Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 21 (S2)



EPISODE 21 (S2)


“Mari gue anter kalian,” tawar Mawar tatkala kami menyudahi makanan yang ia sajikan.


Tidak perlu berpikir panjang, Reira langsung menyetujui rencana itu. Sudah penat rasanya seharian berpanas-panasan di tepi laut. Kaki sudah tidak terasa kaki lagi, minta untuk diistirahatkan sejenak. Apalagi Reira yang sangat berusaha keras untuk menarik pelanggan. Wajahnya tidak bisa mengelakkan jika dirinya benar-benar penat hari ini. Namun, gelagatnya yang sok kuat itu selalu membuatku khawatir. Ia terlalu memaksakan diri kepada semua yang inginkan, tanpa pernah mengatakan jika dirinya sedang lelah..


Reira kembali menguap, pertanda kantuk sedang menyerangnya. Kami berdiri di ujung jalan rumah sembari melihat Mawar mondar-mandir di garasinya. Keluarlah sebuah mobil milik keluarganya yang lambat laun bergerak menuju kami. Tatkala sampai di hadapan, ia membuka jendela mobil dan meminta kami masuk. Reira mendorongku untuk duduk di belakang, sementara ia langsung memilih duduk di bangku depan.


Jalanan yang berbeda kami tempuh dari rute sebelumnya, tatkala truk milik Pak Milsa membawa kami ke rumahnya. Musik tenang dari lagu-lagu masa kini terputar, sedikit urat syaraf kami diberikan waktu untuk menenangkan diri. Pendingin udara mobil pun turut memberikan kesegaran kepada kami yang sedari tadi berkeringat. Apalagi Reira menantangku untuk memakan cabai rawit bulat-bulat tatkala menyantap nasi goreng kambing di Warung Kopi Mawar. Anak itu memang tidak ada habisnya, aku kalah dalam hal menyantap cabai rawit, apalagi bulat-bulat. Aku saja yang terlalu bodoh mengiyakan tantangan gilanya itu.


Tampak tenang Mawar menyetir mobil tanpa memulai percakapan. Kami pun diam seribu bahasa, termasuk Reira yang bersandar dengan tenang. Matanya tertutup rapat, namun kepalanya bergerak dengan lambat ke kiri dan ke kanan seiring alunan lagu yang terputar.


“Bagaimana proposal lo?” tanya Mawar tiba-tiba.


Aku pun tersentak mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan progres tugas akhir kuliah merupakan salah satu pertanyaan yang sangat dihindari bagi mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir sepertiku. Apalagi jika tetangga pemilik warung bertanya tatkala aku pergi membeli sebungkus rokok. Bagaimana tidak, tugas akhir bukanlah suatu hal yang bisa diselesaikan begitu saja. Banyak rangkaian proses, tragedi, dan drama yang terjadi, hingga banyak mahasiswa yang pusing sendiri karena hal itu. Aku hanya menjawab santai, tenang aja ... pasti selesai. Namun, setidaknya ada orang-orang seperti itu yang peduli padaku. Siapa lagi jika bukan orang terdekat, aku tak lagi berorangtua yang bertanya mengenai kehidupanku tatkala sendok dan garpu menggema di pagi hari.


Beda lagi dengan Dika yang ditanyai mengenai rencananya menikah. Anak itu selalu kesal apabila ditanya seperti itu. Orang-orang menganggap sudah waktu baginya untuk menikah. Aku pun turut berpikir begitu, walaupun secara tersirat aku tanyakan. Seperti tatkala ada melihat pasangan muda yang sedang mampir ke bengkel, aku pun menyinggung sikunya untuk melihat romantisme mereka yang sedang duduk di bangku tunggu. Ia sebagai saudara termasuk tertutup padaku kepada hal-hal yang privasi, termasuk urusan asmara. Aku tidak tahu banyak mengenai kekasihnya, kecuali mantan kekasih Dika sewaktu SMA. Tatkala itu Ayah memarahi Dika karena pulang terlalu malam sehabis bermadu kasih di malam minggu.


