Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 157 (S2)



EPISODE 157 (S2)


Malamku panas di tengah dingin yang menusuk. Begitu terang yang redup di dalam kegelapan bercahaya. Diriku tenggelam di udara yang membawaku melambung ke tingginya palung realita. Ia membawaku jatuh ke atas, lalu menghempaskanku dengan lembut hingga terhantam. Aku tak mengerti perasaan ini. Takutnya hati membawaku menjamahnya. Keinginanku untuk lari, malah membawaku untuk mendekat. Aku benar-benar berada di dalam sebuah paradox realita yang membiarkanku terus bertanya, apakah aku benar-benar diriku?


Aku merasa diriku bukanlah diriku. Aku merasa di sebuah defenisi yang berlaku di mana sesuatu yang ada itu ternyata tidak ada, begitu pula sebaliknya. Aku jujur dalam kebohongan dan bohong di dalam kejujuran. Jiwaku lari berganti dengan yang lain, lalu dibungkus di dalam jasad otentik diriku. Aku benci mata yang menatapnya dengan nafsu, tetapi endorfin telah menyemprot berjuta-juta kali lebih banyak, hingga efek yang aku rasakan melebihi ganja sisa Rio di sudut kamar.


Entahlah, aku memang bodoh seperti yang dikatakan Reira. Aku lemah seperti yang sering ia hujat kepadaku. Tak perlu kali ini aku kesal mengingat kata-kata itu, ia benar apa adanya. Aku tak pernah memilih jatuh di dalam lobang ini, namun ada sebuah kekuatan yang berusaha untuk menarikku ke dalamnya. Aku meronta-ronta untuk naik, tetapi tetap dibawa oleh jiwaku yang berganti berlainan jiwa. Hingga wajah kami saling menempel satu sama lain, dari balik senyum yang ia tunjukkan dengan peluh di dahi, aku merasakan tatapanku bukanlah tatapan yang biasa aku sorot. Aku benar-benar berbeda saat ini.


“Kenapa lo tersenyum?” tanyaku. Tangan kami saling bersentuhan satu sama lain. Hidung kami saling menempel, hingga napas beratnya terasa di kulitku.


“Lo marah?” tanya Mawar balik. Wajahnya kembali mendekat, menyentuh garis-garis bibirku. “Kenapa lo marah? Lo juga menikmatinya.”


“Kenapa lo tersenyum?!” tegasku padanya.


“Gue menang,” ucanya pelan. Tangannya mengalungkan diri pada leherku, lalu membawaku untuk bangkit. Yang aku lakukan hanyalah menyingkap kembali jaket miliknya. “Gue ngedapatin apa yang harusnya gue dapatin.”


“Lo psikopat Mawar!”


Kami benar-benar berbicara dengan dahi yang saling bersentuhan. Masing-masing dari telinga begitu peka dengan keadaan luar, mendeteksi langkah yang mungkin saja mendekat. Namun, tanganku tetap saja menyentuh pinggang kecilnya itu.


“Iya, gue psikopat. Dan lo lebih dari itu. Harusnya lo menolak bukan malah ngebawa gue lebih jauh. Ini permainan lo, bukan gue. Gue enggak ingin sejauh ini!” Tangannya terlepas dari tubuhku, lalu kami sama-sama menjarak ke sudut.


Diam yang sunyi menyelimuti di terangnya kemah. Hanya suara serangga luar yang berbunyi dan sesekali gelak tawa Reira di sana. Duduk diriku bertempel lutut satu sama lain, lalu merengkuh sembari membenamkan wajah. Rasa bersalah membebani pikiran. Benar, aku lebih dari Mawar. Kami sama-sama jahat pada diri sendiri dan orang lain. Malam ini begitu berdosa, meskipun di tengah suasana bahagia yang sengaja Reira hadirkan untuk kami.


“Kenapa lo suka sama gue?” tanyaku.


Mawar membelakangi diriku. Ia sibuk memperbaiki letak pakaiannya yang kacau.


“Apa cinta perlu alasan? Lo yang bilang itu sama gue dan lo enggak ngerti tentang itu.” Mawar menatap diriku. Senyumnya tak luntur, meskipun diriku takut bukan main. “Seharusnya bukan Reira.”


“Maksud lo?” tanyaku.


