
EPISODE 60 (S2)
Puisi adalah serangkaian kata yang bermakna, lalu disusun sedemikian rupa dengan indah. Menitik beratkan pada pesan-pesan yang dirasakan melalui perasaan, menjadikan seluruh rangkaian kata-kata untuk diperdengarkan. Sebegitu dalamnya arti dari sebuah puisi, tak jarang para pendengar hanyut dalam intonasi nada penyair yang sedang mengacak-acak perasaan. Jiwa pun bergetar, rambut tubuh berdiri, seakan ingin terbang dari bumi mengejar kata-kata yang tengah bergerak jauh ke atas.
Aku tidak ingat sejak kapan aku menyukai puisi. Sedari dulu, aku hanya selalu mendengarkan orang lain karena aku sendiri tidak terlalu banyak berbicara. Duduk di depan orang lain, lalu menyiapkan wajah kaku yang sedari tadi dipaksakan untuk tersenyum, hingga rasa bosanku memuncak untuk pergi dari perbincangan. Namun percayalah, terkadang orang ingin untuk didengar. Hingga jiwa penyendiriku mengamuk melalui kata-kata, aku teriakkan kata-kata itu di hadapan kelas agar mereka sadar bahwasanya aku ada tak hanya untuk mendengar, tetapi juga didengar.
Merenung, hanya satu itu kunci bagiku untuk berpuisi. Merenung itu meningkatkan jiwa spiritual untuk cepat mencapai makna-makna, hingga aku lebih mudah untuk merangkai kata. Memang, hidupku sebagian besar aku gunakan untuk merenung, bahkan di tengah keramaian itu sendiri. Ketika aku sendiri, aku merasa ramai sekali. Suatu hari wanita laut pun mengajarkan sesuatu mengenai zona nyaman, hingga aku pun sadar bahwasanya aku ternyata butuh keramaian.
Gadis yang tengah di hadapanku cekatan menyusun bakpao bertumpuk di atas nampan, persis seperti sebuah piramid bakpao isi ayam. Kepalanya memereng ke kiri dan ke kanan untuk memastikan bahwasanya piramid itu sudah simetris,lalu tangannya berjentik atas nama keberhasilan. Sementara itu, aku berada tepat di sampingnya yang tengah sibuk itu. Tanganku berputar mengaduk air es sirup melon yang ia pinta untuk disiapkan.
“Nah, beginikan lebih estetik,” ucapnya. Kini ia menjdi penemu peningalan situs piramid bakpao isi ayam.
“Asyik banget sendirian,” balasku.
Kini, ia menoleh padaku. “Nah, ini yang gue bilang pria itu selalu apa adanya. Tidak memikirkan hal yang estetik seperti ini.”
“Lo terkadang merasa jadi Psikolog, kemarin jadi astronom, tadi kaya penyair, kini jadi artis seni rupa. Sebenarnya lo apa, sih? Hahaha ....”
“Gue adalah gue. Aku adalah aku yang dipikirkan oleh aku, Descartes.”
“Aku berpikir karena aku ada, bukan itu kalimatnya,” sanggahku.
“Ya ... gue hanya berimprovisasi.”
Di tengah hening yang kami helat di sela-sela waktu, datanglah Candra menggunakan mobil box milik pet shop-nya. Biasanya, mobil itu digunakan untuk pengantaran pulang hewan yang sudah dititipkan atau baru selesai melakukan grooming di sana. Jarang sekali ia menggunakan mobil tersebut. Biasanya, ia mana boleh menggunakan mobil itu selain untuk bekerja. Benar saja, anak itu langsung menyambar bakpao yang disusun sebegitu estetiknya oleh Mawar. Piramid itu tak lagi berpuncak sempurna.
“Dari mana? Tumben pake mobil itu?” tanyaku.
“Biasa ... orangtua gue lagi di Bandung tiga hari. Jadi, gue bebas mau ngapain. Besok mereka baru pulang ke sini.”
Kedatangan paling heboh terjadi berikutnya, ketika suara motor knalpot Bang Ali menggelegar di depan gerbang rumah. Motor CB modifikasi tersebut ia mainkan tali gasnya hingga menggelegar dengan kuat. Sesuai dengan perkataannya, Redi turut ikut bersamanya. Bang Ali hanya menurunkan Redi saja, lalu ia kembali mengegas motor ke bengkel Dika. Mungkin saja ada hal tentang permesinan yang ingin ia konsultasikan kepada orang di bengkel.
