
EPISODE 99 (S2)
Aku teringat dengan perkataan Pak Cik Milsa mengenai kehormatan. Kami waktu itu tengah duduk di meja perbincangan filosofi dari filsuf Kota Manggar yang identik dengan sarung dan singlet. Kopiah hitamnya selalu dilepas ketika berbincang. Jikalau dipakai, sering kali terlihat mereng seperti kopiah Presiden Gusdur. Nada bicara pria paruh baya itu sering kali bersemangat, tetapi terlalu rendah dan berat tatkala pembicaraan mulai beranjak serius. Seketika aku rindu untuk mengopi dan memerhatikannya melinting tembakau.
Pembicaraan kami waktu itu mengarah kepada profesi tertua sepanjang sejarah manusia, yaitu pekerja **** komersial. Aku dan Candra ditanyai satu per satu pendapat kami menganai PSK, hingga beliau menjebak kami berdua untuk memikirkan apa itu kehormatan. Inti yang aku tangkap ialah, kehormatan seorang wanita tidak bisa dinilai dari seiris daging selaput dara. Naif sekali rasanya jika menghujat seoang wanita hanya dengan ia tidak perawan lagi. Oleh karena itu, banyak wanita yang putus asa ketika keperawanan itu direnggut oleh seseorang secara paksa.
Kehormatan adalah anuegarah yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap hambanya. Ia bulat, mutlak, dan selalu melekat pada diri manusia. Oleh karena itu, pantang sekali memvonis seseorang telah hilang kehormatannya. Apakah ia Tuhan? Tanya sendiri ada sang penghujat.
Hujat PSK sebagai orang yang telah hilang kehormatannya telah mendarah daging dalam stereotipe masyarakat, sehingga banyak yang memandang sebelah mata manusia-manusia itu. Padahal, ada banyak beban psikologi dan beban fisik yang mereka pikul di pundak. Aku yakin dan percaya, tidak ada satu orang pun yang secara sukarela mencari nafkah dengan cara tersebut.
Kontruksi pemikiran tersebut pun tertanam di masyarakat, tertuju kepada korban-korban pemerkosaan. Korban-korban pemerkosaan selalu menjadi isu miring di tengah masyarakat, seakan mereka adalah makhluk yang telah dikotori. Pemikiran seperti ini membuat korban menarik diri dari lingkungan, hingga tak sediki berujung kepada depresi, bahkan bunuh diri. Padahal, mereka hanyalah korban dan seharusnya korban mendapatkan dukungan mental dari orang-orang terdekatnya.
Aku rasa itu pula yang membuat Laras harus diasingkan ke desa tersebut, membuat isu baru agar fakta yang terjadi tidak timbul ke permukaan. Apakah ia salah melakukan hal tersebut? Secara pribadi, aku rasa Laras telah melakukan hal yang tepat. Menarik diri dari lingkungan lebih baik daripada membuat terpukulnya mental. Ia damai dengan cara itu, aku harap ia bangkit dan membuktikan bahwasanya orang-orang sepertinya bisa survive tanpa melakukan hal-hal terlarang.
Kami tiba di villa tepat di pukul tujuh malam. Pak Dadang membukan gerbang untuk kami. Setelah itu, kami melaksanakan ibadah di kamar masing-masing. Aku menunda diri untuk tidak mandi karena ingin menikmati sensasi mandi air panas tiga jam lagi. Mawar tentu saja membersihkan diri lebih cepat.
Sehabis mandi, Mawar membuat makan malam. Bunyi berdenting di dapur membuatku berhenti dari aktivitas menulis. Ia sibuk di dalam aksi memasaknya. Tak ingin ia terlalu repot, maka aku bantu dirinya untuk memotong bahan makanan. Barulah makanan jadi lebih cepat dan disantap oleh kami bertiga, aku, Mawar, dan Pak Dadang.
Setelah makan malam, aku kembali melanjutkan tulisan di dalam kamar.
Menulis terkatung di depan laptop membuatku menutupnya. Niatku untuk mandi air panas pun diteruskan. Kondisi yang penat sangat ideal untuk memijat diri di sensasi nyamannya.
“Ah, nyaman sekali ....” Aku menyebutkan diri setengah badan di tepi kolam.
Terdapat dua kolam dalam satu ruangan. Dua kolam ini hanya terpisah dengan jarak satu keramik saja. Namun, terdapat tirai yang masih tersingkap saat ini. Uap air menyeruak ke atas. Aku tidak tahu bagaimana proses pemanasan air ini, tetapi aku yakin mesin pemanasnya pasti besar. Untuk semakin nyaman, aku bakar sebatang rokok agar uap dan asap bersatu.
Terdengar suara decitan pintu yang terbuka.
Aku terdiam melihat Mawar yang hanya berbusana selapis handuk yang dililitkan. Sontak aku menoleh segera menjauhinya.
“Mawar, ngapain lo ke sini?!” tanyaku.
“Maaf, gue kira lo lagi enggak di kolam air panas!” ucapnya dengan panik.
