
EPISODE 155 (S2)
Ada kalanya aku takjub dengan hal yang tak pernah aku lihat, termasuk sepandang wajah ibu-ibu yang tengah berkerumun di sekitar Bang Ali. Candaan mereka tak lepas bagaimana tips dan realita ketika sudah menikah nanti, termasuk urusan kamar yang membuat Bang Ali malu sendiri. Sepanjang prosesi ini, orkestra Melayu Kuantan Singingi tak pernah berhenti menabuh musik, terus mengiringi mereka yang melantunkan syair-syair yang syarat dengan makna kehidupan. Hingga seluruh prosesi menghias ini selesai, dilanjutkan dengan berdoa bersama. Tak lupa pula sajian malam yang belum disentuh.
Kami duduk membentuk lingkaran dan di tengah-tenganya terdapat makanan sajian. Sementara kaum wanita berada di belakang untuk makan. Berbeda dengan Bang Ali yang tetap di kasur tebal itu. Ia duduk bersandar pada bantal, lalu disuapi oleh adiknya sendiri.
Kenyang menggema di antara kami. Bapak-bapak melanjutkan pembicaraan dengan secangkir kopi tubruk yang diantar oleh para pemudi di dapur, termasuk Reira dan Mawar.
Ya aku tahu, para remaja di sini tak akan lepas pandangannya dari paras manis kuning langsat Reira dan merah merona pakaian yang dikenakan oleh Mawar. Mereka saling bertanya, tidak terkecuali bapak-bapak yang ada, mengenai siapa gerangan mereka itu. Barangkali mereka menebak bahwasanya Bang Ali ada saudara jauh yang datang.
Hentak sendok ditepian cangkir kopi menghiasi suasana syahdu di tengah-tengah kami. Asap mengepul menjadi satu.
Tembakau bermacam-macam merk aku lihat kali ini. Ada banyak merk yang tidak aku ketahui sebelumnya. Yang pasti faforit bapak-bapak tua ialah rokok lintingan dan kretek yang ada di hadapan. Mereka pun mulai bercengkerama dengan kami dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Logat mereka bercampur dengan bahasa setempat, terdengar lucu dan sedikit berirama.
Waktu hampir larut malam, hanya beberapa bapak-bapak yang masih bertahan dengan tembakaunya di sini. Sisa-sisa piring bekas makan diberesi oleh para wanita muda. Aku, Candra, dan Razel segera berhambur ke rumah panggung setelah sebelumnya mengucapkan selamat. Bang Ali masih belum diizinkan keluar rumah karena harus menunggu inai kering. Kesempatan Candra merayunya dengan nikmat sebatang rokok dan hentak batu domino yang akan dimainkan di rumah panggung.
Bang Ali tak kunjung tiba di rumah panggung. Dirinya mungkin beristirahat diri untuk acara esok. Oleh karena itu, kami bertiga tak bisa menghelat permainan batu domino bersama. Alhasil, aku hanya mendengar hujatan tengik dari mulut Candra dan Razel ketika kesal bermain game online. Aku aneh dengan orang-orang seperti mereka. Mereka bermain game online untuk membuat kesal diri sendiri. Tidak habis pikir olehku bagaimana mereka melakukan hal tersebut.
Aku tertidur sesaat dengan gaduh yang mereka ciptakan. Tak ada celah bagiku untuk jatuh ke tidur yang dalam, hanya sebatas menutup mata, lalu bermimpi kecil sesaat, tidak lama kemudian aku terbangun lagi karena ranjang bergetar oleh mereka itu. Kira-kira sudah satu jam aku hanya memejamkan mata, tetapi Candra dan Razel tak kunjung berhenti.
“Siapa itu?” tanya Candra ketika mendengar ketukan dari ujung pintu.
Aku duduk sesaat sembari mengucek mata. Layar handphone sudah menunjukkan pukul setengah satu malam.
“Gue ini Reira. Woy! Malah dikunci kaya kos mesuk.” Reira mengetuk pintu berkali-kali.
“Ngegas terus itu anak. Kalau enggak ceweknya temen gue, udah gue celupin ke sawah dia.” Candra berdiri untuk membukakan pintu.
“Bang Candra memang enggak pernah sabaran sama Kak Reira, ya,” sambung Razel.
“Mereka memang begitu. Keras kepala ketemu keras kepala, jadinya yaa tahu sendiri. Hahah ....”
Aku mengikuti Candra dari belakang. Berbunyi penyangga pintu yang terbuat dari kayu, diputar ke atas hingga berdecitlah pintu itu ke dalam. Rembulan terang menerangi wajah Reira yang memandang sinis pada kami berdua. Tangannya terpegang sebuah tas kecil yang berbentuk silinder, persis seperti risol besar berwarna hitam. Dirinya melemparkan benda itu pada kami hingga terpeluk oleh Candra.
“Eh, lo enggak pernah nyantai apa, ya?” sindri Candra.