“Wah .... Redi ... anak SMA muka kuliahan.” Candra langsung mengai leher anak itu.
“Wah, enak banget nih ada bakpao. Kenyang malam ini.” Ia menoleh padaku. “Siapa yang ulang tahun, Bang?”
“Heheh ... enggak ada. Pengen asyik-asyikan aja sesekali.”
“Sayang banget Kak Reira enggak ikut.”
Aku memajukan bibir. “Ya, begitulah. Keadaan yang bilang begini. Kita enggak bisa berbuat apa-apa.”
Tidak ingin menunggu hari semakin malam, aku dibantu oleh Mawar langsung membakar ayam yang sudah di-ungkep sebelumnya. Musik masa kini dihidupkan melalui speaker agar semuanya merasa enjoy di sini. Tidak ada diam yang melintas, semuanya saling berbicara apa saja yang ingin dibicarakan. Mereka lebih memilih duduk di atas rumput sambil minum sirup dan mengganjal perut dengan bakpao. Suasana bertambah ramai ketika Dika menutup garasi bengkelnya, lalu meminta seluruh pegawainya untuk ke bekalang. Ia bahkan membawa meja domino untuk menggelar permainan di sini.
Bang Ali berduet dengan Candra untuk melawan Dika yang berkoalisi dengan salah satu pegawainya. Hentak batu domino itu terasa merdu ketika diiringi oleh canda tawa yan tak henti diucakan. Aku dan Mawar di sini pun ikut merasakan keseruan mereka di sini.
“Udah matang, nih ....” Aku melihat potongan-potongan ayam yang aku rasa sudah bisa diangkat dari pemanggang.
“Ih ....! Jangan diangkat dulu. Tunggu sebentar lagi dan warnanya bener-bener coklat,” balas Mawar sembari menepuk telungkup tanganku.
Sontak tepukan tanganya ke telungkup tangan membuatku meletakkan kembali jepit bakaran ayam tersebut. “Gue kira udah ... soalnya udah harum banget.”
“Percayalah dengan wanita kalau soal masak memasak.” Senyum mawar sedikit terlihat menyombong. “Fasha mana? Katanya mau ke sini.”
Aku lihat di luar pagar rumah, tidak ada tanda-tanda kedatangan Fasha. Aku tahu persis posisi parkir faforitnya di depan rumahku. Namun, sepertinya ia tidak akan datang. Fasha orangnya selalu tepat waktu dan selalu datang lebih awal, begitu pula dirinya ketika ke kampus atau ke acara-acara lainnya. Belum pernah aku temui seorang Fasha yang datang lebih lama daripada waktu yang ditentukan.
“Mungkin aja dia sedang asyik sama suaminya. It`s okkay.”
Mawar mengipas ayam yang sedang aku panggang. “Walaupun gue enggak terlalu akrab dengan Fasha, tapi dia anak yang enak diajak ngobrol.”
“Ya, begitula. Dia pandai nge-lobby orang lain. Berbeda dengan Reira, cara Fasha masih diambang kata waras. Hahah ....”
“Hahah .. iya, lo bener. Dia sering ditunjuk jadi ketua acara kalau BEM bikin kegiatan,” balas Mawar. “Dia sering ke sini?”
“Yang benar saja? Dulu dia setiap hari ke sini. Akhir-akhir ini aja dia jarang. Gue berteman dengan dengan Fasha semenjak SMA, hingga sekarang.”
“Hmm begitu .... Udah tuh angkat lagi ayamnya.” Ia menunjuk ayam yang menurutnya sudah matang.
Ronde pemanggangan ayam terakhir sudah selesai. Aku rasa setiap orang di sini bisa mengambil dua potong ayam. Mawar meletakkan ayam tersebut ke atas wadah yang sudah dipersiapkan, lalu duduk untuk menuangkan kecap ke atas mangkuk kecil yang berisikan potongan cabe sebagai bahan peracik kecap pedas manis. Penanak nasi aku angkat keluar, Bang Ali sudah menyindir halus dengan nada bercanda kenapa ayamnya lama sekali matang.
Tidak ada wajah Fasha yang terlihat hingga kami makan bersama di atas rumput. Ucapan terima kasih bersenandung bagaikan limpahan bahagia yang terus menerus mengalir tanpa henti. Bunyi mulut mereka yang mengunyah makanan menjadi hal yang menarik. Aku senang mereka menambah porsi nasi, terutama Bang Ali yang lahap sekali. Candra malah merebut ayam yang aku miliki, terpaksa aku makan setengah dari milikku.
