Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 63 (S3)



Menjadi cantik merupakan impian dari seluruh wanita di atas bumi ini. Sejarah mencatat jika praktik tata rias sudah terjadi di berbagai peradaban. Aku paling menyukai bagaimana orang-orang Mesir Kuno merias wajah, hingga Cleofatra mampu membuat hati Julius Caesar dari Romawi terpincut. Beralih ke Arab, meskipun wanita memakai kain penutup wajah hingga hanya meninggalkan mata, tetapi mata mereka cantik dengan celak yang dikenakan. Begitu pula dengan Jepang, aku paling menyukai bagian ini. Mereka cantik alami dengan kulit putih susu.


Praktik kecantikan ini berkembang dan dapat kita perhatikan di zamans sekarang. Berjalan sedikit ke pijar cahaya toko-toko mall, dengan mudah kita dapati iklan-iklan produk kecantikan. Berjalan lagi ke depan, seorang sales menarik tangan untuk mencoba pemerah wajah secara gratisan atau pun kuas rias dengan mode terbaru. Harga yang ditawarkan pun bersaing. Kita tidak jarang menyisihkan sebagian jajan dan gaji untuk berburu produk kecantikan mahal. Mulai dari remaja, hingga orang dewasa bercampur baur dalam satu ide, wanita itu perlu biaya mahal dalam kecantikan.


Kita hidup di dalam ilusi, digiring oleh idealisme kapitalis. Standar sengaja diciptakan, direkayasa, hingga dimanipulasi dengan mudah. Mereka memanfaatkan masyarakat yang latah ini, ikut satu maka ikut semua. Hingga bersisa orang-orang sepertiku, tereliminasi oleh trend yang diciptakan pasar. Hanya saja aku tidak suka dengan produk kecantikan, bukan karena aku tidak ingin cantik, melainkan aku punya standar untuk diriku sendiri.


“Banyak sekali skincare punyamu, Semara,” ucapku pada wanita itu. Ia sedang merias wajahku saat ini.


“Yaa … namanya perawatan. Kemarin kan udah aku belikan juga buat kamu.”


Aku mengangguk. Semara berbaik hati untuk membelikanku krim pagi dan krim malam, tetapi aku selalu lupa untuk mengenakannya.


“Aku lupa makai. Mungkin aku terlalu sering baca buku sebelum tidur daripada masang krim ini itu,” balasku.


“Tapi, kamu walaupun jarang skincare-an, kulit kamu terbilang bagus.”


“Kalau kata Rina, cukup wudhu lima kali sehari.”


“Masyaallah Ukhty.”


Aku menepuk tangan Semara. Ia menyebut salah satu istilah yang  biasa disebutkan komunitas muslimah kampus. Sewaktu awal-awal masuk kuliah, aku sering menongkrong dengan mereka. Salah satu  teman kelas aku ikuti hingga aku pun pernah duduk melingkar membicarakan agama. Tetapi, mungkin karena mereka risih jika aku pakai celana jeans setiap hari, aku perlahan mundur.


“Eh … itu kayanya Abimana deh ….” Semara mempercepat finishing pada hidung, lalu memegang kedua pundakku dengan erat. “Kamu cantik banget malam ini. Cocok banget sama Abimana yang ganteng.”


“Makasih ….” Aku menempelkan kepalaku ke lengannya. “Kamu datang ya nanti sama Borneo. Minta dia pakai baju bagus dan mandi lebih dulu.”


“Anak itu lama, katanya ngelukis dulu. Kalau Borneo lama, aku minta Alfian jemput.”


Aku memicing sejenak. Rasaku tidak masalah jika Alfian pergi bersama Semara. Yaa … yang jadi masalahnya, Alfian mana mau ikut di dalam momen-momen romantisme bersama wanita lain.


“Pokoknya, aku mau kamu datang ke acara ulang tahun itu. Ada banyak temen-temen kampus aku di sana. Bikin aku bangga kalau punya temen secantik kamu, oke?”


“Iya Reira …” Semara membantuku untuk berdiri. “Cepetan, nanti Abimana kelamaan.”


Bel kembali berbunyi.


“IYAA TUNGGU!!!” teriakku.


Aku keluar dari kamar, Borneo datang dengan bertelanjang dada. Tubuhnya keringat dan bau besi tiang kapal. Bau anak itu tidak pernah hilang semenjak aku temukan pertama kali. Mungkin karena bertahun-tahun bergelut dengan karat-karat besi kapal. Borneo bertegak pinggang sembari menyenderkan bahunya ke dinding.


“Itu … Abimana sudah di ruang tamu. Kau ini … dipanggil-panggil malah enggak nyahut.”


“Lo ketemu Abimana dengan telanjang dada kaya gini?” tanyaku.


“Lah … apa salahnya. Cowok aja pun!” sanggah Borneo.


“Hmmm …..” Aku mengalihkan mata. “Yaaa ga apa-apa. Suka elo, ga ngurus juga.”


“Aneh kau ini,” sindir Borneo.


Teduh jatuh ke mata Abimana tatkala ia menatapku. Sedikit berbias kacamatanya oleh cahaya pijar lampu ruang tamu, lalu tidak kalah menariknya dengan senyum Abimana yang melingkar kepadaku. Ia menunduk untuk memberikan hormat kepada Semara dan Borneo.


