Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 158 (S2)



EPISODE 158 (S2)


Aku berharap malam ini berakhir, tetapi sayang sekali bahwasanya aku bukanlah pengendali waktu. Waktu ditentukan sudah ditentukan dengan sendirinya, sehingga ruang bisa bergerak di dalam sana. Akulah ruang itu, di dalam waktu yang bergerak. Oleh karena itu, manusia hanya bisa menunggu tanpa bisa menciptakan waktu. Mengubah keadaan bukanlah mengubah waktu itu sendiri, tetapi hanya memanipulasi ruang agar bisa sesuai dengan keinginannya. Tidak peduli ruang itu menjerumuskan atau memberikan manfaat. Waktu tak pernah peduli dengan itu, ia akan terus bergerak ke depan untuk meninggalkan orang-orang sepertiku.


Pejam mataku tak tenang. Berkali-kali tubuhku tersentak bangun dengan erangan suara seperti orang demam. Aku bisa tertidur lagi, tetapi hal yang sama terus terjadi. Pikiranku benar-benar kacau kali ini. Seluruh masalah masa lalu, masa kini, kemungkinan di masa depan, seakan berkumpul di satu titik yang menghantamku saat ini. Dahiku berkeringat dingin setiapku terbangun, menghapus wangi rambut Mawar setelah aku menenggelamkan wajah di sana untuk mengincar batang lehernya seperti sosok vampir lapar. Tatkala ia menghalangi wajahku untuk tidak terlalu jauh, aku kembali memaksanya, hingga dirinya pasrah dalam kerjap mata menyetujui.


Sebuah tangan menyentuh kakiku. Aku tersentak kembali dengan tatapan ke atas. Wangi tubuh yang sama kembali tiba dengan sentuhan yang lebih lembut, tak seperti tadi ketika ia mencengkram betisku. Wajahnya datar seperti biasa, menatapku tanpa ekspresi yang berarti. Dari balik tubuhnya, aku melihat gelapnya malam dari celah tirai tenda. Terdengar suara gelak Reira dan kawan-kawan di luar sana, saling bercanda, tanpa pernah tahu sebuah tragedi yang terjadi.


“Gue disuruh Reira buat ngebangunin lo.”


Mawar menyampakkan sweater milikku yang tergeletak setelah ia sendiri yang membukanya untukku, “Sudahlah ... lupakan semuanya. Mereka udah nunggu. Gue bakalan baik-baik aja. Lo enggak usah cemas.”


“Oke, makasih udah ngebangunin gue.”


Tangannya mendekat ke pipiku, lalu mengusapnya dengan jempol. “Bekas bibir gue, maaf.”


Setelah itu, ia keluar tanpa bersuara dengan menyimpan seluruh rahasia. Kami bersikap seperti tidak ada yang terjadi. Gelak tawa yang kami tunjukkan mengikuti ritme suasana, sama seperti yang lain. Aku pun tetap berdebat dengan Reira, meskipun aku sudah bersalah dengannya. Ia merangkul diriku dengan kasih sayang, tetap aku balas penuh senyuman. Hanya sebatas bibir senyuman itu menunjuk padanya, di dalam diri berkata lain. Ia sedang menangis saat ini atas nama rasa bersalah. Aku mencintainya, tetapi aku mengkhianati cinta itu.


Ikan-ikan hasil pancingan mereka dibakar satu per satu, tanpa potong kecil-kecil. Hanya bermodalkan garam dan kecap, kami kenyang di malam yang larut ini. Terisinya perut membawa kami untuk beristirahat diri. Hari ini benar-benar lelah, namun kami masih bertahan ketika hampir seluruh umat di kampung tengah terlelap tidur. Candra terlelap di dalam tenda, bersampingan dengan Razel seperti di rumah panggung. Mawar berada di seberangnya, berjarak dari mereka berdua. Sementara itu, aku dan Reira masih di luar untuk menunggu api yang padam.


