
EPISODE 126 (S2)
Cinta bagiku merupakan tingkat perasaan tertingi di hati manusia. Tuhan menitikan cinta-Nya agar manusia bisa turut menuangkan cinta terhadap sesama. Bagaimana bisa aku menyebutkan cinta merupakan tingkat tertinggi dari perasaan? Aku berpikir bahwasanya seluruh rasa yang menyelubungi hati ini akan bermuara di kolam putih bening yang harum dan aku sebut sebagai cinta. Setiap benci kesumat yang terselip di hati sebetulkan merupakan jalan terburuk untuk menggapai cinta. Orang yang membenci berjalan atas dasar kecintaannya terhadap sesuatu, seperti engkau yang membenci dosa karena sesungguhnya engkau sangat mencintai pahala.
Ada pula orang yang membenci dahulu, baru dirinya mengenal cinta. Sebagaimana kisah aku dan Reira yang awalnya terjadi karena ketidaksukaan. Jikalau diibarakan koin, cinta dan membenci berada di sisi yang berbeda. Namun, titik balik dalam fenomena sudah menciptakan sebuah sejarah. Gebrakan sejarah itu menghantam meja tempat koin bertempat, lalu membalikkan semuanya. Tak akan ada satu pun orang yang mengira kapan cinta akan timbul. Oleh karena itu aku pernah diajarkan bahwaanya jangan engkau terlalu membenci suatu hal, bisa jadi sesuatu itu baik untukmu.
Cinta yang salah tetap saja cinta. Sebagaimana seorang suami yang berselingkuh dengan sekretarisnya seperti cerita receh sinetron zaman sekarang, lalu meninggalkan istri tulusnya itu demi cinta yang salah. Betapa munafiknya manusia-manusia yang seperti itu. Ada pula yang menganggap cintanya tersebut salah, namun sebenarnya cinta itu sebenarnya sudah diperuntukkan padanya. Sebagamana kisah Rahwana yang memiliki sepuluh kepala, lalu setiap ribuan tahun ia memenggal kepalanya sendiri. Datanglah dewa melarangnya untuk mati, tetapi Rahwanana menyaratkan seorang wanita yang akan diperuntukkan untuknya, yaitu Sinta.
Benarkah Rahwana telah merebut Sinta dari Rama? Padahal ia sudah meminta diturunkan seorang wanita kepada Dewa. Jika cinta ini terlarang, mengapa engkau tumbuhkan rasa ini sebegitu besar pada sukmaku? Itulah sepenggal pertanyaan Rahwana kepada Dewa. Dengan jiwa kesatria yang ia miliki, maka hanya satu cara untuk merebut wanita yang ia cintai, yaitu berperang!
Lalu, benarkah cinta kita ini sudah benar?
Apakah ketulusan ini masih dalam koridor kebenaran?
Sebagaimana aku miriskan kepada orang-orang yang tunggang langgang ke rumah ibadah untuk berharap surga kepada Tuhan. Maka, aku ingin bertanya, kita mencintai Tuhan atau surga-Nya? Setiap hari kita meminta surga kepada Tuhan dalam ibadah, tanpa pernah tahu subtansi ibadah itu sendiri. Tidak salah berharap surga kepada Tuhan, tetapi dipertanyakan harapan itu sudah betul atau tidak. Tanyakan kepada diri sendiri apabila surga tidak ada, apakah kita akan masih menyembah Tuhan.
Itulah kepada Nietzche mengkritik orang beragama, begitu pula Karl Marx yang melihat fenomena masyarakat Prancis pada saat itu. Satu hal yang dibenci oleh Nietzche adalah harapan karena dengan harapan manusia telah hilang etika moralnya. Ia sibuk menyembah Tuhan demi kehidupan yang lebih baik. Tuhan sudah mati! Dengan lantang beliau menyatakan perkataan itu di dalam tulisannya. Tuhan sudah dibunuh oleh etika moral manusia yang buruk. Sebagaimana yang aku lihat di zaman sekarang bagaimana etika moral orang beragama yang mendiskriminasi orang berbeda atas nama Tuhan dan Surga.
Aku pandang wajah Reira ketika acara sudah berakhir. Giginya bercabe karena habis makan soto dua piring, tetapi tak ingin aku katakan hal tersebut. Biar dirinya yang malu sendiri ketika menyadarinya. Dika tengah bersenang hati karena tanggal baik sudah ditetapkan. Tugas dirinya kini untuk mengurusi administrasi pernikahaan ke lembaga terkait agar segera bisa membangun bahtera rumah tangga.