Ya, begitulah kisah malam ini yang penuh dengan rasa syahdu di antara lingkar senyum pertemanan. Bincang semakin hangat setelah Mawar membuatkan kami kopi tubruk. Tentu saja nikmatnya masih terasa karena yang membuatkan adalah gadis terbaik yang menjadi barista di Kota Manggar. Asap rokok bersenandung di antara kami, menyisakan gelap yang abu-abu berkat cahaya lampu menembus asap.
Malam semakin malam, perlahan anggota mulai pulang. Dimulai Bang Ali yang minta izin untuk pulang duluan karena ada pekerjaan yang harus dikerjakan di rumah, tentu saja Redi akan ikut. Candra pamit karena tidak ingin meninggalkan rumah terlalu lama. Orangtuanya tidak sedang ada di sana karena sedang berada di Kota Bandung. Aku berterima kasih sekali dengan Mawar. Ia membantuku untuk membersihkan piring dan gelas. Anak itu sangatlah rajin.
“Gue pulang dulu,” ucap Mawar di depan teras.
“Terima kasih udah ngebantuin gue.” Aku memberikan tiga potong ayam kepadanya sebagai santapan yang bisa dinikmati di pagi hari. Tentu saja ayam ini masih bisa dihangatkan.
Ia menyambut plastik yang aku berikan.
“Hati-hati di perjalanan pulang.”
Hanya anggukan disertai oleh senyuman yang ia tinggalkan di ujung malam ini. Ia melenggang bebas menuju mobil untuk pulang.
Aku duduk di teras rumah untuk menunggu kantu. Mungkin saja kopi buatan Mawar menahan mataku untuk tertutup. Diselingi dengan musik lembut dari handphone, aku membakar sebatang tembakau untuk menikmati malam, sekaligus mengusir serangga penghisap darah yang tak henti berdengung di telingaku. Tepat tatkala aku mengisap hisapan kedua, terdengar derap suara ban mobil yang bergerak di muka gerbang rumah. Mobil sedan mewah itu sudah aku ketahui siapa yang memilikinya, yaitu Fasha.
Kamu terlambat malam ini, ucapku dalam hati.
Ia turun dari mobil dengan wajah tanpa ekspresi, mungkin saja cemas jika aku akan marah karena hal itu. Tubuhnya semakin menggempal saja, bayi yang sedang dikandungnya sangat butuh nutrisi yang bagus agar tumbuh kembangnya sempurna. Pipinya membulat dari yang terakhi kali aku lihat. Lengannya bertambah lebar, begitu pula perutnya yang membesar, tetapi masih tertutupi oleh pakaian labar yang ia kenakan.
Tatapan kami jatuh dalam satu garis lurus yang sama. Pada pertemuan sorot mata itu, aku lihat kedipannya yang melambat seiring waktu. Ia memicing untuk memastikan siapa yang sedang berada di teras. Aku tahu matanya tidak sebagus diriku, terkadang ia memakai kacamata. Aku lihat tangannya melambai padaku sembari menyahut penggalan namaku.
“David,” panggilnya.
“Kamu terlambat,” balasku.
Ia membuka pagar dengan tangannya, lalu melangkah ke arahku.
“Aku lama di dokter kandungan. Aku lagi pemeriksaan. Aku kira pemeriksaannya akan lebih cepat.” Ia duduk di kursi sebelahku.
Ia yang memilih duduk di sana, aku pun menghindar karena aku sedang merokok. Tidak mungkin aku merokok di sebelah ibu yang sedang hamil. Aku masih menghormatinya yang membutuhkan ruang segar.
“Terima kasih,” ucapnya ketika aku menghindar. “Jadi, apa gerangan ngajakin pesta?”
“Ada satu hal yang enggak terduga terjadi.” Aku menghembuskan asap rokokku menjauh darinya. “Dua hari yang lalu pengacara pribadi Ayah datang. Dia membawa pesan kalau ada sebagian warisan yang ditinggalkan sama Ayah. Jumlah yang cukup besar untuk melunasi utang-utang Ayah.”
Fasha terdiam. Bibirnya tak kunjung menjawab pertanyaanku. Hanya jemarinya yang bergerak mengetuk-ngetuk lututnya.
“Warisan?” tanya Fasha.
Aku mengangguk. “Iya, warisan Ayah yang memang ditahan selama ini oleh Ayah sendiri. Ia menuliskannya di surat warisan.”