Aku diam sesaat dengan menghela napas.
“Masuklah, kalau lo mau. Tapi, tutup tirainya.”
“Apa enggak masalah?” tanya Mawar.
“Terserah lo, kecuali gue orang yang enggak bisa dipercaya sama lo sendiri.”
Tanpa menjawab, Mawar melangkah ke kolam samping. Ia menutup tirai tebal tersebut, lalu kami sama-sama membelakangi satu sama lain.
“Jangan sekali pun membuka tirai, karena gue enggak satu helai pun pakai baju dalam, okkay?”
Sat! Kenapa dijelasin, sih?!
“Oke, janji gue janji pelaut. Ucapan gue adalah ucapan Reira. Jangan khawatir.” Aku diam untuk menghisap tembakau. “Tapi, maaf ... gue ngerokok.”
“Iya, enggak apa-apa.”
Degap jantungku meluncur tatkala suara ceburan Mawar ke dalam air. Tepat di belakangku, terdapat seorang wanita tanpa sehelai pun benang tengah bersantai, menyandarkan tubuh di pembatas yang sama-sama kami jadikan sandaran. Tak sengaja aku menoleh ke belakang untuk memastikan apakah tirai tersebut tertutup dengan benar, terangnya lampu malah menimbulkan bayang-bayang Mawar dari sebalik sana. Aku mencoba rileks, menghisap rokokku dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan panjang.
Aku tak melarang anak itu untuk berendam bersama. Konteks bersama ini masih dalam satu ruangan, tetapi berbeda kolam. Itulah gunanya tirai di sini agar ada batas-batas yang tidak dilalui. Aku percaya dengan diriku bukanlah orang-orang seperti di luar sana, menjadikan momen ini sebagai pemuas nafsu belaka. Ia pun aku rasa percaya padaku dan ia pun tahu jika aku berbuat aneh, sudah pasti Reira akan menyeburkanku ke laut utara Jakarta sebagai tawanan yang akan dimakan oleh ikan hiu di bawanya.
Maksudku hanyalah bercerita berdua, mengenai satu sama lain, dan penghilang bosanku sendirian.
“Mawar, Reira ada cerita tentang gue sama lo?” tanyaku.
Terdengar gemericik air yang ia cucurkan dari atas.
“Gue rasa dia selalu bercerita tentang lo. Kenapa? Kalian ada masalah?” tanya Mawar balik.
Sebenarnya aku ingin mendiskusikan masalah Reira yang aku pikirkan akhir-akhir ini. Terdapat pemikiran radikal kepadanya mengenai romantisme bersama Kakek Kumbang. Aku tidak ingin Reira ada di masalah besar apabila yang dikatakannya itu benar, Kakek Kumbang benar-benar masih hidup dan ia menguak konspirasi hilang kakeknya tersebut. Namun, aku ragu apakah hal ini bisa dibicarakan atau tidak. Aku mengingat masalah ini merupakan hal privasi Reira yang hanya diketahui oleh diriku sendiri.
“Dia cerita apa?” tanyaku kembali.
Aku tersenyum mendengarnya. Bukan bermaksud aku tidak memiliki modal untuk membawa Reira jalan ke tempat-tempat mewah, hanya saja aku lebih memilih ke lokasi yang sederhana tetapi nyaman. Sering kali aku mengajak Reira untuk diajak makan di salah satu restoran ayam goreng kapitalis itu, tetapi Reira yang konservatif lebih memilih tempat yang merakyat. Dia bilang, dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.
“Menurut lo gue ini sederhana? Gue cuma nanya,” balasku.
“Ya ... bisa dibilang begitu. Di antara kita, mungkin gue yang enggak sesederhana kalian. Soalnya, gue lebih mementingkan estetik dari sebuah tempat dan gue memiih untuk duduk di sana, tanpa memikirkan harga. Itu kalau gue.”
“Gue malah berpikiran terbalik, lo itu juga cukup sederhana.”
“Kita bebas berpersepsi. Itulah persepsi gue tentang diri gue sendiri.”
Aku membakar kembali sebatang tembakau untuk menikmati momen. Asbak yang bawa kini sudah terisi satu puntung rokok, tinggal menunggu diisi oleh puntung rokok berikutnya.
“Ada hal yang sebenarnya ingin gue bicarakan tentang Reira. Tapi, gue takut ini menggangu privasi Reira sendiri,” ucapku.
“Ketika lo bilang ini, kalau mau jujur, lo udah melanggar privasi seseorang.”
“Hahaha ... benar juga, ya. Tapi, menurut lo pantas, enggak?” Aku ingin memastikan.
“Privasi hanya bisa dibicarakan di tempat yang paling privasi. Inilah tempat yang paling privasi. Setelah itu, kita bisa bersikap seakan tidak ada yang dibicarakan. Gue akan menjaga privasi itu.”
“Jadi, begini ... apa Reira pernah cerita sama lo tentang dirinya yang akan menghilang?” tanyaku.