“Seperti biasa ... masih kejar-kejaran sama dosen yang kadang ngehilang dan kadang ada, tapi ga bisa ditemui.”


“Mau tamat semester berapa, sih?” tanya Mawar kembali.


Peduli apa lo!?


Pertanyaannya terasa menusuk inti kecemasanku. Benar juga, aku harus membiasakan diri dengan bertanya hal itu kepada diri sendiri, mengingat kerjaanku yang bermalas-malasan untuk mengerjakan proposal skripsi.


“Tanya Reira,” balasku.


Reira tidak menjawab. Ritme napasnya terlihat lambat. Ia sepertinya larut dalam dinginnya udara mobil, lalu jatuh ke pangkuan tidur sementara.


“Reira sepertinya tidur.” Ia melihatku dari sepetak kecil cermin di muka mobil. “Tapi, jangan dipikirin banget. Semua orang punya planning masing-masing untuk tamat semester berapa.”


“Hmm ... ya begitulah. Tapi, semester tujuh bagi gue masih aman-aman aja kalau proposal belum selesai.”


“Tapi kan lo harus berusaha setidaknya lo di semester selanjutnya udah bisa seminar. Angkatan kita udah banyak yang ngedaftar seminar untuk semester depan.”


“Kalau lo?” tanyaku.


“Gue sedang mengambil data. Lagi proses juga,” balasnya.


Kedua alisku naik. “Wah, sama dong sama Reira. Anak ini walaupun kaya orang enggak serius kuliah, tapi dia sedang mengambil data. Bentar lagi palingan dia seminar hasil.”


“Gue bisa lihat dari wajahnya. Anak ini pintar ... enggak kaya lo.”


Aku tertawa sejenak. “Iya ... deh. Gue ini enggak ada apa-apanya daripada kalian. Kerjaan gue cuma buat puisi, lalu tampil di panggung sastra kampus. Ngomong-ngomong ... lo kayanya pinter banget. Semester satu aja lo babat habis materi semester lanjut.”


“Bukan gue yang pintar, tapi keluarg gue yang mendukung gue untuk di jurusan itu.”


“Maksud lo?” Aku mulai tertarik dengan percakapan ini, mengenai hal yang membuatnya terlihat pintar di awal-awal kami bertemu.


“Bapak gue Psikolog RSJ di Kota Pangkal Pinang. Sewaktu gue SMA dan merantau ke Jakarta, kakak gue sedang kuliah magister sains di jurusan Psikologi. Akhirnya, bacaan gue enggak jauh-jauh dari jurusan gue.”


“Wah, lo memang dari keluarga Psikolog. Kalian ilmuan semua,” pujiku.


“Enggak, gue menganggap diri gue cuma anak pemilik warung kopi. Setelah ini gue pun enggak terlalu berminat untuk lanjut pendidikan magister. Gue ingin buka warung kopi seperti Emak.”


“Hahah gila ... merendah untuk meroket?” tanyaku.


“Menyeduh kopi lebih menarik daripada menganalisis hasil psikotes.”


Ia merupakan satu-satunya orang yang menganggap menyeduh kopi lebih keren daripada pekerjaan keilmuan yang diharap-harap oleh orang seumurannya. Mungkin saja memanaskan air dan memutar air yang sedang diseduh merupakan pekerjaan yang penuh seni. Tapi memang, membuat kopi bukanlah hal yang sembarangan. Ada teknik-teknik tertentu yang harus dilakukan agar pahit yang melekat memberikan kenangan bagi masing-masing penyeruputnya. Aku sudah pernah duduk di berbagai warung kopi tradisional dan cafe modern untuk membandingkan rasa setiap racikan kopi. Banyak perbedaan yang aku rasakan, tentu saja perbedaan dalam menghasilkan karya seni, terutama seni meracik kopi.