“Gue ingin menikah di atas gunung,” ucapnya ketika melangkah pulang.
Rombongan Kakek Syarif sudah di depan, sementara itu kami masih berada di area kedai harian Pak Rt.
“Gunung bukan tempat menikah,” balasku dengan singkat. Ada-ada saja permintaan wanita ini.
“Lo salah, seluruh tempat di dunia ini adalah tempat kita buat menabur cinta. Bisa aja gue ngundang orang KUA buat naik gunung.”
“Mana ada orang KUA mau manjat gunung buat nikahin orang lain?” tanyaku untuk mendebat.
“Ada ... gue yang minta besok. Hahaha ....” Ia menoleh padaku. “Emangnya lo enggak setuju kalau kita nikah di atas gunung?”
Aku terdiam dengan kalimat itu. Selalu saja aku terhentak apabila menyangkut pertanyaan yang seperti ini. “Enggak, gue mau nikah di KUA aja. Gratis.”
“Yaa enggak seru, dong. Enggak ada acara lempar bunga.”
“Gue enggak pengen lempar bunga, gue mau lempar buku filsafat sosialis.”
“Opini yang bagus, Sahabat. Kini ikut saya menghadap Presiden Harto.”
Percakapan nyeleneh ini berlanjut hingga aku melihat segerombolan orang aneh berkumpul di depan rumah. Aku melihat sekumpulan anak berpakaian kumuh dengan rambut nyentriknya tengah menghisap rokok di depan kendaraan yang sangat tidak biasa. Aku berhenti sejenak sembari menahan tangan Reira.
“Jangan bilang mereka diundang oleh lo sendiri ke sini?
“Kita akan melakukan hal gila malam ini.” Reira melangkah ke depan meninggalkanku.
“Mereka gue undang ke sini biar ngerayain hari lamaran Dika. Gue mau mengarak Dika keliling pakai vespa gembel. HAHAHAH!”
Kepalaku memereng. Manusia mana yang ingin diarak vespa gembel di hari yang sangat spesial. Hanya diri Reira yang menginginkan orang lain untuk melakukan hal tersebut. Sesampainya di sana, Reira melebarkan tangannya untuk menyapa. High Five pertemanan ia lakukan kepada satu per satu tamu yang datang.
Sudah tahu betul diriku bahwasanya Dika tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ia malah sibuk berjongkok melihat mesin vespa gembel tersebut. Sebagai orang bengkel, tentu saja ia takjub kepada mereka yang menciptakan kendaraan unik ini.
Terdapat dua buah vespa gembel yang parkir bersampingan. Satu vespa beroda tiga dan satunya lagi dilengkai oleh empat roda. Hiasan-hiasan nyentrik pun dipakaikan berupa stiker, bunga-bunga, bendera yang berkibar, dan baju partai dengan wajah orang pemilu waktu lalu.
“Makasih banget udah datang ya, guys!” Reira naik ke atas kursi kemudi vespa gembel tersebut.
“Siap, Kak!” seru mereka bersmaan.
Ia menoleh pada Dika. “Dik, lo naik sekarang. Gue mau ngajak lo ke sini keliling buat perayaan hari lamaran lo!”
“APA?” Dika terkejut.
“Udah naik aja!” tegas Reira.
“Harus emangnya begini?” tanya Kakek Syarif.
“Kakek ... lihatlah Bang Dika enggak tahu diuntung ....” Suara Reira memelas pada Kakek Syarif, persis seperti anak kecil yang sedang mengadu kepada orang yang lebih tua.
Aku tahu Kakek Syarif mengeluh di dalam hati, tetapi ia tetap mengangkat tubuh Dika ke atas vespa.
“Dah ... pergilah kalian ke mana nak pergi,” ucap Kakek Syarif.
“David ....” Ia melempar kunci mobilnya kepadaku. “Bawa mobil gue biar Mawar dan yang lain bisa ikut.”
“Emangnya kita mau ke mana aja?” tanyaku balik.
Reira tersenyum lebar. “Melihat kesombongan bertekuk lutut.”
Aku tidak mengerti perkataannya, yang penting aku harus mengikutinya kali ini.
***
sorry ya, kemarin enggak update. author lagi pilek hahah.