“Sudahlah, enggak usah cemas. Gue tau semuanya,” ucap Reira.


Jiwaku seaakan terbanting oleh kalimat itu. Jemariku mencengkram tanah, berharap aku tenggelam di dalam sana sekarang.


“Maksud lo, Rei?”


“Gue tahu semuanya, lo enggak perlu ngenyembunyiin itu dari gue.”


“Gue masih enggak paham.” Dadaku benar-benar berguncang saat ini.


“Lo kelahi dengan papa gue kan waktu gue ngehilang. Security rumah papa bilang sama gue. Papa sampai-sampai nyuruh security buat ngusir lo, dan lo didorong sampai jatuh. Maafin papa gue, ya. Maafin gue juga.”


“Iya, enggak apa-apa. Bukannya lo bilang pelaut enggak takut badai?”


Ia menyenderkan kepalanya pada pundakku. Semua ini benar-benar terasa palsu setelah kejadian tadi. “Razel bulan depan bakalan kerja.”


“Wah, kerja apa?”


“Di kapal pesiar. Ada sebuah perusahaan kapal yang ngebutuhin awak kapal. Kebetulan mereka adalah kenalan Kakek Syarif. Lumayan juga itu gajinya, tapi pulangnya sekali beberapa bulan.”


“Dia memang pelaut sejati seperti bapaknya sendiri,” balasku.


“Hahah ... dari kecil ketika teman sebayanya pengen jadi dokter, polisi, dan tentara, Razel bilang kalau dia mau jadi pelaut. Sampai sekarang, hidupnya memang enggak pernah lepas dari laut. Dia pernah kerja sama orang, kerja sama bapaknya sendiri, yang penting masih di atas kapal. Razel melebihi gue soal obsesi jadi pelaut.”


“Emang, lo kecil dulu enggak pernah cita-cita jadi pelaut?”


“Lo nyuruh kami buat punya cita-cita, tapi lo sendiri malah enggak punya cita-cita yang pasti.”


“Hahah ... itulah cita-cita gue.” Ia menatap diriku.


“Apanya?” Kepalaku memereng.


“Apakah itu bermanfaat bagi kalian? Itulah cita-cita gue. Hahah ....” Ia berdiri sembari menepuk pundakku. Gelagatnya ingin segera berbaring di tenda. “Jangan khawatirkan masa depan gue. Gue enggak bakalan jadi orang susah, orangtua gue kaya. Lo yang harusnya khawatirin masa depan lo. Hahaha ... gue bercanda ....”


“Iya deh, anak orang kaya. Gue gembel.”


“Hidup sosialisme masyarakat bawah!” Reira meneriakkannya dengan keras. Tidak takut pasukan buru sergap orde baru yang mungkin saja sedang memidik di sebalik pohon sana.


Masih dengan rasa cemas yang melanda, tidurku tak nyenyak di samping Candra. Kakiku seakan membeku karena dingin. Tanganku meringkuh di sebalik sweater dan kepala bertutupkan kupluknya. Tersentak berkali-kali seakan sudah menjadi hal yang biasa. Setiap kali mataku terbuka, tatapanku tertuju kepada wanita yang sedang menutup mata itu. Rambutnya berantakan karena tak nyaman berbaring. Dingin tubuhnya mungkin saja sama denganku, begitu pula rasa cemasnya.


Mengapa semua ini terjadi? Ini sebuah kesalahan fatal sekali. Seharusnya kami berbincang ria bersama dalam suka cita menyambut hari bahagia Bang Ali, lalu kembali pulang untuk memikirkan realita kehidupan kampus. Malamnya kami akan bekerja di cafe, melayani pelanggan dengan penuh keramahtamahan. Setelah semua ini, aku yakin tak akan lagi berjalan seperti dulu. Mungkin kami bisa menyembunyikan rahasia itu rapat-rapat, hingga hanya Tuhan yang tahu. Namun, tetap saja hari tak sama dengan sebelumnya.