“Gue udah ngetuk dari tadi ... kalian malah enggak dengar.”
Setahuku, sedari tadi mereka berdua bermain game dengan headset. Sementara aku mungkin saja tidak dengar karena sedang tertidur kecil.
“Ya, sorry ... kami main game.” Candra memandang ke benda yang ia peluk. Benda itu besar. “Apa ini?”
“Jangan bilang lo bakalan ngajakin kami kemah?” Candra memanjukan wajahnya. “Ogah!”
“Yaudah, lo tinggal aja sendiri. Razel udah pasti ikut sama gue, apalagi David.”
Aku mengelus pungung Candra agar tidak kesal lagi. Mataku memandang wajah Reira yang mengernyit itu. “Kita mau kemah di mana, sih? Besok acara, udah pasti bakalan bangun cepat.”
“Emangnya kemah enggak bisa bangun cepat?” Reira mengambil kembali tas yang berisikan tenda kemah itu. “Yaudah kalau kalian berdua enggak mau ikut! Razel, ayo ikut kakak!”
Reira berbalik diri berjalan menuju teras rumah. Di sana berdiri Mawar yang sudah bersiap-siap dengan tas ransel dan sepatu, berbalut jaket berwarna cokelat. Lantai kayu rumah panggung bergetar seperti ada raksasa yang sedang menginjaknya. Itu suara langkah Razel yang bergerak cepat keluar. Sebentar ia tatap mata kami berdua sembari tertawa kecil melihat tingkah aku dan Candra kepada Reira.
“Gue ikut Kak Reira. Gue lebih takut dia daripada guru MTK gue di SMA.” Ia menepuk lengan Candra, lalu turun ke rerumputan di bawah.
Aku tertawa kecil dibuatnya. Reira tampak kesal dengan tingkah kami ini. Sebentar menghela napas, aku mengelus punggung Candra kembali. “Udah ... ikuti aja kemauan dia. Lagian, kita ke sini juga buat refreshing, kan? Sayang banget cuma buat di kamar.”
Candra berbalik ke ranjang. Ia mendekati tas miliknya, lalu mengambil bungkus rokok baru yang masih tersegel. “Ayo, deh. Gue ikut Reira.”
“Nah, gitu dong. Mama suka kalau Candra kaya gitu.”
“David, *******!” ucapnya ketika turun ke bawah tanah.
Kalimat itu merupakan kalimat yang selalu diucapkan oleh mamanya ketika Candra melakukan hal bermanfaat. Sering aku dengar tutur kata itu dari mamanya sendiri, hingga menjadi candaan khusus bagiku kepadanya. Nada mamanya ketika mengucapkan persis seperti seorang ibu-ibu muda yang berucap kepada anak yang berumur lima tahun, ketika mengantarkan mereka ke gerbang taman kanak-kanak. Sebagai orang Sunda asli, mamanya Candra memang sangat lembut suaranya.
Reira tak berkata apa-apa ketika kami mengikuti langkahnya menuju suatu tempat. Kami melangkah ke jalanan kecil semenisasi di seberang sawah. Jalanan lurus, namun mendaki ketika di ujung. Barulah kami memasuki jalan gelap yang kiri dan kananya merupakan pohon rambutan yang seperti pohon hutan hujan yang sudah tua, tinggi sekali pohon itu. Samar-samar, tercium bau kerbau yang pekat dan lonceng kalung yang mereka kenakan. Kami terus melangkah menuju kegelapan dengan senter yang dipegang oleh Reira. Rumah warga berjarak jauh dari jalan kecil ini, sehingga tak ada satu pun cahaya yang sampai pada telapak kaki kami.
Tak terasa kami berjalan sepuluh menit. Terdengar suara aliran sungai yang berbunyi jelas di telingaku. Tak seperti sungai kecil yang pernah kami kunjungi bersama Reira, tetapi lebar dengan aliran setengah deras. Ia berhenti sesaat ketika di tepian sungai yang terjal ke bawah.
“Inilah Sungai Kuantan. Besar bukan?” ucap Reira sembari bertegak pinggang.
“Kita bakalan kemah di mana?” tanyaku.
Telunjuk Reira bergerak menuju ujung sungai. Terdapat sebuah daratan lebar di tengah sungai yang ditumbuhi oleh pohon-pohon kelapa. Persis seperti sebuah pulau di tengah laut, tetapi ini ada di sungai.
“Itu di sana. Kita ke sana pakai sampan. Sampannya ada di bawah.” Reira turun ke bawah di jalan setapak yang landai.
Melihat sungai yang bergerak, membuat hatiku tak cukup tenang untuk menghadapinya. Ini bukanlah sungai dangkal yang berbatu, melainkan sungai lebar yang tak tahu di mana dasarnya.
***
Panjang umur perjuangan! kemarin author baru ikut aksi. lumayan dapet pengalaman dikejar polisi sama ditembaki gas air mata. kaya Reira waktu di gedung DPR.