
EPISODE 76 (S2)
Mata Mawar yang sayu menatapku dalam satu garis lurus. Tak ada raut wajah yang ia tunjukkan setelah mengatakan kalimatnya tersebut. Hanya satu yang berubah darinya, yaitu gerai rambut panjang sebahu yang dibelai oleh angin, lalu menutupi sebagian wajah putih beningnya itu. Tidak ada kata-kata yang disebutkan kemudian. Kami tetap diam tanpa melanjutkan pertanyaan.
Langkahku sudah terlanjut untuk diayunkan, tak ingin kembali lagi untuk melanjutkan perbincangan.
Entahlah, ia mengatakan jika ia tidak bisa menemukan hati. Saranku ia tolak mentah-mentah dengan maksud yang tidak aku ketahui. Asumsi sementara dan yang paling umum padanya ialah aku rasa setiap manusia jenius sepertinya tidak terlalu memerhatikan masalah hati dan hati. Terkadang benar juga, pemikiran orang jenius berbeda dengan orang—orang biasa seperti kami. Aku juga tidak tahu bagaimana pendapatnya mengenai cinta. Ataukah ia memiliki padangan saintifik yang berkaitan dengan soal rasa? Aku tidak tahu. Yang tahu hanyalah wanita berwajah oriental yang tengah bermenung diri di hadapan meja sana.
Aktivitas memancing hari ini sangat tidak terduga. Awalan hati merencakan untuk berkunjung ke rumah Kakek Syarif, tapi malah berakhir dengan mendengarkan teriakan mereka berdua yang sangat seru sekali memegang gagang pancingan. Tawa riang dari seoran Reira bergelantungan di ujug bibir. Matanya sebinar laut yang terang, bermandikan riak ombak yang bergulung indah seperti alis matanya yang lentik. Aku tak tahu mengapa senyumnya tersebut semanis tembakau di senja hari, membuat pikiranku mengawang ke udara untuk terus memberikan harapan. Kini, Reira sedang berada di jati dirinya, yaitu lautan. Sebuah obsesi gila yang melekat dirinya, diturunkan oleh Kakek Kumbang yang sama gilanya.
Terdapat tiga ikan berukuran sedang yang sudah mereka dapati. Aku tidak tahu jenis apa ikan itu, yang penting memilik insang dan tak memiliki sisik. Ikan tersebut menggelepar di dalam wadah gabus besar yang biasa dijadikan penyimpanan ikan oleh nelayan.
“Seru sekali.” Aku ikut menyambut percakapan mereka berdua.
“Hey, David ... memancing di laut itu sebuah pengalaman yang menarik. Kau harus mencobanya,” ucap Kakek Syarif.
Reira menoleh pada Kakek Syarif. “Dia pernah memancing di laut. Dan David terkejut karena aku nyeburin diri ke tengah laut. Hahahah ....”
Aku mengingat sekali kejadian itu ketika aku kira Reira tak lagi bisa timbul ke permukaan. Sebuah tombak yang ia bawa akhirnya menjulur, menunjukkan ikan besar yang tertancap di ujungnya.
“Hahah ... aku pernah mancing di laut, kok. Waktu itu aku pertama kali naik kapal Leon.”
“Kau ....” Kakek Syarif menunjukku. “Jangan coba menyebur ke laut kalau tak pandai berenang. Reira sudah biasa sejak kecil.”
“Sejak kecil?” tanyaku.
“Ia benar ... Kumbang mengajarkan anak dan cucunya berenang di laut. Dia ceburkan Reira waktu masih kecil ke laur, lalu dibiarkan dia berusaha sendiri mengapung walaupun seperti ingin mati kalau kita lihat. Barulah selang sepuluh detik Kumbang mengambilnya. Ulangi kembali ... agar terbiasa.”
Reira menaikkan alis dengan sombong padaku. Ternyata sebagai anak kota, ia tak pandai berenang dari menyelam di kolam renang, melainkan langsung ke laut.
“Apa benar abang kau ingin kawin?” Tiba-tiba saja Kakek Syarif membuka percakaan tersebut. “Reira bilang sama aku.”
“Benar, Kakek. Dika berencana buat menyunting seorang gadis.” Aku diam sejenak, melangkah ke batas kapal. “Seperti yang Kakek tahu, kami tak lagi berorangtua. Sanak saudara kami memang punya, tapi kami enggak tahu mereka ada di mana. Ya, aku rasa Kakeklah yang tepat buat dianggap jadi perwakilan keluarga.”
Kakek Syarif menarik panjang rokok kretek di bibirnya. Matanya memicing ketika melakukan hal itu.
“Apa untungnya aku?” Ia menoleh padaku. “Aku ini pedagang, ada perhitungan untung rugi.”
Aku menjadi kebingungan dengan pertanyaannya. Tentu saja hal ini tidak ada untungnya bagi Kakek Syarif. Hanya kerelaan hati untuk membantu yang menjadi dasar.
“Kalau soal untung, nikahan begini kita mana bisa ngelihat dari untung ruginya. Kakek pasti pahamlah.”
“Aku tanya ... apa untungnya bagiku?” tanya Kakek Syarif. Nadanya terdengar datar dan sinis dari sebelumnya.
Sontak aku mencari jawaban paling tepat untuk hal itu. Membayar? Tidak mungkin. Tidak etis sekali kupikir untuk sebuah pernikahan yang suci. Aku pun tak mengira jika Kakek Syarif punya perhitungan seperti ini.
“Hmmm ... apa, ya? Mana bisalah, Kakek ....” Aku menundukkan kepala ke bawah. “Kali aja Kakek bakalan dapat cucu tambahan.”
“Setuju .....” Kakek Syarif merangkulku mendekati dirinya. Tercium wangi minyak kemiri yang mengharumi penciumannku. Sebelah tangannya pun turut mengelus lenganku yang tak berisi ini.
Aku tatap wajah Kakek Syarif yang penuh senyuman. Pertanyaan tersebut hanya untuk mengetesku. Ia tidak mungkin menjadi seperhitungan itu karena sebegitu bijaksananya kakek yang satu ini.. Akhirnya rencana untuk meminang gadis Pak RT berlogat Batak itu dimulai dari sini. Kami sudah memiliki pegangan untuk menjadi perwakilan. Entahlah, mungkin saja Kakek Syarif yang akan kami anggap menjadi orangtua. Dirinyalah tempat kami mengadu.
Kapal Leon puas dengan aktivitasnya hari ini. Matahari yang sudah lebih dari tegak lurus tiang ke atas menuntun kami untuk ke tepian.
Tiga ekor ikan sudah cukup untuk dibawa pulang, ditambah pula ukurannya sudah lumayan untuk dimakan sekeluarga. Baik sekali Kakek Syarif yang turut memberikan ikan itu masing-masing satu kepada kami, sementara dirinya tak ingin menikmati hasil tangkapannya sendiri. Bersenang-senang saja sudah cukup, baginya. Ia juga berjanji akan berkunjung ke rumahku untuk bertamu.
Ujung dermaga disentuh oleh Kapal. Kami menyeberang untuk melangkah ke daratan. Tepat di saat langkah pertamaku mendarat di papan dermaga, Reira mencolekku.
“Lo bakalan makai jasa perwakilan dari Kakek Syarif buat meminang gue?”
***