“Harusnya gue, bukan dia. Kenapa lo enggak pernah datang lagi ke perpustakaan fakultas waktu itu? Gue cuma pengen kenal lebih jauh, tapi lo enggak pernah datang lagi. Gue baca setiap puisi lo, gue selalu nungguin lo dari jauh waktu ngenempelin kertas-kertas bodoh yang selalu dibuang sama pengelola mading, lalu gue tempel lagi demi lo. Gue hanya cewek kuper, yang cuma bisa kenal sama teman di kiri dan kanan gue. Gue masuk organisasi, biar gue bisa kenal sama lo, gue harap Fasha bisa ngenalin kita. Tapi, tetap aja lo enggak pernah ngelihat gue semenjak perjumpaan terakhir di perpustakaan.”


“Mawar ... lo segitunya ....”


Air matanya menetes segaris, lalu ia seka menggunakan ujung jemari. Bibirnya tergigit dan bergetar seakan dihantui oleh sesuatu.


“Reira bukan penghalang, Lo sendiri yang memilih orang yang salah.”


“Iya, akhirnya gue menang. Gue ngehancurin penghalang itu. Lo ngedapatin apa yang enggak bisa lo dapatin dari Reira.” Ia menunduk untuk keluar dari tenda. “Selamat ... meskipun cinta gue salah, tapi lo menikmati cinta yang salah itu. Tubuh gue memang menarik, Dave. Gue lebih dari Reira untuk soal itu. Lo itu enggak lebih dari serangga yang terjebak di kantung semar. Tapi, serangga itu malah ngehancurin kantung semar itu sendiri, ia menikmatinya.”


Seketika aku menyentuh tangannya. “Tunggu, duduk di sini.”


“Kenapa?” Ia menarik tangannya kembali.


“Rahasiakan ini.”


“Gue bukan orang bodoh, Dave. Gue orang tercerdas di fakultas.”


“Bukan hanya itu ... tetaplah ada di dekat gue. Jangan menghindar.”


“Apa? Gue kira semua ini bakalan berakhir di sini.” Ia tertawa sinis padaku.


“Lo benar ....” Aku semakin membenamkan wajahku di antara lutut. “Gue lebih dari psikopat. Gue minta maaf .... Plis jangan ngehindar.”


“Iya, gue mau tahu alasannya. Gue butuh alasan moril buat bertahan di sini.”


“Lo adalah orang penting bagi Reira, itu saja. Lo bisa aja anggap gue cuma batu kerikil di tepi jalan, atau hanya sebagai rekan kerja, itu hak lo. Tapi, tetaplah untuk Reira.”


“Oke ... gue enggak bakalan pergi.” Ia mengangguk. Kembali ia seka air matanya. “Suatu saat gue bakalan lebih dari Reira. Kalau waktu itu tiba, lo bakalan sadar bahwasanya gue lebih baik dari dia.”


Mawar pergi dengan langkah tenang. Ia bersikap seakan tidak ada yang terjadi tadi. Ia seakan tidak merasa bahwasanya ada langit yang kami genggam dalam satu waktu, lalu bumi di sebelah tangan lainnya dalam satu masa. Senyap dan dingin seperti biasanya, Mawar menghilang dan beradaptasi di kegelapan malam. Sementara itu, aku berbaring meringkuh ke sebelah kanan untuk mengilas balik semuanya. Seluruh waktu sudah terjadi, tak akan pernah ditarik kembali oleh mesin apa pun di dunia ini. Apa yang aku lihat sekarang bukanlah cahaya bintang ratusan juta tahun, melainkan sesuatu yang bukan bagian dari tragedi sepuuh menit yang lalu. Aku berpikir sejenak, berusaha untuk menelaah yang terjadi.


Benar yang dikatakan Mawar, tetapi ia tak sepenuhnya benar. Ia seperti segelas air yang kosong setengah, terisi setengah bagian bawah. Ia menarikku hanya untuk sebatas melepaskan momen, tetapi aku malah menjadi penerus momen. Ucapan selamatnya padaku menjadi sebuah penghinaan. Kini aku merasa cemas kepada dirinya, kepada Reira, dan kepada awak kapal Leon lainnya.


Keyakinanku mulai goyah, mungkin saja aku akan mati esok hari, minggu depan, atau bulan depan. Bukan tangan Reira yang melakukannya, tetapi jemariku sendiri.


Aku pun berusaha tertidur. Wangi tubuhku benar-benar seperti Mawar. Bahkan, hidungku masih berbekas keringat darinya. Aku menutup wajahku dan memejam mata, berharap semua ini hanya mimpi dan aku masih berada tepat di kamar Rio dengan selinting ganja yang aku hisap.


***