Ia diam sejenak, mungkin saja untuk memikirkan jawaban. Kembali terdengar gemeriki air yang menjadi pertanda yang tengah bergerak di dalam rendaman air panas itu. Aku rasa ia menyucurkan air ke atas kepalanya.
“Reira pernah bilang kalau suatu saat akan menyendiri di sebuah tempat yang paling nyaman di dunia. Ada hamparan kebun luas di depan rumah kayu bertingkatnya tersebut. Setiap pagi Reira akan menyirami bunga, lalu di jam tujuh anak itu menanami sawi-sawi. Ia bilang kalau nanti Reira bakalan ngelepas semua yang ia punya. Namun, dia berkata akan membawa satu orang. Lo tahu siapa?”
Kepalaku berdiri. “Satu orang itu dia maksud gue?”
“Dia enggak peduli apakah itu lo, orang lain, atau siapalah itu. Yang pasti, Reira akan membawa satu orang yang akan menjaga dirinya ketika sakit, ketika sedih, ada di kala bahagia. Reira juga bilang enggak peduli kalau orang itu adalah pacarnya, suaminya, pembantukah, wanita atau pria, yang pasti hanya satu orang.”
“Lo pasti bingung waktu dia bilang begitu?” tanyaku.
“Semua orang pasti akan bingung kalau dibilang kaya gitu.” Ia kembali memainkan air.
“Kayanya Reira enggak tertarik dengan pernikahan.”
“Maksud lo?” Aku
“Dia bilang begitu, kan? Dia enggak peduli yang dibawa itu adalah pacar, suami, teman sendiri, orang lain, setidaknya satu orang. Itu jadi pertanda ada kemungkinan kalau Reira bakalan ngebawa orang yang mungkin bukan kekasihnya.”
Aku menghela napasku panjang. Kalau begitu, ada kesempatan bahwasanya aku tidak akan menjadi masa depannya. Namun, aku harus paham itu. Reira punya pemikirannya sendiri untuk memandang dunia. Otaknya itu aku rasa punya jalur sendiri ketika jatah pembagian otak di alam sana.
“Kenapa gue mau ngebicarain ini karena Reira masih punya kepercayaan kalau Kakek Kumbang. Dia selalu bilang kalau nanti anak itu akan menghilang, dan gue masih mencari tahu apa maksud dari perkataanya itu. Sedikit demi sedikit gue berpikir ia menghilang buat cari kakeknya itu.”
Tirai terlihat bergerak ketika siku Mawar mengenainya.
“Kita itu enggak bisa ngertiin Reira cuma dari sepotong-sepotong. Kita tunggu aja waktunya apakah itu benar atau enggak. Tapi, kalau itu benar-benar terjadi, lo harus ngapain?”
“Mencari Reira ... apa lagi?” balasku dengan tegas.
“Misalnya Reira benar-benar enggak bisa ditemui? Mungkin aja dia udah nyaman di suatu tempat yang dia maksud bersama seseorang dan seseorangnya itu bukan lo. Lo harus buat apa?”
“Maka, gue kembali ke perkataan bahwasanya enggak ada satu pun hal yang bisa dipertahankan di dunia ini, salah satunya cinta. Rasa rela itu yang kita perlu. Dan gue bakalan enggak bisa berdamai dengan masa lalu, hal itu bakalan jadi beban sama gue. Bisa jadi, gue nenangis diri dengan sisa ganja Rio di kamar.”
Percakapan kami berhenti di akhir kalimat itu. Yang terdengar hanyalah gemericik air dari kolam Mawar, tidak sepertiku yang berusaha tenang dengan sebatang tembakau. Entahlah, aku merasa tenang ketika bercerita seperti ini. Mawar bisa memahaminya, ia mengerti bahwasanya setiap orang butuh bercerita.
Seketika tirai kolam bergoyang. Aku lihat Mawar melangkah pelan menuju kolam air panasku. Waktu seakan menjadi lambat seketika, menyisakan kemilau kulitnya yang terbelai lampu terang pijar di atas. Bergelimang darahku berdesir di balik pembuluh darah berkat jantung yang berusaha untuk tenang. Ia membunuhku dengan apa yang ia tunjukkan. Beliau hanya mengenakan bra tanpa tali dan celana dalam yang selaras dengan warna kulitnya. Terumbar gempal empuknya belahan yang tak bisa aku hindari. Melikuk lekukan tubuh Mawar di sampingku.
Tega dirinya melangkah dan duduk bersanding denganku, hanya sejarak sejengkal. Rambutnya yang basah ia ikat ke belakang, membiarkan tubuh bagian depannya tersingkap dengan jelas. Uap air panas menjadi saksi bahwasanya kami sedang sebatas angin yang bergerak di antara dedaunan. Hanya iman lemaku yang menjadi tameng saat ini.
“Bagi gue rokok, gue ingin nyoba apa kebijaksanaan dari sebatang rokok,” ucapnya dengan tenang.
***