“Aku pinjam Reira dulu ya,” ucap Abimana.


Semara mencengkram pundakku. Entah kenapa ia merasa gregetan kali ini.


“Iya … hati-hati bawa Reira,” balas Semara.


“Abis acara, langsung pulang. Jangan kau bawa ke mana-mana Reira ini,” sambung Borneo.


Sontak kalimat itu membuatku menatap padanya. “Woi, kau bukan bapakku, Borneo. Diam kau.”


Borneo diam sejenak, lalu menoleh kepada Semara. “Aku salah bicara ya, Semara?”


Tanganku disambut oleh Abimana. “Maaf Abimana. Kalau kedengeran kasar, kami biasa pakai logat Sumatera di rumah ini.”


“I see … gue udah denger Kakek Syarif sebelumnya, hehehe ….”


Bagaikan seorang ratu, Abimana memperlakukanku begitu baik hingga masuk ke dalam mobil. Agar terlihat mewah malam ini, tadi sore aku membongkar garasi kakakku karena sedan BMW miliknya selalu nganggur. Alhasil, Abimana untuk pertama kalinya membawa mobil dengan harga selangit.


Kami tiba di depan rumah Mawar. Ada banyak mobil yang terparkir di depan rumah, hingga kami harus meninggalkan mobil di parkiran sport area komplek perumahan ini. Tidak terlalu jauh, tetapi aku malas berjalan dengan sepatu hak tinggi. Ingin sekali melepasnya, tetapi ribet ketika ingin memakainya kembali. Ada tali temali yang harus aku kenakan.


“Entah kenapa gue pakai sepatu begini, padahal gue enggak suka,” ucapku pada Abimana.


Ia melihat gaun khas Melayu oranye milikku. Gaun ini merupakan karya designer  yang tampil pada malam pameran Anugerah Sagang di Pekanbaru, semacam penghargaan dedikasi  terhadap budaya Melayu. Hanya satu baju pada saat itu, tetapi aku mampu membuju designer untuk menjualnya padaku.


“Gue suka gaun lo. Menarik dan tampil beda,” ucap Abimana.


“Oh ini … hmm … adalah hal yang lumrah kalau dipakai ke acara-acara sama wanita Melayu. Apalagi ini acaranya semi formal gitu kan, menurut gue cocoklah.”


“Kalau gue ditanya sama temen lo, gue bilang apa ke mereka?”


“Maksud lo kalau mereka nanyain elo ini siapanya gue, gitu?” tanyaku balik.


“Iya … maksud gue gitu.”


“Yaa … bilang aja temen. Kalau gue bilang pacar, gue agak jijik gitu. Hehehe …..” Aku mengeratkan tanganku ke lengan Abimana. “Ingat … hari ini kita mau bikin cemburu satu orang.”


“Oke … kita punya rencana?” tanya Abimana.


“Cukup bertingkah cool dan tampan di samping gue. Biar gue yang ngelakuin rencananya ….”


“Baiklah … itu mudah gue rasa.”


Seorang penjaga pintu masuk meminta online invitation kepadaku. Setelah kami dipastikan merupakan orang yang diundang, barulah kami melenggang masuk seperti sepasang kekasih. Baru saja aku masuk, seorang pelayan menawari minum kepadaku. Aku mengambil satu, tetapi aku melarang Abimana untuk mengambilnya juga. Minuman ini ialah wine putih.


“Reiraa ….”


Panggil seseorang di belakangku. Seorang wanita berambut pendek seperti polwan menatapku. Wajahnya cenderung bulat, aku rasa ia tidak sebulat ini di kala terakhri kali kami bertemu.


“FASHA!” Aku terkejut melihat perubahan mantan gebetan dari David itu. Ia seperti sugar mommy malam ini. Wajahnya sungguh terlihat dewasa.


Ia memelukku dengan erat, lalu menyentuh kedua tanganku yang masih lajang ini.


“Hey Reira, udah berapa tahun sih kita enggak ketemu? Aduh … sumpah lo begini-begini aja enggak ada berubah. Lihat nih gue udah kaya emak-emak ….”


“Ah, sebenarnya gue berubah sih …. Mana Bagas? Tunggu … ngomong-ngomong, anak lo udah berapa?”


“Baru dua, pengen nambah dua lagi kata Bagas.” Ia menoleh ke salah satu arah. Di sana ada pria brewokan sedang ngumpul dengan segeromblan pria. Itulah Bagas, pria yang menjadi saingan David pada masanya. Tidak lama kemudian, mata Fasha menoleh kepada Abimana. “Tunggu … lo udah punya pacar baru?”


Abimana menunduk sembari menjulurkan tangannya. “Gue Abimana … gue cuman temennya Reira kok.”


“Iya, gue Fasha, temen kampus Reira dulu. Hmm … gue ga yakin sih temen tapi gandengan gini. Okee … gue paham.” Fasha sedikit menjauh. “Nikmati waktu kalian berdua, nanti kita ketemu lagi yaa ….”


Fasha pun pergi, sedangkan Abimana menatap aneh kepadaku.


“Wah … harusnya gue akui kalau lo pacar gue,” ucap Abimana.


“Mau nyoba?”


“Hmmm …. Oke, ga masalah kok ….”


Aku mengandeng tangan Abimana kembali.


***