“Selama ini kalian melarat gara-gara itu. Gue sering cemas dengan keadaan kalian berdua. “
“Ayah sengaja mengajari kami kehidupan yang keras. Ia menahan sebagian hartanya untuk kami, agar kami tahu cara berusaha.” Aku menunduk sesaat. “Terkadang, aku merasa bersalah karena iri dengan kehidupan seperti kalian. Maksud aku, kalian yang senang-senang dengan harta banyak, sedangkan aku enggak. Jikalau Ayah masih hidup, mungkin kehidupan kita setara.”
“David, semuanya udah terjadi. Kamu cuma bisa menerima.” Fasha merubah gaya duduknya.
“Iya, gue sadar akan hal itu. Dan gue sangat bahagia sekali hari ini. Satu beban terberat bagi kami kini udah bisa diatasi. Tinggal menunggu beban-beban yang lain datang. Gue makin bisa melihat masa depan gue yang akan cerah, tanpa beban-beban lama.” Aku membuang puntung rokokku.
Fasha mendekat ke tempatku duduk. Tiang tembok di teras menjadi sandaran bagi masing-masing dari kami.
“Maafkan aku selama ini menghilang.”
Aku menghela napas. Dia tidak pernah salah menghilang dariku. Dia butuh menghilangkan diri dari semua masalah, merenungi, dan merancang jalan ke depan.
“Sebutin alasan kamu masih peduli sama aku.”
Ia diam sejenak. Terdengar alunan napasnya menghela pelan-pelan. Ia sandarkan kepalanya tepat pada pundakku. Sudah pernah aku bilang, pundak ini akan selalu ada untuknya.
“Aku ngebuktiin kalau antara pria dan wanita itu tetap bisa bersahabat. Mungkin, kita pernah ada di koridor yang salah. Masalah hati pernah membuat kita renggang. Tapi, kini aku buktikan sendiri kalau kita bisa tetap sahabatan.”
“Itu teori Reira, aku hanya mengutip.”
Ia menggeleng. “Terserahlah, mau itu teorimu atau teori cewek kamu itu. Teori tetaplah teori, masih ada celah untuk dikritisi.”
Aku akhirnya membenarkan kalimatnya.
“Kamu benar. Bagaimana pun, kita tetaplah teman. Aku enggak akan bisa serta merta ngelupain kamu hanya karena aku udah sama Reira, begitu juga kamu. Kita udah di jalan masing-masing.”
“Bagas enggak main-main. Dia serius dengan aku. Aku rasa kamu benar, ia pasti akan berubah.”
Aku menoleh padanya. “Semua orang akan terus bergerak. Hanya dua kemungkinan, bergerak mundur atau bergerak maju. Aku harap Bagas bergerak ke arah yang baik. Udah aku bilang, anak kalian akan jadi titik balik semua. Ada banyak orang di luar sana yang berubah baik karena kehadiran buah hati. Ini adalah berkah, bukan petaka.”
Ia tersenyum padaku. “Setiap pagi Bagas ngebuatin aku sarapan, buatin susu untuk ibu hamil, menyium perutku, lalu malam juga begitu. Aku merasa spesial di sisi Bagas. Dia bilang, kalau anaknya laki-laki akan ia jadikan sebagai jagoan terbaiknya. Lalu, kalau lahir perempuan, akan ia perlakukan kaya tuan putri kecil.”
“Hahaha ... aku mana ngerti, belum nikah soalnya. Hahahah ....” Aku tertawa membayangi keseharian mereka berdua. Sungguh menyentuh jiwa-jiwa manusia yang belum menikah. “Jangan terlalu memanjakan anak. Kalian harus ada batasan.”
“Iya, gue paham ... kamu ngajarin aku satu hal, bermanja itu bukan suatu hal yang baik.” Ia mengangguk sesat. “Aku pengen ketemu Reira. Aku mau berterima kasih udah ngejagain kamu selama ini.”
“Hahaha ... dia ngajarin aku banyak hal. Hal yang enggak bakalan kita pelajari di bangku sekolah.”
“Hahah iya ... semoga anak kita besok berteman baik juga. Dia pasti iri dengan anak kalian yang akan lebih banyak pengalamannya. Ibunya, Reira, pasti udah ngajakin buah hatinya ke mana-mana.”
“Doain aja aku sama Reira tetap langgeng,” balasku dengan tulus.
Ya ... malam ini tampaknya sempurna. Pijar lampu yang menyinari berpadu di dalam harmoni binar mata Fasha yang bercerita. Ia lebih dewasa daripada yang aku duga.
***