Malam tak mengizinkanku untuk tidur. Aku hanya bisa menutup mata, terlelap dalam tidur yang dangkal sekali. Sekali sentuh saja dengan jemari, aku mungkin sudah terbangun. Aku bawa tubuh ini untuk duduk di luar, menunggu pagi benar-benar pagi. Langit sudah membiru di langit timur. Bintang-bintang pun meredup, kecuali bintang kejora atau Planet Venus masih membahana di samping bulan. Aku hapal sekali letak bintang besar itu, pernah diajarkan oleh Mawar ketika kami memandang langit bersama.


Dari kejauhan, terlihat objek bergerak oleh mataku. Tepat di kegelapan tepian tempat kami berlabuh pertama kali, aliran air sedikit beriak bekas gerakan lambat sebuah sampan. Tangan seseorang tampak mendayung mendekat. Asap tembakau menyeruak ke udara, tepat di atas sampan tersebut. Aku bergerak ke depan untuk melihatnya lebih jelas. Bang Ali sedang menghampiri kami sepagi ini. Padahal, ia pantang sekali untuk bergerak di pagi hari.


“Pagi banget, Bang!” panggilku sembari melambaikan tangan. “Lo bukannya mau nikah?!”


“Yang nikah gue, jangan urusin!”


Bang Ali tiba di tepian. Ia hanya mengenakan celana pendek dan kaos tipis di pagi hari ini. Ia meminta kami untuk segera pulang karena prosesi ijab kabul dan resepsi akan diberlangsungkan beberapa jam lagi. Selain itu, Bang Ali juga khawatir karena Reira sedari malam tidak ada mengabari dirinya. Ada banyak orang yang hilang karena diambil hantu air. Akan susah dicari apabila hal mistis itu terjadi.


Setelah semua barang dikemas kembali, kami berangkat pulang dengan menyeberangi sungai. Aku, Candra, dan Razel tak langsung pulang karena langsung berbelok ke kolam pancuran pemandian masyarakat desa. Bang Ali menyarankan kami untuk mandi di sana pagi ini. Berbaik hati pria itu menunggu kami di sini, lalu kembali melangkah pulang.


Sarapan disiapkan oleh keluarga Bang Ali.


Kami duduk melingkar bersama di ruang tengah untuk menikmati sarapan. Setelah itu, Bang Ali masuk ke kamar untuk dihias oleh Mak Andam, sebutan bagi penata rias mempelai di kebudayaan Melayu. Tak luput pula keluarga Bang Ali dihias wajah mereka. Sedangkan Reira, sudah pasti meminta Mawar untuk memberikan sedikit sentuhan ada wajahnya.


Bosan melandaku, aku duduk di dalam meja rumah panggung setelah sebelumnya menyeduh kopi. Keluarga Bang Ali akan bergerak satu jam lagi. Dari penuturan Aisyah, kami semuanya tak perlu menggunakan kendaraan karena rumah calon istri Bang Ali masih satu desa. Ia mengatakan iring-iringan keluarga akan ditabuh musik tradisional Melayu Kuantan Singingi dan tarian silat yang akan dipertunjukkan, terutama tatkala melawan petarung silat calon mempelai wanita.


Di atas meja, asap tembakau mengawang ke udara, lalu keluar melalui jendela. Tepat di ujung pintu, tampak wanita berpakaian baju kurung berwarna merah dengan rambut panjang bergelombang. Matanya yang sipit menatap padaku, lalu melangkah naik ke atas. Ia duduk tepat di hadapanku dengan mendatangkan sunyi. Jemarinya mengambil alih cangkir dan menyeruputnya sedikit.


“Ada apa?” tanyaku.


“Enggak ada, gue cuma ingin berdua dengan lo,” jawabnya dengan tenang.


***