Kami berbelok ke jalan di mana rumah Zainab berada. Tampaklah rumah tanpa pagar itu, melainkan hanya sebaris bunga yang membatasi jalanan beraspal. Terdapat truk kuning milik Pak Cik Milsa keluar dari muka jalan, lalu berbelok ke arah yang berlawanan dengan kami. Aku lihat seonggok barang berlapis terpal tengah dibawa oleh truk tersebut. Bisa jadi barang dagangan Pak Cik dari gudang sedang di bawa, namun aku tidak tahu akan menuju ke mana.


Sesampainya di muka rumah, Reira masih tertidur walaupun tubuh kami sedikit terhentak ke depan karena Mawar mengerem mendadak. Suara klakson mobil berbunyi sekali, membuat terkejut ayam yang sedang melangkah di depan mobil. Aku dan Mawar saling bertatap, ia ingin menyentuh Reira. Namun, ia ragu dan menarik kembali tangannya.


“Anak ini sedang tidur. Apa ingin dibangunkan atau tetap tinggal di mobil?” tanya Mawar.


“Kalau dia tinggal di mobil, trus lo pulang bagaimana?” tanyaku.


“Gue juga ingin bertemu teman lama gue kali!” balas Mawar.


Aku menghela napas sembari keluar dari mobil. Aku buka pintu di samping Reira, lalu meraih pundak Reira sebelah kanan.


Reira yang setengah sadar masih menggerutu tidak jelas di dalam bibirnya. Hangatnya tubuh Reira menyentuh punggungku, lalu aku angkat ia pelahan menuju rumah. Seisi rumah dibuat terheran melihat dua sejoli ini sedang berjalan di atas rumah dengan cara tidak biasa. Terdapat ibu-ibu yang sedang melihat Mak Cik Siti menjahit. Kegiatan mereka berhenti sesaat, menanyakan diriku yang sedang menggendong tubuh Reira.


“Ha ... kenape anak bujang menggendong gadis ni?” tanya salah satu Ibu.


“Ketiduran, Bu. Saya angkut dari mobil.”


“Oh, begitu.” Ia menoleh pada Mak Cik Siti.


“Siape gerangan?”


“Kenalan kami ... cucu Pak Kumbang,” balas Mak Cik.


“Cucu Pak Kumbang?”


Pertanyaan antusias itu tidak aku respon karena punggungku ingin jatuh oleh beban tubuh Reira. Segera aku bawa ia ke kamar Zainab di mana ia tidur berdua dengan gadis Melayu. Dengan mengetuk beberapa kali―tidak etis rasanya memasuki kamar seorang gadis tanpa mengetuk―aku memanggil nama Zainab, mungkin saja ia sedang berada di dalam. Tidak lama kemudian, terdengar sahut jawaban dari wanita itu.


“Masoklaa,” jawabnya berirama.


Decit pintu terdengar seiring dengan wajah Zainab menatap heran. Aku segera meletakkan tubuh Reira di atas ranjang kayu berkasur kapas. Lalu, meregangkan otot karena sudah tidak tahan.


“Ni anak jarang makan, tapi berat juga,” ucapku.


Zainab memerengkan kepala. “Dari mane saje kalian?”


“Hmm ... panjang ceritanya. Ada seseorang di luar yang pengen ketemu sama lo,” balasku.


“Siapa?” tanya Zainab.


“Mawar ... dia bilang kalau dia temen SMP lo.”


“Mawar kopi?”


Ternyata anak itu punya panggilan khas di kalangan sejawatnya. Aku pun mengangguk sembari menahan tawa karena panggilan itu.


“Iya, Mawar anak pemilik Warung Kopi Mawar.” Aku melihat ke luar. “Ngomong-ngomong ... di mana Candra?”


