia. Beberapa di antaranya sempat ia bagi padaku. Sesuatu yang diucapkan oleh Reira membuka salah satu rahasia yang ia tutup rapat-rapat. Informasi yang baru saja aku dengar, tidak pernah menguak selama ini. Semesta tidak memberikanku celah untuk mengetahui semuanya.


Fasha suka sama gue?


Fasha tampak terdiam. Air matanya menetes dari sudut matanya hingga mengalir ke penghujung dagu. Namun, kepala menggeleng perlahan untuk mengatakan tidak.


"Aku enggak pernah punya rasa sama David," balasnya singkat.


"Lo bohong! Lo yang minta ke gue buat menjauh dari David." Reira menunjuk Fasha dengan tegas.


"Kita bahkan enggak pernah bicara sebelumnya." Fasha mengusap air matanya.


"Baiklah jika itu mau lo," pungkas Reira.


Ia membalikkan diri kepadaku. Kedua tangannya menarik leherku untuk mendekat. Aku tidak bisa membaca raut wajahnya yang datar. Matanya terpejam begitu saja saat kepalanya dimiringkan.


Aku seakan berada di tempat yang berbeda seketika. Ruang dan waktu seakan tidak berlaku dalam beberapa detik yang nyaman ini. Aku menikmatinya beberapa saat, namun tidak setelah aku sadar akan hal itu.


"Setidaknya gue enggak pengecut kaya lo," ucapnya pelan saat melepaskanku.


Tampak olehku sorot mata kecewa dari Fasha. Aku terhentak. Perlahan tanganku terangkat dan melayang tepat pada wajah Reira.


Aku menamparnya. Detik ini menjadi salah satu dosa terbesr yang pernah terjadi.


***