“Di belakang, sedang sama Bapak di kebun cabe.” Ia menunjuk ke arah belakang rumah. “Ke sana aja, mereka sedang memetik cabe.”


“Oh, oke.” Tanganku menjulur ke wajah Reira yang berkeringat. “Tolong jagain Reira. Kalau dia kecapean, biasanya Reira mengigau enggak jelas.”


“Tenang ... pergi sana!” Ia melemparku dengan gumpalan tissue. “Orang jantan masok ke kamar betine! Tak sopan!”


“Iya ... iya ... jangan lempar juga, dong!” Aku melenggang ke luar. “Jangan lupa ke luar, Mawar menunggu.”


Aku kembali ke muka rumah dan didapati Mawar sedang menatap layar handphone di meja bundar. Masih dengan tatapan datar tanpa ekspresi, ia melihatku sekilas, lalu kembali ke kesibukan sementaranya itu. Aku hampiri Mawar untuk memberitahukan jika Zainab akan menghampirinya segera.


“Mawar, by the way makasih banget ya udah ngantarin kami.” Aku tersenyum sesaat. “Zainab bakalan ke sini bentar lagi.”


“Oh, sama-sama. Jangan dipikirin,” balasnya singkat.


“Lo ini memang dingin begini, ya?” sindirku.


Tatapannya terlempar padaku, bahkan lebih dingin. “Jangan urusin gue.”


“Oh, oke ... that`s your business. Gue ke belakang dulu.”


“Ya ... silahkan.”


Hanya sepatah seakan tidak peduli itu yang terdengar di akhir percakapan kami. Ia kembali berkutat dengan sombongnya pada layar handphone. Mungkin saja suara langkahku pun ia usahakan untuk tidak didengar. Dinginnya seorang wanita baru kali ini aku temui seperti dirinya. Seakan tidak peduli dengan dunia sekitar, hanya memerhatikan hal-hal yang menurutnya menarik. Orang pintar aku rasa memiliki perilaku yang berbeda, contohnya saja Mawar.


Suara ayam berkokok di bawah rumah panggung Pak Cik Milsa. Ciut kecil anakan yang masih berlindung di sisi induk menjadi daya tarik tersendiri. Sang induk tidak akan pernah membiarkan anak-anaknya terganggu oleh apa pun. Bagi orang sepertiku, menganggu ayam merupakan kegiatan yang menarik di masa kecil, apalagi masih memiliki anak-anak mungil. Kembang bulu induk tatkala kami gaduh memacu adrenalin untuk segera pergi berlari, lalu mengaduhnya kembali tatkala amarah induk mereda. Ah ... masa kecil itu. Aku sangat mengingatnya tatkala kakiku berlobang oleh patok induk ayam betina, lalu diejek oleh Dika tatkla pulang ke rumah dengan keadaan sedang menangis. Selalu saja seperti itu, anak itu memang sialan kurasa tatkala kami masih ingusan. Untung saja ia besar tak lagi menyebalkan seperti itu.


Menung tatap wajah Candra pada ujung daun tanaman cabai mengundangku untuk mendatanginya. Terdapat sepetak tanah kebun yang ditanami oleh berbagai tanaman. Mayoritas ditumbuhi oleh tamanan cabai dengan tepian ranum tanaman katu. Tanaman cabai rimbun setinggi dadaku. Hasil yang bisa dipetik sudah matang berwarna merah terang tanpa celah sedikit pun. Tak luput pula hadirnya serangga yang berjalan di kaki-kaki tanaman, bermain dari teduh kelopak daun yang melindungi mereka dari sengat mentari.


“Lo kenapa menung?” tanyaku pada Candra.


“Ajari gue dekatin cewek,” balasnya frontal.


Aku pun ingin tertawa sekeras-kerasnya, memanggil masyarakat sekitar bahwasanya aku sedang berbahagia saat ini. Candra akhirnya ingin mendekati seorang wanita.


***